Allov - 5

2090 Kata
Alexcio mengendarai mobilnya meninggalkan pekarangan rumah Alisya. Dengan tenang dia terus menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang mungkin karena saat ini emosinya dalam keadaan stabil. Dalam waktu 30 menit kemudian dia telah sampai di depan rumahnya. Setelah memarkirkan mobilnya di garasi Alexcio langsung masuk kedalam rumahnya. Alexcio berjalan dengan santai menuju kamarnya dengan tas yang dia sampirkan dibahunya itu. Saat dia berada di anak tangga, dia berpapasan dengan ibunya. "Alexcio, kamu dari mana aja? Kenapa udah sore begini baru pulang?" Tanya Delina khawatir. "Dari rumah teman mah. Yaudah kalo gitu aku ke atas dulu" ucap Alexcio dan langsung menuju ke kamarnya tanpa mempedulikan Delina ibunya lagi. "Nak semoga kamu bisa secepatnya melupakan itu semua. Mama nggak bisa lihat anak mama satu satunya jadi seperti anak yang nggak pernah mama kenal" lirih Delina melihat punggung Alexcio. Alexcio memasuki kamarnya yang bercat abu - abu bercampur putih itu. Setelah melepaskan tas, ponsel dan juga sepatu, Alexcio langsung masuk kedalam kamar mandi untuk membersihkan diri. Sekitar sepuluh menit kemudian Alexcio sudah keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos putih polos dan celana jeans selutut. Satu tangannya dia gunakan untuk mengeringkan rambutnya yang basah dengan sebuah handuk kecil. Dengan satu tangannya yang masih sibuk mengeringkan rambut, Alexcio berjalan menuju meja belajarnya karena ada notif yang masuk di ponselnya. Alisya Udah sampe rumah? Alexcio tersenyum tipis membaca pesan singkat dari Alisya itu. Dia mengetikan beberapa digit huruf untuk membalas pesan dari Alisya. To. Alisya Udah Tidak berapa lama kemudian kembali masuk notif di ponsel Alexcio membuat Alexcio memutuskan untuk duduk bersandar di tempat tidur tapi sebelum itu dia meletakan handuk kecil yang dia pakai untuk mengeringkan rambutnya. Alisya Oh oke. To. Alisya Lagi apa? Alisya Nonton tv nih To. Alisya Emang nggak ada pr? Alisya Ada sih. Tapi bentaran aja kerjainnya Balasan dari Alisya membuat Alexcio menggelengkan kepalanya. Entah apa yang membuatnya hingga mau mengklaim Alisya untuk menjadi pacarnya, sedangkan buat PR saja suka di tunda tunda dan dia sangat tidak suka dengan orang yang suka menunda - nunda mengerjakan sesuatu. Hanya satu kata yang sampai sekarang tidak di mengerti oleh Alexcio, yaitu dia nyaman saat berada dekat dengan Alisya dan mungkin hal itulah yang membuat dia tidak menyesal mengklaim Alisya menjadi pacarnya. Alexcio memutuskan untuk menelfon Alisya, dia ingin Alisya tidak malas malasan dalam membuat PR. Deringan pertama Alexcio menelfon belum diangkat oleh Alisya, tapi di dering ke 3 Akhirnya Alisya mengangkat panggilan dari Alexcio. "Halo" suara Alisya di sebrang sana "Kerjain PR kamu sekarang atau nggak aku bakal ke rumah kamu" "Kamu hobinya ngancam aku muluh deh, yaudah kalo kamu mau datang yah datang aja. Palingan kamu cuma bercanda doang" ucap Alisya di telfon, suaranya terdengar sangat santai di pendengaran Alexcio. "Oh kamu mau nantangin aku? Yaudah tunggu 15 menit aku udah di depan rumah kamu" ucap Alexcio. Alisya yang mendengar perkataan Alexcio yang sepertinya tidak main - main itu langsung menciut seketika keberaniannya. "Eits udah nggak usah datang ke rumah aku, aku bakalan ngerjain tugas aku sekarang juga" ucap Alisya. Alexcio tersenyum tipis mendengar nada suara Alisya sudah berbeda tidak seperti tadi. "Pasti bohong" ucap Alexcio yang membuat Alisya medengus kesal di sebrang sana. "Nggak percayaan amat sih, beneran aku bakalan ngerjain tugas aku sekarang" ucap Alisya. "Yaudah aku ganti panggilan telfonnya jadi video call biar aku bisa ngawasin kamu sekalian."  Ucap Alexcio tanpa meminta persetujuan dari Alisya langsung merubah panggilan telfon mereka menjadi video call. "Puas sekarang?" ucap Alisya dengan wajah kesal setelah dia mengangkat video call dari Alexcio. "Nggak akan puas sebelum kamu ngerjain tugas kamu sekarang" "Iya iya aku kerjain sekarang." Alisya langsung berjalan menuju ke lantai atas dimana kamarnya berada. Sepanjang perjalanan dia menuju ke kamarnya itu dia terus mengomeli Alexcio tanpa takut karena mereka hanya berbicara lewat video call. Alisya yang mengomel - ngomel itu tidak luput dari penglihatan kedua orangtuanya yang sedang menonton tv. Alisya memasuki kamarnya dengan ogah - ogahan karena ini masih jam 6 dan sebentar lagi jam makan malam dan itu membuatnya menatap Alexcio kesal yang saat ini sudah sibuk dengan dunianya sendiri yaitu dengan membaca buku. "Ck. Katanya mau ngawasin aku buat tugas, eh abis itu malah sibuk sama dunianya sendiri." Decak Alisya. Alexcio walaupun sedang membaca buku tapi dia bisa mendengar apa yang Alisya katakan barusan. "Aku dengar apa yang kamu bilang Alisya. Kerjain tugas kamu sekarang" ucap Alexcio tanpa melepaskan pandangannya pada buku yang sedang dia baca. Alisya pun mengambil buku tugasnya setelah itu tenggelam dalam mengerjakan tugasnya sama seperti Alexcio yang juga tenggelam dalam bacaannya. Hampir satu jam mereka hanya diam tanpa berbicara walaupun sedang melakukan video call. Alisya menulis kalimat perkalimat dari buku cetak yang dia pinjam dari sekolah, tugasnya itu sebenarnya hanya meringkas tidak ada tugas lain dari itu. Hanya saja yang membuatnya itu agak lama mengerjakannya karena dia harus meringkas 1 bab dari buku yang dia pinjam. Entah apa yang di pikirkan oleh gurunya hingga memberikan tugas semacam ini. Gurunya memang tidak masuk karena ada rapat, tapi tugasnya tetap jalan yang membuat Alisya kesal sendiri. Dia merenggangkan kedua tangannya setelah dia selesai menulis kata terakhir dari ringkasannya. "Akhirnya kelar juga" ucap Alisya sambil merenggangkan tubuhnya. Apa yang dilakukan oleh Alisya tanpa di sadari di lihat oleh Alexcio. Alexcio nampak melihat Alisya dengan intens. "Sana makan dulu, ini udah jamnya makan" ucap Alexcio dan setelah itu dia langsung mematikan sambungan video call mereka berdua tanpa menunggu Alisya berkata terlebih dahulu. Tok Tok Tok "Alexcio, ayo makan dulu nak" panggil Delina dari luar kamarnya. Tanpa menjawab Alexcio langsung berjalan menuju ke pintu kamarnya setelah dia meletakan bukunya di tempat tidur. Alexcio membuka pintu kamarnya dan wajah ibunya yang sedang tersenyumlah yang menjadi pemandangan pertama yang dia lihat. "Yaudah ma, ayo kita kebawa" ucap Alexcio. Suasana di ruang makan seperti biasa tidak ada pembicaraan sama sekali jika sedang makan. Dan itu sudah menjadi aturan di keluarga mereka. Setelah selesai makan barulah bisa ada pembicaraan. "Gimana hari pertama kamu di sekolah?" Tanya Michael pada Alexcio. "BIasa aja nggak ada yang menarik" ucap Alexcio. Michael menggangguk mendengar perkataan dari Alexcio. "Oh iya yang mama tau teman - teman kamu juga sekolah disanakan?" Tanya Delina membuka obrolan baru. "Teman - teman yang mana?" Tanya Alexcio. "Itu lho teman kamu dari TK itu" ucap Delina. "Iya mereka sekolah disana. Tapi bukannya mama udah tau kalo mereka sekolah di sana?" ucap dan Tanya Alexcio. Dua tahun telah berlalu dan seharusnya ibunya sudah tahu, karena keluarganya dengan keluarga keempat sahabatnya itu sangat dekat semenjak mereka berteman sejak TK. "Yah mama cuma pengen nanya lagi aja. Lagian kamu ngomongnya kalo di tanya aja" ucap Delina membela diri. Alexcio hanya tersenyum tipis tanpa membalas perkataan ibunya itu. "Pa, ma. Aku ke atas dulu mau lanjut baca buku" ucap Alexcio dan segera pergi dari ruang makan itu. Delina menghela nafas setelah Alexcio pergi dari ruang makan. "Kapan ya pa, kapan Alexcio bisa balik kayak dulu?" ucap Delina lesuh. "Kita tunggu aja, dia pasti akan kembali seperti dulu. Tapi untuk sekarang Alexcio masih butuh waktu ma" ucap Michael. "Sampai kapan pa? ini udah 2 tahun dan sifatnya masih aja belum berubah. Mama nggak mau anak mama terbayang - bayang terus sama masa lalunya pa. mama nggak mau Alexcio terus memikirkan masa lalunya" ucap Delina. "Ma udah, jangan bahas tentang masa lalu. Kalo Alexcio sampai dengar mama tau kan apa yang akan terjadi, jadi papa mohon sama mama buat beranggapan biasa aja seperti nggak terjadi apa apa" ucap Michael. Delina langsung menggangguk mendengar perkataan dari Michael. ❤❤❤ Keesokan harinya Alexcio dan Alisya sudah berada diparkiran sekolah, tapi mereka berdua belum juga turun dari mobil. Lebih tepatnya Alisya yang tidak mau turun dari mobil. "Kamu kenapa sih turunin aku disini? Kan udah aku bilang aku turunnya di depan gerbang sekolah aja" ucap Alisya menatap Alexcio kesal. "Emang kenapa sih? Apa bedanya turun di depan sama di parkiran?" Tanya Alexcio. "Yah jelas beda. Kalo aku turun di depan nggak bakal jadi pusat perhatian sama kamu" "Emang kenapa kalo kita jadi pusat perhatian? Kan aku ataupun kamu sekalipun nggak pernah tuh minta mereka buat jadiin kita sebagai pusat perhatian mereka" ucap Alexcio. "Aku nggak suka jadi pusat perhatian anak - anak di sekolah Alexcio. Apalagi aku jadi pusat perhatian cuma karena kamu doang" ucap Alisya. "Lho kenapa jadi aku?" Tanya Alexcio. "Yah karena kamu. Dari kemarin aja kamu yang buat mereka natap aku dengan berbagai ekpresi yang berbeda - beda" "Berbeda - beda ekspresi gimana maksud kamu?" Tanya Alexcio. "Nah jadi kemarin pas aku jalan sendiri di koridor ada yang natap aku iri,kagum, sinislah bahkan ada yang nyibir tentang aku pas aku lewat" ucap Alisya yang merasa agak kesal karena hal tersebut sangat mengganggu untuknya. Alexcio tiba - tiba mengetatkan rahangnya, dia tidak terima jika ada orang yang berani - beraninya menjelekkan Alisya, karena itu sama saja mereka menjelekkan dirinya. "Kamu tenang aja, setelah ini nggak akan ada lagi yang bakal kayak gitu lagi sama kamu" "Yakin?" Tanya Alisya memastikan, karena dia hanya ingin hidup tenang. "Iya aku yakin." Ucap Alexcio. "Baguslah kalo kayak gitu" ucap Alisya. "Yaudah mending kita keluar sekarang, sebentar lagi bakal masuk" ucap Alexcio. Alisya menggangguk sebagai jawaban. Mereka berdua pun keluar dari dalam mobil Alexcio. Sebelum ke kelasnya, Alexcio menemani Alisya hingga sampai di depan kelasnya. "Aku masuk ya" ucap Alisya dan di angguki oleh Alexcio. Sebelum pergi Alexcio melihat terlebih dahulu Alisya yang berjalan sampai tempat duduk barulah dia berjalan meninggalkan kelas Alisya dan berjalan menuju kelasnya. Sesampainya di kelas, Alexcio langsung menuju ke tempat duduk paling pojok karena tempat itu adalah tempat paling bagus untuk dia pakai  tidur saat pelajaran akan di mulai sebentar. Keempat sahabatnya langsung menghampirinya saat mereka baru saja selesai bermain game online di ponsel mereka. "Hey bro" ucap Alano dan bertos dengan Alexcio ala tos mereka berlima yang selalu mereka gunakan sebagai sapaan setiap kali mereka bertemu. "Welcome to class brother" ucap Bryan dan melakukan hal yang sama seperti Alano. "Semoga lo betah di sini Lex, soalnya orang - orangnya pada gesrek semua" ucap Davin yang langsung mendapatkan lemparan kertas dari Dini teman sekelas mereka yang tidak terima dengan ucapan Davin barusan. "Eh kalo ngomong itu di jaga ya, lo kali yang gesrek, nggak usah bawa teman - teman sekelas kali" ucap Dini. "Sukurin lo Dav. Makanya kalo mau berkata - kata tuh liat situasi dulu apa singa betinanya lagi ada apa kagak" ucap Kelvin. Setelah dia selesai bertos dengan Alexcio. "Eh lo juga curut satu, minta di tabok ya lo" ucap Dini emosi karena di katain singa betina oleh kelvin. Alexcio yang melihat kejahilan teman - temannya itu membuatnya jadi malas sendiri dan lebih memilih untuk tidur tengkurap di atas meja tanpa ada niatan untuk bergabung menjahili sih Dini ratu makeup di kelas mereka. "Eh Din make up lo di tipisan dikit napa, lo kelihatan kayak tante - tante tau nggak kalo makeup lo tebel kek gitu" ucap Alano tak mau kalah menjahili Dini. "ALANO! Awas lo ya gue tabok lo kalo sekali lagi lo bilang gue kayak tante - tante" ucap Dini yang sudah bertambah emosi karena keempat sahabat yang tidak pernah absen tiap hari selalu menjahilinya itu. Berbeda dengan Alexcio yang tidak ingin ambil pusing dengan mereka yang membuat DIni ingin rasanya membuat Alexcio melakukan hal yang sama padanya. "Dini kayak tante - tante girang" nyanyi Alano dan setelah itu dia berlari keliling kelas menghindari Dini yang sudah siap siaga ingin memukulnya menggunakan sapu lantai. "Tante girang nggak usah mukul gue pake tuh sapu lantai napa. Lo pikir gue anak lo yang lagi buat kesalahan terus lo pukul pake tuh sapu lantai" ucap Alano tapi terus menghindari Dini yang ingin memukulnya. Bryan, Davin, dan Kelvin hanya bisa tertawa terbahak - bahak karena diantara mereka berlima Alano lah yang paling jahil. "Yah teruskan Lan" ucap Kelvin memberikan semangat. "Ayo Lan buat sih tante girang nggak bisa nangkep lo" ucap Davin. "Hati hati Lan, sih tante girang udah makin ganas tuh kayaknya" ucap Bryan. Alano yang juga ikut tertawa seperti ketiga sahabatnya itu semakin membuat emosi Dini semakin naik. "Tenang aja guys, sih tante girang udah jinak kok ama gue. Iyakan tan?" Tanya Alano pada Dini. "Alano lo bener bener ya. Awas aja kalo gue sampe dapetin lo, gue bakal pites lo" ucap Dini dan setelah itu dia kembali ke tempat duduknya karena dia sudah di buat berkeringat oleh Alano. "Eh emang lo pikir gue kutu apa sampai lo mau pites segala" ucap Alano berjalan mendekat. "Eh tapi btw makeup lo luntur tuh tante girang" ucap Alano dan setelah itu langsung berlari menjauhi Dini lagi. "ALANO!!" teriak kesal Dini saat dia bercermin dan melihat makeup di mukanya yang sudah luntur.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN