"Cerai?" ulang Morgan dengan kening bertautan. "Iya. Ceraikan aku saja, Mas! Tidak ada gunanya melanjutkan pernikahan seperti ini. Pernikahan yang seharusnya tidak perlu terjadi diantara kita jika om-ku tidak merampas uang perusahaan!" kataku dengan napas memburu. Inilah waktu yang tepat untuk menumpahkan perasaanku yang selama ini aku simpan rapat-rapat. Perlahan genggaman di tanganku mengendur hingga akhirnya terlepas. Dari balik mataku dapat kulihat rahang Morgan mengeras. Jelas sekali terlihat jika ia sedang berusaha menahan amarahnya. Dan aku tidak suka melihatnya. Aku ingin Morgan balas memarahiku. Itu akan membuat hatiku lebih nyaman daripada dia diam seperti ini. "Aku tidak akan pernah menceraikanmu, Riana. Apapun yang terjadi." Ada penekanan di setiap kata-kata yang keluar da

