Seperti biasa seperti malam-malam sebelumnya aku berjalan memasuki rumah dalam kegelapan. Sejak menikah dengan Morgan, tidak pernah sekalipun aku mendapati dirinya menungguku di rumah layaknya suami pada umumnya. Aku menghela napas panjang. Pikiran bodoh. Rasa lelah membuat otakku bekerja dengan tidak baik.
Aku mencari tombol lampu ruang tengah dan ketika aku berhasil menemukannya detik berikutnya lampu menyala dan ketika melihat sosok di balik sofa panjang aku langsung memekik terkejut.
"Morgan!" pekikku sambil mengelus pelan dadaku.
Pria itu membalikkan tubuhnya memandangku sekilas sambil memiringkan kepalanya sebagai isyarat memintaku untuk duduk. Setelah berhasil menenangkan hati, perlahan aku mulai menggerakan kakiku dan berjalan menuju sofa single yang terletak di sisi kanannya.
"Kamu sudah pulang?" tanyaku hati-hati.
Bukannya menjawab Morgan menggerakan tangan kirinya meraih sebuah kotak putih yang besarnya kira-kira empat pulu sentimeter. Berhasil membuat keningku bertautan dan dalam hati aku mulai bertanya-tanya apa isinya dan kenapa sekarang ia memindahkanya ke atas meja. Tepatnya di hadapanku?
"Kenakan ini lusa nanti jam satu siang," kata Morgan sambil memandangku lurus.
Pandangan mataku yang sedang menatap kotak putih tersebut sekarang memandang wajah Morgan yang tampak lelah. Ya, wajah lelah yang selalu dia perlihatkan kepadaku setiap malam. Padahal ingin rasanya aku membantunya menghilangkan rasa lelah tersebut. Hanya saja, sepertinya pria itu tak ingin bantuanku sehingga yang bisa kulakukan hanya diam dan memandang wajah lelahnya setiap hari sebelum beranjak tidur.
"Makan siang?" Ada perasaan geer di dalam diriku ketika Morgan mengatakan tujuannya. Apa itu artinya dia ingin mencoba menjadi sepasang suami istri yang sebenarnya?
"Orang tuaku ingin kita makan siang bersama," sahutnya lagi.
Aku mengangguk mengerti. Jika tebakanku tidak salah, makan siang bersama orang tua Morgan artinya adalah masalah. Ada masalah yang berhubungan denganku sehingga mereka ingin bertemu denganku dan membicarakannya melalui makan siang ini. Tanpa sadar aku menarik napas panjang.
"Ada masalah dengan makan siang itu?" Pertanyaan yang keluar dari bibir Morgan berhasil menyadarkanku. Cepat-cepat aku menggelengkan kepalaku dan memberikan senyum tipis. "Baguslah. Aku tidak ingin mengecewakan kedua orangtuaku. Kamu tahukan seberapa besar peran mereka di dalam masalah yang telah dilakukan oleh kedua orang tuamu?"
Perkataan terakhir Morgan berhasil mengingatkanku akan jasa mereka. Jasa yang membuatku harus berada di dalam pernikahan yang sejak awal seharusnya tidak pernah dilakukan. Jasa yang berhasil mengurungku di dalam hubungan palsu ini. Yang berakhir membuatku tidak dapat merasakan yang namanya kencan dengan pria yang kucintai layaknya para wanita pada umumnya.
Jasa karena dengan uang mereka yang berlimpah itu mereka dapat membeliku dan memberikan modal baru untuk kedua orangtuaku. Dalam diam aku menahan rasa sesak di dalam dadaku. Rasa sesak yang selalu muncul setiap kali mengingatnya.
***
Siang itu toko roti milikku cukup sibuk. Entah datang dari mana sekelompok orang yang membeli setengah dari stok di toko roti ini. Menimbulkan kepuasan di dalam dadaku. Setidaknya di toko roti inilah aku bisa merasakan yang namanya kepuasan dan kebahagiaan yang sebenarnya. Semua jerih payah yang aku lakukan tercermin di toko roti Bread And Milk. Toko yang sudah aku besarkan seperti anakku sendiri.
Setelah roti matang, aku memindahkan beberapa roti ke dalam etalase. Meti juga turut membantuku. Hingga suara berat memanggil namaku, maka aku pun menegakkan tubuh dan mendapati wajah Andrew yang sedang tersenyum lebar memandangku.
"Andrew!" seruku diiringi sebuah senyum ramah. Tapi detik berikutnya senyum itu perlahan memudar. Melihat sosok Andrew hari ini mengingatkanku akan ajakannya makan siang yang seharusnya akan kami lakukan besok siang! Bodoh! Bagaimana bisa aku sepikun ini hingga melupakan janji makan siang dengannya. Sambil menundukkan wajah aku mulai memaki diriku sendiri. Bagaimanapun caranya, dengan terpaksa aku harus membatalkan acara makan siangku dengannya.
"Hai Riana. Kamu baik-baik saja?"
Tidak ingin ketahuan, perlahan aku menghembuskan napas hati-hati sebelum akhirnya mengangkat wajah. "Hi dok. Apa aku terlihat sakit?" sahutku mencoba bercanda.
Untunglah Andrew tidak melihat kecemasan di dalam raut wajahku sehingga aku bisa menarik napas lega.
"Senang mendengarnya. Aku pikir kamu sakit."
"Aku baik-baik aja. Seperti yang kamu lihat saat ini. Kamu ingin roti apa?"
"Seperti biasa, blueberry."
"Okay," jawabku gugup. Kemudian langsung mengambilkan sebuah roti blueberry ke dalam kantung kertas dan menyerahkan kantung tersebut kepada Andrew. Selanjutnya ketika ia hendak meraih dompetnya segera aku membuka suara, "Kali ini tidak usah bayar. Free."
Gerakan tangan Andrew berhenti di udara. "Free lagi? Apakah itu artinya toko roti Bread and milk sudah tidak membutuhkan uang dariku?"
Aku tertawa kecil. "Bukan seperti itu. Um... sebelumnya aku ingin minta maaf. Besok aku tidak bisa makan siang denganmu. Aku... ada urusan yang harus aku lakukan," ucapku dengan perasaan bersalah. Seharusnya sejak awal aku tidak menerima ajakan Andrew. Lihat kekecewaan yang tersirat di wajahnya. Menimbulkan perasaan bersalah yang mendalam di dalam hatiku. "Bagaimana jika kita menggantinya lain waktu?" tawarku cepat.
Tiba-tiba saja wajah kecewa yang tersirat di wajahnya menghilang dan tergantikan dengan sebuah senyum di bibirnya.
"Sebenarnya aku mengerti bila kamu memang tidak bisa makan siang denganku karena urusan lain. Tapi, di sisi lain aku senang ketika mendengarmu mengatakan jika kita masih memiliki kesempatan makan siang. Kalau begitu bagaimana jika kita makan siang sekarang? Kebetulan aku juga belum makan apa-apa," jawabnya santai yang berhasil membuatku memandangnya lurus.
"Eh? Sekarang?"
"Iya. Aku melihat restoran gudeg di ujung deretan komplek ruko ini. Ingin mencobanya?"
Aku terdiam sejenak. Haruskah aku mengiyakan makan siang kali ini? Tapi jika dipikir-pikir, aku bisa menebus kesalahanku karena telah membatalkan janji kami secara sepihak. Maka setelah meyakinkan diri, aku mengangguk menyetujui ajakan tersebut meski di balik punggungku, aku yakin Meti menggelengkan kepalanya pelan.
Setelah sepuluh menit berjala, akhirnya kami tiba di depan pintu kaca restora gudeg yang tadi disebutkan oleh Andrew. Aroma bumbu dan ayam goreng masuk ke dalam indera penciumanku. Membangkitkan rasa lapar. Dengan gentle-nya Andrew membukakan pintu tersebut untukku. Aku menggumamkan terima kasih sambil memandang Andrew yang membalasnya dengan senyum lebarnya yang berhasil membuatku ikut tersenyum. Tapi dalam sekejap senyum di bibirku memudar ketika saat itu juga ada sepasang pria dan wanita yang hendak melangkah keluar.
Kami saling bertatatapan, bibirku sedikit terbuka dan jantungku perlahan mulai berdetak semakin cepat dan cepat.
"Mas..." panggilan itu meluncur begitu saja dari bibirku. Tapi bukan itu yang membuatku terkejut. Melainkan sosok perempuan di sisi suamiku sedang memeluk erat sebelah lengannya. Siapa?
***