Setelah membuat pusing ayah dan pamannya, Rolf berniat membuat Gary ikut pusing. Dia datang ke kantor membawa Kazoo. Anak anjing emosian yang sudah mogok menggonggong dalam pelukannya. “Gary, aku bawakan hiburan super manis dari Kazoo tercinta!” Kata-kata pertama Rolf setelah tak bertemu dengan Gary selama sebulan itu terdengar t***l sekali. “Aku tak senang melihat anakmu yang galak itu.” Gary mendengus. Dia jadi berpikir lebih enak tak punya bos daripada harus terus mendengarkan ocehan tak bermutu seperti ini. “Itulah kenapa kau tak pernah punya pacar! Mulutmu jahat sekali!” Gary tak tahu apa maunya Rolf. Semua hal dikaitkan secara paksa. “Jangan sedih ya Kazoo, Gary memang buta. Tenang saja, papa mengerti pesonamu.” Dia bahkan bisa melihat tatapan muak si anak anjing. Tak ada rasa

