4

811 Kata
Siangnya untuk mengusir pikiranku atas kejadian tadi pagi aku memutuskan untuk mengunjungi toko roti mungilku. Sebuah ruko kecil yang telah kurintis sebelum aku menikah dengan Morgan. Satu sisi yang membuatku bertahan dengannya karena dia tetap mengizinkanku untuk membuka toko roti ini. Setelah selesai dengan beberapa pengunjung yang membeli roti, aku memutuskan untuk duduk di meja yang letaknya di pojok kiri ruangan. Dari balik dinding kaca yang memisahkan tempat ini dari dunia luar, aku mulai memperhatikan setiap orang yang berlalu-lalang melewati toko. Mulai dari yang sedang sibuk chatting dengan ponselnya, membawa makanan yang kemungkinan dipesan oleh senior mereka, ataupun pasangan yang memutuskan untuk makan siang bersama. Dan pemandangan terakhirlah yang membuatku merasa iri. Sehingga tanpa sadar aku mendesah. "Kenapa? Bertengkar dengan suamaimu lagi?" tanya sebuah suara. Sontak aku langsung memiringkan wajahku untuk melihat si pemilik suara. Meti, seorang perempuan dewasa yang usianya lebih tua tiga tahun dariku. Ibu satu anak ini sudah bekerja sejak aku membuka toko roti ini, jika dihitung Meti telah bekerja denganku selama hampir tiga tahun. Dan kepada dirinyalah aku melampiaskan semua keluhan atas pernikahanku yang tak bisa kuceritakan kepada kedua orang tuaku. "Apakah di dalam hubungan kami ada pertengkaran? Aku rasa tidak. Kami lebih mirip dua manusia dari planet yang berbeda dan terjebak di dalam rumah yang sama," sahutku. "Oh ya? Apa kamu lupa jika perbedaan itulah yang membuat Tuhan menyatukan ciptaannya? Bayangkan jika wajah semua manusia memiliki wajah yang sama, untuk apa Tuhan menyatukan manusia sudah memiliki kesamaan?" Aku terdiam sejenak, berusaha mencerna ucapannya. Sebagian diriku menyetujui ucapannya. Tapi sebagian diriku yang lain tidak menyetujuinya. Alasannya jika perbedaan menyatukan mengapa perbedaan jugalah yang memisahkan? Di pengadilan sana banyak pasangan yang meminta bercerai dengan alasan tidak memiliki persamaan lagi. Memikirkan hal ini membuat kepalaku sakit. Untunglah pintu kaca terbuka sehingga pembicaraan diantara aku dan Meti terhenti. Seorang pria berpakaian rapi melangkah masuk ke dalam toko. Dengan ahli Meti menyambut dan menyapanya. Tanpa sadar dari tempatku duduk, aku memperhatikan penampilan pria itu dengan seksama. Kemeja garis berwarna biru dipadu celana bahan abu-abu. Sangat rapi. Kemudian ia menoleh ke arahku dan tersenyum. "Selamat siang, Clariana." Melihat senyum itu maka aku pun membalasnya. "Selamat siang Andrew. Sibuk seperti biasa?" tanyaku seraya bangkit berdiri dan menghampirinya. Andrew Mahardika, salah satu pelanggan tetap toko rotiku ini. Seorang dokter anak yang bekerja di salah satu rumah sakit yang letaknya tak jauh dari sini. Karena hampir setiap hari membeli roti, akhirnya kami berteman akibat percakapan-percakapan kecil yang kami lakukan selama ini. Siapa sangka Andrew bukan saja ramah kepada pasiennya yang sebagian besar adalah anak kecil. Tapi juga ramah kepada semua orang. Termasuk aku di dalamnya. Hal inilah yang membuatku menerima pertemanan diantara kami. "Lumayan. Sejak ada program BPJS, sepertinya warga lebih suka ke rumah sakit dibandingkan mall," katanya bercanda. Aku tertawa kecil mendengarnya. "Seharusnya kamu bersyukur jadi ilmu yang kamu miliki tidak sia-sia. Sebaliknya, kamu bisa menolong banyak jiwa," jawabku. Andrew mengangguk setuju. "Kamu benar. Kalau begitu aku ingin sepotong sandwich dan roti blueberry." "Wait, pesananmu akan segera datang." Aku melangkah ke belakang etalase yang memamerkan beberapa cake dan meraih paper bag cokelat untuk memasukkan dua buah roti pesanan untuk Andrew kemudian menyerahkan kantung kertas itu kepadanya. Setelah melakukan pembayaran aku menggumamkan terima kasih kepadanya. "Rasanya tidak sabar memakan sandwich tuna ini," kata Andrew sambil mengintip kantung miliknya. Detik berikutnya aku dapat melihat kerutan di dahinya. "Aku tidak memesan roti blueberry ini," katanya lagi sambil memandangku. "Itu untukmu. Free. Anggap saja sebagai bonus untukmu yang sudah bekerja dengan keras," kataku diiringi senyum mengembang di bibirku. "Tidak. Aku harus membayarnya." "Jika kamu membayarnya, aku tidak mau lagi berteman denganmu," ancamku yang berhasil membuat gerakan tangan Andrew yang hendak meraih dompetnya berhenti di udara. "Aku baru tahu kalau kamu sekejam ini." Ucapannya berhasil membuatku tertawa. "Sayangnya masih banyak hal yang tidak kamu ketahui tentangku." "Benarkah? Kalau begitu bagaimana dengan makan siang bersamaku lusa?" tawar Andrew seraya memandangku lurus dengan manik cokelatnya. Aku terdiam sejenak, menimbang-nimbang sebelum akhirnya mengangguk setuju. "Okay." Setelah kepergian Andrew, cepat-cepat Meti menghampiri tempatku ketika aku sedang merapikan letak beberapa roti. "Kamu yakin akan pergi makan siang dengan dokter tampan itu?" tanyanya yang berhasil membuatku sedikit bingung dengan pertanyaanya. "Memangnya kenapa? Aku rasa tidak ada yang salah dengan ajakan makan siang itu," jawabku. Meti berdecak kesal. "Ingat Riana, kamu sudah bersuami. Rasanya tidak pantas jika kamu makan siang dengan laki-laki lain selain suamimu." Perkataan Meti berhasil mengingatkanku akan sosok Morgan yang dingin. Termasuk pertengkaran kami pagi ini. Tapi Andrew hanyalah seorang teman biasa. Dan aku rasa Morgan belum tentu peduli denganku dan dengan siapa aku makan siang. Toh menanyakan aku sudah makan siang apa belum saja tidak pernah dia lakukan. Rasanya tidak mungkin jika pria itu peduli dengan hal seperti ini. Dengan pikiran seperti itu yang kutanamkan di dalam kepalaku, aku menggelengkan kepala dan melempar senyum kepada Meti. "Kamu tidak tahu jika dia tidak akan peduli dengan hal-hal yang berhubungan denganku" sahutku lirih. ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN