Bagian 18

1027 Kata
Grep! Tubuh Seraphina menegang saat ia merasakan ada dua tangan yang melingkar tepat di dadanya, jantungnya berdegup kencang walaupun ia tahu siapa pelakunya. "Revano, lepasin ah!" Tegur Seraphina, ia risih dengan apa yang dilakukan Revano. Ini kontak fisik pertama yang ia dan Revano lakukan setelah bertahun-tahun berpisah. "Biarin Ser, dulu aja gak apa-apa". Protes Revano lalu menyimpan dagunya di bahu Seraphina. "Lo mau ini gosong terus gak jadi makan?" Ancam Seraphina dan Revano refleks melepaskan kedua tangannya yang tadi memeluk Seraphina. "Galak amat sih!" Cibir Revano. "Mending lo duduk di sana," perintah Seraphina yang langsung dituruti oleh Revano. Enam menit kemudian Seraphina mengahampiri Revano dengan membawa sepiring kwetiau buatannya. "Makasih sayang," ujar Revano dengan tulus. Seraphina hanya merespon dengan tatapan datarnya saja. Ia tak akan mudah terbawa perasaan hanya karena dipanggil dengan sebutan itu walaupun jantungnya memang sedang ingin melompat jauh. "Gue mau ke kamar, kalau udah beres makannya simpen aja di situ biar besok gue yang beresin," ujar Seraphina hendak pergi. Namun langkahnya tertahan saat Revano menyambar tangannya meminta agar dirinya menemani suaminya itu. "Temenin di sini," pinta Revano. "Gak bisa, gue mau ngerjain revisian," tolak Seraphina. "Tujuh menit, cuma tujuh menit. Nanti kita ke kamar bareng dan aku temenin kamu kerjain revisian," Seraphina menurut tak ingin berdebat di tengah malam. • • • Tujuh menit yang dipinta Revano pun berlalu dan kita mereka berdua sudah berada di dalam kamar yang sama. "Lo ngapain sih mau tidur di sini?" tanya Seraphina dengan sinis. "Ya gak apa-apalah, lagian kita sekamar juga gak akan ada yang grebek," jawab Revano dengan santai bermaksud bercanda namun sama sekali tak digubris oleh istri keduanya itu. "Gak lucu!" "Lucuin aja, sayang," goda Revano. "Bukannya pas awal ke rumah ini elo yang nolak satu kamar sama gue? Bahkan lo bilang cuma kesini seminggu sekali tanpa nginep. See? Sekarang lo kemakan omongan lo sendiri," sindir Seraphina. Revano diam sejenak. "Aku minta maaf soal itu, jujur pas awal kita menikah aku merasa marah dan senang secara bersamaan. Aku marah karena aku gak bisa megang janji aku untuk setia sama Syafira dan aku seneng karena akhirnya bisa menikah sama kamu, walaupun kamu jadi istri kedua aku bahagia bisa memiliki kamu," "Dan gue gak bahagia menjadi istri kedua lo!" "Aku janji bakalan membahagiakan kamu," "Iya gue tahu. Lo bisa membahagiakan gue secara materi tapi enggak secara batin! Selamanya gue akan dicap buruk karena mau-maunya jadi istri kedua dan selamanya juga keluarga lo terutama mama lo, gak akan pernah bisa nerima gue," ujar Seraphina, tanpa menangis yang ia pasang hanyalah wajah datarnya yang selalu berhasil mengintimidasi orang walaupun sebenarnya ia sangat ingin menangis meraung-raung. Baru saja Revano akan menimpali ucapan Seraphina, tetapi istri keduanya itu sudah lebih dulu pergi meninggalkan kamar tersebut dan membawa semua keperluannya malam ini menuju ke kamar yang lain. "Ser, gimana aku harus jelasin ke kamu kalau kamunya selalu kayak gini?" gumam Revano. • • • Revano terbangun dari tidurnya dan melirik jam menunjukan pukul enam pagi. "Ah, s**t! Gue kesiangan," keluhnya. Ia bangkit dari tidurnya kemudian menuju ke kamar mandi. Tak sampai lima menit ia sudah keluar dari dalam sana. Dilihatnya sudah ada setelan jas kerja yang tergantung di pintu lemari kemudian ia memakainya. Setelah memakain pakaian ia menuju nakas berniat mengambil handphone miliknya. Tak sengaja matanya melihat sebuah kertas dengan tulisan yang sangat ia kenal. Gue udah setrika baju kerja lo, di bawah juga udah ada sarapan tapi cuma roti. Kalau mau silahkan makan, kalau enggak biarin aja. -seraphina Senyum Revano mengembang kala membaca sepucuk surat yang ditulis Seraphina. Ia melirik lagi ke atas nakas dan di sana terdapat ponsel dan kunci mobil miliknya. Seraphina tahu jika Revano sering melupakan dimana letak kunci mobilnya. "Makasih, sayang ". Ucap Revano dalam hati. Baru saja ia memasukan ponsel ke dalam saku jasnya, ponsel tersebut sudah berdering tanda ada panggilan masuk dan di layar tertera nama sang istri pertama. Syafira is calling. "Halo, yang". Sapa Revano pada istrinya di sebrang sana. "Kamu dimana?" "Rumah Seraphina," "Kamu kok gak pulang?" "Kemaleman, jadi aku nginep," "Kamu tidur sama Seraphina?" "Enggak," "Yaudah nanti pulangnya ke sini, jangan ke situ," "Iya, udah dulu aku mau berangkat ke kantor. Kamu hati-hati di jalan," Tut Setelah sambungan telepon terputus, Revano segera masuk ke mobilnya dan mengemudikan mobilnya menuju ke kantornya. • • • Setelah selesai dengan urusannya di kampus, Seraphina menerima ajakan dari Viona dan Viola untuk jalan-jalan ke mall. Awalnya Seraphina menolak dengan alasan lelah dan dia juga harus kembali bekerja di kafenya Fathan malam ini. Ia sudah terlalu lama cuti dengan alasan pemulihan atas kecelakaan yang menimpanya dulu. "Kebiasaan deh, pasti mereka ngaret," keluh Seraphina. Dengan mengenakan pakaian yang terkesan 'agak berani', Seraphina menyusuri jalan di mall tersebut menuju ke tempat ia janjian dengan sahabatnya yang kembar itu.   Tak lama ponselnya berbunyi tanda ada pesan yang masuk. Viona Tunggu bentar, gue udah di basement. Lo duluan masuk dan pesenin yang biasa gue sama Ola pesen. Begitulah isi pesan yang dikirim oleh Viona. Seraphina Jangan lama! • • • Di tempat yang akan dikunjungi oleh Seraphina, Revano tengah berkumpul bersama para sahabatnya---Rion, Asep, Ferry dan Adit. Mereka asik melempar lelucon dan candatawa hingga suara Rion menginterupsi. "Anjing, sore-sore gini dapet rezeki nomplok kita," ujar Rion semangat. "Apaan lo, Tayo! Gak jelas," protes Adit. "Arah jarum jam tiga, lihat cuy most wanted kampus kita jalan sendirian pake baju yang waw!" seru Rion lagi. Sontak semua mata yang ada di meja tersebut menoleh ke arah yang ditunjuk oleh Rion. "Mantul, cantiknya makin nambah make baju gitu," timpal Adit. "Heh Adit, jaga panon maneh! Inget, maneh udah ada si Deanna! Mau aing bilangin?" ancam Asep. "Eh jangan atuh, Sep. Maksud gue ya itu Seraphina makin cantik pake baju merah," ralat Adit dengan raut wajah takut. "Adit, Adit. Gaya lo aja omes, dalamnya takut sama istri," cibir Ferry dan ya, Adit sudah menikah. "Ya gue takut gak dikasih jatah, bro!" Tanpa mereka sadari Revano tidak menyimak apa yang sahabatnya itu bicarakan, ia lebih fokus melihat istri keduanya yang tengah sibuk berbincang dengan kedua sahabatnya yang baru datang. "Gue balik duluan," pamit Revano sambil mendorong ke belakang kursi yang didudukinya hingga menimbulkan suara berdecit. Ia sengaja melakukan itu agar Seraphina menengok ke arahnya dan berhasil. Namun yang ia dapat hanyalah Seraphina yang sedang menatapnya datar seperti biasa.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN