Sebelum meninggalkan istana Naga, kami memutuskan untuk memeriksa keseluruhan ruang terlebih dahulu. Karena bentuk tempat ini serupa sebuah pulau, kami berpencar demi menghemat waktu. Setelah selesai memeriksa bagianku, aku kembali lagi ke mayat Raja Amon. Teman-temanku belum kembali, jadi aku sendirian di sini. Kakiku berhenti di depan wajahnya, seakan terpanggil untuk mendekat ke sana. Tanpa kusadari, aku menyentuh kepala Raja Amon, sisik keras itu kini telah menjadi begitu rapuh. Tanganku mulai terasa sakit. Lebih tepatnya terbakar di bagian kutukan itu bersarang. Rambut Naga yang melingkar di pergelangan tanganku juga berpendar, bagai kilat warna kobaran api. Ukiran kutukan itu mulai bergerak, membakar kulitku menambah lebih banyak tulisannya. Kini rasa panas itu mulai terasa di s

