Kami telah sampai di atas air terjun yang dimaksudkan. Jarum jam saku itu juga menunjukkan arah yang tepat. Namun, yang ada di sini hanyalah sebuah dinding batu dengan ukiran saja. Bukan pintu istana yang kami harapkan. Tak peduli mau mengecek ke atas mana pun, tetap tak ada tanda-tanda keberadaan sebuah bangunan di atas langit. Dinding batu itu satu-satunya yang tersisa untuk diperiksa dan ukirannya tidak dituliskan dalam bahasa yang kami pahami. Aku ingin mencoba mencari di tempat lain, tapi kompas dan jam saku ini sungguhan berhenti bergerak di sini. “Menurut kalian dinding ini pintunya?” Aku bolak-balik mengecek, mencari celah di mana kami bisa membukanya, tapi tetap saja tak ada. “Kakekmu menuliskannya, Kiran. Percayalah sedikit!” Daisy masih optimis, telah menyita beberapa buku s

