Epilog

987 Kata

"Mami senang mendengar kabar kehamilanmu ini." Riana melihat binar-binar di dalam manik cokelat milik ibu mertuanya lalu beliau melirik suaminya. "Papi juga senang, kan?" Yang dilirik hanya membuang muka. Meski begitu Riana sempat menangkap senyum simpul di bibir beliau. "Hm... asal satu anak laki-laki. Sisanya terserah kalian." "Loh...memangnya papi mau punya berapa cucu?" goda istrinya. Bima Dirgantara mendengus. "Terserah kalian. Asal jangan cuma satu. Tidak baik jika anakmu sendirian. Berdua atau bertiga juga boleh." "Papi!" tegur Friska. "Memangnya Riana pabrik anak." Bukannya marah, Morgan yang duduk di sisi Riana tertawa. "Papi itu punya gengsi tinggi. Jadi aku harap kamu mengerti." Riana memandang wajah Morgan lalu tersenyum kecil dan berbisik. "I know." "Papi capek. Pingga

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN