Bagian 12

990 Kata
Revano baru saja keluar dari ruang meetingnya. Ia segera menuju ke ruangannya tanpa menghiraukan beberapa sapaan karyawan yang dilewatinya. "Fyuh, kok gue gak bisa konsentrasi ya?" Keluh Revano sembari memijat pangkal hidungnya. Lalu ia memejamkan matanya sejenak. Seraphina Seraphina Seraphina Bayangan Seraphina tiba-tiba hadir saat ia tengah memejamkan matanya. "Sera, kamu baik-baik ajakan?" Tanya Revano gelisah. Tiba-tiba terlintas begitu saja dibenaknya untuk menghubungi istri keduanya itu. Setelah berhasil membuka password pada handphonenya ia melihat ada tiga notifikasi pesan di aplikasi WhatsAppnya. Viola Seraphina masuk rumah sakit. Lo harus jelasin ke gue kenapa bisa seraphina bisa keserempet motor, bukannya tadi pagi dia jalan sama lo ya? Dia di rumah sakit Harapan. DEG! Revano meneguk ludahnya ketika membaca isi pesan dari sang adik. "Ya Tuhan, apa yang gue lakuin?" Gumamnya. Ia segera menyambar kunci mobil dan handphonenya kemudian bergegas menuju parkiran. Ia berusaha menelpon Viola namun sepertinya Viola sengaja tak ingin menjawab panggilan darinya. Di perjalanan Revano terus merapalkan doa agar Seraphina baik-baik saja. Sungguh ia merasa bersalah atas apa yang terjadi pada Seraphina sekarang. "b**o lo, Van! Harusnya lo bisa adil, sama Seraphina," TING! Handphone Revano berbunyi Viola Kamar mawar no 1. Tibalah Revano di runah sakit yang dituju. Ia langsung bergegas ke kamar rawat Seraphina yang sudah diberitahu oleh adiknya. Ceklek. Baru saja ia akan memegang gagang pintu, Viola sudah lebih dulu keluar dari kamar rawat tersebut. "Langsung masuk aja, Sera barusan banget tidur. Tolong jagain sampe jam tigaan lah, gue harus ngampus sekarang." Ujar Viola "Dia gak ada yang jagain lagi?" Tanya Revano. Sungguh pertanyaan yang bodoh. "Ya mikir aja kali, selain gue, Vivi atau elo siapa lagi yang mau jagain Sera? Bang Riano mau?" Revano diam. "Pokoknya elo hutang penjelasan sama gue, gak peduli apapun elo harus ceritain ke gue se-detail mungkin kenapa Sera bisa engga bareng sama elo!" Tegas Viola kemudian ia berlalu dari hadapan Revano. Revano menghela nafas, ia masuk ke dalam kamar rawat yang ditempati Seraphina. Dilihatnya Seraphina tengah memejamkan matanya. Revano langsung berjalan mendekati brankar yang ditempati Seraphina. "Maafin aku," ujarnya sambil tangannya mengelur kepala Seraphina dengan lembut. "Harusnya aku bisa adil sama kamu, harusnya aku tetap milih kamu karena kamu lagi sama aku tadi." Setelah mengucapkan itu Revano membungkukan badannya kemudian mencium kening Seraphina. "Aku janji, aku bakalan adil mulai saat ini. Aku cinta kamu dan sayang sama Syafira, kejadian ini gak boleh terulang lagi." Satu jam kemudian Seraphina bangun dari tidurnya. Seraphina menolehkan kepalanya ke sebelah kanan dan mendapati Revano sedang tidur di sofa. Ia mencoba menggapai nakas di sebelahnya untuk mengambil gelas yang berisi air minum. Namun apadaya gelas tersebut tidak dapat dicapai olehnya dan akhirnya salah satu benda yang ada di atas nakas tersebut terjatuh dan menimbulkan bunyi nyaring. PRANG! Seraphina memejamkan matanya ketika benda yang tak lain dan tak bukan adalah gelas yang ingin dirinya gapai hancur berkepin-keping tepat dibawah brankarnya. Hal itu tentu saja membuat sang suami membuka mata dan bangun dengan wajah panik. "Ada apa? Kamu gak apa-apa?" Tanya Revano dengan khawatir. Kamu? Seraphina tidak salah dengarkan? Revano memanggilnya dengan sebutan 'kamu'. "Hah? Gak apa-apa gue cuma mau ngambil minum aja," "Kenapa gak bangunin aku?" "Kan elo lagi tidur, takutnya ke ganggu," "Daripada gelas yang pecahkan?" "Ya, maaf," Revano mengambil plastik yang ada di atas nakas dan mengeluarkan isinya kemudian mendekati pecahan gelas tersebut lalu memungutnya dengan hati-hati. "Lain kali kalau kamu gak mampu, minta bantuan orang coba. Lagi lemah aja sok kuat banget," "Ngomong apa sih lo? Gak jelas banget!" Ujar Seraphina dengan ketus. Revano tersenyum kecil. Seraphinanya masih sama, menggemaskan. "Luka kamu masih sakit?" Tanya Revano kemudian. "Sedikit, ini nyut-nyutan banget yang di dahi. Padahal lecet aja tapi sakitnya bikin pusing," jawab Seraphina. "Maaf," ujar Revano. "Buat apa?" "Seharusnya tadi aku enggak ninggalin kamu gitu aja, harusnya tadi aku anterin kamu sampe ke kampus." Ujar Revano penuh sesal. "Yaudah sih gak apa-apa, gue baik-baik aja kok. Luka gini mah bukan masalah besar bagi gue," ujar Seraphina sok kuat. "Siapa yang nabrak?" "Bukan ketabrak, tapi keserempet." Jelas Seraphina. "Iya itu, siapa?" "Anak SMP," "Hah? Demi apa? Anak SMP bawa motor?" "Gak usah kaget gitulah, zaman sekarang udah beda sama zaman dulu. Jangankan anak SMP bawa motor, anak SD aja pacaran manggilnya ayah bunda." "Ck! Ya maksudnya mereka belum cukup umurkan buat bawa motor ke jalan raya?" "Apaan sih? Elo mah gak jelas ngomongnya, udah ah gue bete ngomong sama lo!" Kemudian Seraphina menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Revano terkekeh melihat tingkah istri keduanya. Kemanakan Seraphina yang biasanya ketus, dingin dan sulit tersentuh? Apakah karena kecelakaan dan kepala Seraphina lecet jadi ia berubah? Ah entahlah. "Cepet sembuh, wife. Jangan bikin aku khawatir lagi." Bisik Revano tepat di telinga Seraphina kemudian ia berbalik lagi menuju sofa dan memejamkan mata lagi. Asal kalian tahu, Seraphina dibalik selimut sedang merasakan degupan jantungnya yang begitu keras. Dua anak kembar yang tadi menyerempet Seraphina kini sedang diceramahi habis-habisan oleh sang tante--Tasya. "Pokoknya besok-besok tante gak izinin kalian bawa motor lagi!" Ujar tante Tasya dengan nada yanh sedikit meninggi. "Maafin Alvian, tante. Tadi kitakan buru-buru karena udah telat dan ternyata kita malah gak jadi sekolah gara-gara nyerempet kakak tadi," ujar Alvian membela diri. "Orangtua kalian nitipin kalian disini dan kalian malah bikin onar, pokoknya tante gak mau tau. Besok kalian harus diantar Fathan atau supir," "Iya tante, maaf." "Kita tadi belum sempet ketemu sama kakak tadi, tante. Apa dia gak apa-apa?" Tanya Alvina--kembaran Alvian. "Enggak, kakak tadi udah tante tengok dan dia baik-baik aja." "Fyuhhh, untung ya. Aku takut banget di laporin polisi tante," ujar Alvina lega. Tasya yang sedang membaca pesan di whatsappnya langsung menengok ke arah Alvina dan menyeringai. "Iya untung kakak tadi enggak laporin kalian ke polisi tapi tante yang laporin kalian berdua ke mami dan papi kalian," ujar Tasya dengan entengnya. "Yahhh tante," keluh Alvian dan Alvina. "Dan siap-siap, orangtua kalian tiba di Jakarta malam ini." Beritahu Tasya kemudian melangkah pergi meninggalkan kedua keponakannya yang terlihat was-was akan kedatangan orangtuanya besok. "Tante mah, pake laporin kitaaaaa!" Teriak Alvina.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN