Saat ini Alisya telah berada di kelasnya. Setelah dia di antarkan oleh Alexcio tadi. Semua pandangan mata tertuju pada dirinya, dan Alisya tahu semua itu pasti karena Alexcio yang mengantarkannya sampai di kelas. Tanpa memperdulikan tatapan teman sekelasnya, Alisya mengeluarkan buku pelajaran pertama karena sekitar lima menitan bel tanda masuk akan berbunyi.
"Alisya" panggil ke empat sahabatnya mengerubungi Alisya.
"Apa?"
"Chiee yang diantarin ke kelas sama pacar" ucap Sisi menggoda Alisya.
"Ih apasih, biasa aja kali" ucap Alisya. Dia terlalu malas jika yang harus di bahas harus Alexcio dan Alexcio terus.
"Eh jangan gitu napa. Enak lho di antarin pacar sampe ke kelas kayak lo gitu" ucap Flora
"Menurut gue biasa aja nggak ada enak enaknya"
"Dia beneran aneh guys. Cewek lain pada suka sama cowok yang suka ngantarin mereka sampe dekat kelas, nah ini lho malah biasa aja" ucap Laras
"Yah terus gue harus bilang WOW gitu karena Alexcio kakak kelas kita yang udah buat gue jadi pusat perhatian selama dua hari ini gitu?" ucap Alisya.
"Yah nggak gitu juga kali Sya" ucap Syela
"Yaudahlah nggak usah bahas tentang Alexcio lagian lo pada nggak dengar bel tanda masuk udah bunyi barusan" ucap Alisya.
"Kan gurunya belum ada, jadi bahas tentang pacar lo selama beberapa menit kedepan masih bisalah" ucap Flora
"Idih nggak penting banget gue ceritain Alexcio ke kalian. Lagian urusin aja tuh pacar pacar kalian" ucap Laras.
"Ah nggak seru banget sih lo. Eh tapi by the way lo kemana aja kemarin pas sebelum kak Alexcio ngantarin lo ke kantin?"tanya Syela penasaran.
"Nah bener tuh, lo kemana aja kemarin?" Tanya Sisi ikut ikutan bertanya
Alisya menghembuskan nafasnya sebentar. Sifat kepo dari keempat sahabatnya ini memang tidak akan hilang jika mereka belum mendapatkan jawaban dari apa yang menjadi ke kepoan mereka.
"Gue di ruang pribadinya di sekolah ini" ucap Alisya rada malas karena pasti mereka akan bertambah bertanya padanya. Lagian mana juga nih guru kenapa tidak masuk masuk kelas juga, pikir Alisya.
"Ruang pribadi?" Tanya keempat sahabatnya serempak.
"Iya ruang pribadi. Jadi di koridor kosong yang sering kita lewatin kalo mau ke toilet kan ada tuh satu ruangan yang nggak pernah di buka sama sekali. Jadi itu adalah ruangan pribadi yang pernah di minta sama Alexcio dulu waktu dia masih SMP biar kalo pas dia SMA dia bisa jadiin ruangan itu sebagai tempat dia bersantai sama sama temannya. Kata dia sih gitu" perjelas Alisya karena dia tidak mau ke empat sahabatnya itu bertanya lagi jika dia tidak langsung menjelaskan.
"Wah luar biasa. Anak pemilik sekolah bebas ya, bisa sampe punya ruangan pribadi gitu" ucap Laras bertepuk tangan.
"Biasa aja nggak sampe luar biasa Ras. Udah ah kalian balik ke tempat duduk kalian napa. Bel tuh udah bunyi dari sepuluh menit yang lalu kali" ucap Alisya.
"Tenang Sya, Bu Bunga izin nggak ngajar hari ini. Jadi 2 jam kedepan kita free kelas" ucap Syela.
"pantasan nih 4 anak nanya muluh nggak ada habisnya. Ternyata bu bunga izin nggak masuk hari ini." Batin Alisya.
"Yah terus kalo free kelas gitu napa emangnya?" Tanya Alisya
"Yah lo ceritain tentang lo sama kak Alexcio ngapain aja di ruang pribadinya gitu" ucap Sisi mengedipkan matanya genit pada Alisya.
"Lo pasti mikirin yang nggak nggak tentang gue sama Alexcio?" tuduh Alisya pada Sisi.
"Yeh kagak. Lo aja kali yang mikirnya udah berlebihan" ucap Sisi membela diri.
"Udah ah terserah lu. Mending gue lanjutin nonton drama korea semalam yang nggak habis gue nonton dari pada ngebacot sama kalian berempat." Ucap Alisya.
"Eits lo belum cerita lo sama kak Alexcio ngapain aja di ruangan pribadinya" ucap Laras menahan tangan Alisya yang ingin memegang ponselnya itu.
"Gue Cuma nemenin Alexcio baca buku doang di ruangan pribadinya, itu aja nggak lebih dari itu. Lagian ya di ruangannya itu di lengkapi dengan kamera cctv jadi jangan mikir yang enggak enggak deh" ucap Alisya dan memegang ponselnya setelah tadi Laras sempat menahannya.
"Yah pendengar kecewa" ucap Flora
"Dih nggak jelas ah. Udah gue mau nonton dulu, jangan gangguin gue" ucap Alisya.
Alisya mengambil headseatnya dari dalam tas setelah itu dia mencolokkan headseat tersebut di telinganya setelah itu dia memplay video dari drama semalam yang tidak habis di nonton karena mungkin sekitar jam 2 pagi dengan sendirinya dia sudah tertidur tanpa dia sadari. Mungkin jam 2 karena dia merasa sangat mengantuk di jam segitu.
❤❤❤
Bel istirahat sudah berbunyi sedari tadi, tapi Alisya belum juga beranjak dari tempat duduknya. Ke empat sahabatnya sudah mencoba untuk membujuk Alisya agar mau ke kantin. Tapi Alisya sama sekali tidak mau karena setelah guru yang mengajar mereka keluar, Alisya kembali menonton drama korea di ponselnya.
Tidak lama kemudian Alexcio datang ke kelas mereka menghampiri Alisya yang sibuk dengan dunianya sendiri. Ke empat sahabat Alisya yang melihat kedatangan Alexcio buru buru meninggalkan Alisya dan Alexcio di kelas.
"Sya, ayo ke kantin"
"Nggak ah Lex, aku mau di kelas aja" tolak Alisya tanpa mau melihat ke arah Alexcio karena dia sibuk menonton layar ponselnya yang sedang menunjukkan adengan romantis di tengah guyuran hujan.
"Kenapa?" Tanya Alexcio mengangkat dagu Alisya agar menatapnya.
"Aku nggak mau ke kantin, aku cuma mau lanjutin nonton drakor aja"
"Tapi belum makan kan?" Tanya Alexcio
"Belum sih, nanti aja pas istirahat kedua aku makannya. Kalo sekarang mah nanggung lagi nonton" ucap Alisya.
Alexcio tidak habis pikir Alisya sangat menyukai drama alay yang sedang di tonton itu. Entah kenapa dirinya merasa terabaikan oleh Alisya karena sibuk menonton drama korea tersebut.
"Kamu mau ke kantin sama aku sekarang atau mau aku---" Alexcio sengaja menggantungkan ucapannya, karena dia ingin melihat reaksi dari Alisya.
Alisya yang sedang asik asiknya menonton itu seketika langsung mengalihkan pandangannya dari layar ponselnya.
"Yaudah kita ke kantin sekarang" ucap Alisya pasrah. Karena dia tidak menginginkan hal hal yang tidak di inginkannya terjadi.
Alexcio merasa puas dengan jawaban dari Alisya barusan. Dia pun mengandeng tangan Alisya menuju kantin.
"Halo cantik" sapa Alano pada Alisya saat mereka berdua telah berada di kantin dan duduk dengan keempat sahabatnya itu.
Alisya tersenyum mendengar sapaan dari Alano. Alano ini adalah pacar sahabatnya itu Sisi semenjak dirinya masih di kelas 10 bersama dengan keempat sahabatnya. Dan Alano sudah mengganggap Alisya sebagai adiknya semenjak Sisi pacaran dengan Alano. Karena kata Sisi, Alano itu anak tunggal dan dia sangat menginginkan mempunyai seorang adik perempuan tapi sayangnya waktu tidak mengizinkannya untuk mempunyai seorang adik. Dan saat Alano pacaran sama Sisi dan akhirnya juga menjadi dekat dengan sahabat sahabatnya yang lain termasuk Alisya. Alano akhirnya membuka suara jika dia ingin mengganggap Alisya seperti adiknya sendiri. Tapi Alano hanya mengatakan hal itu pada Sisi dan Sisilah yang memberitahukan hal tersebut pada Alisya.
"Halo kak" sapa balik Alisya pada Alano.
Alexcio hanya merasa biasa saja karena dia sudah mengetahui jika Alano adalah pacar dari sahabatnya Alisya. Dan Alano hanya mengganggap Alisya sebagai adiknya karena dia yang merupakan anak tunggal yang sangat menginginkan seorang adik perempuan.
"Kamu mau makan apa?" Tanya Alexcio sembari melihat menu makanan.
"Nasi sama ayam sama minumnya air mineral aja" ucap Alisya.
Alexcio menggangguk sebagai jawaban dan setelah itu pergi meninggalkan Alisya dengan keempat sahabatnya.
"Lo nggak di apa apain kan sama Alexcio?" Tanya Bryan membuka suara.
"Maksud kak Bryan?" Tanya Alisya.
Sebelum menjawab pertanyaan Alisya, Bryan terlebih dahulu melihat ke arah Alexcio yang masih sibuk memesan.
"Maksud gue lo nggak di sakitin kan sama Alexcio?" ucap Bryan
Alisya menggelengkan kepalanya.
"Nggak tuh kak, emangnya kenapa sih?" Tanya Alisya penasaran.
"Nggak papa kok Alisya. Bryan Cuma mastiin aja, soalnya kan lo sama Alexcio itu jadiannya masa cepat banget padahal ketemunya aja baru kemarin" ucap Davin.
"Oh gitu, kirain ada apaan kak" ucap Alisya.
"Eh mending lo jangan sampe buat Alexcio emosi. Lo harus hati hati kalo ngelakuin sesuatu jangan sampe Alexcio emosi" ucap Kelvin memperingati.
Alisya hanya menggangguk dan menatap layar ponselnya yang terdapat drama korea tadi yang sempat dia pause. Dia kembali menonton selama menunggu Alexcio yang sedang memesan makanan.
Tidak lama kemudian Alexcio kembali ke tempat duduk dengan seorang ibu ibu penjual yang membawa nampan berisi makanan dan juga minuman. Ibu penjual itu meletakan dengan hati hati makanan dan juga minuman yang dia bawa di atas meja dan setelah selesai dia pun langsung pergi.
"Kamu kenapa masih nonton aja?" Tanya Alexcio tanpa basa basi.
"Bentar lagi nanggung. Tadi tuh nanggung banget nonton di kelas, padahal 10 menit lagi 1 episode habis" ucap Alisya dengan santai tanpa mengetahui Alexcio yang sudah menatap tajam kearahnya.
"Siniin ponsel kamu!" ucap Alexcio meminta ponsel Alisya dengan nada memerintah.
"Bentaran aja Lex. Setelah ini aku bakalan makan kok" ucap Alisya. Dia tidak mengetahui jika Alexcio sangat tidak suka dengan apa yang dia lakukan sekarang.
PRAANG
Alisya melongo menatap ponselnya yang sudah berada di lantai dengan syok. Karena kejadian yang baru saja terjadi terasa begitu cepat. Dia tidak menyangka jika Alexcio akan membanting ponselnya seperti ini. Kejadian itu tidak luput dari pandangan orang orang yang ada di kantin.
Lex, kenapa cuma gara gara aku nonton drakor di ponsel aku terus kamu banting gitu aja ponsel aku?" Teriak Alisya tepat di depan wajah Alexcio.
"Aku sudah bilang sama kamu untuk turuti setiap perkataan aku. Tapi tadi kamu malah lebih memilih menonton drama s****n itu. Dan sekarang jangan salahin aku kalo ponsel kamu aku buang gitu aja." Ucap Alexcio dengan begitu santainya.
"Kamu emang beneran nggak waras Alexcio. Itu benda mati yang nggak ada salahnya sama sekali dan kamu banting gitu aja tanpa pikir panjang. Pikiran kamu, kamu taruh dimana sih selama in?" ucap Alisya. Dia sangat kesal sekarang dengan ulah Alexcio. Dia memilih untuk mengambil ponselnya yang layarnya sudah pecah karena di banting dengan kuat oleh Alexcio tadi.
"Ngapain kamu ambil ponsel udah nggak berharga gitu?" Tanya Alexcio melipat tangannya di depan d**a.
"Biarpun ponsel ini kamu bilang udah nggak ada harganya, tapi buat aku ponsel ini lebih berharga dari kamu yang nggak ada hatinya sama sekali bisa menghancurkan barang tanpa pikir panjang sama sekali." Ucap Alisya dan setelah itu dia berjalan meninggalkan kantin dengan wajah marah.
Setelah kepergian Alisya, keempat sahabatnya memberikan kode pada Alexcio untuk mengikuti mereka ke suatu tempat yang tidak lain lagi adalah ruangan pribadi Alexcio. Alexcio menatap kearah keempat sahabatnya yang menatap dirinya tidak percaya.
"Lo udah keterlaluan banget Lex. Alexcio yang gue kenal tuh nggak kayak gini tau nggak? Lo tau, secara nggak langsung tadi itu lo udah nyakitin Alisya tanpa lo sadari Lex. Alisya itu udah gue anggap sebagai adik gue walaupun dia itu bukan adik kandung gue, tapi gue nggak suka dengan apa yang lo lakuin tadi Alexcio" ucap Alano, dia terlihat sangat kecewa dengan perubahan Alexcio yang sekarang.
"Jujur Lex, gue kecewa banget sama lo, gue nggak nyangka lo bisa lakuin hal kayak tadi. Lo tuh bukan Alexcio, lo orang lain yang menyamar sebagai Alexcio" ucap Bryan.
"Harus berapa kali sih gue bilang ke kalian kalo Alexcio yang dulu itu udah mati, dan Alexcio yang kalian lihat sekarang itu adalah Alexcio yang baru" ucap Alexcio.
"Iya emang bener kata lo kalo teman kita Alexcio yang dulu itu udah mati. Dan kita nggak akan bisa temuin teman kita lagi setelah kejadian itu. Kejadian yang mengambil semua sifat baik dari Alexcio. Sifat baik yang nggak akan pernah teman temannya rasakan setelah hari itu" ucap Alano.
"Seharusnya lo berdamai dengan masa lalu lo, jangan buat masa lalu terus menjadi bayang bayang di kehidupan lo yang sekarang. Hidup lo itu nggak semuanya tentang masa lalu, masa lalu itu hanya akan menjadi sebuah kenangan yang nggak akan bisa lo lupain tapi bukan berarti kenangan pahit sekalipun harus menjadi hambatan lo untuk meraih masa depan Lex. Alisya bisa saja menjadi masa depan lo kelak dan mungkin lo bisa bahagia dengan dia di masa depan. Tapi kalo kelakuan lo kayak gini nggak bisa berdamai dengan masa lalu lo sendiri, lo nggak akan bisa nemuin kebahagiaan sama sekali di masa depan. Lo hanya akan menderita karena ulah lo sendiri" ucap Kelvin.
Mendengar setiap perkataan perkataan dari keempat sahabatnya membuat Alexcio merenungkan apa yang sudah dia perbuat. Tapi belum lama dia merenungkan apa yang menjadi hal yang mengubah dirinya sekarang, dia sudah jatuh pingsan yang membuat keempat sahabatnya panik.
Mereka berempat telah melakukan kesalahan, mereka telah membicarakan tentang masa lalu Alexcio walaupun itu belum detail tapi pengaruhnya sangat besar bagi Alexcio. Mungkin mereka tidak menyadari tadi saat mereka berbicara mungkin Alexcio sedang menahan sakit di kepalanya.
"Guys kita udah buat kesalahan yang cukup fatal sekarang" ucap Davin.
"Nggak seharusnya kita mengungkit tentang sifatnya dan masa lalunya tadi" ucap Kelvin.
"Seharusnya kita berempat ngerti kalo Alexcio masih sangat trauma dengan masa lalunya" ucap Alano
"Gue nggak nyangka kejadian itu buat Alexcio sampe kayak gini. Sampai kapan dia harus menderita kayak gini"ucap Bryan.