043. Perjalanan

1678 Kata
Pukul 01.00 Nadya baru saja pulang. Diantar Biru, mereka berniat akan kembali berangkat ke Bali. Penerbangan dari Jakarta ke Denpasar dimulai besok pukul 09.00, dan Nadya belum pamit. Dia merasa bahwa tak perlu izin untuk meninggalkan Jakarta. Padahal tujuan dia tersadar ke masa kini adalah untuk menatap wajah mamanya yang telah lama dirindukan, tapi akhirnya dia hanyut pada pesona Biru dan melupakan semuanya. Di pelataran, mereka kemudian turun dari mobil. "Hei, gimana kalau orang tuamu nggak izinkan?" tanya Biru. Caramel mengapit tangan lelaki itu. "Tenanglah, Sayang. Aku nggak meminta izin. Aku bakal langsung pamit," jawabnya. "Aku kangen pantai, aku kangen Denpasar serius. Bukannya di sana tempat yang paling nyaman buat makan Tteokbokki berdua?" Dia tersenyum lebar. Sial, Biru makin mencintainya. Caramel memang sangat mempesona dan selalu saja berhasil menggoda Biru. Caramel menarik tangan Biru untuk masuk ke ruang tamu. Di sana, kedua orang tuanya serta kakak Caramel duduk dan masih terjaga. Caramel memang salah, dia tak menjawab telepon dari mereka dan wajar mereka mencemaskannya. "Caramel Sayang, kamu abis dari mana? Kami cemas sama kamu, Mel." Mama Caramel langsung berdiri ketika baru saja melihat kehadiran anaknya. Papanya juga. Sementara kakak laki-laki Caramel menatap Biru tajam. "Mel, nggak ada orang abis koma langsung jalan-jalan. Lo nggak lihat papa sama mama khawatir? Lo nggak cemas sama mereka, dan lo milih buat pergi?" "Aku capek di rumah, Bang. Aku tau aku salah, aku minta maaf." "Sebelumnya maaf, ini kesalahan saya. Saya yang mengajak Caramel pergi. Tolong jangan marahi Caramel. Serius, Om dan tante saya yang mengajaknya keluar," ucap Biru. "Kamu ... kamu Tangkai Ra, kan?" Mama menunjuk Biru. Wajahnya terlihat terkejut, menelisik setiap guratan di wajah Biru. "Yang terlibat skandal n*****a itu, Mah?" Sang papa memastikan. Dia menatap Biru dengan seksama. Caramel mendengkus, mereka terlampau sangat jujur. "Apaan sih? Enggak. Dia bukan Ra. Mukanya cuma mirip. Mama, aku mau ke Bali. Aku bakal berlibur ke Bali sampai mungkin tiga hari di sana, aku mohon izinkan aku pergi, ya. Aku janji akan pulang lagi." Caramel memegang tangan wanita itu. "Lo nggak sadar kah kalau lo baru aja sembuh? Caramel, lo harus istirahat dan jangan liburan dulu. Bulan depan lo bisa ke Paris sekalian. Asalkan jangan sekarang. Gue nggak habis pikir sama elo." Sang Kakak mengomel. Dia jelas tidak suka dengan tindakan dan keputusan Caramel, tapi memang siapa yang bisa menghalangi dia pergi. Caramel selalu memiliki hak mutlak yang tidak bisa diganggu dan dibatalkan oleh siapa pun. "Mama khawatir. Lo bangun-bangun langsung pergi. Padahal gue tau lo masih sakit. Lo jangan seenak sendiri. Sekarang lo baru pulang dini hari, lo nggak mikirin gue dan orang tua lo yang cemasin lo, sedangkan lo seenaknya keluar malem nggak inget waktu," lanjut sang Kakak. "Iya gue tahu, tapi gue butuh liburan. Gue males di rumah terus. Gue butuh healing. Seriously, aku bakal pulang lagi. Aku cuma lima hari. Ayolah, aku udah beli tiket pesawat. Aku nggak mau kalau rencanaku sampai gagal," tegas Caramel. Di sampingnya, Biru, sebenernya dia merasa bahwa omongan keluarga Caramel memang benar. Tidak seharusnya Caramel langsung pergi, apalagi ke Bali. Meraka akan melalui perjalanan jauh, tapi Biru juga tidak bisa menahan Caramel. Biru terlampau sangat merindukan perempuan itu dan ingin pergi berdua bersama Caramel. Biru tahu waktu mereka tak lama, Caramel bisa kembali koma dan dia akan terlempar lagi ke tahun 2017 di mana dia katanya akan mengajak Biru untuk berubah. Dan pada kesempatan kali ini jelas Biru tak akan mau melewatkannya, bagaimana pun caranya dia harus pergi dengan Caramel dan menghabiskan waktu dengan perempuan itu. "Lo ... lo tau kan adik gue baru siuman? Lo waras kah ngajak adek gue keluar, b******n?" Kakak Caramel menatap Biru dengan pandangan yang sangat tajam. "Tangkai Ra. Lo kira kita bisa dibodohi? Gue tau lo adalah Tangkai Ra yang beberapa kali terkena skandal. Dan serius, Caramel lo dari kapan kenal dia? Kenapa lo bisa kenal dia? Bukannya memperbaiki popularitas, lo malah ngajak adek gue jalan. Lo mau Caramel terkena skandal juga?" Biru tertawa kecil. "Gue nggak akan melibatkan Caramel. Nama Caramel akan aman. Gue pastikan lo nggak akan pernah melihat nama Caramel di media," jawab Biru. Bahkan dia tak ada takut-takutnya sedikit pun menghadapi keluarga Caramel. Perempuan itu menggenggam tangan Biru erat, sementara sang kakak menatapnya tajam. "Anj*ng lo! Kalau adek gue pulang dalam keadaan nggak baik-baik aja, gue akan perkarakan semuanya, Tangkai Ra!" Lelaki itu bangkit, kemudian dia pergi keluar. Ya, rumahnya memang tidak di sini. Dia sudah memiliki rumah sendiri dan mungkin kehadirannya karena sang Mama dan Papa mengabarkan padanya bahwa adiknya telah siuman tapi langsung pergi dari rumah. "Mel, udahlah sayang nggak usah pergi dulu. Apalagi kamu nggak pergi sama temenmu, Mama takut." Sang Mama kemudian mulai angkat bicara lagi. "Nak, maaf, tapi kami tidak mengenalmu. Akan sangat riskan kalau Caramel pergi hanya berdua dengan kalian. Kalau banyakan, temen-temen Caramel juga ikut, mungkin kami bisa berpikir lagi. Tapi kalau cuma berdua, itu sangat berbahaya. Caramel, dengarkan ucapan Mamamu. Jangan pergi. Kamu harus di sini. Papa janji bulan depan kita akan berlibur ke Swiss atau ke Belanda. Asalkan jangan sekarang." Papa Caramel berusaha untuk membujuk. Tapi Caramel terlihat makin kekeuh. "Aku nggak butuh semuanya. Aku cuma pengin berlibur sama dia, Mah. Aku lebih percaya dia daripada teman-temanku. Jadi, biarkan aku pergi. Aku mohon." Kali ini Caramel bahkan memohon. Awalnya dia memang tak mau izin, tapi bagaimana lagi. Mereka adalah orang tuanya. Jika pun ada apa-apa, mereka yang berdiri paling depan untuknya. Setelah beberapa jam saling bernegosiasi, akhirnya mau tak mau, terpaksa tidak terpaksa, mereka mengizinkan Caramel pergi. Mereka akhirnya melepas Caramel. Sembari menunggu Caramel yang sedang mengemas pakaiannya, Biru duduk di ruang tamu bersama kedua orang tua Caramel. Seakan dia akan disidang. Orang tua Caramel benar-benar menghadapnya dengan tatapan serius. "Kamu bawa Caramel ke mana? Sampai pukul dua malam. Ada party? Kalau ada party wajar, kalau nggak ada ..." "Saya cuma membawa Caramel ke taman, Tante. Semuanya baik-baik saja. Saya bisa dipercaya untuk menjaga Caramel. Bersama saya, Caramel akan aman." Biru menjawab dengan suara yang dibuat selembut mungkin. Walau akhirnya dia tahu bahwa mungkin mereka tak percaya, tapi yang pasti Biru berdusta. Jelas Caramel sudah tidak baik-baik saja. "Kamu tahu, Nak, putri saya bahkan tidak bisa menuruti ucapan orang tuanya. Dia bahkan tidak mau mendengarkan nasihat kami dan lebih memilih pergi denganmu. Sebelumnya Caramel tidak seperti ini. Dia masih bisa dikontrol, dia masih bisa mendengarkan maminya. Tapi Caramel hari ini benar-benar beda. Tapi persetan dengan itu semua, saya sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi kecuali meminta padamu untuk menjaga Caramel sebisa yang kamu lakukan. Caramel putri saya satu-satunya, tolong jangan kecewakan dia dan jangan pernah sakiti dia." Papa Caramel kemudian berbicara dari hati ke hati. Dia tampak tulus tapi mungkin juga kecewa. Biru tahu bagaimana ketakutan orang tua Caramel, itu seperti ketakutan dirinya ketika membiarkan Riri untuk kencan. Biru paling takut jika Riri jatuh pada orang yang salah, dan Biru paham bagaimana perasaan mereka sekarang. "Saya akan menjaga Caramel, Om," ucap Biru. "Saya nggak akan menyakiti putra Om satu-satunya. Saya nggak akan membiarkan Caramel terluka dan kecewa. Saya akan membuat dia senang-senang di sana dan menikmati liburannya. Bahkan kalian tak perlu menasihati saya, karena saya akan meminta Caramel istirahat, saya akan memastikan kesehatannya agar Caramel pulang dalam keadaan senang." Kata-katanya seakan mampu menyihir kedua orang tua Caramel. Terdengar manis, meski kenyataannya cukup tajam. "Kamu kenal Caramel sejak kapan? Setahu saya Caramel tak pernah menyukai acara-acara dengan tema literasi atau apa pun yang kamu geluti. Bahkan dia tak suka membaca buku," tanya sang Mama. "Ah, saya kenal Caramel dari ketidaksengajaan, Tante. Caramel dan saya waktu itu nggak sengaja bertemu di acara yang sama. Sebenarnya udah lama juga, tapi mungkin Caramel nggak pernah bercerita. Ya, tepatnya 2017," ucap Biru. Mengenai tahun, dia tidak bohong. Caramel terlempar di tahun itu dan kemudian di situlah mereka akhirnya saling mengenal "Bagaimana first impression kamu terhadap putri saya?" "Ah Caramel perempuan yang baik. Waktu itu kami sempat mengobrol mengenai projek penulisan buku saya, dan dia mendengarnya dengan antusias. Selain itu tentu Tante tahu bahwa Caramel adalah perempuan yang sangat cantik seperti ibunya." Biru tersenyum lembut. "Ah bisa saja. Tapi ya Caramel memang cantik. Tante menyadari itu. Ya sudah, kalau memang kalian sudah saling kenal, tolong jaga Caramel dan tepati janji kamu agar jangan sampai nama Caramel terseret di media. Kami tidak ingin Caramel terkena skandal dan kami tidak ingin melakukan klarifikasi apa pun. Sampai kapan pun kami nggak akan ikhlas kalau nanti Carmel kamu kecewakan." Mama Caramel memperingati. "Bisa dipahami, Tante. Saya akan mencoba sebisa saya dan saya akan melakukannya sebaik mungkin." Biru tersenyum lagi. Seolah-olah dia memang akan menjaga Caramel. Padahal tentu saja liburannya bukan hanya untuk membuat Caramel senang, tapi dia juga akan membuat dirinya senang. Sekitar satu jam kemudian, Caramel keluar dengan mengenakan celana pendek levis ketat, serta kaus terlapis sweater limited edition yang sengaja tidak di-resleting. Dia telah menarik koper kecil dan turun kemudian. "Aku pergi dulu, Mah, Pah." Caramel mencium pipi mereka, lalu Biru membantunya membawa koper dan menaruhnya di kursi mobil belakang. "Kami pergi dulu, Om," kata Biru. "Ya hati-hati. Jaga diri kalian baik-baik." Papa Caramel menepuk bahu Biru pelan. "Hati-hati ya, Sayang. Jangan lupa jaga kesehatan di sana. Makan yang sehat-sehat dan sering istirahat." "Okay, Mama." Setelahnya mereka langsung naik ke mobil dan mulai meninggalkan rumah besar itu. Biru mengarahkannya menuju bandara sementara Caramel sibuk membuat story untuk kepentingan dirinya. "Jangan sampai rekam wajahku, nanti namamu masuk media mainstream," kata Biru. "Dih bodo amat. Aku pengen digosipkan sama kamu kok," jawab Caramel enteng. "Serius? Enggak ada loh orang yang mau digosipkan." "Iya, Sayang. Serius. Ya kalau nggak ada biar aku dong yang pertama." Perempuan itu memang seperti tidak menggunakan nalarnya. Di hadapkan dengan cinta membuat kewarasannya hilang. "Nanti kalau kita pergi mobilnya gimana?" tanya Caramel. "Moka di belakang. Nanti dia yang bawa pulang mobil gue." "Ah gitu, Okay deh." Tanpa disadari sejak tadi Biru merasakan bahwa degup jantungnya berdetak tak karuan. Caramel benar-benar cantik dan dia selalu terlihat sexy di matanya. Rasanya Biru ingin memeluk Caramel seharian dan tak mau membiarkannya pergi. Caramel benar-benar gagal membuatnya bosan dan Biru semakin jatuh cinta lagi dan lagi. Gawat. Dia seperti hilang kewarasan di depan perempuan itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN