"Kak Fathan...." Panggil kedua anak berseragam putih biru tersebut.
"Anjir Vin, kita nyerempet orang," gumam salah satu diantara mereka.
"Kamu sih, kok ngebut. Aduh gimana ya, pasti kak Fathan marah deh ini mah," ujar si anak perempuan dengan mata berkaca-kaca.
"Eh itu kakak yang kita serempet tolongin dulu deh, nanti udah itu baru kita nelpon kak Fathan," ujar si anak lelaki sebagai si pengendara motor.
"Kalau gitu aku nelpon kak Fathan, kamu nyamperin kakak itu," suruh si anak perempuan.
Si anak lelaki pun berlari menghampiri Seraphina.
"Kak, kakak gak apa-apa? Maaf banget kak kita rusuh udah mau telat ke sekolah, eh ternyata kita gak jadi ke sekolah karena nyerempet kakak," ujar si anak lelaki.
"Kalian masih SMP udah diizinin bawa motor sama orang tua kalian? Apa kalian gak sadar kalau ini tuh bahaya? Untuk aku yang jadi korbannya, gimana kalau anak kecil, ibu hamil, nenek atau kakek-kakek?" Ceracau Seraphina kesal.
"Ya kita minta maaf kak, lagian kenapa kakak jalan santai gitu sih. Emang lagi jalan di catwalk apa," ujar si anak lelaki melakukan pembelaan.
"Iya kak, maaf ya. Aku udah telepon kakak kita kok, suruh kesin- oh my God kepala kakak berdarah!" Ujar si anak perempuan. Kemudian ia segera menghampiri Seraphina lalu membantunya bangkit.
"b**o banget sih kamu, bukannya bantuin kakak ini bangun malah debat," omel sang anak perempuan itu.
Si anak lelaki hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal, ia bingung.
Tak lama kemudian sebuah mobil berhenti di hadapan mereka lalu keluarlah seorang wanita paruh baya dari dalamnya.
"Alvian, Alvina!" Panggil wanita itu lalu menghampiri kedua anak itu.
"Tante Tasya..."
"Kalian gak apa-apa?" Tanya wanita itu yang diketahui namanya adalah Tasya.
"Kita gak apa-apa tante, tapi kakak yang kita serempet kepalanya berdarah," ujar Alvina si anak perempuan.
"Seraphina?" Panggil Fathan begitu ia turun dari mobil.
Seraphina hanya tersenyum tipis, namun tak lama semuanya menjadi gelap. Seraphina pingsan.
"Eh kakak!" Pekik Alvina.
"Fathan ayok kita bawa dia ke rumah sakit," ujar Tasya yang merupakan ibu dari Fathan
Tanpa basa-basi Fathan pun langsung mengangkat tubuh Seraphina dan membawanya ke mobil bersama ibu dan kedua sepupunya.
Di rumah sakit.
"Fathan, kamu kenal sama anak perempuan itu?" Tanya Tasya.
"Dia karyawan Fathan di kafe, Ma." Jawab Fathan.
"Aduh gimana nih, orang tuanya?"
"Gak tahu, Ma. Dia orang yang tertutup,"
"Tapi kamu punya kontak siapa gitu buat dihubungi?"
Ceklek
Belum sempat Fathan menjawab dokter sudah lebih dulu keluar dari ruangan UGD.
"Keluarga pasien?" Tanya seorang sokter yang baru keluar dari UGD.
"Saya tantenya dok," jawab Tasya.
"Dia keponakan dokter Tasya?" Tanya sang dokter lagi.
"Pokoknya saya walinya dok, gimana keadaannya?"
"Hanya luka sedikit di kepala dan kakinya sedikit keseleo. Untuk yang lainnya tidak ada yang fatal,"
"Bisa kita lihat dia dok?" Sela Fathan.
"Silahkan." Ujar dokter tersebut.
Di dalam mobilnya bersama Syafira, Revano tidak fokus. Pikirannya melayang tertuju kepada istri keduanya, Seraphina. Ia merasa sangat bersalah karena meninggalkan Seraphina. Jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Revano lebih mencintai Seraphina dibanding Syafira. Sebenarnya ia hanya merasa nyaman bersama Syafira. Awalnya iapun menolak dijodohkan dengan Syafira, namun apadaya ia tak bisa menolak keinginan ibunya. Pertama menikah Revanopun bersikap dingin kepada Syafira, namun makin kesini ia merasa nyaman bersama istri pertamanya itu hingga lama-lama berubah menjadi rasa sayang. Ya, Revano memang menyayangi Syafira.
"Sayang, kamu kok ngelamun terus sih?" Tanya Syafira kepada suaminya itu.
"Ah.. nggak apa-apa sayang, lagi fokus nyetir ini," elak Revano.
Syafira hanya menganggukan kepalanya.
Saat mobil berhenti di lampu merah, Revano menoleh ke sebelah kiri dan memandangi wajah sang istri pertama.
Cantik.
Satu kata yang terucap, memang Syafira sangat cantik. Tetapi jika dibandingkan dengan Seraphina tentu ia akan mengatakan Seraphina lah yang cantik dengan wajah naturalnya tanpa make up berlebih, sedangkan Syafira memang memakai make up berlebih terutama alisnya. Setahu Revano alis Syafira itu tipis, maka dari kejauhan jika ia tidak memakai pensil alis maka akan terlihat seperti botak.
TIN!
TIN!
"Sayang, itu udah maju. Kamu kenapa sih gak konsentrasi banget hari ini?" Omel Syafira.
Revano yang tersentak langsung menancap gas tanpa menanggapi omelan Syafira.
"Bye sayang, nanti kamu gak usah jemput aku ya. Aku bareng sama temen-temenku," pamit Syafira kepada Revano kemudian ia mencium pipi Revano dan keluar dari mobilnya.
Revano tidak langsung pergi dari depan kampus ia menatap punggung Syafira yang kian menjauh.
"Seraphina udah sampe kampus belun ya?" Tanya Revano dalam hati, tiba-tiba terbesit pikiran khawatir kepada istri keduanya.
Tak mau ambil pusing ia segera melajukan mobil menuju ke kantornya sambil merapalkan doa agar Seraphina tak kenapa-napa.
Viola yang baru tiba di kampus dikagetkan dengan salah satu pesan yang masuk dari nomor tak dikenal.
+6281344670xxx
Tolong kabarin keluarganya kalo Sera masuk rumah sakit.
Ya, Fathan akhirnya menemukan salah satu kontak yang ada di ponsel Seraphina dengan nama 'Bestie Vio'. Fathan langsung menyimpulkan hanya kontak itulah yang sering berkomunikasi dengan Sera, karena hanya nama Viola sajalah yang ada di roomchat milik Sera, hanya satu-satunya.
Tanpa berpikir dua kali Viola langsung menancap gas menuju ke rumah sakit tempat Seraphina dirawat sekarang.
"Kenapa sih? Bukannya tadi Seraphina tuh berangkat sama Revano? Kok dia bisa kecelakaan?" Gerutu Viola, ia semakin menaikkan kecepatan laju mobilnya.
Ia merogoh handphone dari tasnya dan mencoba menghubungi Revano, namun hasilnya nihil. Sepertinya Revano sedang meeting.
"Kalau sampai terjadi apa-apa sama Seraphina, awas aja lo Revano!"
Seraphina membuka matanya, dahinya mengernyit bingung.
"Gue dimana?" Tanyanya.
Ia mencoba mengingat-ngingat lagi apa yang sebelumnya terjadi dan--
Yups! Dia ingat.
Ia memengangi kepalanya yang ditempel plester.
"Waduh, pantesan pusing nih," gumamnya.
Tak lama kemudian seorang wanita paruhbaya datang ke kamar inap Seraphina.
"Kamu sudah sadar, nak?" Tanya wanita itu dengan sangat lembut.
Seraphina diam mencoba mengingat apakah dia mengenali siapa wanita dihadapannya ini.
"Kamu pasti bingung. Nama saya Tasya, kamu bisa panggil saya tante Tasya. Saya adalah ibu dari Fathan, bos kamu di kafe dan saya juga tante dari dua anak kembar yang nyerempet kamu tadi. Maafkan mereka ya,"
Seraphina mengembangkan senyumnya sambil menatap Tasya dengan lembut.
DEG
Tasya tersentak, ia seperti jatuh cinta lagi saat ia Seraphina menatapnya.
"Seperti..." Ucapnya dalam hati namun tak tuntas karena Seraphina sudah berbicara terlebih dahulu.
"Gak apa-apa kok tante, ini mah cuma luka kecil. Sera kan strong," ucap Seraphina malah bergurau walaupun sebenarnya ia menahan sakit kepalanya akibat luka itu, entah kenapa ia merasa tak tega jika membuat wanita itu khawatir kepadanya.
"Oh iya, bisa ada yang dihubungi dari keluarga kamu? Tante mau memberi kabar kepada mereka."
Senyum di wajah Seraphina seketika lenyap. Ia tersenyum getir ketika ada kata 'keluarga'. Memangnya ada keluarganya yang akan peduli? Papa dan Mamanya sudah meninggal dan keluarga dari orangtuanya bahkan tidak pernah menganggapnya ada sedari ia masih menjadi anak kecil.
"Gak apa-apa tante, gak usah." Ujar Seraphina kemudian ia mencoba menutup matanya.
Tasya mengangguk maklum, sepertinya ada yang tidak beres antara Seraphina dan keluarganya. Namun ia tak ambil pusing, ia tidak mau kepo terhadap urusan orang lain. Terlebih sepertinya ia adalah sebuah luka.