Bagian 16

1077 Kata
Seraphina kini berada di kamar milik sahabatnya--Viola.. "Emang kita gak boleh nolak kemauan oma Katya ya, Vi?" tanya Seraphina. "Bukan gak boleh, tapi gak bisa". Jawab Viola. "Kok gak bisa?" "You know lah kalau elo nolak keinginan nenek-nenek yang udah tua bakalan kena semprot tuh seisi rumah". "Seribet itu?" tanya Seraphina lagi. Viola menganggukan kepalanya. "Udah kayak ratu Elizabeth," gurau Seraphina. Seraphina beranjak dari duduknya menuju ke kasur kemudian merebahkan tubuhnya. Malam ini ia akan tidur di kamar Viola maka ia pun meminjam baju tidur milik Viola.         "Hahhh... Gue harus terjebak disini," keluh Seraphina. "Sehari aja, besok lo mau balik pagi-pagi juga bisa asal pamitan sama oma Katya," ujar Viola. "Kalau enggak?" Tanya Seraphina. "Lo mau diblacklist?" "Hahahaha" Tok..tok..tok.. Tiba-tiba suara pintu terdengar diketuk dan munculah Viona dengan setelan piyama bergambar karakter favoritnya di aplikasi line. "Gak ajak-ajak ah elo berdua" protes Viona pada kedua sahabatnya itu. "Ya tinggal masuk aja biasanya juga, kenapa sih lo cemberut gitu?" tanya Viola. "Kesel gue, barusan gue disuruh bantuin bawain keperluan barbeque ke halaman belakang. Udah gue turuti maunya si Syafirot tuh, eh gue diusir dong". Viola yang sedang duduk di atas karpet sambil bersandar pada sofa pun terkekeh mendengar apa yang dikeluhkan oleh kembarannya itu.          "Ya elo ngapain juga mau-maunya bantuin mereka?" Tanya Viola mengejek. "Tau ah, sebel!" Ujar Viona sambil merebahkan dirinya di samping Seraphina. "Gue udah bilang sama lo, jangan pernah mau kalau disuruh mereka! Gak belajar dari pengalaman sih lo, kita disini cuma numpang tinggal aja. Mau mereka ke Arab kek, mau ke Depok, mau ke Tajmahal tetep aja kita mah gak bakalan diajak," nasihat Viola kepada kembarannya itu. Viona hanya diam. Seraphina yang tahu bagaimana perasaan Viona langsung memeluk sahabatnya itu. "Gak usah dipikirin, gak penting. Biasanya juga kita party bertiga pake piyama kan?" Seraphina berusaha memberi ketenangan kepada sahabatnya itu, iya tahu bagaimana perasaan Viona saat ini. Ia juga tentu tahu jika Viona sebenarnya sangat ingin diakui dan dianggap oleh keluarganya, berbeda dengan Viola yang keras kepala. Sekalinya Viola sakit hati maka pintu maaf tak akan terbuka untuk orang tersebut. Ah, bertahun-tahun menjadi sahabat mereka Seraphina banyak tahu tentang sifat dan kelakuan asli mereka. "Thats right! Dan malam ini kita udah pake dresscode party kita hahaha" ujar Viola semangat. "Tapi piyama gue dapet minjem dari Viola," ujar Seraphina sambil tertawa. Viona pun akhirnya tersenyum. "Thank you, kalian emang terbaik!" Ujar Viona sambil memeluk sahabat dan kembarannya itu. Lalu mengalirlah cerita dari mulut mereka bergantian, dari mulai membicarakan skin care, make up, fashion hingga mahasiswa baru di kampus hingga. Sedang asyik-asyiknya bercerita tiba-tiba pintu kamar Viola terbuka dan menampilkan sosok tante Katrina. "Ada apa tante?" Tanya Viola heran. "Kalian bertiga mau di kamar aja?" Tanya Katrina. "Ya terus kita harus kemana? Ke mall gitu?" Tanya Viona jutek. Katrina tersenyum. "Daripada kalian diem disini mending ikutan barbeque-an yuk," ajaknya. Seraphina, Viona dan Viola hanya saling pandang. "Tumben, biasanya juga gak pernah ngajak!" Sindir Viona ketus. "Udah yuk mending gabung, ayo Seraphina". Katrina malah mengalihkan pembicaraan dengan mengajak Seraphina. Seraphina bingung harus bersikap seperti apa? Rasanya jika menolak ia tak enak karena sekarang ia tengah menumpang disini, jika tidak menolak ia memikirkan perasaan Viona dan Viola yang sepertinya sangat sakit hati akibat tidak pernah diajak. "Yaudah yuk, ikut aja. Kalau mereka macem-macem tinggal lawan aja, kita bertigakan punya mulut macem ayak geprek level 10," bisik Viona kepada dua sahabatnya itu, ya walaupun dia yang ketus awalnya tapi dia juga yang menyetujui. Viola memicing mendengar perkataan kembarannya itu, dia sudah tahu gelagat jika kembarannya akan melakukan sesuatu. "Udah yuk ah kalian lama!" Seru Viona sambil menarik lengan Viola dan Seraphina melewati sang tante begitu saja. Katrina hanya bisa geleng-geleng kepala. "Stop!" Teriak Seraphina lalu ia membalikan badannya menghadap pada Katrina. "Tante gak akan mempermalukan aku lagi kayak waktu itu kan?" Tanya Seraphina curiga. Katrina menggeleng. "Gak akan sayang, tante minta maaf soal yang waktu itu. Tante kira mereka semua gak akan seperti itu sama kamu," ujar Katrina menyesal. "Dan tante waktu itu sama sekali enggak ngebela Seraphina!" Hardik Viola. "Maaf, tante minta maaf. Pokoknya tante janji kejadian seperti itu gak akan terulang lagi". "Yaudah lah, biarin aja. Semua udah lewat," ujar Seraphina dengan tenang. • • • Sesampainya di halaman belakang, Viona, Viola dan Seraphina disambut oleh tatapan kaget dari orang-orang yang berada disitu--kedua orang tua Revano, Revano, Syafira dan Riano. "Hai Sera!" Sapa Riano dengan mata berbinar. Seraphina hanya tersenyum tipis menanggapi. "Katrina, kenapa kamu ajak mereka?" Tanya Karina--ibunda Revano dengan nada yang ketus. "Mbak, udah aku bilang gak ada bedanya antara Viona dan Viola dengan kita semua. Stop untuk bersikap seperti itu, Mbak!" Ujar Katrina kepada sang kakak. "Sudah sudah, kenapa kalian selalu ribut seperti ini jika menyangkut Viona dan Viola?" Tanya Devano--ayah Revano. Karina menatap nyalang kepada suaminya ini. "Mereka memang pembawa masalah, setiap ada mereka di acara yang kita buat kita selalu bertengkar karena Katrina selalu membela mereka! Ditambah sekarang ada satu lagi orang yang membawa masalah dalam keluarga kita!" "Tante menganggap saya sebagai pembawa masalah dalam hidup keluarga ini? Saya bahkan gak pernah mengharapkan untuk masuk dalam keluarga ini! Kalau memang tante menganggap saya pembawa masalah silahkan suruh anak tante untuk berce---" belum sempat Seraphina menuntaskan kalimatnya, Revano sudah lebih dulu memotong ucapannya. "Stop! Kita disini buat ngerayain karena Riano udah pulang lagi ke rumah inikan? Tapi kenapa malah kayak gini sih?" Tanya Revano. "Viona, Viola dan Seraphina bukan masalah disini, yang masalah disini adalah mama yang menganggap mereka sebagai masalah padahal tante Katrina bawa mereka dengan baik-baik!" Lanjut Revano. "Sayang, kamu gak boleh ngomong gitu sama mama!" Peringat Syafira kepada suaminya itu. Revano mengusap wajahnya kasar, ia memang salah membentak ibunya namun apa ia juga harus diam saat istri dan adiknya disebut sebagai pembawa masalah oleh ibunya sendiri. "Revano benar, yang harusnya dibenahi itu mindset kalian semua. Saya, Viona dan Viola akan terus seperti pembawa masalah jika kalian selalu berpikiran seperti itu kepada kami. Padahal nyatanya saya dan mereka berdua bahkan diam, tapi tante yang tiba-tiba marah dan bilang kalau kami ini pembawa masalah." Ujar Seraphina membungkam mereka semua. "Kak Riano, aku pamit pulang ya. Tolong sampaikan maaf aku ke oma Katya karena enggak menuruti perintahnya. Silahkan lanjutkan acara kalian, maaf mengganggu dan membawa masalah," ujar Seraphina lagi kemudian ia beranjak dari sana diikuti oleh si kembar Viona dan Viola. "Sera...Seraphina.." panggil Riano namun tak digubris oleh sang empunya nama. "Mama puas? Puas bikin Seraphina marah dan pergi?" Tanya Riano membentak Karina, lalu setelah itu Riano pergi dari sana dengan susah payah menggunakan tongkat jalan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN