037. Segelas Kopi

1626 Kata
033. Segelas Kopi Nadya keluar setelah mengenakan kulot dan sweater rajut cokelat tua. Dia berjalan ke depan ketika telah pukul 16.30. Dia baru sadar bahwa rumah Jingga cukup strategis dan banyak kios-kios yang menjual berbagai macam makanan, minuman, hingga toko serba 35 ribu. Nadya melangkah menuju kedai kopi. Dia masuk dan memesan cappucino, kentang goreng, ice cream dan pisang cokelat, lalu duduk di depan sembari memperhatikan jalanan. Rasanya masih sangat lama untuk menantikan waktu di mana jiwanya kembali ditukar dengan milik Nadya. Mungkin kurang lebih sekitar 40 hari lagi dan itu tidak main-main. Baginya sangat lama. Tak lama dari itu pelayan tiba sembari membawa nampan berisi pesanannya. Nadya kemudian menyedot sedikit cappuccino-nya, lalu mulai menikmati pisang cokelat. Beberapa orang memperhatikan dia, tatapannya seperti meledek seakan Nadya adalah wanita yang baru saja diputuskan oleh pacarnya. Padahal tidak salah juga ke kafe sendirian. Apakah harus ada teman untuk menikmati hari-hari yang berlalu? Bahkan dia tak suka. Apakah mereka tak pernah sendirian ke pantai sekadar untuk melepas lelah, ataukah mereka tak pernah pergi ke mall seorang diri hanya untuk mengelilingi dari satu lantai ke lantai lain hany untuk healing dari banyaknya tugas. Padahal ia pun sering self reward dengan membiarkan dirinya sendiri untuk beli apa pun sendirian. Dan itu tak salah. Kali ini dia mencoba ice cream miliknya, lalu menghabiskannya hingga tandas. Makanan di sini lumayan enak, terlebih ia dapat menikmatinya sembari melihat Malang sore hari. Nadya kemudian beralih memakan pisang cokelat kembali, sebelum akhirnya seseorang tiba-tiba duduk di depannya. "Aku minta maaf atas kejadian semalam." Jingga entah sejak kapan, masih rapi menggunakan kemeja—sepertinya baru saja pulang dari kampus— langsung duduk di depan istrinya. Menatap Nadya dengan tatapan penuh penyesalan. Di Kampus, mungkin dia sudah melalui proses berpikir panjang hingga akhirnya memutuskan untuk meminta maaf. "Kamu baru balik?" tanya Nadya. Sesungguhnya dia tampak enggan dengan keputusan Jingga yang datang ke sini. Jingga mengangguk. "Iya. Baru banget. Tiap hari aku lewat sini, terus aku lihat kamu sendirian, jadi aku ke sini dulu. Kamu nggak papa, kan?" tanya Jingga lembut. "Oh nggak papa sih cuma pengin jalan-jalan aja, lagian bosen di rumah terus. Kamu nggak mau ngajak aku staycation, Jingga?" Nadya menyedot kembali cappucino-nya sembari menatap lekat lelaki di depannya. "Ke mana? Kemarin kayaknya kamu nggak betah," jawab Jingga. "Ehm, Malang ada wisata apa aja sih. Pokoknya aku pengin jalan-jalan. Ngehabisin waktu buat menjelajah tuh enak banget. Coba deh kalau di Bandung, aku tau lokasi-lokasi yang bagus buat—" Hah, gue ngomong apa anjir? Astaga beneran makin lama makin gawat mulut gue nggak bisa ngerem. Tolong banget ini mah. Sekarang, raut wajah Jingga tampak berubah, seperti orang yang kebingungan. "Hei Nat, maksudmu gimana? Kamu seolah-olah pernah tinggal di Bandung selama itu dan mempertanyakan wisata di daerahmu sendiri. Nadya, akhir-akhir ini kamu banyak pikiran, ya? Jangan mikir yang berat-berat, Nat. Atau ceritain semuanya apa yang bikin kamu nggak nyaman. Aku bakal dengerin, Sayang. Aku nggak bakal coba sebisaku buat bahagiakan kamu. Nat, jangan sungkan buat cerita apa pun, ya." Jingga memegang kedua tangan Nadya, mengusapnya, memberinya perhatian penuh. Buru-buru Nadya kembali menarik diri dan menyedot lagi cappucino-nya, dia benar-benar lupa bahwa di depannya adalah Jingga, bukan Biru yang telah mengetahui semuanya. Nadya merutuki kesalahannya, dia teledor sekali. "Ya lupakan deh, pokoknya aku pengin jalan-jalan. Aku males di rumah terus, bosen juga. Mungkin ini karena efek hamil juga kali, ya, jadi banyak kemauan." Alibinya, padahal Nadya hanya tak betah di rumah. Ah tidak, maksudnya ia hanya ingin refreshing. "Aku harus cari waktu ya, Nat. Soalnya aku lagi sibuk jadi dosen pembimbing sekarang. Kalau aku tinggal, aku khawatir mahasiswa dan mahasiswi malah bimbingannya jadi molor. Kamu tahu, kan, rasanya nggak enak kalau kita udah siap buat bimbingan, tapi malahan dighosting sama dosennya." Jingga berkata lembut, berusaha memberi pengertian. Toh menurutnya masih ada lain hari, minggu depan atau bulan depan, karena jika sekarang dia memang tidak bisa. Kerjaannya benar menumpuk, dan jika ditinggal semuanya akan berantakan. "Ah, ya udah deh kalau gitu. Ngomong-ngomong kamu nggak mesen sesuatu dulu, atau mau langsung pulang lagi?" tanya Nadya. "Ya aku pulang kalau kamu udah mau pulang. Ini udah sore juga," putus Jingga mencoba solutif. "Mending pesan minum dulu, Ga. Soalnya aku masih pengin di sini. Mungkin pulangnya nanti kalau udah petang," usul Nadya. Ya padahal jika pun Jingga memutuskan buat pergi silakan saja. Nadya tak keberatan dengan kesendiriannya. "Ah gampang kok." Jingga memandang wajah Nadya. Sesekali rambut wanita di depannya bergerak karena angin sore. Wajahnya masih sendu seperti biasa dan Jingga menyukainya. Bibirnya yang merah dan berisi ... bahkan dulu Nadya tak pernah menyukai lipstik merah dan entah sejak kapan sekarang ia memiliki hobi baru menggunakan itu, tetapi Jingga akui bahwa sekarang penampilan Nadya lebih berani walau sangat disayangkan dengan kenyataan bahwa Nadya telah melepas jilbabnya. Sejujurnya Jingga ingin menasihati Nadya untuk kembali seperti dulu, memakai jilbabnya lagi tapi sayangnya Jingga tak ingin ia bertengkar lagi. Capek. Kesal. Jika semua hal harus diselesaikan dengan pertengkaran, itu benar-benar merusak mood-nya dalam bekerja. Jingga hanya berdoa agar Nadya bisa kembali seperti dulu, menjadi Nadya yang menutup auratnya dan menjadi Nadya yang lugu. Tapi terlepas dari itu semua nyatanya Jingga sangat menyukai dan mencintai Nadya bagaimana pun keadannya. "Kamu ngapain liatin aku segitunya?" Nadya merasa risih. Jingga hanya tersenyum. "Entahlah, Nat. Kamu nggak pernah bikin bosen. Aneh banget, kenapa aku sesuka ini sama kamu. Candu banget. Aku kayak ngerasa bahwa kamu emang satu-satunya dan nggak pernah ada ganti." Jingga bertutur, terdengar geli di telinga Nadya tetapi dia berusaha tersenyum agar Jingga tak semakin jauh curiga bahwa dia bukanlah Nadya. "Mas!" Jingga memanggil waiters. Lelaki ber-uniform putih hitam itu mendekat. Dia memberikan menu pada Jingga dengan sopan, "Ini, Mas. Bisa dipilih dulu," katanya. "Ah okay. Saya mau cappucino dan kentang goreng lagi. Terus kebabnya juga dua." "Baik, silakan ditunggu dulu ya, Mas." Dia berkata manis. "Okay." Selepas dia pergi Nadya berkata pada Jingga. "Kamu pesan cappucino juga, suka cappucino?" tanyanya. "Ehm bukannya kamu udah tahu dari lama, ya. Iya, aku suka cappucino. Dulu kan awalnya kamu nggak suka cappucino, terus inget nggak waktu kita ke pantai Blitar dan aku minum cappuccino, kata kamu, 'Jingga emang cappucino enak, ya?' soalnya kamu pertama kali nyoba cappucino di penjual kaki lima dan katamu rasanya kurang pas di lidah. Tapi begitu aku beli gelas kedua buat kamu, dan kamu nyobain, kamu akhirnya suka dan sampai sekarang mungkin kamu suka cappucino." Jingga bercerita, bernostalgia. Wanita di depannya jelas tidak tahu kapan kejadian itu. Tidak semua ingatan Nadya ternyata dia miliki. Hal-hal kecil banyak yang terlewat begitu saja, mungkin Nadya tak memberikan semuanya. Padahal sejak kecil cappucino adalah minuman kesukaan dia, Caramel. Selain matcha latte, dia sangat suka cappucino. Cappucino memiliki sedikit rasa pahit, manis, dan Nadya menyukainya. Tak ada yang lebih enak daripada cappucino menurutnya. Harum yang dihasilkan cappucino berbeda dengan harum minuman lain, dan Nadya sangat menyukai aromanya. Apalagi jika hangat. Bukan sekadar minuman, dalam salah satu novel yang dibacanya dari karya Biru, seorang bernama Raya sangat menyukai cappucino. Dia mengatakan bahwa cappucino bukan hanya sekadar minuman, tapi ia adalah teman bagi orang-orang yang kesepian. "Kenapa kamu suka Cappucino?" tanya Nadya. "Ehm, ya suka aja sih, Nat. Emang suka. Pertama kali nyoba langsung suka. Kayaknya nggak semua hal harus punya alasan deh, iya, kan? Kita nggak harus punya alasan buat kenapa kita suka makanan atau minuman tersebut, termasuk kenapa kita suka sama seseorang." Jingga berpendapat. Belum sempat Nadya menjawab, pelayan datang membawa baki berisi satu cup Cappucino, sepiring kentang goreng, dan dua kebab yang ditaruhnya di atas meja kemudian. Jingga menyodorkan kebab dan kentang di tengah, agar Nadya ikut makan bersamanya. Mungkin dia tahu bahwa Nadya masih lapar. Karena hamil, Nadya harus sering-sering memakan makanan sehat menurutnya. Apa pun bagi kebahagiaan Nadya, sebenernya Jingga berusaha untuk bisa menuruti. "Gimana pendapat kamu tentang pernyataan aku, Nat?" tanya Jingga setelah menyedot Cappucino-nya. "Ya mungkin ada benarnya juga, tapi terlepas dari semua hal yang kamu bilang, aku rasa semuanya punya alasan. Gini deh, mungkin kamu nggak tau apa alasan kamu suka Cappucino, tapi tahu nggak sih, ada atau nggak ada, kenyataannya tetep ada kok. Karena rasanya yang emang pas di lidah kamu. Begitupun waktu kamu seneng sama makanan misalnya kebab, ya itu karena pas aja di lidah kamu juga, kamu suka rasanya. Jadi menurut aku semuanya ada alasan termasuk suka sama seseorang, sih." Nadya mengambil kentang goreng, lalu mulai memakannya. Dia benar-benar ketagihan dan berniat untuk meminta Wulan menggoreng kentang lagi jika nanti dia ingin lagi dan lagi. Padahal kebanyakan pun tak bagus. "Berarti aku harus nyiapin alasan ya kenapa aku suka sama kamu?" Jingga tertawa kecil. "Aku nggak nanya sih," sergah Nadya. "Ini kan ngomongin makanan dan minuman, kamunya juga yang terlalu buru-buru nyerempetin ke perasaan. Tapi aku juga nggak setuju sama pendapat kamu yang bilang bahwa mencintai nggak harus tau alasannya, tapi tetep aja kita sadar bahwa ada alasan yang harus kita tahu dan alasan itulah yang jadi sebab kita akhirnya suka." "Kalau kayak gitu berarti cinta nggak akan bertahan lama dong, Nat. Alasan-alasan itu nggak abadi. Misalkan kamu suka sama aku karena aku ganteng, kalau udah tua dan udah nggak ganteng, berarti kamu udah nggak ada rasa suka lagi?" Jingga menuntut jawaban. "Makin lama sebuah rumah tangga, aku rasa makin beda motto-nya. Awalnya orang menikah karena suka. Selepas udah sering menjalani kehidupan sehari bersama-sama, bisa jadi rasa suka itu hilang dengan sendirinya dan yang tersisa cuma rasa terbiasa. Itulah yang jadi alasan kenapa manusia bisa bertahan walau sebenernya perasaan udah biasa aja." Nadya berasumsi. Kedua-duanya berbicara seperti pakar, padahal hanya sedang memperlama waktu di kafe. Nadya hanya tidak mau cepat-cepat pulang dan kembali menatap kamar, dan Jingga. Dia hanya ingin di sini lebih lama walau sebenarnya dia hanya ingin sendiri saja tapi mengusir Jingga pun tak enakan. Bagaimana pun juga, Jingga adalah suaminya dan Nadya harus siap dan paham akan hal itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN