Asep dan Ferry berjalan menuju kantin kampus. Mereka memang masih berada di kampus karena ada kelas sore ini. Terlihat oleh mereka Seraphina sedang duduk sendirian sambil berkutat dengan laptopnya, sepertinya sedang mengerjakan tugas.
“Fer, isengin Seraphina yuk ah!” ajak Asep kepada sahabatnya itu.
“Nggak akan ngamuk emangnya, Sep?” tanya Ferry ragu.
“Moal atuh, percaya sama aing.” Ujar Asep meyakinkan.
“Yaudah, ayok!” ujar Ferry kemudian.
Merekapun berjalan mendekati meja yang dipakai Seraphina.
“Hallo neng Sera yang paling cantik se-Jakarta!” ujar Asep sok akrab dan membuat Seraphina hanya meliriknya sekilas kemudian kembali fokus kepada laptopnya.
“Ah, elo gombal kurang greget. Harusnya gombalin paling cantik sedunia kek, bukannya se-Jakarta doing.” Ujar Ferry protes.
“Atuh Fer, cantik sedunia mah masih ada neng Lisa sama neng Jisoo Blackpink.” Ujar Asep.
“Eh si anjir, malah ngomongin Blackpink mulu!” ujar Ferry.
“Kalian mau ngapain sih kesini?” tanya Seraphina tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptop.
“Hah? Serius ini Sera mau ngomong sama kita?” teriak Asep speechless hingga mengundang semua orang yang ada di kantin untuk menatapnya.
Seraphina hanya geleng-geleng kepala, memakluminya. Ia sudah biasa berhadapan dengan orang yang seperti Asep ini, contohnya Viona—sahabatnya.
“g****k! Lo malu-maluin banget sih!” peringat Ferry sambil mengapit kedua kepala Asep diketiaknya.
“Ah b*****t, bau ketek maneh!” teriak Asep tak terima.
“Kalian gak usah berisik deh, gue lagi ngerjain tugas nih. Kalau mau duduk disini jangan berisik, mau ngajak ngobrol boleh asal jangan teriak gitu.” Peringat Seraphina kepada dua orang di depannya itu.
“Gak tahu nih si Asep. Maafin kita ya Seraphina.” Ujar Ferry merasa tak enak.
Seraphina hanya bergumam menanggapinya.
“Kok ngerjain tugas disini, Ser?” tanya Ferry mulai mencoba mengakrabkan diri dengan sang most wanted girl di kampusnya ini.
“Iya nih, mumpung ada wifi juga soalnya wifi rumah mati.” Jawab Seraphina.
“Oh. Lo gak mau mesen makan?” tanya Ferry kemudian.
“Ah, enggak. Silahkan aja kalian kalau mau makan, gue masih ngerjain ini masih lumayan banyak.” Jawab Seraphina.
“Kita juga enggak ah mau nemenin Sera disini.” Ujar Asep menyela obrolan Ferry dan Sera.
“Bukannya tadi ada temen lo dua lagi ya, pada kemana?” tanya Seraphina.
“Si Rion gak tahu kemana, palingan godain cewek di warteg depan kampus. Kalau si Revano tadi diajakin balik sama bininya, katanya bininya belum ngerjain tugas yang dikasih dosen killer makanya dia ngajakin balik.” Jawab Ferry.
“Serius balik cuma gara-gara itu?” tanya Seraphina memastikan, pasalnya alasan yang digunakan Syafira untuk menghindari dosen killer menurutnya terlalu kekanakan.
“Enggak anjir, tadi dia bilang kan mau bikin dede bayi.” Ujar Asep asal bicara.
Seraphina mengangkat wajahnya menatap Asep, hatinya sebenarnya sedikit mencelos mengingat perlakuan Revano yang tak adil kepadanya. Tapi ya sudahlah ia hanya akan menjalaninya saja.
“Aing mau mesen dulu bakso ah, lapar.” Ucap Asep lalu bangkit menuju kedai bakso yang ada disana.
“Oh iya Ser, tahu gak?” tanya Ferry.
“Enggak.” Jawab Seraphina sekenanya.
“Eh belum beres ngomong, cantik.”
“Ngomong apa? Kan tadi elo nanya.”
“Jadi tadi tuh si Rion punya rencana mau ngerjain lo gitu, katanya seneng-seneng dikitlah.” Beritahu Ferry.
Seraphina seketika menatap Ferry. “Maksudnya?”
“Katanya sih cewek jutek kayak lo harus dikasih pelajaran biar gak jual mahal.” Jawab Ferry.
Seraphina mengernyit kemudian ia menatap Ferry dengan datar. Ia paham apa yang dimaksud oleh Ferry. “Terus?”
“Tapi gak jadi kayaknya, soalnya langsung dibentak Revano. Katanya jangan pernah main-main sama lo.” Jawab Ferry jujur. Entah kenapa Ferry ini begitu polos, padahal jika dilihat-lihat dia sama tengilnya dengan Asep. Tapi Seraphina harus berterimakasih kepada Ferry karena ke depannya ia akan waspada terhadap cowok bernama Rion itu.
“Kok dibentak?” tanya Seraphina pura-pura terkejut.
“Gak tahu, masa sih Revano suka sama lo? Gak mungkin kan ya, dia udah punya Syafira.” Ujar Ferry. Fix ia memang polos, awalnya ia bertanya apakah Revano menyukainya tapi kemudian ia menjatuhkan dengan kata ‘gak mungkin’ karena telah memiliki Syafira.
“Mungkin dia menghargai cewek aja Fer, secara kan dia udah punya istri.” Ujar Seraphina. Sebenarnya hatinya menghangat karena Revano melarang Rion untuk mempermainkannya.
Tak lama kemudia Asep datang bersama seorang pelayan dengan tiga mangkok bakso dan tiga teh botol dalam nampan.
“Seraphina, berhenti dulu ngerjain tugasnya. Mending makan dulu nih bareng kita.” Ujar Asep.
“Enggak ah, kalian berdua aja makan duluan.” Tolak Seraphina.
“Iya Sera, jangan memforsir diri lo sama tugas. Lo juga perlu asupan makanan.” Ucap Ferry sok bijak.
Seraphina ragus, ia takut dengan apa yang dikatakan Ferry tadi. Ia berpikir bahwa Asep mungkin bersekongkol dengan Rion.
“Ini baksonya gak lo masukin obat tidur atau obat perangsang dan semacamnya kan?” tanya Seraphina curiga.
“Astagfirullah Sera, jangan suudzon gitu dong sama aing. Gini-gini juga aing mah bukan cowok b***t, mana mungkin kita kayak gitu. Ya walaupun kamu jutek tapi kalau udah akrab kayak gini mah ternyata kamu baik, sumpah demi apapun aing gak masukin apa-apa ke dalam baksonya.” Sangkal Asep terhadap tuduhan Seraphina itu.
“Yaudah, gue mau. Awas ya kalau elo macem-macem, bakal ada orang yang ngebunuh kalian.” Ujar Seraphina memperingati.
“Iya iya, sok ah geura di makan baksonya keburu dinging gak enak.” Suruh Asep.
Mereka bertiga pun makan dalam diam.
Setelah mereka selesai makan, Seraphina kembali mengerjakan tugasnya sedangkan Asep dan Ferry berpamitan karena akan masuk kelas.
“Kita duluan ya, Sera. Sampai ketemu lagi, entar kita ngobrol-ngobrol lagi ya.” Ucap Ferry sambil berlalu dari sana bersama Asep.
Seraphina hanya melambaikan tangan sebagai jawabannya.
"Manusia aneh." Gumamnya kemudian melanjutkan lagi tugas miliknya.