042. Di Sebuah Tempat

1609 Kata
Nadya baru saja terbangun dari tidurnya. Perempuan itu mengerjap, lalu duduk di ranjang sembari mengingat-ingat kembali tentang dirinya. Ah, dia terkejut saat mendapati dirinya terbangun di sebuah tempat yang tak bisa ia kenali. Perempuan itu beranjak ke arah jendela, membukanya dan sinar mentri telah terbit dari timur. Dia terkejut melihat pemandangan cantik di bawah sana. Nadya tak mengenali tempat ini, di mana dia dan apa yang dilakukannya saat ini? Seingatnya, dia pulang dari mengajar dan tertidur setelah itu dia lupa apa lagi yang dia lakukan. Perempuan itu berbalik, lalu melihat sebuah kertas di atas meja. Dia mengambil kertas itu dan melihat sebuah pesan yang mengatakan bahwa dia harus di sini selama tujuh hari. Maksudnya apa? Nadya kangen ayah dan ibunya, dia juga harus menikah dengan Jingga, dia juga harus bekerja, bagaimana mungkin dia harus di sini? Selama ini dia tidak sadar ke mana dan apa yang telah dia lakukan. Nadya kemudian hendak keluar, tapi pintu terkunci. Dia menggedor-gedornya dengan kencang, tapi tak ada satupun yang menyahut. Sampai akhirnya terdengar sebuah suara langkah yang mendekat. "Mbak Nadya, mau keluarkah? Mbak Nadya aku nggak tau apa yang Mbak Nadya mau, tapi aku nggak tega kalau nggak buka pintu." Dari luar suara Wulan terdengar. "Kamu siapa? Tolong siapa pun yang di sana keluarkan aku dari kamar. Aku harus temui ibu dan bapak. Aku harus menikah juga," sahut Nadya dari dalam. Dia benar-benar tak tahu kenapa dia harus dikurung di kamar ini. Apa kesalahannya dan kenapa dia harus melakukan ini. Semoga saja seseorang di luar sana mau membukakan pintu untuknya. Karena dia benar-benar tidak tahu kabar. Rasanya dia lama sekali tertidur, padahal hanya semalam kan? Tapi rasanya sangat lama. Di luar Wulan juga merasa aneh. Dia bertanya-tanya kenapa Nadya bertanya siapa di luar, apakah Nadya lupa suara Wulan atau bagaimana? Wulan tak mengerti. Tapi dia masih tetap teguh dengan janjinya bahwa dia akan menepati apa pun yang terjadi. "Wulan, apa pun yang terjadi sama saya nanti, biarpun saya meminta pulang atau kamu merasa ada yang aneh dengan saya, tolong jangan biarkan saya keluar dari kamar ini dan tahan saya agar saya tidak pulang. Kalau udah seminggu saya akan pulang lagi. Tapi tolong berikan sarapan dan makan malam seperti biasa, sediakan buah-buahan dan camilan juga karena saya hanya pengin di kamar saja. Itu aja. Saya juga udah berpesan sama penjaga villa untuk nggak mencampuri urusan saya. Dan karena katanya penjaga villa juga anaknya akan wisuda, jadi besok dia nggak ada di sini dan cuma kamu yang nemenin aku. Jadi tolong jangan biarkan aku pergi dari sini, ya." Begitulah pesannya dan Wulan berjanji untuk menepatinya. Toh Wulan takut dengan apa yang sebenarnya Nadya katakan. Sebenarnya apa yang perempuan itu rencanakan, tapi Wulan hanya berusaha menuruti karena dia bekerja untuk Nadya, jadi tak sopan jika dia menanyakan yang bukan termasuk otoritasnya. Wulan curiga Nadya sedang bersekongkol dengan dukun atau apa itu, tapi bagaimana pun dia tak boleh membocorkannya. Wulan kemudian segera pergi untuk mengambil sarapan yang telah disiapkan untuk Nadya. Dia kemudian membuka pintu kamar Nadya, dan mendapati perempuan itu tengah berdiri dengan raut wajah yang ketakutan. "Kamu siapa?" tanyanya. "Sebaiknya Mbak Nadya makan dulu biar kesehatan Mbak Nadya terjaga." Wulan menaruh sepiring nasi goreng dan segelas air mineral di atas meja kemudian mundur beberapa langkah hingga ke depan pintu. "Kamu tahu kenapa saya ada di sini? Kenapa saya bisa di sini? Jujur, saya takut. Saya mau ketemu ibu dan bapak saya. Saya juga harus menikah. Saya di mana sekarang?" Nadya bertanya dengan suara lembutnya. Wulan terkejut. Bagaimana tidak, perempuan di depannya mengatakan akan menikah padahal dia telah menikah dengan Jingga. Benar-benar ada yang tidak beres. Apa jangan-jangan Nadya telah membuat perjanjian dengan makhluk halus yang bayarannya adalah dengan merenggut ingatannya, siapa yang tahu? Wulan tak mengerti. Makin dia banyak mengetahui hal-hal yang tidak dia tahu, makin ingin dia tak mencampuri urusan majikannya. Tapi Wulan merasa takut. Jika memang Nadya bekerjasama dengan makhluk halus atau membuat perjanjian dengan sebangsa jin, paling tidak ada yang harus Nadya korbankan dan Wulan cemas jika nanti Nadya mengorbankan Wulan untuk sesuatu bernama tumbal. Wulan langsung berpikiran jauh dan tidak jernih sama sekali. Bagaimana mungkin dia bisa melakukan positif thinking jika memang kejadiannya sedemikian random dan mengganggu tidur serta ketenangan. Wanita di depannya tidak kenal Wulan, mengatakan hal-hal aneh. Tapi Wulan berusaha untuk hati-hati. "Mbak Nadya lagi berlibur di sini. Dan katanya Mbak Nadya kan yang mau tetep di sini, jadi nikmati liburan Mbak Nadya. Seminggu lagi kan Mbak Nadya harus pulang." Wulan menjawab seadanya. "Saya pamit ya, Mbak, kalau ada perlu apa-apa ketuk pintu aja." "Tunggu. Tolong saya. Saya mau keluar. Kalau memang saya bilang saya liburan, ya udah saya udahi liburannya. Saya nggak mau lebih lama di sini, dan liburan macam apa yang hanya terdiam di kamar? Itu bukan liburan namanya, aneh banget," debat Nadya. Ya aneh memang. Sejak pertama kali Wulan diajak pergi saja sudah aneh, kenapa Nadya tak sabar menunggu Jingga libur dan kenapa dia hanya meminta di kamar dan enggan keluar. Memang seaneh itu. Tapi perjanjian tetap perjanjian dan Wulan tak akan pernah melanggarnya. Dia tak boleh mengecewakan majikannya. "Maaf, tapi Mbak Nadya bisa pulang nanti. Sekarang sabar aja di sini terlebih dahulu. Kalau mau jalan-jalan mungkin saya bisa antarkan, asalkan jangan pulang, Mbak. Kalau Mbak Nadya mau apa-apa bilang aja, nanti saya bawakan buat Mbak Nadya." Wulan keluar, menutup kembali pintunya, sedangkan dari dalam Nadya masih berusaha mengetuknya dengan cukup keras. Dia lupa apa yang telah terjadi. Kenapa tiba-tiba berada di sini. Nadya capek juga, kemudian dia memutuskan untuk makan terlebih dahulu. Kalau memang harus menunggu ya sudah, paling tidak ada kepastian bahwa nanti dia akan dibawa pulang lagi. Karena bagaimana pun dia masih memiliki banyak tanggungan. Tapi pernikahan dengan Jingga mungkin akan terlaksana sebentar lagi, bagaimana jika dia gagal dan tidak bisa hadir? Itu akan mempermalukan kedua orang tuanya. Nadya harus berpikir bahwa dia harus pergi dari sini walau kenyataannya sulit. Dia berada di lantai dua, dan satu-satunya jalan hanya melompat jika dia bisa. Namun, dia masih sayang pada nyawanya. Dia juga belum siap jika harus mati sekarang, dia masih ingin membahagiakan kedua orang tuanya. Karena Nadya adalah harapan terakhir milik ibu dan ayahnya. Untuk membahagiakan mereka, Nadya akan melakukan apa pun untuknya walau itu mengorbankan dirinya. Sembari makan, Nadya masih mencari cara untuk keluar walau jelas sudah buntu. Satu-satunya jalan keluar adalah mengajak jalan-jalan jika Wulan mau. Sementara di luar, Wulan memegang ponselnya dengan erat. Dia ingin mengadu pada Jingga tapi tidak mungkin. Sama saja itu melanggar peraturan. Tak lama kemudian, ponsel miliknya menyala. Jingga menelpon entah untuk ke berapa kalinya. Lelaki itu sangat mencemaskan istrinya. "Iya hallo pak Jingga," sapa Wulan dengan suara yang dibuat setenang mungkin. "Nadya baik-baik aja, kan? Teleponnya mati." "Mbak Nadya aman, Pak. Dia lagi di taman. Katanya sengaja Mbak Nadya mematikan hp-nya sampai pulang lagi. Soalnya dia katanya nggak mau diganggu dan ngobrol dengan siapa-siapa dulu. Jadi, pak Jingga boleh nanya lewat saya. Mbak Nadya baik-baik aja kok, Pak," dusta Wulan. Dia berharap semoga Jingga tak menanyainya lebih detail. Karena Wulan takut jika nanti akan keceplosan. "Oh gitu, ya udah. Saya nitip Nadya ya, Wulan. Tolong kalau ada apa-apa segera kabari saya." "Baik, Pak." "Okay, terima kasih." Jingga langsung menutup sambungannya. Wulan memeluk ponselnya, dia mungkin khawatir, bingung, dan tidak tahu harus berbuat apa jika berada di posisi ini. Tapi jawabannya hanya perlu menunggu seminggu, setelah itu bagaimana pun keadannya mereka harus pulang. Tapi meski begitu Wulan tak akan mengatakan apa pun pada Jingga. Ia telah berjanji pada Nadya untuk merahasiakan semuanya. Sementara di dalam, Nadya tengah membaca ulang, memandang tulisan yang ada di atas meja. Dia tak mengerti maksudnya kenapa seseorang itu ingin Nadya di sini, apa maksudnya menahan Nadya untuk tidak pergi, padahal dia memiliki pekerjaan yang harus dikerjakan. Dia belum selesai menyunting naskah Biru, dia juga harus terlibat dalam promosi novel baru Biru, tapi Nadya malah mengecewakan Hae Publishing. Nadya kemudian memandang alam di bawah sana. Dia mencoba untuk tenang walau hati sejak tadi ingin sekali pulang. Dia juga terkejut tiba-tiba bangun dengan pakaian pendek, padahal dia tak pernah memakai baju tidur pendek. Nadya sangat menjaga tubuhnya, dan ia tak sekalipun berani untuk keluar dengan pakaian seperti ini. Dia membuka tas yang berada di tas, entah tas milik siapa. Dia menemukan beberapa setel pakaian yang menurut Nadya sangat kekurangan bahan. Ada sleeping dress, rok pendek yang bahkan sepertinya jika dipakai tidak menutupi lutut, dan baju-baju tanpa lengan serta sexy tentu saja. Nadya sangat risih melihat pakaian itu. Bahkan seseorang yang membawanya ke sini tidak mengerti style yang biasa Nadya gunakan. Dia bingung juga, jika pulang sekarang tak ada jilbab yang bisa dia pakai. Bahkan tidak ada mukena ataupun sajadah. Bagaimana dia harus salat? Nadya melihat banyak sekali make up serta skincare di salah satu totebag. Bahkan banyak yang tidak dia ketahui gunanya. Nadya hanya penggunaan cuci muka, sunscreen, dan bedak. Tapi seseorang yang menahannya untuk tetap di sini terlampau sangat ribet menurutnya. Banyak sekali perlengkapan make up dan lipstik merah menyala yang bahkan Nadya benci untuk melihatnya. Dia bingung ini milik siapa. Tak ada tanda-tanda apa pun lagi selain sobekan surat di atas meja yang meminta Nadya untuk menetap. Tapi sampai kapan? Apa yang telah mereka lakukan padanya? Nadya berdiri di depan cermin, dia terkejut saat mendapati lehernya penuh dengan bekas kecupan. Dia menggosok-gosoknya tapi tidak hilang. Dia mundur, siapa yang telah melakukannya? Apakah seseorang telah melakukan tindakan kekerasan seksual padanya? Dia juga baru sadar bahwa bagian bawah dari hal sensitif-nya terasa nyeri. Ya, seseorang pasti telah melakukan tindak kekerasan seksual. Tapi mana buktinya? Nadya tak memiliki bukti apa pun untuk melaporkan orang tersebut pada pihak berwajib. Dia memegang kepalanya, kemudian menangis. Menangisi dirinya yang tidak bisa melakukan apa pun, termasuk kabur dari sini.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN