Bagian 10

1144 Kata
"Pagi semua!" Sapa Seraphina dengan riang kepada seluruh orang yang ada di ruang makan. Disana sudah ada Viona, Viola, Bu Marlina, Riano dan Revano. "Wait, ada Revano?" Tanya Seraphina dalam hati. Semua orang tersenyum membalas sapaan Seraphina, terutama Riano yang terlihat sangat semangat dengan kedatangan Seraphina. Seraphina duduk di kursi yang kosong tepat disebelah Revano, sepertinya memang sudah diatur oleh orang-orang yang ada disana kecuali Riano. "Oh iya, kenapa Seraphina duduk disana? Biasanya kan deket aku, tumbenan nih ada Revano." Sindir Riano tak suka. "Banyak bacot banget nih manusia satu, orang Revano suaminya masa iya Sera harus duduk deket elo sih!" Gerutu Viona pelan, namun bisa didengar oleh Viola yang duduk tepat di sebelahnya. "Apa Vi?" Tanya Riano. "Gak." Jawab Viona ketus. "Sudah sudah sekarang kita sarapan, bukan masalah besar Seraphina duduk dimanapun." Ujar Bu Marlina menengahi. Mereka pun makan dalam diam. "Sera masuk pagi?" Tanya Riano di sela-sela acara makan mereka. "Iya kak," jawab Seraphina. "Ah, andaikan kakak gak make kursi roda gini rela deh nganter jemput Sera setiap hari," ujar Riano dengan semringah. "Uhukk..uhukk..uhukk.." Revano tersedah membuat semua orang mengalihkan tatapannya kepada Revano. "Ini minum," Seraphina dengan sigap memberikan segelas air putih kepada Revano. Revano langsung meneguk air tersebut sampai habis. "Makasih," ujarnya kemudian sambil refleks mengelus kepala Seraphina hingga membuat semua orang yang ada di sana keheranan mungkin dalam hati berkata 'tumben'. "Anjir si Sera emang batu, digituin sama mantan eh suami kok ekspresinya biasa aja sih? Gak ada blushing-blushingnya. Ih gue gemes sendiri masa, kan jadi gue yang bapernya," ujar Viona dalam hati karena gemas dengan ekspresi yang ditunjukan Seraphina. Setelah selesai sarapan Seraphina bangkit dan berpamitan kepada bu Marlina. "Ibu, Sera berangkat ke kampus dulu ya," pamitnya sambil mencium tangan bu Marlina. "Hati-hati ya, nak. Kamu berangkat naik apa?" "Ehm, bia--" Belum sempat Seraphina menjawab, Revano sudah memotongnya terlebih dahulu. "Seraphina diantar sama Revano, bu." "Oh yaudah kalau begitu, hati-hati ya jangan ngebut-ngebut," ujar bu Marlina memperingati. "Si Revano kenapa sih hari ini?" Tanya Riano setelah Seraphina dan Revano pergi. "Kenapa apanya?" Tanya Viola balik. "Ya heran aja gitu, pagi-pagi udah disini terus ikut sarapan dan anehnya kok dia nganterin Seraphina. Padahalkan di rumahnya ada Syafira yang udah pasti harus dia anter jemput," ungkap Riano. "Gak tahu ah, pikir aja sendiri. Elo cowok tapi tingkat kekepoannya melebihi cewek," ujar Viola tanpa menjawab rasa penasaran Riano. "Ayok, Vi. Entar kita telat lagi," ajaknya kepada Viona kemudian. Riano hanya mendengus menatap kepergian dua adiknya yang kembar itu. Di dalam mobil Revano dan Seraphina hanya saling diam. Revano diam bukan berarti ia malas atau tidak berani memulai obrolan duluan, hanya saja ia sedang menyusun kata yang tepat dan masuk akal untuk membuka obrolan bersama sang ice wife. "Lo kuliah semester berapa, Ser?" Tanya Revano memecah keheningan. "Semester delapan, bulan depan kalau jadi sidang," jawab Seraphina tanpa menoleh sama sekali kepada Revano. "Haruskah gue berjuang lagi kayak pas zaman SMA buat dapetin hati dia?" Tanya Revano dalam hati. "Berarti bentar lagi elo wisuda dong?" "Enggak bentar lagi juga, nulis skripsi aja belum kelar masa udah bentar lagi wisuda," Skak mat. Revano kehabisan kata-kata  untuk menanggapi ucapan Seraphina barusan. "Ehm.. apa kabar?" Tanya Revano kemudian. Seraphina menoleh. Apa maksudnya Revano tiba-tiba nanyain kabar? "Seperti yang lo lihat," jawab Seraphina sekenanya. Revano mendengus. Susah sekali mencairkan hati Seraphina, dulu ia bisa namun karena dirinya menerima perjodohan dengan Syafira sepertinya harapan untuk mencairkan Seraphina akan naik ke level yang lebih sulit. Tak lama kemudian handphone Revano berbunyi, pertanda ada panggilan masuk. Syafira, dialah orang yang menelpon Revano. "Hallo sayang.. " "Kamu dimana?" "Di jalan," "Kok aku bangun kamu udah gak ada sih?" "Maaf, aku buru-buru ada rapat penting, "Aku mau berangkat ngampus tapi gak ada supir, kamu pulang lagi ya anterin aku," "Tapi aku gak bisa sa---" "Gak mau tahu, pokoknya kalau kamu gak datang jangan harap aku gak bakal marah sama kamu, aku bakalan laporan sama mama. Pokoknya aku ngambek," Revano menghela napas berat. "Iya iya aku putar balik, kamu tunggu disana," Tut. Sambungan telepon dimatikan. Revano memberhentikan mobilnya dipinggir jalan. Ia menatap Seraphina dengan tatapan yang sulit diartikan. "Pasti udah kayak di film-film nih, gue bakalan diturunin di pinggir jalan," gumam Seraphina dalam hati, feeling so good. "Syafira barusan telepon dan minta gue buat jemput dia ke rumah dan nganterin dia ke kampus," ujar Revano. "Terus?" "Dengan berat hati, maaf gue cuma bisa nganterin lo sampe sini. Gak tahu kenapa gue gak bisa nolak Syafira," Seraphina menarik nafas dalam-dalam guna meredam emosi yang sudah naik ke ubun-ubunnya. "Kalau gue bukan prioritas lo, jangan sok peduli sama gue. Kalau gue ngeberatin lo, gak usah maksain untuk bantu gue. Gak usah sok adil tapi nyatanya lo bahkan gak bisa adil," ujar Seraphina emosi. "Gue gak perlu keadilan dari lo, gue cukup sadar kalau lo nikahin gue juga karena terpaksa," lanjutnya. "Mulai sekarang gak usah sok peduli sama gue, sekalian kalau lo mau ceraikan gue sekarang juga. Jadi atau enggaknya istri lo, gak akan ngerubah hidup gue yang udah hancur karena kehilangan orang tua gue dan itu semua karena salah satu anggota keluarga lo!" "Gue. Benci. Lo!" Ujar Seraphina dan ia langsung keluar dari mobil, sebelum keluar ia mengambil dulu satu botol air mineral yang masih utuh dan disegel lalu melemparnya tepat di d**a Revano. Ia sudah tidak peduli jika Revano kesakitan karena sekarang ia jauh lebih sakit. Hatinya. Setelah Seraphina keluar, Revano memejamkan matanya. Rasa bersalah menyeruak di dalam hatinya. Harusnya ia bersikap adil dan tak mengatakan 'bahwa dirinya tak bisa menolak Syafira'. Ia memegang dadanya, selain sakit karena lemparan botol air mineral itu juga sakit mendengar pernyataan benci dari Seraphina. Semakin jauh sudah Seraphina dari jangkauannya. "Maafin aku Ser, aku emang t***l. Aku gak bisa tegas, harusnya sekarang aku milih kamu. Bukan malah bicara kayak gitu," Namun bukannya mengejar Seraphina, Revano malah memutar arah mobilnya kembali. Jahat. Itulah satu kata yang sangat tepat untuk menggambarkan seperti apa seorang Revano. Setelah berjalan cukup jauh Seraphina berhenti lalu berjongkok di pinggir jalan. Ia menenggelamkan wajahnya pada lipatan tangannya yang bertumpu di atas lutut. Ia menangis. Sedih. Itulah yang Seraphina rasakan. "Revano jahat, gue jadi suudzon dia mau bikin gue telat ketemu dosen pembimbing," "Bukan masalah dia lebih prioritasin Syafira, tapi masalahnya gue ada janji sama dosen pembimbing gue hari ini," ujarnya dengan tersendat-sendat karena sambil menangis. "Enggak, enggak. Gue gak boleh nangis, gue pasti masih bisa keburu buat nemuin dosen pembimbing gue," ujarnya menyemangati diri sendiri. "Tapi sialannya ini daerah zona merah dan gak boleh ada taksi atau ojek online," "Ah, Bu Rosyana maafkan mahasiswimu yang datang terlambat. Please, aku tetep sidang bulan depan ya," mohon Seraphina sambil terus berjalan menyusuri jalan sepi itu. Itulah Seraphina, dia lebih memikirkan janjinya dengan dosen pembimbing daripada ia memikirkan suaminya yang lebih memprioritaskan istri pertamanya. Saat ia akan menyebrang untuk sampai di halte, BRUKKK! Tiba-tiba saja sebuah motor yang ditumpangi dua orang siswa berseragam SMP menyerempet dirinya. "Aaarggggh..." "Kak Fathan...."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN