Nadya benar-benar tidak bisa tidur. Hingga sekarang pukul 06.30 pun dia tidak bisa memejamkan matanya. Seperti anak yang akan menantikan study tour besok, ya barangkali seperti itulah yang Nadya rasakan saat ini. Dia tidak menyangka akhirnya mendapatkan kesempatan untuk kembali walau sejujurnya ada sedikit kecemasan yang entah mengapa dengan tiba-tiba ada. Nadya harap keputusan ini sudah tepat.
Dia kemudian turun, Jingga sudah rapi mengenakan setelan kemeja dan telah menggendong tas. Setiap senin hingga kamis dia selalu berangkat, apa lagi sekarang tambah sibuk karena katanya ada banyak webinar dari kampus yang melibatkan dirinya. Kadang-kadang Jingga pulang hingga sore sekali.
"Nadya, aku cari kamu. Abis dari mana aja?" tanya Jingga ketika Nadya baru saja turun dari tangga.
"Aku di atas. Jingga, aku mau ngomong sesuatu sama kamu." Nadya memegang tangan Jingga. Dia menariknya dan membawanya ke kamar. Ia tutup pintu itu dan memegang kedua tangan Jingga. Nadya melakukannya hanya agar Jingga mengizinkan.
"Hari ini aku pengen jalan-jalan. Aku mau keluar buat refreshing. Kamu izinin aku, kan? Mungkin aku bakal nginep juga. Aku sama Wulan kok, aku bakal ajak Wulan," ucap Nadya.
Jingga terkejut. "Nadya, nggak bisa. Mau jalan-jalan ke mana? Refreshing ke mana? Nggak bisa tunggu aku sampai liburan? Aku nggak mau kamu kenapa-napa, Nat. Apalagi kamu lagi hamil," cetus Jingga. Dia jelas menolak kemauan istrinya, pikirnya Nadya memang tak sabaran hanya menunggu Jingga libur saja, perempuan itu seakan tak bisa.
Nadya berpikir. Dia tak mungkin marah di depan Jingga. Sebenarnya dia bisa saja kabur dan mencari hotel, tapi itu tidak mungkin. Sebisa mungkin Jingga harus mengizinkannya. Nadya menarik tangan Jingga, lalu mendudukkannya di sofa. Wanita itu duduk di sebelahnya dan memegang pipi Jingga kemudian. "Sayang, aku nggak lama. Cuma tiga hari. Jingga, aku nggak akan kenapa-napa, aku akan menjaga diriku sebaik baik mungkin buat kamu. Ayolah, aku nggak akan melakukan hal-hal yang nggak akan kamu kehendaki. Bahkan aku bisa pulang lebih cepat dari kemauanmu. Jingga, apa kamu mau aku gila karena terkurung di sini? Ah, enggak. Aku sangat menyukai rumah ini. Menyukai kamu juga, tapi aku ingin berlibur. Aku pengin menikamati pantai." Nadya mendaratkan bibirnya pada bibir Jingga, dan lelaki itu membalasnya dengan cepat. Jingga tampak menikmati setiap hal yang Nadya berikan, bahkan tanpa disadari Jingga begitu sangat cekatan untuk melakukan hal-hal yang tak Nadya juga.
Nadya duduk di atas paha lelaki itu, perempuan itu memegang leher Jingga, sementara kedua tangan Jingga telah berlayar ke mana-mana. Nadya merasakan bagaimana kedua tangan kekar itu telah berhasil pengait pelindung kepemilikannya, dia begitu antusias melakukannya.
Nadya dengan cekatan membuka kancing kemeja lelaki itu, lalu tangan nakalnya bergerak ke bawah dan menjelajahi segala hal kenikmatan yang Jingga punyai.
"Ah, Nadya." Jingga mengerang. Lelaki itu kemudian merebahkan tubuh Nadya di bawahnya dan mengecup leher Nadya, menciptakan kepemilikan banyak-banyak dan kedua tangannya menari ke mana-mana. Jingga seakan enggan melepaskan Nadya, sedangkan perempuan di bawahnya pun membalas hingga keduanya lebur dalam ekstase yang tak terbayangkan.
"Jingga, pelan-pelan," lirih Nadya.
"It's Okay sayang. Aku melakukannya dengan hati-hati." Jingga menjawab pelan, kemudian kembali mendaratkan bibirnya di pada bibir Nadya yang lezat dan berisi.
"Jingga, kamu nggak ke kampus?" Nadya bertanya lirih.
"Serius, jangan tanya itu. Aku bisa berangkat siang."
Nadya tertawa. Dia kemudian mendorong Jingga setelah keduanya telah melepas segala kain yang menutupi tubuh masing-masing. Bahkan Nadya tak menduga bahwa dia akan melakukan hal ini pagi-pagi sekali. "Aku bisa memberimu lebih setelah kamu mengizinkan aku untuk berlibur. Tiga hari, Jingga." Nadya berkata lirih.
"Okay, asal nggak lebih dari tiga hari!" putus Jingga.
"Serius?" Nadya berteriak.
Jingga mendaratkan kembali bibirnya dan mengecup istrinya. Dia bangkit memakai celana dan beranjak ke lemari untuk mengganti celana dan kemeja karena celana dan kemejanya telah kusut, sementara Nadya hanya mengenakan kembali bra dan underwear-nya. Dia berjalan ke arah lelaki itu dan memakaikan dasi untuk suaminya.
"Nadya, pakailah pakaian terlebih dahulu. Kalau gini kamu nanti bisa-bisa menahanku untuk ke kampus." Jingga memegang pinggang wanitanya. Nadya tersenyum. Lagi-lagi Jingga mengecup bibir Nadya, dia seakan haus akan romantisme keduanya. Jingga seperti haus dengan aroma tubuh Nadya yang baginya sangat membuatnya ketagihan.
Nadya kemudian memakai daster lalu mengantar Jingga ke depan. Dalam hati dia bersorak karena sebentar lagi Jingga akan pergi dan juga bisa pergi. Setelah Jingga berpamitan, Nadya langsung kembali ke dalam rumah dan mendekat ke arah Wulan yang sedang membuat kerupuk seblak.
"Wulan, hari ini kita keluar rumah, ya," ujar Nadya.
"Loh ke mana, Mbak?" tanya Wulan.
"Pokoknya nanti kita nginep di villa selama tiga hari. Tapi Wulan, apa pun yang terjadi nanti. Misalkan ada hal-hal yang kamu hadapi, aku mohon jaga rahasia baik-baik ya. Jangan laporkan apa pun sama Jingga. Kamu ngerti?" Nadya memegang lengan Wulan, menatapnya dalam. "Kita akan berlibur. Sekarang kemasi barang-barangmu dan kita nanti pergi dari sini."
"Baik, Mbak. Tapi saya nyapu dan ngepel dulu ya, Mbak, biar nanti kalau Mas Jingga pulang rumahnya udah bersih."
"Okay, jangan lama-lama. Selesai saya dandan kita harus udah ninggalin rumah ini." Nadya berbalik. Dia kemudian pergi ke kamar, memasukan beberapa baju dan pakaian selama tiga hari untuk Nadya tentu saja. Paling tidak dia juga nanti harus memastikan Wulan bahwa mereka tak boleh pulang selama tiga hari. Apa pun yang Nadya inginkan, mereka tak boleh pulang.
Wulan membantu Nadya membawa koper kecil yang berisi pakaian dan skincare, lalu ditaruhnya di jok belakang sementara dipinta Nadya, Wulan duduk di samping wanita yang sekarang mulai mengendarai roda empat menjauhi rumah. "Rumah udah dikunci, kan? Semuanya udah beres?" Nadya memastikan.
"Udah, Mbak. Lagian nanti sore Mas Jingga pulang, jadi saya taruh kuncinya di sepatu. Nanti minta tolong bilang ke Pak Jingga, ya," kata Wulan.
"Kamu aja. Kamu punya nomornya, kan?" Sembari sesekali ngobrol dengan Wulan, Nadya mengarahkan laju mobilnya ke arah sebuah tempat di Malang yang menyediakan villa. Dia keluar dari Batu untuk mengantisipasi kedatangan Jingga. Paling tidak dia harus pergi ke daerah yang cukup jauh agar Jingga tak memiliki kemungkinan untuk menyusul mereka.
"Wulan kamu mau kan berjanji sama saya? Jangan sampai kamu kasih tahu Jingga apa pun yang terjadi nanti. Tetap katakan sama Jingga kalau aku baik-baik aja." Nadya memperingatkan.
"Emang Mbak Nadya mau ngapain sih?" Wulan mungkin merasa aneh. Ya siapa pun, siapa yang tak merasa aneh jika percakapan Nadya begitu membuat orang lain terganggu. Seakan-akan dia seperti akan menyerahkan diri menjadi tumbal. Paling tidak mungkin itu yang Wulan rasakan.
"Ya nggak mau apa-apa. Tapi pokoknya gimana keadaannya. Misalkan tiba-tiba aku minta pulang, pokoknya jangan mau. Tunggu sampai tiga hari. Kita harus tiga hari di sana, Lan. Saya harap kamu paham." Nadya mengingatkan.
"Baik, Mbak." Wulan sangat patuh. Dia memang bisa diajak kerjasama.
Setelah entah beberapa jam perjalanan, dan Nadya hanya mengikutinya dengan GPS akhirnya mereka sampai di sebuah villa. Tampak sepi. Nadya langsung memarkirkan mobil di area parkir dan bertemu dengan lelaki tua yang telah beruban mendekat ke arah mereka. "Pak, masih ada yang kosong? Dua kamar," kata Nadya.
"Masih, Mbak. Tapi di atas sama di bawah," katanya.
"Ah okay nggak papa."
Bapak itu memberi mereka kunci dan diantarkannya Nadya ke kamar atas, sementara Wulan di bawah. Nadya sudah memperingatkan Wulan untuk jangan masuk ke kamarnya dan jangan pernah mencoba-coba untuk mengirimkannya pesan atau apa pun. "Pokoknya kalau udah tiga hari, saya akan kembali dan kita pulang. Saya cuma mau istirahat di dalam kamar dan nggak mau diganggu oleh siapa pun. Tolong ya, Wulan, jangan kecewakan saya."
Dan Wulan mengiyakan. Nadya langsung masuk ke kamar, mengunci kamarnya dengan rapat lalu menulis sebuah surat singkat yang pasti akan tersampaikan pada Nadya setelah kembali pada tubuhnya.
Nadya, tolong tetap tinggal di sini dan jangan pergi. Ini demi kebaikan kamu. Menetaplah di sini sementara, nanti aku akan membawamu pulang bertemu orang tuamu, lagi. Aku nggak tau kamu akan paham ini atau tidak, tapi kamu memang nggak boleh melanggar peraturan ini jika kamu mau kembali. Aku tau mungkin kamu kangen orang tuamu, mungkin kamu juga mau bertemu bapak dan ibumu. Tapi ketahuilah saat nanti kamu bangun nanti kamu harus tetap menetap seenggaknya lakukanlah ini agar kamu bisa terbebas dari segala hal yang ... nggak masuk akal.
Nadya, gue nggak tau lo tau nggak perihal ini. Maksud gue apa lo tahu kalau lo bertukar dengan jiwa gue? Apa lo menempati tubuh gue, Nat? Gue nggak tahu. Ada banyak kemungkinan yang terjadi. Bisa jadi aku sendiri yang merasakan ini dan harus ada di situasi ini. Bisa jadi memang kamu memang sedang tertidur pulas dan hanya ada aku yang sedang berjuang buat memilihkan takdir buat kamu. Kalau ini emang bener adanya, Nadya ... bukankah ini sangat keterlaluan. Sebenarnya sebaik apa kamu sampai-sampai Malaikat aja membantu kamu. Entah malaikat atau apa, pada intinya ia melakukannya kepadaku. Dengan memasukkan aku ke tubuhmu, memberi kamu pilihan, dan di sini aku yang jadi korban.
Sejak awal memang nggak pernah adil jika memang cuma aku. Tapi aku sadar, dan mungkin aku memang harus menerima dengan misuhan bahwa ya gimana lagi. Aku sudah menangis, aku sudah memohon, aku juga sudah berharap, tapi inilah hidup. Aku tau kehidupan memang kadang di atas dan bawah, dan sekarang aku yang sedang melakukan hal yang nggak habis pikir. Batinnya.
Setelahnya, dia langsung membuka jendela dan dilihatnya seorang lelaki berpakaian putih di bawah sana. Lelaki itu tampak sedang duduk di kursi dekat danau. Nadya ingin berteriak, tetapi dia tak tahu namanya. Wanita itu ingin kembali turun dan mencoba mendekati dia, tetapi sebelum Nadya berbalik lelaki itu telah hilang. Nadya terkejut. Ke mana dia pergi? Padahal Nadya ingin tahu bagaimana langkah selanjutnya agar dia dapat kembali ke tubuh Caramel? Bisakah dia kembali ke tubuh Caramel besok nanti. Tapi siapa lagi yang akan dia tanyakan selain lelaki yang telah hilang tadi. Bahkan dia tak tahu siapa dia? Makhluk apa? Apakah dia seorang malaikat atau apa? Nadya tak tahu namanya. Mungkin memang malaikat, dan malaikat yang hanya bisa dilihat oleh beberapa manusia saja yang terlibat dengannya. Jika memang iya.