6

945 Kata
Kedua mataku membelalak ketika melihat lengan suamiku berada di dalam pelukan seorang perempuan. Dengan napas menderu, berusaha menahan emosi yang mulai seperti gunung merapi, aku memandang pasangan dihadapanku secara bergantian dan berakhir pada wajah datar dan dingin milik Morgan. Begitu juga dengan dirinya yang mungkin memiliki rasa penasaran seperti yang sedang kurasakan. Atau hanya diriku saja disini yang sedang memiliki perasaan campur aduk? "Kamu kenal dia?" tanya suara merdu di sisinya. Tuhan terkadang tidak adil. Mengapa yang cantik selalu hampir sempurna? Bukan menambah nilai lebih pada diriku yang biasa saja? Apa Tuhan ingin membuat perempuan cantik dihadapanku mencapai nilai 1000? Bukan 100? Layaknya kids jaman now yang rata-rata IQ-nya melebihi 140? "Tidak tahu. Aku hanya merasa dia mirip seseorang," sahut Morgan datar. Sukses membuat bibirku terbuka sedikit disusup rasa nyeri di dalam dadaku. "Aku kira kamu mengenalnya. Ayo! Bukankah kamu ada meeting jam 2 nanti," ajak perempuan bersuara merdu itu. Bak kerbau dicucuk hidungnya, Morgan mengangguk setuju lalu berjalan melewati kami. Saat itulah aku tahu bagaimana rasanya ketika tidak memiliki harga diri. Harga diri sebagai seorang istri. Dan Morgan adalah orang pertama yang menginjak-injak harga diriku. Suamiku sendiri. Tanpa terasa aku merasakan mataku mulai memanas. "Drew, maaf. Sepertinya kita harus membatalkan makan siang kali ini. Aku baru saja ingat jika aku memiliki janji dengan ibuku." Dari balik punggungku dapat kudengar Andrew berkata pelan, "Aku mengerti." Selanjutnya tanpa menunggu lebih lama lagi, aku melangkahkan kakiku cepat-cepat menjauh dari situ. Kembali ke toko rotiku adalah tempat yang tepat untuk mencurahkan seluruh isi hatiku saat ini. Tentu saja pada Meti yang selalu setia mendengar curhatanku. Tak butuh waktu lama, aku pun tiba di dalam toko roti milikku. Harum roti merebak ke dalam indera penciumanku. Membuat perasaanku sedikit lebih tenang. Itulah alasan aku membuka toko roti ini. Karena aku sangat menyukai roti. "Loh, kok cepet amat? Bagaimana makan siangnya?" tanya Meti ketika melihatku melangkah masuk ke dalam toko. Butuh beberapa detik bagiku meredakan deru napas di dalam dadaku sebelum menjawab pertanyaan Meti. "Makan siangnya batal," sahutku pendek. Kening Meti bertautan. Dia meletakkan nampan kosong ke atas meja berisi tumpukan nampan lalu berjalan menghampiriku dan duduk di seberangku. Wajar saja, ibu-ibu satu ini memang memiliki rasa ingin tahu yang melebih batas manusia normal. "Kok bisa?" Aku memandang Meti sejenak sebelum akhirnya bersuara, "Kami berpapasan dengan Morgan..." Lalu mengalirlah semua adegan dan percakapan yang baru saja terjadi diantara aku dan Morgan. Sedangkan Meti mendengarkan semua ceritaku tanpa berniat melewatkannya sedikitpun. "Laki-laki kurang ajar! Jangan kau kasih jatah saja selama satu bulan!" ujarnya ikut emosi atau lebih tepatnya dia tampak lebih emosi dariku. Membuatku tak dapat menahan tawa terutama ketika mendengar ucapannya. "Jatah apa? Jatah sarapannya maksudmu?" ejekku. "Jatah apa saja. Yang terpenting kamu bisa membalas suamimu itu karena telah bersikap kejam kepadamu dengan cara seperti itu," dengus Meti. Aku tersenyum tipis. Andai saja aku mampu melakukannya, mungkin aku tidak akan merasa sakit seperti ini. Jika bukan karena jasa yang diberikan keluarganya kepada kedua orangtuaku, mungkin aku memilih untuk melarikan diri di hari pernikahan kami. Sayangnya aku tidak mampu. Aku masih menyayangi kedua orangtuaku meski secara tidak langsung mereka telah menjualku kepada Morgan dan keluarganya. "Biarkan saja, toh kami bukanlah sepasang suami istri yang sebenarnya," imbuhku. Mendengar ucapanku, Meti memberikan tatapan iba kepadaku. "Bertahanlah Riana. Aku yakin matahari selalu muncul dengan sinarnya yang menghangatkan setelah badai besar menerpa. Begitu juga dengan dirimu. Mungkin pernikahan ini adalah badai yang harus kau lewati sekuat tenaga, tapi ingatlah sinar matahari hangat yang akan kau dapatkan setelah badai itu berlalu." Aku terdiam. Berusaha mencerna ucapan yang diberikan Meti kepadaku. Benarkah badai itu akan berlalu? Jika benar, kapan? Kapan pernikahan palsu ini berakhir? Kapan aku bisa hidup bebas tanpa bayang-bayang seorang pria bernama Morgan? *** Malam ini aku sengaja memilih untuk berdiam diri di dalam Bread and Milk mesi toko telah tutup. Aku berusaha menyibukkan diriku dengan mencoba beberapa resep roti yang selama ini sudah tersimpan di dalam kepalaku namun tidak sempat aku coba. Korean Mochi Bread, menu pertama yang ingin kucoba. Roti berbentuk bulat dengan wijen diatasnya. Pertama-tama aku mulai mencampurkan tepung ketan, tepung terigu dan s**u bubuk ke dalam satu wadah. Setelah itu aku menyiapkan larutan berisi garam, kecap asin, s**u cair, dan minyak ke dalam sebuah panci kecil hingga mendidih dan terakhir memasukkan gula pasir ke dalamnya. Setelah selesai aku menyatukan cairan itu ke dalam wadah dan mengaduknya hingga rata. Terakhir aku menambahkan telur dan wijen ke dalamnya. Setelah yakin sudah merata, aku memandang adonan itu dengan bibir melengkung ke atas. Tanpa menunggu lebih lama aku pun memasukkan adonan tersebut ke dalam oven dan tinggal menunggu selama 40 menit. Setelah 40 menit berlalu, aku menghampiri oven tersebut dan memandang hasil karyaku dengan puas. Hati-hati aku mengeluarkan roti yang tampak menggoda dan masih mengeluarkan uap panas. Aku yakin aroma roti menyeruak memenuhi ruangan dapur dan membuat siapa saja yang mengirup aromanya mampu meneteskan air liur. Sambil menyobek permukaan roti tersebut, mengirup aromanya sejenak sebelum akhirnya mencicipi Korean Mochi Bread buatanku. Perfect. Ternyata roti pertama yang kubuat ini berhasil! Sontak aku melompat kegirangan dengan hasil kerja kerasku. Membuat roti memang satu-satunya cara memulihkan perasaanku. Dengan hati puas aku mulai bersiap-siap untuk mencoba resep kedua yang ada di dalam kepalaku. Sayangnya sebuah panggilan berhasil menghentikan gerakanku dan ketika aku menoleh untuk melihat siapa gerangan orang yang telah memanggil namaku, mood yang baik kembali turun ke titik nol. Senyum yang tadi terkembang di bibirku perlahan memudar. Di sana, Morgan berdiri tegak dengan pakaian yang sama ketika kami bertemu tadi siang. Wajahnya yang datar tertera di sana. Tak ada senyuman layaknya seorang suami kepada  istrinya. Yang ada hanya keseriusan yang selalu kulihat sejak kami menikah satu bulan yang lalu. Tidak bisakah pria ini membiarkan aku bahagia sebentar saja? ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN