Bel pintu rumah yang di ketok dengan tidak sabarannya membuat Delina ibu Alexcio langsung menuju pintu utama untuk membuka pintu tanpa menyuruh asisten rumah tangga di rumahnya itu. Betapa terkejutnya Delina saat melihat Alexcio dalam keadaan pingsan sedang di papah oleh sahabat - sahabatnya.
"Astaga Alexcio" ucap Delina tidak percaya melihat putra semata wayangnya dalam keadaan tidak sadar.
"Ayo buruan bawa Alexcio ke kamarnya" ucap Delina yang langsung di lakukan oleh sahabat sahabat Alexcio itu.
Sesampainya mereka di kamar Alexcio, mereka membaringkan Alexcio dengan perlahan.
"Apa yang terjadi sama Alexcio? Kenapa dia bisa seperti ini?" Tanya Delina tidak sabaran menunggu jawaban dari ke empat sahabat anaknya itu.
Kelvin akhirnya menjelaskan secara detail awalan sampai akhirnya Alexcio tidak sadar seperti ini.
"Jadi Alexcio sudah memiliki pacar?" Tanya Delina memastikan lagi walaupun tadi dia sudah mendengar penjelasan dari kelvin barusan.
"Iya tante" jawab Alano.
"Tapi seperti yang tante dengar dari penjelasan Kelvin, Alexcio tega menyakiti hati seorang perempuan. Padahal dulunya dia tidak seperti itu, tapi semenjak hari itu Alexcio jadi sangat berbeda." Ucap Alano lagi.
Delina menghela nafasnya. Dia tahu sangat tau jika sifat anaknya tidak lagi seperti dulu, dan untuk mengembalikan sifatnya seperti dulu kata dokter hanya dengan Alexcio bisa berdamai dengan masa lalunya. Tapi sampai sekarang Delina belum bisa melihat tanda - tanda Alexcio bisa berdamai dengan masa lalunya.
"Iya tante tau Alexcio jadi orang berbeda sekarang, tapi tante yakin Alexcio bisa kembali seperti dulu setelah dia bisa menerima masa lalunya itu" ucap Delina.
"Tante sepertinya pacar Alexcio bisa membuat Alexcio kembali seperti dulu, walaupun diperlukan waktu entah berapa lama, tapi saya yakin Alisya bisa membuat Alexcio seperti dulu. Karena terkadang tanpa Alexcio sadari dia melakukan hal - hal yang biasa dia lakukan seperti dulu dan itu hanya dia lakukan pada Alisya pacarnya yang sekarang" ucap Bryan.
"Semoga saja, tante sangat menginginkan anak tante bisa kembali seperti dulu" ucap Delina.
"Kita terus berdoa saja tante biar Alexcio bisa menerima semua yang terjadi di masa lalu dan dia bisa bahagia dengan orang yang tepat" ucap Davin.
"Amin. Semoga aja"
Sementara mereka yang sedang berbicara tanpa mereka sadari jika Alexcio sudah sadar dari pingsannya.
"Ngapain kalian disini? Keluar! Gue bilang keluar!" Teriak Alexcio dengan emosi melihat keempat sahabatnya itu berada di dalam kamarnya dan sedang membicarakan tentang dia yang harus berdamai dengan masa lalunya. Dia sangat membenci dengan orang yang suka ikut campur dengan masa lalunya. Masa lalunya adalah urusannya sendiri dan tidak boleh ada yang ikut campur walaupun itu adalah kedua orangtuanya.
"Kalian tuli ha? Gue bilang keluar kalian semua, keluar!!"ucap Alexcio.
Keempat sahabatnya tidak bisa berbuat apa - apa selain mengikuti kemauan dari Alexcio, karena tidak ada gunanya membantah perkataan Alexcio, karena dia akan semakin emosi dan berakhir fatal.
"Mama juga keluar" ucap Alexcio saat melihat ibunya sama sekali tidak ikut keluar dengan ke empat sahabatnya.
Delina pun akhirnya ikut keluar tanpa mengatakan apa apa. Perasaannya sebagai seorang ibu terasa hancur melihat keadaan Alexcio seperti ini.
Setelah tinggal dirinya sendirian di kamar, Alexcio langsung melempar, membanting barang barang yang ada di dalam kamarnya tidak peduli dengan barang apa saja yang dia lempar ataupun banting. Bahkan ponselnya dia banting begitu saja tanpa pikir panjang. Hingga saat tangannya baru saja berniat ingin membanting bingkai foto yang berada di sudut ruangan tapi akhirnya dia urungkan saat melihat wajah seorang gadis berlesung pipi yang sedang tersenyum di foto bersama dengannya.
Badan Alexcio seketika luruh di lantai, hatinya terasa begitu sakit saat melihat foto wajah dua orang remaja yang sedang tersenyum bahagia disaat hari kelulusan mereka. Kenapa takdir begitu kejam memisahkan mereka di hari itu juga, kenapa harus mereka berdua yang harus merasakan kekejaman dunia yang membuat semua rencana mereka untuk masuk SMA di tempat yang sama harus pupus begitu saja.
"Cio, kalo misalnya aku pergi ninggalin kamu, kamu akan melakukan apa biar aku tetap ada disini sama kamu"
Alexcio berteriak memegang kepalanya ketika kalimat yang pernah di katakan oleh seseorang itu tiba tiba tergiang giang di kepalanya.
"Maafin aku Cio"
ARGH
Alexcio tidak suka jika kata - kata dari masa lalunya itu tergiang giang di kepalanya. Kepalanya akan merasakan sakit.
"Alexcio, aku menyanyangimu. Jaga diri kamu baik baik"
Lagi kembali tergiang giang kalimat yang membuatnya harus menahan sakit di kepalanya.
"Kenapa dulu kamu ninggalin aku? Kenapa ha?" ucap Alexcio menatap bingkai foto yang berisi fotonya dengan seorang gadis itu.
"Kamu tau, setelah kamu pergi aku jadi menderita sampai sekarang" ucap Alexcio lagi, airmatanya mengalir tanpa bisa dia cegah.
"Semua orang selalu menyuruh aku untuk berdamai dan menerima masa lalu kita, tapi aku benar - benar nggak bisa Ra, aku nggak bisa." Racau Alexcio.
"Nggak semudah itu aku bisa melakukannya"
"Jika bukan karena aku, kamu nggak akan mungkin ninggalin aku Ra" ucap Alexcio lagi.
Dia menangis dalam diam di kamarnya setelah dia lelah mengungkapkan semua yang dia pendam. Walaupun Alisya selalu membuatnya merasa nyaman tapi dia belum bisa berhenti begitu saja memikirkan apa yang pernah terjadi di masa lalu. Dia terlalu larut dalam masalaunya walaupun tiga tahun telah berlalu setelah kejdian itu. Dia terus menangis hingga siang berganti malam dan membuat kamar Alexcio menjadi gelap tanpa cahaya.
Alexcio baru teringat dengan Alisya, jika Alisya sedang kesal dengannya dan mungkin Alisya ingin menggunakan kesempatan ini untuk bisa terlepas darinya. Tapi sampai kapan pun dia tetap tidak akan pernah melepaskan Alisya, mungkin saat ini dia masih memberikan kebebasan pada Alisya karena dirinya yang masih terbayang bayang dengan masa lalunya dan karena hal itu dia masih membiarkan Alisya bergaul dengan siapa saja, tapi hanya untuk sementara waktu sampai dia bisa mengubur semua rasa sakitnya di masa lalu.
Alexcio menyalakan lampu di kamarnya setelah itu dia pergi menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Setelah itu dia mengambil kopernya yang berukuran sedang dan setelah itu dia memasukan pakaiannya di dalam koper itu. Setelah semuanya di rasa telah dia siapkan Alexcio langsung keluar dari kamarnya dengan menenteng kopernya sampai di lantai dasarnya rumahnya.
"Alexcio kamu mau kemana malam - malam begini nak?" Tanya Delina saat Alexcio baru saja akan melewati ruang tengah.
Alexcio tersenyum tipis sebelum akhirnya dia menjawab pertanyaan ibunya.
"Alexcio ingin menenangkan diri" ucap Alexcio singkat.
"Tapi ini sudah malam Alexcio, kamu mau kemana malam malam begini?" Tanya Michael.
"Alexcio laki laki yang bisa menjaga diri dengan baik. Jika kalian ingin Alexcio yang dulu kembali, jangan larang aku untuk pergi" ucap Alexcio dan setelah itu langsung pergi begitu saja dari hadapan orangtuanya.
"Pa, apa lagi yang akan dilakukan oleh Alexcio, mama takut kalo sampai Alexcio melakukan sesuatu yang bisa membahayakan nyawanya" ucap Delina khawatir begitu juga dengan Michael yang sama khawatirnya walaupun Michael masih lebih bisa mengontrol dirinya.
"Ma tenang, papa akan suruh orang untuk memantau Alexcio dari jauh" ucap Michael.
???
Seminggu telah berlalu tapi Alexcio sama sekali tidak menampakkan diri di sekolah. Dirinya seperti di telan bumi dan hal itu membuat Alisya terus menebak - nebak kenapa Alexcio tidak masuk sekolah padahal ini sudah seminggu semenjak mereka bertengkar. Dan semenjak hari itu Alexcio sama sekali tidak pernah menghubunginya, memang ponsenya Alisya rusak karena ulah Alexcio, tapi dia masih mempunyai ponsel cadangan yang membuat dia bisa menggunakannya.
Seminggu tanpa kehadiran Alexcio membuat Alisya merasa tidak ada kedamaian sama sekali, dia hanya terus merasa gelisah karena Alexcio yang tidak kunjung ada kabarnya. Seharusnya dia bahagia karena Alexcio tiba - tiba menghilang seperti ini, tapi tanpa adanya Alexcio ada yang terasa kurang bagi Alisya. Walaupun dia selalu menutupi itu semua di depan sahabatnya dan juga sahabatnya Alexcio. Dia tidak inign mereka mengejeknya karena memikirkan Alexcio. Dia sudah tahu jika di hari itu juga Alexcio pergi dari rumah dan entah dia pergi kemana.
"Wah hebat banget lo, Sya. Seminggu kak Alexcio nggak ada lo malah senang - senang aja" ucap Sisi.
"Yah iyalah gue senang, kan gue udah bebas dari dia sekarang" ucap Alisya walaupun hatinya berkata sebaliknya.
"Jahat banget lo" ucap Laras.
"Biarin" ucap Alisya pura - pura santai.
"Au ah gelap" ucap Flora.
"Btw lo nggak kepo gitu kenapa kak Alexcio belum masuk sekolah juga sampai sekarang?" Tanya Syela.
"Nggak tuh. Udahlah gue mau ke toilet udah kebelet nih"
Setelah berkata seperti itu, Alisya pergi meninggalkan teman - temannya yang hanya bisa menggelengkan kepala melihat sikapnya.
Sehabis dia keluar dari toilet, Alisya berjalan dengan santai di koridor yang nampak begitu sepi karena bel pertanda masuk sudah berbunyi saat dia sampai di toilet tadi. Sepanjang perjalanan Alisya merasa jika ada orang yang mengikuti dirinya, tapi saat dia melihat ke belakang dia sama sekali tidak melihat siapa pun. Saat dia melihat ke arah depan dia di buat terkejut dengan ke empat cowok yang menatap dirinya heran.
"Kenapa muka lo kayak orang panik gitu?" Tanya Davin pada Alisya.
"Nggak papa kok kak, tadi cuma lagi nungguin teman yang masih di toilet tapi sampai sekarang belum nongol - nongol juga" ucap Alisya beralibih.
"Oh masuk sana dek, ini udah masuk lho. Nggak usah tungguin teman kamu yang belum kelihatan batang hidungnya itu" ucap Alano.
"Eh iya kak, ini juga aku mau ke kelas" ucap Alisya.
Saat Alisya akan pergi, tangannya di cekal oleh Kelvin yang membuat Alisya mengurungkan niatnya untuk pergi.
"Kenapa kak Kelv?" Tanya Alisya setelah Kelvin melepaskan cekalan tangannya pada Alisya.
"Apa lo udah dapat kabar dari Alexcio selama seminggu ini?" Tanya Kelvin tanpa basa basi.
Alisya menggelengkan kepalanya pertanda belum.
"Apa lo udah pernah nyoba hubungi Alexcio duluan?" Tanya Kelvin lagi.
"Udah kak, tapi nomornya di alihkan" ucap Alisya.
"Kemana dia sebenarnya" ucap Bryan.
Alisya yang melihat jika teman - teman dari Alexcio ini juga kelihatan tidak tahu dimana keberadaan Alexcio membuat Alisya heran. Bukan seharusnya teman - temannya Alexcio tahu dimana Alexcio sekarang.
"Lho bukannya kalian temannya Alexcio? Terus kenapa kalian nggak tau Alexcio ada dimana sekarang?" Tanya Alisya.
"Yah memang kita temannya Alexcio, tapi Alexcio sama sekali tidak mau mengatakan dimana keberadaannya sekarang. Bahkan kedua orangtuanya sama sekali tidak mengetahui jika Alexcio saat ini berada dimana" terang Alano.
"Yaudahlah nanti kalo misalnya aku dapat kabar Alexcio ada dimana, aku bakalan kabarin kalian. Sekarang gue harus masuk kedalam kelas dulu" ucap Alisya dan setelah itu dia berjalan dan sedikit berlari menuju kelasnya.
Alisya tidak tahu jika sedari tadi dia di awasi oleh cowok berjaket biru navy yang tidak lain adalah Alexcio. Dia memang sengaja menghilang bukan untuk alasan yang tidak jelas, tapi dia benar - benar ingin menenangkan pikirannya. Setelah melihat Alisya masuk kedalam kelas Alexcio langsung pergi ke tempat yang sering dia kunjungi selama seminggu ini. Tidak lupa sebuket bunga mawar selalu dia bawa ketempat yang dia kunjungi.
Alexcio menatap nisan seseorang yang dia sayangi itu. Nama NAURA jelas tertera di batu nisan itu. Dia duduk berjongkok disebelah pusara Naura, Alexcio meletakan buket bunga yang dia bawa ke nisan Naura.
Selama seminggu dia datang, tidak sekalipun dia mengeluarkan suara, dia hanya meletakan buket bunga dan menatap nisan itu dengan lekat. Mungkin sangat sulit melupakan Naura karena Naura adalah cinta pertamanya. Cinta pertamanya yang rela mengorbankan diri demi menyelamatkan nyawanya waktu itu.
Alexcio tersenyum miris ketika hari itu teringat lagi.
Jika hari itu tidak datang mungkin dia masih bisa bersama - sama dengan Naura sampai saat ini. Tapi semuanya miris dan semuanya hanyalah kenangan yang hanya bisa dia simpan. Seminggu setelah dia pergi dari rumah Alexcio benar benar merenungkan semua apa yang terjadi pada dirinya dan apa yang seharusnya tidak dia lakukan. Banyak hal yang baru dia sadari sekarang setelah 3 tahun berlalu.
Mungkin sekarang dia masih membutuhkan waktu lagi untuk memantapkan hatinya yang ingin berdamai dengan masa lalu. Dan karena itu dia masih akan menghilang untuk sementara waktu.
Alexcio berdiri dari jongkoknya, dia menatap sebentar nisan dari Naura dan setelah itu dia pergi dari tempat itu.
Alexcio menjalankan mobilnya dengan kecepatan sedang, sepanjang perjalanan dia berusaha untuk tenang dalam mengemudi tanpa memikirkan hal macam - macam karena bisa mengganggu konsentrasi dalam mengemudinya.
"Maaf jika kalian ingin aku berdamai dengan masa laluku, maka berikan aku waktu untuk melakukannya, karena semuanya tidak segampang membalikkan telapak tangan. Aku harus berusaha keras untuk bisa mencapai tujuanku yaitu kembali ke sifatku yang dulu. Mungkin tidak sepenuhnya aku bisa kembali seperti dulu, tapi setidaknya aku sudah berusaha, kalian mengatakan jika ini demi kebaikanku dan aku tau memang benar apa yang kalian katakan. Terima kasih untuk kalian berempat sahabatku yang sudah menyadarkanku untuk tidak terus larut dalam masa lalu. Kalian memang sahabatku yang paling bisa aku andalkan" ucap Alexcio dalam hati.