Bagian 14

1055 Kata
Waktu sudah menunjukan pukul empat sore, namun Seraphina belum juga keluar dari kamarnya. Apalagi dia di dalam kamar bersama Revano dan hal ini membuat Viona penasaran sekaligus berpikiran negatif. "Mereka berduaan di kamar, lagi ngapain ya? Apa itu ya," gumam Viona penasaran sambil menatap pintu kamar Seraphina yang tertutup rapat. "Aduh, penasaran deh. Lihat aja gitu, kalau dikunci gimana?" gumamnya lagi. "Ah udah deh, gue penasaran banget," ucapnya lagi memantapkan sebelum akhirnya ia berjalan perlahan menghampiri pintu kamar milik Seraphina. Saat meraih kenop pintu tersebut, ternyata pintunya terkunci dan itu membuat Viona memejamkan mata sekaligus membuat pikiran negatif kian menyerang otaknya. "Tuhkan, gue makin curiga ini". Vionapun akhirnya mendekatkan telinga ke pintu guna menguping akankah ada suara yang aneh dari dalam sana, namun hasilnya nihil. "Ah, udahan kali ya?" ujarnya seraya pergi dari sana. Berbeda dengan Viona, Seraphina justru tertidur pulas dalam pelukan hangat Revano.   Perlahan, Revano membuka matanya lalu tersenyum melihat perempuan yang ia cintai berada dalam dekapannya. "Aku sayang kamu, Sera". Ucap Revano sambil mencium puncak kepala Seraphina lalu ia beranjak dari kasur dan keluar dari kamar tersebut. • • • "Habis ngapain lo di kamar pake dikunci segala?" tanya Viona ketus dan mengagetkan Revano yang sedang memilih minuman dari dalam kulkas. "Terserah gue mau ngapain juga, lagian sah-sah aja gue mau apa aja sama Seraphina. Gak usah pengen tahuan!" ujar Revano dengan tentang kemudian melangkah pergi dari sana dengan ponsel di genggamannya. "Terus sekarang Seraphinanya mana?" tanya Viona kemudian. "Di kamar masih tidur, lo bangunin sana! Gue mau nelpon Syafira dulu". Vionapun segera beranjak menuju kamar yang ditempati Seraphina. "Sera, bangun!" teriak Viona. Ia mencoba mengguncang tubuh Seraphina agar sahabat sekaligus kakak iparnya tersebut bangun. Seraphina menggeliat akibat guncangan yang dilakukan Viona terhadapnya. Lalu ia duduk sambil mengumpulkan nyawa. "Elo masih make baju ternyata," ujar Viona sambil menghela nafas lega. "Maksud lo gimana?" tanya Seraphina tak mengerti. "Iya itu tadi, pas gue mau bangunin lo eh ternyata pintunya di kunci. Gue udah nyangka kalau elo sama Revano lagi itu". Jawab Viona. "Makanya jangan kebanyakan baca cerita duapuluh satu tahun ke atas, jadi elo mikirnya negatif". "Iya abisnya bikin curiga Sera, siang-siang kok dikunci. Tapi elo beneran bobo sama Revano?" "Hm.." "Seranjang?" "Hm.." "Berarti hubungan lo sama dia mulai membaik nih? Terus gimana rencana yang waktu itu lo bahas?" tanya Viona kemudian. "Enggak Vi, tetep gue jalanin. Cuma aneh aja gitu, Revano tiba-tiba jadi baik sama gue setelah gue kecelakaan. Gue curiga kalau dia baik sama gue cuma karena dia merasa bersalah aja". Terang Seraphina. "Kayaknya asumsi lo bener deh". Ujar Viona membenarkan. "Maksud lo?" "Jadi gue tuh tadi ketemu sama Revano di bawah dia lagi mau ngambil minum dari kulkas. Pas gitu, gue tanya kalau elo kemana, eh dia nyuruh gue buat bangunin elo terus katanya dia mau nelpon dulu Syafira". Beritahu Viona. Seraphina hanya manggut-manggut menanggapinya. "Kita lihat aja sejauh apa dia bermain". • • • Makan malam telah tiba. Di ruang makan sudah ada si kembar Viona dan Viola, Revano dan Seraphina serta Bu Marlina yang tengah menyajikan makanan serta piring yang akan dipakai. "Kak Riano kemana?" Tanya Seraphina. "Gak tahu," jawab Viola. Tak lama kemudian Riano datang dengan tongkat sebagai penopang kakinya. "Sera, anterin makanan ke kamar aku ya". Perintah Riano. "Maksud lo apa?" Tanya Revano tak santai. "Ya gue mau makanan gue dianterin ke kamar," "Kenapa harus Sera? Kenapa enggak Bu Marlina aja?" Tanya Revano lagi. "Sama aja, Sera juga anaknya Bu Marlina. Otomatis posisinya juga sama kayak Bu Marlina," Revano mengepalkan tangannya. Ini salahnya, harusnya waktu itu ia tidak mengenalkan Seraphina sebagai anaknya Bu Marlina. Inilah akibatnya, Seraphina yang harusnya menjadi nyonya malah dianggap pembantu bahkan oleh orang yang menumpang di rumah itu sendiri. "Kalau ngomong dijaga, Seraphina bukan pembantu disini. Dia---" "Udah deh kenapa sih kalian ribut!" Sentak Seraphina kepada kakak beradik yang beradu mulut tersebut. "Maaf, tapi kamu mau kan anterin makanan ke kamar aku?" Tanya Riano. Seraphina mengangguk. Lalu Riano pergi dari sana. "Sera, maksud kamu apa sih? Kamu bukan pembantu disini!" Ujar Revano. "Dan lo sendiri yang ngenalin gue sebagai anak Bu Marlina sampe akhirnya gue dianggap anaknya sama Riano!" Revano diam. "Bu, biar Sera aja yang anterin makanannya ke kamar kak Riano". Ujar Seraphina ketika melihat Bu Marlina membawa nampan yang berisi menu makan malam untuk Riano. "Gak Seraphina, kamu makan dulu disini!" Ucap Revano tajam. Karena tak mau memperbesar masalah, akhirnya Seraphina menurut dan makan bersama di meja makan tersebut. Selesai makan Seraphina segera menuju ke kamar yang ditempati Riano sambil membawa nampan yang berisikan makanan, tanpa menoleh ataupun berbicara kepada Revano. "Lo tahu kan Riano? Dia selalu ngelakuin apa aja buat dapatin apa yang dia mau". Ujar Viola memanasi. "Bener tuh, dulu aja lo punya mainan ataupun baju kalau dia pengen itu ya lo harus ngalah. Apa lo juga bakalan ngalah kalau istri lo juga dia rebut?" Tambah Viona. Revano mengepalkan tangannya dibawah meja, meredam emosi akibat kata-kata yang keluar dari mulut kedua adiknya yang kembar itu. • • • Di ruangan lain di dalan rumah itu, Seraphina sedang menyuapi Riano makan. Setelah meminta Seraphina untuk mengantarkan makanan ke kamarnya, Rianopun meminta Seraphina untuk menyuapinya. "Ngelunjak!" Dumel Seraphina dalam hatinya. "Ser, tahu gak?" Tanya Riano. "Apa?" Seraphina bertanya balik. "Kamu cantik," ujarnya. Seraphina hanya diam saja tak menanggapi. Dia tahu dia memang cantik, banyak orang yang sering memujinya seperti itu. Jadi hal seperti itu tidak asing baginya. "Kok diem?" Tanya Riano heran. Ia bahkan tidak melihat wajah Seraphina menjadi merah ataupun menunjukan sikap malu-malu. "Gak apa-apa, aku tahu kok kalau aku cantik. Udah banyak yang bilang gitu, jadi biasa aja". Ujar Seraphina sombong. Riano terkikik geli. "Iya, orang cantik mah bebas kok". "Hm..." "Oh iya Sera, Revano akhir-akhir ini sensi ya?" "Emang kenapa?" "Gak tahu, setiap aku ngomong ataupun perhatian sama kamu dia pasti marah-marah. Bilang kalau aku tuh bukan siapa-siapa kamu," "Emang elo bukan siapa-siapa gue!" Seraphina berteriak dalam hati. "Padahalkan kamu calon aku," lanjut Riano. "Makanannya udah habis, aku mau nyimpen ini ke belakang terus mau ke kamar". Ujar Seraphina sambil bangkit dari tempat duduknya namun cekalan Riano membuatnya tak bisa mengelak. "Ada apa?" Tanya Seraphina yang sudah mulai kesal dengan Riano. Tanpa bicara Riano mendekatkan wajahnya tatapan matanya tertuju pada bibir Seraphina yang berwarna pink alami. Sepertinya ini akan menjadi perang dunia ketiga sebab tanpa mereka sadari Revano sedang melihat mereka dengan tangan yang mengepal erat pertanda sebuah bogeman akan segera melayang di wajah kakaknya itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN