038. Langit Malam

1446 Kata
Di balkon lantai dua, Nadya berdiri di sana sembari menatap bintang yang bertabur di langit gelap. Langit malam yang semakin kelam. Jingga telah tertidur mungkin karena dia capek. Sekarang memang pukul 23.30, tapi Nadya belum ngantuk. Banyak hal yang harus dia pikirkan, dan banyak rencana yang sebenarnya ingin dia lakukan, tapi nyatanya selalu saja gagal. Tak lama kemudian, ponsel miliknya berdering. Nama Biru ada di layar. Nadya sengaja tak pernah mengganti nama Biru atau menyamarkan namanya dengan nama orang lain, Biru begitu manis untuk diganti dan begitu keren jika disamarkan. Biru adalah Biru dan tidak boleh diganti oleh siapa pun. Terlepas jika Jingga mengetahuinya, itu bukanlah masalah. Toh Nadya berdiri sebagai seorang editor di Hae Publishing dan sejak awal jika tidak salah mereka pernah membuat perjanjian bahwa sampai kapan pun Jingga tak akan pernah melarang Nadya untuk bekerja. Termasuk jika tetap menjadi editor di sana. Nadya menoleh ke belakang memastikan bahwa Jingga ada di kamar bawah, lalu dia menggeser tombol hijau dan mulai mendengar suara Biru yang ia rindukan. Baru berpisah berapa hari saja, atau bahkan berapa jam saja rasanya sudah tidak sabar. Nadya sangat ingin memeluk Biru dan mengatakan bahwa dia kangen banget tapi tetap saja tidak akan pernah bisa. "Nadya," sapa Biru. "Iya halo," jawab Nadya. "Udah sampai Malang, ya? Gimana cantik kabarnya? Lusa, aku pulang. Nat, sayang banget kamu nggak lama di sini. Padahal kamu tahu, bahwa aku sangat menginginkan kehadiran kamu." "Maaf, kita bisa merayakan ulang tahun kamu lain kali. Dan Biru, ya aku udah sampai Malang dan udah pindah ke rumah Jingga." "Pindah? Pindah rumah?" Suara Biru terdengar terkejut. "Iya. Aku udah nggak di sana. Jingga ngajak aku pindah. Lagian ini lebih baik menurutku. Di sini ada ac dan rumahnya lebih besar daripada kontrakan lama Nadya. Aku nggak betah di sana walau di sini sebenernya nggak terlalu nyaman, tapi ternyata aku nemuin tempat yang enak. Di lantai dua. Rumah ini bisa buat istirahat kalau capek." Nadya bercerita. Dia tahu bahwa mungkin Biru kecewa karen Nadya pindah, sebenarnya Nadya juga. Dia takut tidak bisa bertemu dengan Biru lagi, tapi menetap lama di kontrakan hanya akan membuat Jingga curiga. "Aku bisa kasih rumah yang besar daripada di situ, asalkan kamu ikut aku," kata Biru. "Jangan ngomong sesuatu yang nggak mungkin. Kamu nggak sabar kah nunggu aku kembali ke tubuh asalku?" Nadya mencoba memancing. Ia tahu semenjak Biru mengetahui 'Caramel' ia menjadi Biru yang lebih blak-blakan daripada sebelumnya. Biru semakin ambisius untuk mendapatkan apa yang ingin ia dapatkan. "Kamu masih sempat nanya hal yang udah kamu tahu jawabannya, Caramel?" tanyanya. "Bahkan kalau hari ini kamu kembali ke tubuh asalmu, aku akan cari kamu di seluruh Jakarta," tegasnya. "Biru, kamu amat mencintaiku, ya?" "Sangat. Damn, i love you, Babe." "Pulanglah, nanti aku akan temui kamu. Jaga diri baik-baik, Biru. Dan jaga hati kamu juga. Aku bukan mengatakannya sebagai Nadya, tapi sebagai seseorang yang kamu cintai. Biru, aku serius pulanglah dan nanti aku akan menemui kamu. Aku pengin jalan-jalan, Jingga terlalu sibuk." Nadya mengercutkan bibirnya. "Ah, okay. Lusa aku pulang, Sayang. I miss your lips." "It's not about sex." Biru tertawa. "Aku cuma kangen cuddle. Mel, lo tahu gue nggak bisa berhenti mandang foto lo serius. Kamu beneran cantik. Aku nggak tahu kenapa aku jatuh cinta sama orang yang bahkan gue nggak pernah lihat lo secara langsung. Gue harap pertemuan kita di waktu selanjutnya nggak pernah sesulit ini." Nadya tertawa kecil. "Ya aku tahu, kamu tergila-gila padaku. Siapa memang yang nggak suka aku? Aku seorang model, Biru. Dan aku rasa nggak ada juga perempuan yang bisa berpaling dari kamu. Ini serius, aku nggak bisa nggak memikirkan kamu. Ini rasa yang serius. Ah, s**t. Aku pengin bilang pada mama bahwa kau akan menikahiku secepatnya." Nadya menahan suaranya. Dia tak ingin suaranya didengar oleh siapa pun. Apalagi Jingga. Dia berusaha menekan suaranya sepelan mungkin agar obrolan dengan Biru dapat bertahan lama. "Kalau semuanya udah kembali, aku pasti datang ke rumahmu sebagai Biru yang akan menikahi kamu," jawab Biru. "Tapi Biru, apa kau mencintaiku hanya karena cantik?" Kali ini Nadya bertanya. Ia takut jika suatu saat, jika mereka nanti akan memilih untuk menikah, tapi di masa-masa tertentu Biru pergi meninggalkannya karena sebab Nadya yang tak cantik lagi. Dipikir-pikir ada benarnya juga apa yang Jingga katakan kemarin sore, jika alasan itu ada maka bisa saja seseorang pergi jika seseorang lawannya tak lagi memiliki apa yang dibutuhkan. "Cantik." Biru hanya menjawab itu. "Kalau aku udah tua dan nggak cantik lagi?" Nadya terus-menerus bertanya karena takut tentu saja. "Kamu cantik tiap hari, dan kamu nggak perlu merasa khawatir. Aku cuma butuh kamu. Aku cuma menyukai kamu." Biru berkata tegas. "Kamu tahu, Nadya adalah cinta pertamaku, dan aku telah menjalani dua tahun tanpa Nadya tapi ... tak sedikit pun aku bisa lupakan dia. Tapi bukannya Tuhan memang maha baik. Gue akhirnya dipertemukan sama elo yang berhasil bikin gue lupa dia dan sekarang amat ikhlas bahwa yang menikah adalah Nadya, bukan Caramel." "Apakah nanti Caramel juga akan dilupakan semudah kamu melupakan Nadya." "Kalau aku nggak ingin melupakannya, aku nggak akan melupakan kamu. Caramel, aku bukan tipe orang yang mudah jatuh cinta, jadi tolong percayalah. It's not about love, tapi lebih dari itu. Gue sayang sama elo, gue nggak mau lo terluka dan Mel, gue nggak mau lo sama yang lain." Nadya tersenyum. Hingga pukul 03.00 obrolan mereka kemudian selesai. Nadya hendak pergi, tapi seorang lelaki berbaju berkemeja putih rapi melangkah ke arahnya dengan senyum yang sangat ia kenali. Lelaki itu adalah seseorang yang Nadya temui ketika di awal bangun dari tidurnya? Apakah lelaki itu akan menukar kembali jiwanya. "Ca.ra.mel." Lelaki itu berdiri. "Gimana kabarnya? Sudah jauh lebih nyaman daripada di tubuh sendiri?" tanyanya seraya menyunggingkan senyum. Dia membawa tongkat putih kecil, lalu berdiri di depan perempuan itu. "Aku nggak tahu kamu siapa, tapi tolong kembalikan aku ke tubuhku. Ini udah lama, udah hampir sebulan," kata Nadya. Suaranya benar-benar menyimpan kesal luar biasa. "Bukannya waktunya adalah tujuh puluh hari? Tapi kamu juga hanya akan kembali ke tubuhmu jika memang Nadya menyukai takdir yang kau pilih, jika tidak ..." "Stop! Jangan mengatakan kalau aku punya kemungkinan nggak bisa balik lagi ke tubuhku. Aku mohon, menjadi orang lain nggak pernah nyaman. Aku ingin menjadi diri sendiri, aku ingin bebas. Apakah aku punya kesalahan sampai-sampai aku harus menjalani hidupku yang apes kayak gini?" Nadya marah. Suaranya telah naik beberapa oktaf. Bahkan dia sudah tak peduli jika Jingga terbangun. Dia hanya merasa emosi karena merasa telah dipermainkan oleh permainan yang sangat serius. "Caramel, hidup selalu mempunya kemungkinan dan ketidakmungkinan. Kamu juga. Semua manusia punya keduanya. Jadi, jangan terlalu percaya diri bahwa kau bisa kembali ke tubuhmu." "Bagaimana agar aku kembali ke tubuhku?" "Jangan arogan. Kamu terlalu keras mengedukasi orang lain, kamu terlalu egois dan kamu nggak mau mengalah. Ingat, kamu adalah Nadya untuk sementara, jadi perbaiki segalanya agar Nadya menyukai takdirnya." "Okay, tapi aku punya satu syarat. Aku akan memperbaiki hubunganku dengan orang lain, dengan Jingga, dan dengan siapa pun agar Nadya menyukai takdirnya, tapi aku mohon biarkan aku kembali ke tubuhku paling tidak tiga hari saja. Aku rindu mama dan papa. Aku mohon." Nadya membentuk kedua tangannya menjadi memohon, dia benar-benar ingin bertemu orang tuanya. Sudah sebulan dia tidur dan dia ingin bertemu mereka walau hanya sebentar. "Tidak bisa." Lelaki itu menjawab seakan tanpa berpikir terlebih dahulu. "Kau? Tidak bisa? Kenapa? Bahkan sejauh ini aku rela dan ikhlas bertukar tubuh dengan Nadya, tapi hanya meminta tiga hari saja kau bilang tidak bisa? Aku hanya ingin kembali ke masa depan dan memandang wajah Mama. Aku mohon. Aku kangen Mama. Serius, aku mohon." "Baiklah. Tapi, pamitlah pada suamimu bahwa kau ingin pergi jalan-jalan dengan Wulan. Karena aku tak bisa mempertemukan Nadya dan Jingga untuk saat ini. Besok, pergilah sendirian dan menyewa penginapan. Karena nanti Nadya akan tinggal di sana sementara kamu bertemu dengan orang tuamu, atau kembali ke masa depan. Jangan sia-siakan kesempatan tiga hari itu." Lelaki itu kemudian berbalik sebelum Nadya mengucapkan terima kasih, dan kemudian hilang. Entah hanya halusinasi atau apa, Nadya akhirnya berhubungan dengan dunia yang bukan dunianya. Tapi terserahlah, dia tak ingin memikirkan ini lebih lama. Nadya hanya ingin kembali pada keluarganya itu saja. Dan sekarang ia harus izin pada Jingga untuk pergi berlibur. Paling tidak itulah yang Jingga tahu. Dia sendiri tak tahu kenapa Nadya tak bisa bertemu Jingga untuk saat ini, sebenernya siapa Nadya dan ia ingin tahu tentang alasan kenapa seseorang bisa bertukar jiwa. Apa yang menyebabkannya dan bagaimana cara keluar dari takdir yang memuakkan ini. Tapi hari ini yang paling penting, dia harus mencari tempat aman yang tidak diketahui siapa pun termasuk Wulan. Tapi meski begitu Wulan harus tetap diajak agar Jingga tak curiga atau salah paham. Hari ini dia tak boleh membuang kesempatan dan harus memanfaatkan tiga hari dengan sebaik mungkin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN