Bagian 15

1119 Kata
Prang! Seraphina mendorong tubuh Riano hingga terguling di atas kasur dan membuat nampan yang ia bawa terjatuh sehingga piring dan gelas yang ada di atasnya pecah. Tanpa sepatah katapun Seraphina langsung pergi dari hadapan Riano. Tak lupa dengan pintu kamar Riano yang ditutup dengan bantingan yang keras. Revano yang tadinya berdiri di dekat pintu kamar Riano pun langsung bersembunyi. Matanya melihat Seraphina yang berjalan dengan langkah lebar. "Lain kali lo gak boleh ngelakuin hal selancang itu sama cewek, bang!" ujar Revano yang langsung masuk ke dalam kamar Riano dan melihat kakaknya itu tengah terdiam atas apa yang terjadi sebelumnya. "Lo ngintip?" tanya Riano tak suka. "Gue cuma mau mastiin kalau elo gak macam-macam sama Seraphina. Dan ternyata dugaan gue bener kalau elo mau berlaku kurang ajar sama Seraphina". "Bukan urusan lo," "Jangan pernah samain Seraphina seperti cewek-cewek yang selalu lo tidurin selama ini". "Gue gak mungkin ngelakuin itu ke cewek yang gue suka saat pertama kali ngelihat dia". Sergah Riano tak terima. "Jangan berharap terlalu dalam, lo bakalan sakit saat tahu kenyataannya". Ujar Revano kemudian ia pergi dari kamar kakaknya itu. • • • Revano membuka pintu kamarnya dengan Seraphina. Ia melihat gadis itu tengah berkutat dengan laptopnya yang berada di atas meja belajar, sepertinya istri keduanya itu tengah mengerjakan sesuatu. "Ngapain?" tanya Revano membuka obrolan sambil duduk di kasur yang ada di belakang Seraphina. "Revisian". Jawab Seraphina singkat. "Berapa bab lagi emang?" "Udah beres semua tinggal nunjukin revisian terus acc sidang, kalau iya diacc tapinya". Revano tersenyum. Seraphina menjawab pertanyaannya dengan kalimat yang lumayan panjang. "Jangan begadang, gak baik buat kesehatan. Kalau lelah jangan maksain, kesehatan kamu juga perlu dijaga". Nasihat Revano. "Hmm.." gumam Seraphina sambil tetap fokus pada pekerjaannya.          "Aku tidur duluan ya. Kamu gak usah tidur di sofa, kita udah sah". Ujar Revano. Namun Seraphina tak menjawab, ia malah semakin fokus terhadap pekerjaannya itu. "Kamu tetap, gak pernah berubah. Bahkan aku tahu kalau kamu itu lagi marah atas apa yang dilakuin sama Riano tadi. Tapi kamu gak pernah uring-uringan kalau bukan ke orang yang bersangkutan". Ujar Revano dalam hati. Kemudian ia segera memejamkan mata untuk menuju ke alam mimpi. Satu hal yang ia lupakan, ia berjanji akan menghubungi Syafira--istri pertamanya sebelum tidur. Namun entah kenapa ia bisa melupakan itu. Seraphina menengok kebelakang, dilihatnya Revano sudah terlelap dengan damai. "Have a nice dream, hubby". Ucap Seraphina dalam hati. • • • "Revanoooo... Bangun!" teriak Seraphina kepada suaminya itu. Namun Revano malah semakin masuk ke dalam selimut. "Sepuluh menit lagi, yang". Ujarnya. "Ini udah jam setengah delapan!" Revano refleks membuka mata dan menegakkan tubuhnya. "Serius?" tanya Revano. "Tapi bohong...." ujar Seraphina sambil menjulurkan lidahnya. Terlihat di dinding jam baru saja menunjukan pukul lima lebih dua puluh menit. Revano berdecak hendak membaringkan lagi badannya namun dengan cepat ditahan oleh Seraphina. "Eits gak boleh tidur lagi ya. Udah cepet sana masuk ke kamar mandi, biar gue setrikain baju kerja lo". Suruh Seraphina sambil menarik tangan Revano menuju ke kamar mandi. "Mandiin dong, Ser". Pinta Revano memelas. Tanpa menjawab perkataan Revano, Seraphina langsung mendorong Revano dan menutup pintu kamar mandi itu. Beberapa menit kemudian, Revano selesai dengan persiapannya untuk pergi ke kantor. Ia pun segera turun menuju ruang makan untuk sarapan bersama. Namun keningnya mengerut heran saat pandangannya tak melihat Seraphina disana. Hanya ada Viona dan Viola saja. "Seraphina kemana?" tanya Revano kepada dua adik kembarnya. "Udah berangkat, dia ada janji sama dosen pembimbing". Jawab Viona. "Nih, Seraphina nitipin ini buat lo," ujar Viola sambil menyodorkan sekotak makanan kepada Revano.   Revano menatap kotak makanan tersebut dengan takjub. "Ini Seraphina yang bikin?" tanya Revano speechless. "Bukan, yang bikin tukang warteg di deket kantor lo!" jawab Viola sewot. "Yaudah kalau gitu gue sarapan ini aja di kantor". Ujar Revano sambil membawa sekotak makanan itu menuju keluar. Akhirnya ia bisa merasakan masakan Seraphina lagi. "Aneh," gumam Viona dan Viola bebarengan. • • • Seraphina kembali ke rumah pada pukul empat sore. Keadaan rumah sangat sepi mungkin yang lain belum pulang. Saat akan menaiki tangga tiba-tiba tangannya dicekal oleh seseorang yanh berdiri menggunakan tongkat jalan, dia Riano. "Ada apa kak?" tanya Seraphina. "Aku minta maaf soal kemarin malam, aku bener-bener khilaf," "Gak apa-apa, lupain aja". Ujar Seraphina sambil melepaskan cekalan tangan Riano. "Nanti malam ada acara keluarga di tuma papa, kamu temenin aku ya," pinta Riano. "Kenapa enggak bareng Revano aja?" tanya Seraphina. "Revano pasti sama istrinya," "Gue juga istrinya, btw". Ujar Seraphina tentu saja dalam hatinya. "Ikut ya temenin aku, please". Pinta Riano memelas. Seraphina berpikir sejenak. Revano bahkan tak mengajaknya kesana, ia semakin yakin jika Revano hanya baik padanya karena merasa bersalah atas insiden yang terjadi beberapa hari lalu. "Yaudah gue ikut, kak". Ujar Seraphina final dan respon Riano tentu saja ia tersenyum lebar. • • • Tepat pukul tujuh malam, Seraphina akan pergi ke kediaman orang tua Revano bersama Riano yang notabenenya adalah kakak iparnya. "Udah siap?" tanya Seraphina. Riano yang sedari tadi bermain handphone akhirnya mengalihkan pandangannya kepada Seraphina. "Cantik," gumamnya tanpa sadar. Tiba di kediaman orang tuanya, Riano langsung disambut hangat oleh keluarga terutama ibunya--Karina. "Riano sayang, akhirnya kamu datang juga. Mama sangat kangen sama kamu," ungkap Karina sambil memeluk Riano. Seraphina ada di belakang Riano dan orang-orang disana belum menyadari kehadirannya. "Loh Sera, kamu ikut sayang?" tanya Katrina antusias dan dibalas hanya dengan senyuman tipis oleh Seraphina. Semua yang ada disana menatap Seraphina dengan ekspresi terkejut. "Kamu ajak dia?" tanya Karina pada anak sulungnya itu. "Iya Ma, gak apa-apa kan?" Riano malah bertanya balik. Karina hanya mampu mengangguk sambil menatap tajam ke arah Seraphina. "Sera, lo kesini?" jerit Viona yang baru saja keluar dari kamarnya. Seraphina hanya tersenyum menanggapinya. "Yuk masuk, kita ngobrol di dalam". Ajak Viona kepada kakak iparnya itu. Seraphina pun mengikuti langkah Viona. Tak berselang lama Syafira dan Revano datang. "Halo semua...." sapa Syafira kepada semua orang yang ada disitu. "Halo menantu kesayangan mama akhirnya datang," sambut Karina antusias. "Apa kabar mama?" tanya Syafira. "Sangat baik sayang," jawab Karina sambil memeluk Syafira. "Ayo masuk semua". Ajak Devano selaku kepala keluarga di rumah itu. Saat masuk ke ruang keluarga mereka semua kaget melihat Seraphina tengah berbincang hangat dengan Katya--nenek dari Revano dan Riano. "Mami, ayo kita makan malam sekarang". Ajak Karina. Sebenarnya hanya untuk mengalihkan agar sang mami tidak akrab terlalu jauh dengan Seraphina. • • • Makan malam yang berlangsung dengan khidmat pun selesai. Mereka semua sedang berkumpul di ruang keluarga. Biasanya membicarakan bisnis namun hari ini semuanya berbeda, nampak canggung karena adanya seorang Seraphina. "Sera, kamu mending nginep aja disini," ujar Riano memecah kecanggungan yang terjadi di antara mereka. "Gak usah kak, gue pulang aja," tolak Seraphina. "No darling, ini sudah malam. Kamu menginap saja disini, kamu bisa tidur bersama Ola atau Ona," sergah Oma Katya. "Iya Sera, ini udah malem lo tidur sama gue," ajak Viola sambil memberikan kode agar Seraphina mengiyakan ajakannya. Final, Seraphina mengangguk tanda ia setuju.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN