Bagian 17

1049 Kata
Dejavu. Satu kata yang ada di benak Seraphina saat ini. Sungguh ia bahkan tak mengerti apa yang ada di benak ibunda Revano hingga saat ini ia selalu dianggap sebagai biang masalah. Kini Seraphina telah berganti baju dari piyama milik Viola menjadi dress yang ia pakai saat datang kesini. Ia akan segera pergi dari kediaman orang tua Revano tersebut. "Sera, ini udah malem. Mending lo diem aja disini sampe besok pagi," ujar Viona kepada sahabatnya itu. "Gak bisa Vivi, gerah gue lama-lama disini. Mana tante Katrina kayak selalu sengaja ngajak gue terus akhirnya ribut lagi gak jelas cuma karena gue ikut," "Bukan karena lo aja Sera, kita juga dianggap jadi penyebab keributan itu." Tegas Viola. "Padahal kita diem aja tuh ya, datang aja kita baik-baik. Kalau kita datang terus tiba-tiba nyiramin bensin dan bakar tempat itu baru deh boleh dianggap sebagai pembawa masalah," sahut Viona menyuarakan pendapatnya. "Pokoknya gak mau lagi-lagi kesini gue ah, mending tadi gue balik ngerjain revisian kayaknya lumayan deh dapet satu bab juga," ujar Seraphina. Tiba-tiba pintu terbuka menampakan Katrina yang datang dengan raut wajah bersalah. "Sera, maafin tante. Jujur tante gak maksud buat bikin keadaan seperti ini lagi, niat tante sama sekali bukan itu. Tante berniat untuk memperbaiki keadaan antara kamu dan keluarga tante, sumpah tante gak bermaksud seperti itu," Seraphina menghela nafas berat. Ia tidak tahu harus memaafkan Katrina atau tidak. Ini sudah kedua kalinya ia dimaki-maki oleh ibunda Revano karena menerima ajakan dari Katrina. "Gak apa-apa tante, udah terjadi juga. Lain kali tante gak usah inisiatif seperti itu, tante udah tahukan gimana pandangan mereka terhadap Sera? Mau sebaik-baik apapun tante bawa Sera, mau seaman gimanapun gak akan merubah pandangan mereka tentang Sera, tante." ujar Seraphina sambil menatap Katrina dengan datar. Setelah berkata demikian, Seraphina pun bergegas keluar dari kamar Viola. Namun langkah pastinya terhenti saat tiba di ruang keluarga, disana sudah ada Devano, Karina, Revano, Syafira, Riano dan Oma Katya. "Damn, drama macam apalagi ini?" Tanya Seraphina dalam hati. "Mau kemana Seraphina?" Tanya oma Katya to the point. Seraphina tersenyum manis kepada oma Katya lalu menjawab, "Sera mau pamit pulang oma. Sera lupa kalau besok pagi ada janji sama dosen pembimbing dan Sera juga harus ngerjain revisian," Semua orang yang ada disitu menatap tak percaya kepada Seraphina. Mereka kira Seraphina akan mengatakan yang sebenarnya terjadi sehingga menyebabkan gadis itu pergi. "Oma sudah bilangkan Seraphina, besok saja. Ini sudah malam," "Gak apa-apa. Kalau memang oma khawatir sama Seraphina, oma bisa suruh Revano buat nganterin Seraphina," dengan tenangnya Seraphina berkata seperti itu. Sedangkan Revano membulatkan matanya tak percaya dengan apa yang dikatakan Seraphina. Syafira? Jangan tanya karena sekarang ia tengah mendelik sambil mengeratkan tangannya yang bergelayut manja di lengan Revano. "Kamu mau pulang memang karena kamu besok pagi ada janji dengan dosen pembimbing kamukan? Bukan karena orang-orang di rumah ini membuat kamu jadi tidak betah?" Tanya Oma Katya sekali lagi. Semua yang ada disana menahan nafas takut kalau Seraphina akan memberitahukan permasalahan yang sedang terjadi. "Iya oma, Seraphina engga bohong kok. Besok memang ada jadwal bimbingan dan dosennya minta ketemu pagi-pagi. Dan untuk pertanyaan kedua, Sera rasa oma tahu jawabannya," jawab Seraphina disertai kekehannya. "Yaudah kalau gitu Seraphina pulang dulu ya oma, kapan-kapan Sera main kesini tapi pas oma lagi sendiri aja di rumah ya," pamit Seraphina lalu mencium tangan oma Katya. Kemudian ia berlalu dari hadapan semua orang yang ada disitu. "Revano, kamu antarkan Seraphina pulang sampai depan pintu rumahnya!" Perintah oma Katya dengan tegas kepada cucu keduanya tersebut. Tanpa basa-basi lagi Revano langsung melepaskan tangan Syafira yang bergelayut manja dan berlari keluar dari rumah menyusul istri keduanya tersebut. Oma Katya sungguh khawatir jika Seraphina pulang sendirian malam-malam begini dan ya, oma Katya belum mengetahui perihal Seraphina yang ternyata adalah istri kedua dari Revano. Entah apa yang akan terjadi jika oma Katya mengetahui itu. Akankah mendukung atau sebaliknya? Seraphina yang baru berjalan sampai gerbang tersentak saat ada yang menarik tangannya. Siapa lagi jika bukan suaminya, Revano. "Apaan sih lo?" Tanya Seraphina ketus. Tanpa menjawab pertanyaan Seraphina, Revano langsung menarik tangan istrinya itu dan membawanya menuju ke mobil. Setelah Revano berada di kursi kemudi, ia langsung menjalankan mobil meninggalkan pekarangan rumah itu. Dalam perjalanan tersebut hanya ada keheningan yang tercipta. Seraphina masih kesal dengan apa yang terjadi tadi dan ia tak mau berdebat dengan suaminya itu, akhirnya ia memilih diam. "Kenapa bohong?" Tanya Revano tiba-tiba. Seraphina mengerutkan kening tanda tak mengerti. "Bohong apa?" "Kamu bilang ke Oma kalau besok ada janji sama dosen pembimbing, nyatanya enggak kan?" Tanya Revano. "Siapa bilang?" Tanya balik Seraphina. Revano mengangkat sebelah alisnya pertanda tak mengerti. "Gue emang ada janji sama dosen pembimbing". Ujar Seraphina. Revano diam. "Kalau tadi semuanya aneh kenapa gue gak ngelaporin apa yang terjadi sama Oma Katya, jawaban gue adalah gue gak mau ada keributan lagi. Apalagi di depan Oma, beliau udah tua kan ya. Gue takut aja ada apa-apa sama Oma, jantungan misalnya". "Kamu doain Oma jantungan?" Tanya Revano tak terima. "Emang kalimat yang gue ucapin tadi ada kalimat berdoanya?" Revano hanya diam tak merespon apapun lagi hingga tak terasa jika mobilnya sudah tiba di halaman rumah miliknya dan Seraphina. "Kamu masuk duluan aja, aku masukin dulu mobil ke garasi," suruh Revano kepada sang istri. "Lo gak pulang?" Tanya Seraphina ragu. "Pulang kemana? Toh ini rumah aku juga," jawab Revano santai. Seraphina berlalu dan tak ingin meladeni omongan sang suami. • • • Seraphina yang sedang mengancingkan piyama yang dipakainya terperanjat kaget saat ada orang yang membuka pintu kamarnya lumayan keras dan pelakunya adalah Revano, siapa lagi memang? "Lo apa-apaan sih? Ngagetin orang tau gak!" Hardik Seraphina kepada suaminya itu. "Ser, aku lapar," ujar Revano polos tanpa mempedulikan hardikan dari sang istri. "Lapar?" Tanya Seraphina tak percaya, ini hampir tengah malam dan Revano merasa lapar? "Iya, kalau kamu aneh kenapa aku lapar jam segini. Jawabannya adalah aku udah biasa, kalau di rumah Syafira aku paling bisanya masak mie aja soalnya Syafira gak mau aku suruh masak". Seraphina menghela napas. Kemudian ia mengangguk. "Lo tunggu disini, gue masakin kwetiau mau? Soalnya cuma ada itu aja, gue sama bu Marlina belum belanja," "Mau mau... Gak apa-apa kok, aku mau," ucap Revano polos dengan mata berbinar. "Yaudah, ganti baju dulu sana. Terus nanti tunggu di ruang makan," suruh Seraphina kemudian berlalu keluar dari kamarnya. "Yes, gue bakal makan masakan Seraphina lagi!" Seru Revano senang. "I love you, my second wife," lirihnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN