Bagian 19

713 Kata
Dua jam telah berlalu, Seraphina bersama kedua sahabatnya pamit pulang. "Kita duluan ya, makasih lho Rion traktirannya," ucap Viona. "Buat cewek-cewek cantik mah apasih yang enggak?" Ujar Rion dengen senyum yang sok manis, tapi membuat Sera, Viona dan Viola ingin menyiram mukanya dengan kuah ramen yang masih tersisa di atas meja. Tadi saat Revano telah pergi, Rion tiba-tiba memanggil Sera dan kedua sahabatnya untuk bergabung. Kebetulan restoran tersebut lumayan penuh dan meja yang tersisa hanya ada di luar, mau tak mau mereka harus bergabung. "Lain kali gue males gabung sama mereka ah!" Protes Seraphina. "Iya Vivi, pokoknya gak lagi-lagi deh walaupun ditraktir sekalian gue gak mau lagi. Lagian ramen harga segitu masih mampu bayar sendiri gue mah," ujar Viola menambahkan. "Iya maaf deh, gue kira mereka gak bakal ngomong se-frontal itu di depan kita," ucap Viona menyesal. Ya, tadi saat bergabung dengan Rion dan kawan-kawannya mereka semua merasa risih lantaran Rion dan Adit menceritakan hal yang v****r di depan para gadis dan itu sangat menjijikan bagi para gadis tersebut. Sekalipun Seraphina sudah menikah, tetap saja ia masih bersegel dan rasanya tidak etis juga kalau membicarakan hal sensitif itu kepada teman-teman. "Sera, elo balik ke rumahkan?" Tanya Viona. "Terus gue balik kemana? Ke rumah oma Katya?" "Hahahaha , oke oke berarti gue anterin lo dulu ya baru gue balik," ujar Viona. "Lo gak mabok ramen kan, Vi?" Tanya Seraphina dengan mata memicing. "Hah? Gimana?" "Ser, udah jangan ngomong sama anak ini. Heran gue, punya kembaran lola banget," ujar Viola. Saat akan membuka pintu mobil, tiba-tiba tangan Seraphina ditarik oleh seseorang dan siapa lagi pelakunya jika bukan Revano? Ya, Revano sebenarnya tidak pulang melainkan menunggu Seraphina di dalam mobil miliknya yang terparkir di basement mall. "Kalian berdua pulang duluan! Seraphina sa gue," perintah Revano tegas. Viona merasa tak enak, kentara dari raut wajahnya. "Udah gak apa-apa, kalian duluan. Gue sama Revano aja," sahut Seraphina dengan tenang. Lalu Revano segera menarik Seraphina menuju ke mobilnya. "Seneng ya?" Tanya Revano ambigu. "Hah? Seneng apa maksud lo?" "Seneng pamerin badan ke orang-orang?" Seraphina menunduk melihat bajunya, lalu ditatapnya Revano tanpa rasa bersalah sedikitpun. "Gue gak berniat kayak gitu," sanggah Seraphina dengan tenang. "Kamu gak tahu? Kalau penampilan kamu kali inituh bikin otak-otak kotor para lelaki bangkit!" Sentak Revano. "Lo aja yang mikir begitu," "Bukan aku, tapi Rion. Kamu tahu anak b******k itu bahkan suka bikin imajinasi liar dan bayangin diri kamu!" Seraphina menunduk. Ia ceroboh, pantas saja tadi Rion bercerita tentang hal seperti itu. Jangan-jangan, Rion berfantasi liar tadi? Oh, Seraphina sungguh menyesal. "Iya deh, gak lagi-lagi gue pake baju kayak gini," ujar Seraphina. Revano tak menoleh dan tetap fokus ke arah depan. Namun lama-lama, mata nakalnya meencuri-curi pandang ke arah d**a Seraphina. . "Fokus Revano, lo belum dapet izin buat megang," ujarnya dalam hati. "Lo lagi mikir jorok ya?" Tanya Seraphina. "Ah, enggak ko," elak Revano. "Halah, buktinya elo tadi curi-curi pandang ke d**a gue. Jangan-jangan elo juga sama ya sama si Rion? Ngaku lo!" Desak Seraphina. Wajah Revano memerah karena ketahuan, lalu ia segera membuka jasnya dan menyodorkannya kepada sang istri kedua. "Nih pake, mata aku gak bisa nolak kalau dikasih yang bulat padat," "Sialan!" Desis Seraphina lalu memakai jas yang Revano berikan. | •_• | Sementara di tempat lain, Riano sedang uring-uringan sebab sang gadis pujaan hati tak pernah membalas pesannya. "Sera, kamu kemana sih? Masa chat dari aku cuma kamu baca aja," gumam Riano. "Lo kenapa sih? Kayak cacing kepanasan, gak mau diem," ujar Syafira yang tiba-tiba datang di belakangnya. "Gue khawatir, Seraphina enggak balas mulu chat dari gue." Syafira tersenyum sinis, "Lo ngarepin cewek itu?" Riano diam. "Jangan ngarep lo kalau gak mau sakit hati!" "Maksud lo?" "Enggak enggak," "Syafira, jawab gue!" Desak Riano. "Ya Seraphina enggak bales chat elo karena cewek itu pasti lagi sama suami gue," "Sama suami lo? Revano?" "Yaiyalah, siapa lagi?" "Dia magang di kantor suami lo?" "Hahahaha... Riano, Riano. Lo itu bodoh ya? Mana ada anak semester akhir magang?" "Terus?" "Dia istri kedua Revano," bongkar Syafira. "Apa? Gak usah ngada-ngada ya!" Sentak Riano kepada adik iparnya tersebut. "Apa gue kelihatan becanda?" Sentak balik Syafira. "Tapi Revano bilang kalau Sera itu anaknya Bu Marlina?" "Terserah lo kalau lo gak percaya sama gue," ujar Syafira terakhir kalinya kemudian ia pergi meninggalkan Riano. "Apa benar, Seraphina?" Tanya Riano pada dirinya sendiri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN