bab. 8 Sakit

1135 Kata
Pagi itu, sinar matahari menembus tirai tipis kamar rumah sakit tempat Ellysa terbaring. Cahaya lembut itu menyentuh wajahnya yang pucat, membuat matanya perlahan terbuka. Pandangannya sempat buram beberapa detik, sebelum akhirnya fokus menatap sosok yang duduk di kursi samping ranjangnya. Devan. Pria itu tertidur dalam posisi duduk, kepalanya sedikit menunduk, dengan tangan masih menggenggam jemari Ellysa yang terbungkus selimut. Wajahnya tampak lelah, rambutnya sedikit berantakan, dan lingkar hitam di bawah matanya jelas terlihat. Sepertinya dia tidak tidur semalaman. Ellysa tertegun. Ada perasaan hangat menyelusup ke dadanya, bercampur dengan rasa canggung yang sulit ia jelaskan. “Tuan Devan...,” gumamnya pelan, suaranya serak. Suara lembut itu membuat Devan tersentak. Ia membuka matanya perlahan, tampak sedikit kaget, lalu berdiri dan mendekat. “Kau sudah bangun?” tanyanya cepat, suaranya terdengar lega. Ia langsung meraba dahi Ellysa. “Panasmu sudah turun... ada yang sakit? Aku panggil dokter, ya?” ucap Devan cepat Ellysa buru-buru menggeleng, meski tubuhnya masih terasa lemah. “Tu... tuan... Anda... saya kenapa?” tanyanya pelan. “Semalam kamu demam tinggi, lalu pingsan,” jawab Devan singkat sambil menarik napas dalam. “Untung aku menemukanmu tepat waktu. Kalau terlambat sedikit saja...” Ia tak melanjutkan kalimatnya. Hanya menatap wajah Ellysa yang masih tampak lemah. Ellysa menunduk. “Maaf... saya merepotkan, Tuan,” ucapnya lirih, jemarinya menggenggam ujung selimut erat-erat. Devan menatapnya cukup lama sebelum menjawab pelan, “Kau tidak merepotkan siapa pun, Ellysa. Kau istriku. Sudah semestinya aku menjagamu.” ucap Devan, entah sadar atau tidak dengan apa yang iamfitriana ucapkan barusan Kata-kata itu membuat d**a Ellysa sesak, bukan karena sakit, tapi karena perasaan yang rumit. Ia tak tahu harus senang atau sedih. Mungkin seharusnya ia bahagia karena Devan begitu perhatian, tapi di sisi lain, ia sadar hubungan mereka tidak dibangun atas dasar cinta. Beberapa menit berlalu dalam diam. Hanya suara alat medis dan langkah suster yang sesekali terdengar dari luar ruangan. Devan kemudian berjalan keluar sebentar untuk berbicara dengan dokter, sementara Ellysa menatap ke luar jendela, ke langit biru yang terlihat begitu jauh. Hatinya terasa kosong. Ia teringat kata-kata Evaline kemarin. “Jika bukan karena menikahi kamu, Devan masih kekasihku. Dia menikahimu hanya karena kasihan.” Kalimat itu terus bergema di kepalanya, membuat matanya panas. Namun ia berusaha menahan air mata. Ia tidak ingin terlihat lemah di hadapan siapa pun, termasuk Devan. Tak lama kemudian, Devan kembali dengan senyum tipis. “Dokter bilang kamu sudah lebih baik. Tapi kamu harus istirahat total dua hari lagi. Aku sudah bilang ke kantor, aku akan tetap di sini sampai kamu pulih.” Mata Ellysa membulat. “Tuan... tidak perlu sampai begitu. Saya tidak apa-apa, sungguh.” ucap Ellysa sangat sungkan Devan menggeleng. “Aku tidak akan meninggalkanmu sendirian.” Nada suaranya tegas, tidak bisa dibantah. Ellysa hanya bisa diam, menunduk, dan mengangguk kecil. Dalam diam, ia berterima kasih, meski hatinya juga semakin bingung dengan perhatian pria itu. Keesokan harinya, udara di rumah sakit terasa lebih tenang. Ellysa sudah bisa duduk di ranjang, menikmati bubur yang dibawakan suster. Namun tiba-tiba pintu kamar terbuka. “Permisi... " ucap seseorang membuat Ellyas mendongak "no...na" ucap Ellysa sangat terkejut melihat kedatangan Evaline " ternyata benar kamu di sini, Ellysa.” Suara itu begitu familiar,...dingin dan tajam. Ellysa terkejut. Evaline. Wanita yang pernah menjadi kekasih Devandra, berdiri anggun dengan gaun putih ketat dan tas mahal di tangan. Wajahnya cantik, tapi tatapannya tajam menusuk. “nona...... Evaline?” gumam Ellysa gugup. Evaline melangkah masuk dengan senyum sinis. “Aku dengar kamu sakit. Kasihan sekali... sepertinya Devan benar-benar tidak tega meninggalkanmu, ya?” Nada suaranya manis di luar, tapi penuh sindiran di dalam. Ellysa berusaha tetap tenang. “Terima kasih sudah datang menjenguk. Silakan duduk,” ucapnya sopan, meski hatinya mulai tidak nyaman. Evaline tertawa pelan, lalu duduk di kursi dekat ranjang. “Kau ini benar-benar pandai berpura-pura lembut, ya. Aku sampai tak habis pikir... bagaimana mungkin perempuan seperti kamu bisa menjadi nyonya Mauria?” Suster yang kebetulan lewat di depan ruangan menoleh penasaran. Tapi Evaline semakin menaikkan suaranya. “Semua orang tahu, Ellysa. Kau bukan siapa-siapa. Devan hanya menikahimu karena belas kasihan! Kalau bukan karena rasa tanggung jawabnya yang konyol itu, kau tak akan pernah bisa hidup seperti sekarang!” ucap Eva line dengan pantang, sengaja agar terdengar oleh semua orang yang lewat “aku bukan wanita seperti yang kamu pikir,” suara Ellysa bergetar, tapi ia tetap mencoba tersenyum sopan. “Tapi aku tidak perlu membela diri. Tuhan tahu semuanya.” Evaline berdiri, mendekat dengan langkah pelan namun mengancam. “Kau tahu apa yang lebih menyedihkan dari w************n? Wanita yang berpura-pura suci, padahal merebut suami orang lain.” Kalimat itu meluncur keras. Beberapa pasien dan pengunjung yang lewat di koridor berhenti dan menatap ke arah mereka. Dua suster di ujung lorong saling berbisik. “Pelakor, katanya...” ucap salah satu pengunjung rumah sakit “Kau dengar sendiri, kan? Nyonya muda Mauria katanya rebut suami orang...” Suara bisik-bisik itu seperti duri yang menusuk d**a Ellysa. Wajahnya memanas, matanya berkaca-kaca, tapi ia tetap mencoba tegar. Evaline menatapnya puas. “Kau lihat? Dunia tahu tempatmu di mana. Jangan pernah bermimpi bisa menggantikan posisiku di hati Devan. Karena pada akhirnya, dia akan kembali padaku.” ucapnya dengan menekan Selesai mengatakan itu, Evaline tersenyum miring lalu berbalik meninggalkan ruangan, membiarkan Ellysa terisak pelan di ranjang. Suster yang tadi berbisik segera masuk, tampak canggung. “Nyonya... apakah Anda tidak apa-apa?” Ellysa hanya menggeleng, menyeka air matanya. “Saya tidak apa-apa...” suaranya nyaris tak terdengar. Tapi di dalam, hatinya benar-benar remuk. Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka, dan kali ini Devan muncul, membawa kantong berisi bubur hangat. Begitu melihat Ellysa, wajahnya langsung berubah. Matanya menatap luka di wajah gadis itu, bukan luka fisik, tapi luka hati yang terlihat jelas. “Ellysa? Ada apa ini?” tanyanya cepat, meletakkan kantong di meja. Ellysa menunduk, berusaha menyembunyikan matanya yang basah. “Tidak... tidak ada apa-apa, Tuan. Saya hanya lelah.” jawab Ellysa dengan pelan Tapi suster di belakangnya, yang tadi menyaksikan semuanya, tak tahan. Ia menatap Devan ragu. “Tuan... barusan ada tamu perempuan datang.. Dia... mengatakan hal-hal yang kurang pantas kepada Nyonya...” ucap Suster tersebut Wajah Devan langsung mengeras. Rahangnya mengencang, matanya berubah dingin...is sudah biasa menebak siapa perempuan itu... “Evaline datang ke sini?” tanya Devan tajam Suster itu mengangguk pelan. Tanpa berkata apa-apa, Devan langsung berbalik keluar dari ruangan. Langkahnya berat dan cepat. Suara pintu tertutup keras..bmdi belakangnya, brakkkk...membuat Ellysa menutup wajah dengan tangan, air matanya kembali jatuh. “Jangan, Tuan... tolong jangan marah...” bisiknya, tapi Devan sudah tidak mendengarnya. Hatinya benar-benar hancur kali ini. Ia tidak tahu apa yang akan terjadi antara Devan dan Evaline setelah ini, yang ia tahu hanya satu, ia tidak ingin menjadi alasan siapa pun terluka. Namun kenyataannya, keberadaannya sendiri sudah cukup untuk menimbulkan perang. Dan untuk pertama kalinya sejak pernikahan itu, Ellysa benar-benar merasa... sendirian.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN