Tiga hari kemudian Seraphina sudah diizinkan pulang, mengingat lukanya tidak terlalu parah dan tidak ada cedera yang fatal maka dokter mengizinkan Seraphina pulang. Selain itu Seraphina juga merengek ingin pulang terus karena sebenarnya ia sangat anti dengan rumah sakit.
"Udah siap?" Tanya Revano yang sedari tadi menunggu Seraphina. Kebetulan ini hari minggu dan Revano libur, jadi ia bisa menjemput istri keduanya dari rumah sakit itu.
Seraphina hanya mengangguk sebagai jawaban.
"Yaudah ayo, mau digendong apa pake kursi roda?"
"Lo kira gue lumpuh?" Tanya Seraphina ketus.
Revano hanya tersenyum tipis ketika ia masih mendengar kata 'lo' yang keluar dari mulut Seraphina.
"Yaudah jalan aja, tapi pelan-pelan ya. Kamukan baru mendingan".
"Hm".
Di dalam mobil hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Tiba-tiba ponsel Revano berbunyi dan tertera nama 'Syafira' disana.
"Ya, hallo sayang?"
Dejavu bagi Seraphina.
"...."
"Gak bisa yang, nanti aku jelasin. Maaf ya"
Tut.
"Yah ngambek," gumam Revano.
Seraphina sedari tadi hanya diam menyimak.
"Syafira". Beritahu Revano tanpa perlu ditanya oleh Seraphina.
"Gue kira mau nurunin gue lagi disini". Sindir Seraphina.
Revano menghela nafas, sudah pasti Seraphina sakit akan tindakannya beberapa hari lalu ditambah hal itu membuat Seraphina kecelakaan dan berakhir di rumah sakit.
"Enggaklah, aku gak akan ngulang kesalahan yang sama". Jelas Revano.
Seraphina hanya diam tak menanggapi.
"Mau makan dulu gak?" Tanya Revano kemudian.
"Boleh deh, pengen ayam bakar". Jawab Seraphina langsung dengan mata yang berbinar.
"Tetep kayak dulu ya, kalau soal makan langsung jawabnya". Ucap Revano gemas sambil mengacak puncak kepala Seraphina.
Seraphina memalingkan wajahnya yang pasti sudah memerah.
"b**o deh, Sera!" Rutuk Seraphina dalam hati.
Di parkiran kedai ayam bakar.
"Kenapa makan disini sih?" Tanya Seraphina. Kedai ayam bakar ini adalah salah satu tempat kuliner favorit Sera dan Revano semasa pacaran dulu, sebelum acara perjodohan sialan itu menyerang.
"Emang kenapa? Inikan tempat favorit kita," jawab Revano enteng
"Ada apa sama diri lo sebenernya?" Tanya Seraphina yang sudah sangat heran akan sikap Revano akhir-akhir ini.
"Maksud kamu?" Revano bertanya balik tanda ia tak paham.
"Kenapa elo tiba-tiba jadi baik sama gue?"
"Kok kamu nanya gitu? Kamu itu istri aku, wajar aja kalau aku bersikap baik sama kamu,"
"Bukan maksud lo bukan karena gue istri lo, pasti karena lo cuma ngerasa bersalah sama guekan?"
"Mana mungkin sih Sera, kenapa kamu bisa berpikir kayak gitu?"
"Gue? Kenapa mikir kayak gitu? Gue harap lo gak lupa sama sikap lo waktu awal kita nikah, elo kayak orang benci sama gue kan?"
Revano diam. "Aku minta maaf soal itu, jujur waktu itu aku cuma kaget aja saat harus menikah lagi dan jadiin kamu istri kedua".
"Kenapa waktu itu lo natap gue seakan-akan lo benci banget sama gue. Apa salah gue? Yang harusnya marah dan benci disini adalah gue, gue yang lo tinggalin nikah, gue yang engga lo pilih! Lo bahkan mutusin gue tanpa sebab dan lima hari kemudian gue denger kabar kalau elo nikah sama Syafira". Ucap Seraphina dengan berapi-api namun lirih di akhir kalimatnya.
Revano memilih diam. Dari awal ia memang salah, seharusnya ia tak pernah menerima perjodohan yang dilakukan ibunya bersama Syafira. Lebih brengseknya lagi ia memutuskan hubungan dengan Seraphina tanpa sebab dan setelah itu ia seakan membenci Seraphina seperti Seraphinalah yang salah, padahal dirinya. Hanya dialah yang tahu alasannya. Ia ingin mengutarakannya kepada Seraphina, namun ia terlalu takut dibilang b******k jika mengatakan alasan sebenarnya.
Seraphina berniat keluar dari mobil yang ditumpanginya, namun ia kalah cepat dengan tarikan dari tangan revano.
"Revano, lepasin gue!" Bentak Seraphina.
"Ser, please jangan kayak gini. Aku minta maaf soal itu, ayo kita mulai semuanya dari awal lagi".
"Mulai dari awal? Gue gak mau!"
"Kenapa? Apa karena aku kemarin-kemarin gak adil antara kamu dan syafira makanya kamu gak mau? Aku janji akan adil sama kamu, aku akan bagi waktu antara kamu dan Syafira. Aku pastikan juga saat waktu aku sama kamu gak akan ada yang ganggu kita". Ujar Revano memohon.
Seraphina menghela nafas enggan untuk mengiyakan ajakan suaminya tersebut.
"Jadi lo kesini niat gak sih ngajak gue makan?" Tanya Seraphina mengalihkan pembicaraan.
"Iya jadi, ayo. Kamu pesen duluan, nanti aku nyusul. Pesenin aku yang kayak biasa". Ujar Revano lalu Seraphina keluar duluan dari mobil.
Revano menatap punggung Seraphina yang menjauh.
"Kayaknya gue harus berjuang keras sekarang, apalagi di rumah itu ada Riano yang terang-terangan bilang kalau dia jatuh cinta sama Seraphina". Gumam Revano pada dirinya sendiri kemudian ia bergegas menyusul istri keduanya itu untuk makan siang bersama.
"Sera! Kamu kemana aja tiga hari ini? Kok gak pulang-pulang?" Tanya Riano dengan wajah khawatirnya saat Seraphina baru saja tiba di rumahnya.
Well, sebenarnya Seraphina malas harus berhadapan dengan Riano. Lelaki ini sangat kelihatan 'caper' alias cari perhatian.
"Hah? Gak kemana-mana kok, kak. Aku ada urusan yang lumayan ribet". Jawab Seraphina.
"Oh yaudah kalau gak apa-apa, kakak khawatir banget sama kamu". Ujar Riano lembut.
Seraphina hanya tersenyum tipis menanggapinya. Tidak dengan Revano yang sudah kepanasan.
"Bang, Seraphina baru aja sembuh dan lo malah interogasi dia disini. Posesif banget sih lo bukan siapa-siapa juga!" Ujar Revano ketus.
"Maksudnya baru sembuh?" Tanya Riano tak mengerti.
"Udah ah awas, is--". Belum sempat Revano melanjutkan ucapannya Seraphina sudah memotongnya duluan.
"Aku ke kamar dulu ya kak, capek udah perjalanan jauh". Ujar Seraphina kemudian beranjak diikuti oleh Revano.
"Revano kenapa sih? Akhir-akhir ini dia sensitif banget kalau gue perhatian sama Seraphina, padahal Revano udah punya bini". Gumam Riano.
"Sekarang kamu istirahat, kalau butuh apa-apa chat aku aja". Ujar Revano.
"Apaan sih lo, gue bukan sakit parah banget sampai gue harus istirahat". Tolak Seraphina.
"Nurut aja sama suami, Seraphina". Tekan Revano.
Seraphina hanya diam menatap Revano dengan jengah. Tanpa bisa diantisipasi Revano mengangkat tubuhnya ala bridal style dan langsung menidurkannya di kasur.
"Revano, gila!" Maki Seraphina.
"Ssst, kamu jangan teriak. Nanti disangkanya aku lagi ngapain kamu, walaupun sah-sah aja sih aku mau apa-apa sama kamu juga". Ujar Revano menggoda Seraphina.
"Bodo amat, anying!" Teriak Seraphina yang sudah menutup seluruh tubuhnya dengan selimut.
Klik
Suara pintu yang dikunci membuat Seraphina mau tidak mau melongokan kepalanya dari dalam selimut yang ia kenakan.
"Mau ngapain lo pake ngunci pintu segala?" Tanya Seraphina was-was.
Revano menyeringai.
"Kitakan belum pernah malam pertama, jadi siang pertama kayaknya enggak buruk". Goda Revano.
"Najis!" Maki Seraphina.
Namun makian tersebut dan menimbulkan efek apapun bagi Revano. Lelaki itu terus berjalan ke arah Seraphina dan---
BRUK
Tanpa diduga Revano langsung menjatuhkan dirinya di sebelah Seraphina.
"Udah gak usah bawel, mending kita bobo siang aja". Ujar Revano lalu menarik selimut yang sama dengan Seraphina kemudian ia memejamkan matanya.
Seraphina hanya bisa melongo melihat kelakuan mantan pacarnya ini, tentunya dengan jantung yang berdebar kencang.