Seraphina berjalan ke arah lobi kampusnya. Terlihat disana banyak mahasiswa-mahasiswi yang tengah berteduh. Ia kemudian berdiri di samping beberapa mahasiswa sambil mengedarkan pandangannya dan berhenti pada dua insan di sebelahnya yang saling merangkul. Siapa lagi jika bukan Revano dan Syafira. Ia pun cepat-cepat mengalihkan pandangannya kemudian ia melangkahkan kaki dari sana dan menembus hujan mendapati sorakan dari beberapa mahasiswa yang berada di lobi itu.
"Wooo, Seraphina cewek idaman banget." Teriak salah satu mahasiswa.
"Bener, mana ada cewek cantik mau-maunya hujan-hujanan gini. Fix, gue kudu nikah sama Seraphina." Timpal cowok yang lainnya.
"Hey Sera, jangan hujan-hujanan nanti lo sakit!" Teriak Ferry tak kalah berisik.
Sedangkan Revano hanya menatap punggung Seraphina yang semakin menjauh.
"Awas aja kalau kamu sampe sakit, Ser." Ujar Revano dalam hati tentunya.
"Heran aing mah sama si Seraphina, hujan gede gini maen nerobos aja. Gak takut sakit apa." Gerutu Asep yang memang mengkhawatirkan Seraphina dan ucapannya itu membuat Revano gerah.
Sedangkan Seraphina terus berjalan menuju ke gerbang kampus tanpa menghiraukan teriakan teman-temannya. Ia berhenti di halte depan kampus menunggu taksi online yang telah ia pesan. Setelah taksi online tersebut sampai Seraphina segera naik dan menuju ke kafe tempatnya bekerja.
Forever Young Caffe
Seraphina tiba di kafe tempatnya bekerja lalu ia masuk lewat pintu belakang.
"Ya ampun, Seraphina lo dari mana?" Tanya rekan kerjanya bernama Keisha.
"Balik ngampus lah!" Jawab Seraphina.
"Lo balik ngampus apa mandi di jalan Ser?" Tanya Keisha lagi.
"Bawel ah!"
Kemudian Seraphina bergegas menuju toilet perempuan untuk ganti baju menjadi seragam karyawan kafe itu.
"Hallo Sera?" Sapa sang owner kafe--Fathan.
"Hai kak, maaf ya aku baru datang." Ujar Seraphina merasa tak enak.
"Enggak apa-apa santai aja, kamu hujan-hujanan?" Tanya Fathan kemudian.
"Iya kak, santai aja aku kan kuat haha."
"Yaudah kamu sekarang lanjut kerja ya, kalau capek istirahat." Ujar Fathan.
"Hahaha gak usah berlebihan kak." Ujar Seraphina kemudian berlalu.
Fathan tersenyum dalam diam.
"Cantik banget sih, Ser."
Revano kini berada di dalam mobil bersama Syafira menuju pulang ke rumahnya. Ia sedari tadi hanya diam memikirkan apakah Seraphina sudah sampai di rumah atau belum.
"Sayang, kamu kenapa sih? Kok diem aja daritadi?" Tanya Syafira bingung melihat suaminya ini sedari tadi diam saja.
"Hah? Enggak apa-apa yang, cuma lagi banyak kerjaan aja di kantor." Jawab Revano berbohong.
"Ck! Ya kalau urusan kantor jangan dibawa kalau kamu lagi sama aku, kesannya tuh aku dicuekkin cuma gara-gara kerjaan." Omel Syafira.
"Iya maaf, sayang."
"Oh iya, di rumahnya Seraphina ada Riano?"
"Hm."
"Berdua sama Seraphina?"
"Enggak, ada Viona sama Viola juga."
"Itu kembar siam kayak parasit aja dimana-mana nempel."
"Gak boleh gitu sayang, lagian mana mungkin Seraphina dibiarin tinggal berduaan sama Riano. Bisa-bisa mereka nanti digrebek warga terus dinikahin." Jelas Revano.
"Ya bagus kalau mereka dinikahin, lagian kan emang Riano yang bikin orang tuanya Seraphina meninggal jadi ya harus Riano lagi yang tanggung jawab. Bukannya kamu." Ujar Syafira ketus.
Revano hanya menghela nafas lelah. Ia sangat tidak rela bila Seraphina harus menikah dengan Riano.
Pukul sepuluh malam Seraphina baru tiba di rumah. Keadaan rumah sudah gelap, itu artinya para penghuni di rumah itu sudah tidur.
"Sera?" Panggil seseorang.
Seraphina menengok ke belakang dan melihat seorang yang tengah mendorong kursi rodanya sendiri mendekat ke arahnya.
"Hai kak, ada apa?" Tanya Seraphina.
"Ah enggak, kok baru pulang? Darimana dulu?"
"Aku kerja part time di kafe dan aku ngambil jam setelah kuliah jadi aku baru pulang ke rumah jam segini. Kakak kenapa gak tidur?"
"Aku dari tadi belum tidur, lagi main game. Terus dengar suara kendaraan di depan. Yaudah aku cek dan ternyata kamu".
"Oh.."
"Selain itu aku juga lapar". Ujar Riano kemudian.
"Pasti nih manusia kode ke gue". Gumam Seraphina dalam hati.
"Oh lapar, yaudah nanti aku masakin nasi goreng ya kak. Aku ganti baju dulu, kakak tunggu aja di ruang makan nanti aku nyusul". Ujar Seraphina kemudian ia berlari kecil menaiki tangga menuju ke kamarnya.
"Ah, pengertian banget sih. Jadi makin sayang".
Di kediaman Syafira, Revano terbangun tidurnya karena merasa lapar. Entah mengapa ia tiba-tiba lapar disaat waktu menunjukan hampir pukul sebelas malam.
"Yang, bangun dong bentar. Aku lapar pengen makan". Ujar Revano membangunkan Syafira.
"Apaan sih kamu ganggu aja, aku ngantuk ah!"
"Bentar aja yang, bikinin aku nasi goreng biasa".
"Bikin aja sendiri sana, aku ngantuk gak kuat". Syafira malah menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya.
Revano menghela napas berat, akhirnya ia bangkit sendiri menuju ke dapur untuk membuat makanan untuk dirinya sendiri.
"Heran deh, Syafira suka masak yang enak-enak giliran disuruh bikin nasi goreng aja alasannya selalu ngantuklah, capeklah, gak mood lah!". Dumel Revano sambil menyiapkan air untuknya merebus mi instan.
Setelah beberapa saat mi instan yang ia buat siap untuk dimakan. Ia memakan mi sambil memainkan handphone membuka beberapa status yang berasal dari kontak whatsappnya.
Nama 'Bang Riano' tertera pada daftar status. Ia heran mengapa Riano memfoto nasi goreng malam-malam begini dan menjadikannya status di w******p.
"Ngapain dia bikin status foto nasi goreng, biasanya juga anti foto-foto makanan".
'Nasi goreng special from special girl too'.
Begitulah caption yang tertera pada gambar nasi goreng itu.
"Anjir lebay banget sih abang gue".
Tak lama datanglah pesan masuk yang dikirim oleh orang yang sama, yaitu Riano.
Bang Riano:
Cuy, rajin amat lo jadi first viewer status gue.
Mau tau gak siapa special girlnya?
Seraphina.
Tanpa sadar setelah membaca pesan dari Riano tersebut Revano mengcengkram hapenya dengan kuat. Hatinya panas, ia tak rela mengapa kakaknya bisa sedekat itu dengan istri keduanya.
"Harusnya gue yang dimasakin sama Seraphina, bukan elo bang. Harusnya juga gue yang ada disana dan bukan elo. Pokoknya setelah ini gue bakal bikin jadwal seminggu gue sama Syafira seminggu lagi gue sama Seraphina. Gue gak bakal biarin elo deket sama Seraphina. She is mine!"
Begitulah Revano, cowok yang selalu mengutamakan Syafira dan berlagak seolah tak peduli pada Seraphina bahkan terang-terangan mengatakan benci. Tapi nyatanya dia bahkan tidak rela jika ada yang mendekati istri keduanya itu, termasuk kakaknya sendiri. Alasannya satu hal, karena ia masih mencintai mantan pacarnya yang sekarang menyandang statys sebagai istri kedua Revano.