Suara gedoran pintu terdengar nyaring di tengah malam. Itu Ringga. Dia tampak lemas karena luka bekas tembakan belum diobati. Wajahnya pun tampak pucat pasi karena terlalu banyak mengeluarkan darah. Pintu terbuka, kening Dira mengerut dalam melihat Ringga yang terkapar tak berdaya. "Ringga?" pekiknya segera berlutut untuk melihat Ringga. "Apa yang terjadi?" tanya Dita terlihat jelas gurat cemas di wajahnya. Ringga memejamkan matanya sejenak. "Aira kritis, ada yang meracuninya. Dan aku yang jadi tersangka," jelas Ringga dengan napas tersendat. Dita segera menggapai Ringga, mengajaknya berdiri kemudian memapahnya masuk ke dalam rumah. "Siapa yang meracuni Aira?" tanya Dita setelah menidurkan Ringga di sofa. Ringga menggeleng lemah menatap sayu ke arah Dita. "Aku ng

