bc

Tuan Jaksa yang Berbahaya

book_age18+
25
IKUTI
1K
BACA
dark
family
HE
age gap
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
city
office/work place
affair
like
intro-logo
Uraian

#Cerpen Cinta Gila-gilaan

Adhikara Dharmanendra Pradana adalah seorang jaksa—penegak hukum yang terbiasa membedakan benar dan salah. Namun pertemuannya dengan Eshita Nayantara Amara membuat semua batas itu perlahan kabur.

Suatu hari Eshita datang dengan tubuh penuh lebam dan satu permintaan yang mustahil: memenjarakan ayahnya sendiri.

Sejak hari itu, simpati berubah menjadi kedekatan. Kedekatan menjelma rasa—dan dari rasa itu tumbuh menjadi cinta yang tak seharusnya ada.

Yang Eshita tak tahu, Adhikara telah menikah. Dan kebohongan itu perlahan menghancurkan segalanya.

Di tengah hukum yang menuntut kejujuran dan cinta yang lahir dari luka, mereka terjebak dalam hubungan yang salah sejak awal. Dan ketika kebenaran terungkap, yang hancur bukan hanya hati—melainkan hidup.

chap-preview
Pratinjau gratis
01. Tolong, Penjarakan Ayah Saya
“Tolong ... penjarakan ayah saya, Om …” Permintaan itu datang dari seorang gadis bertubuh kurus dengan mata sembab. Ada lebam kebiruan di sudut bibir dan tulang pipinya. Dia menggenggam tangan Adhikara Dharmanendra Pradana, tepat saat pria itu hendak pulang, di depan gedung kantor kejaksaan tempatnya bekerja. “Saya dan ibu ... udah nggak sanggup dipukuli terus-terusan.” “Maaf, tapi kamu siap—” “Saya mohon ...” Manik mata sewarna madu itu mulai berkaca-kaca. Tak lama kemudian, air mata tumpah membasahi pipi pucatnya. “Saya tahu orang seperti Om punya kuasa untuk melakukan itu.” Setelah mengembuskan napas berat, Adhikara lebih dulu melepas genggaman tangan gadis itu dengan lembut. Dia memandanginya beberapa saat, terusik oleh rasa iba yang sulit diabaikan. Karena itulah, akhirnya dia memutuskan mengajak gadis itu berpindah ke tempat lain—agar mereka bisa berbicara lebih leluasa. “Tepat di seberang kantor ini ada sebuah kafe. Mari kita pindah ke sana. Di sana, saya akan mendengarkan penjelasanmu lebih lanjut tentang alasan di balik keinginanmu memenjarakan ayahmu.” Sambil menyeka pipinya yang basah, gadis itu mengangguk. Bibirnya bergetar, dan suaranya begitu lirih saat berkata, “Makasih banyak, Om …” Sesampainya di kafe, Adhikara memilih meja paling sudut untuk mereka. Dia juga memesankan chocolate frappe, berharap minuman manis itu mampu sedikit mengurangi kesedihan yang dirasakan gadis tersebut. Sambil menunggu pesanan diantarkan, Adhikara mulai membuka percakapan. “Siapa namamu?” “Saya ... Eshita. Eshita Nayantara Amara.” “Baik, Eshita. Berapa usiamu?” “19 tahun ...” “Apa kamu seorang mahasiswa?” Gadis itu menggeleng kuat. Kepalanya sontak tertunduk saat menjawab, “Saya ... masih kelas tiga SMA.” Ada rasa rendah diri yang kentara ketika dia menyebutkan bahwa statusnya masih siswi di usia yang seharusnya sudah mahasiswi. “Tidak apa-apa. Setidaknya saya senang mendengar kamu masih bersekolah.” Percakapan mereka sempat terjeda ketika pesanan datang. Setelah mengucap terima kasih kepada pelayan, Adhikara mempersilakan Eshita menikmati minumannya terlebih dahulu. “Kamu pasti haus, kan? Silakan minum.” “Tapi, Om—” Eshita menatap gelas minuman di hadapannya, lalu beralih ke hadapan Adhikara yang kosong. Sambil menelan ludah, dia mendorong gelas itu perlahan. “Makasih banyak, tapi … saya nggak haus.” “Tidak apa-apa. Minumlah. Saya memesannya untukmu.” “Om … gimana?” “Saya masih kenyang.” Dengan ragu, Eshita menarik kembali gelas chocolate frappe itu, lalu menyesapnya pelan-pelan. Saat rasa manis, creamy, dan dingin bercampur jadi satu di dalam mulutnya, kelopak matanya sedikit melebar. Dengan binar polos yang nyaris berkaca-kaca, dia berucap lirih, “Rasanya enak sekali …” “Kamu suka?” “I—iya. M—makasih banyak, Om …” “Sama-sama.” Adhikara tersenyum tipis, menyatukan kedua tangannya di atas meja sambil mengamati Eshita yang tampak begitu menikmati es cokelatnya. Beberapa saat berlalu, hingga akhirnya dia mengembuskan napas pelan dan kembali mengungkit alasan kenapa gadis itu berada di depan kantor kejaksaan. “Jadi ... apa alasanmu ingin memenjarakan ayahmu?” Eshita segera mengeluarkan sedotan dari mulutnya dan menelan minumannya dengan tergesa. Punggungnya langsung menegak, dan tangannya tanpa sadar mengepal di bawah meja ketika mulai bercerita. “Ayah saya nggak bekerja, tapi sering main judi dan mabuk-mabukan. Kami sering berpindah-pindah tempat tinggal karena terjerat utang di rentenir akibat ulahnya. Setiap kali pulang ke rumah, selalu tercium bau alkohol yang pekat dari tubuhnya. Dalam keadaan nggak sadar itu, dia meminta uang pada ibu dan akan memukuli saya dan ibu kalau nggak mendapatkannya.” Adhikara spontan menyodorkan tisu saat melihat air mata Eshita kembali jatuh membasahi pipinya. Kerentanan dan kisah menyedihkan gadis itu kembali memantik sisi empati dalam dirinya. “Selama belasan tahun kami sudah menahannya. Dulu, saat saya masih kecil, saya belum benar-benar mengerti. Tapi setelah beranjak remaja, keinginan terbesar saya adalah … memenjarakannya. Saya … sangat membenci ayah saya.” “Untuk itu, saya mohon, Om …” Eshita tiba-tiba menggenggam kedua tangan Adhikara, meremasnya tanpa tenaga. “Saya mohon dengan sangat, tolong bantu saya. Hanya Om satu-satunya yang bisa saya mintai tolong sekarang. Hanya Om ... yang nggak mengusir saya saat saya muncul tiba-tiba di depan Om dengan permohonan seperti itu ...” “Kamu sadar kalau ini bukan perkara mudah, ‘kan, Eshita?” Dengan pelan, Adhikara melepaskan genggaman gadis itu. Dia tahu Eshita tak memiliki maksud apa pun, namun dia berusaha tak memberi celah agar gadis itu tidak langsung menggantungkan harapan pada pertemuan pertama mereka. “Kita tidak bisa menjebloskannya begitu saja tanpa bukti. Terlebih—” “Apa yang terjadi pada saya belum cukup dijadikan bukti?” potong Eshita sambil menunjuk sudut bibir dan tulang pipinya. Tak berhenti di situ, dia menarik lengan bajunya, memperlihatkan lebam di kedua tangannya, lalu menyingkap sedikit kain celananya—menunjukkan memar serupa di kedua kakinya. Adhikara terdiam seketika menyaksikan pemandangan itu. Tak pernah terlintas di benaknya, di balik pakaian Eshita yang tertutup, tersembunyi begitu banyak jejak kekerasan ayahnya. Jika Eshita saja diperlakukan seperti ini, lalu bagaimana dengan ibunya? “Kalau semua luka di tubuh saya ini masih dianggap kurang, lalu kekerasan seperti apa lagi yang harus saya terima supaya Om mau menjebloskan ayah saya ke penjara? Apa harus menunggu … sampai salah satu dari saya atau ibu meninggal dulu … baru Om mau membantu?” Isak tangis Eshita pecah—pilu, lirih, dan menyayat. Pemandangan itu membuat Adhikara tak tega. Dadanya langsung terasa sesak oleh rasa tidak nyaman yang tiba-tiba menyeruak. Sebagai aparat penegak hukum yang terbiasa membedakan benar dan salah, nuraninya terusik. Dia tahu betul, dia tak seharusnya terlibat—ini bukan ranahnya. Namun, melihat ketidakadilan terjadi tepat di depan mata, Adhikara merasa tak sanggup berpaling. “Setiap hari saya datang ke gedung kejaksaan … berharap ada satu saja orang yang mau mendengar. Tapi sebelum saya sempat bicara, mereka sudah menyuruh saya pergi. Hanya Om yang berhenti dan menanggapi saya. Harapan langsung tumbuh begitu saja. Tanpa sadar, saya menganggap Om seperti malaikat penolong—yang Tuhan kirim di tengah hidup saya dan ibu, yang sejak awal memang nggak pernah mudah.” Adhikara mengusap pelan wajahnya. Helaan napasnya kembali keluar, lebih berat dari sebelumnya. Menjadi sosok yang dianggap malaikat penolong adalah tanggung jawab yang teramat berat, tapi dia juga bukan orang yang berhati dingin hingga mampu mengabaikan penderitaan orang lain. Maka setelah beberapa saat terdiam, dia akhirnya membuat keputusan. “Baiklah. Saya akan berusaha sebisa mungkin membantumu, Eshita.” Binar mata Eshita seketika hidup. Dia bahkan sampai berdiri dan membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat di hadapan Adhikara. “Makasih banyak, Om. Makasih banyak ...” ucapnya berulang kali hingga tersedak oleh isak tangisnya sendiri. *** Ternyata … di balik megahnya gedung-gedung pencakar langit dan ramainya lalu lintas kota, tersembunyi sebuah gang sempit yang letaknya tak begitu jauh dari kantor tempat Adhikara bekerja—gang yang tak akan pernah disadari oleh orang-orang seperti dirinya. Di dalam gang itu berdiri rumah-rumah kecil yang saling berdempetan. Lingkungannya kumuh, padat, dan berisik—ciri khas permukiman masyarakat ekonomi bawah, termasuk para pekerja tuna susila. Keberadaan Adhikara di gang itu begitu mencolok, mengundang beragam tatapan dari beberapa orang. Namun mengabaikan semua itu, Eshita terus menuntunnya masuk lebih jauh ke dalam, hingga mereka akhirnya berhenti di depan sebuah rumah kecil memanjang, bercat usang, tanpa teras. Sebelum memutuskan masuk, Eshita berbalik menatapnya. Tarikan napasnya terdengar berat saat berkata, “Maaf karena ... harus melibatkan Om ke dalam kekacauan hidup kami. Maaf juga harus menunjukkan—harus menunjukkan—” Kalimatnya terhenti ketika tenggorokannya tercekat. Seolah kehilangan kemampuan bicara, dia tergugu dengan kedua bahu yang terguncang. “Tidak apa-apa, Eshita. Tidak apa-apa. Semua ini pasti akan berlalu nantinya.” Tanpa sadar, Adhikara mengangkat tangannya dan menepuk-nepuk bahu Eshita untuk menenangkan. Beberapa saat berlalu sebelum Eshita akhirnya mampu menguasai diri. Dia menyeka wajahnya yang sembab dengan lengan baju, lalu menarik napas panjang dan mengembuskannya perlahan. “Ya, semua ini pasti akan berlalu,” ulangnya, seperti sebuah mantra. Mereka kemudian lanjut masuk ke dalam rumah. Pintu berderit saat dibuka, menandakan engselnya telah berkarat dan tua. Ruang tamu berukuran kecil menyambut mereka, diisi kursi kayu yang tampak sudah berusia. Tak ada perabot lain, namun karena ruangannya sempit, tempat itu tak terasa kosong—justru rapi dan menghadirkan ketenangan tersendiri. Namun perasaan tenang itu seketika buyar ketika terdengar suara teriakan dari dalam. Kepala Adhikara spontan menoleh ke arah asal suara, sementara Eshita langsung berlari masuk sekuat tenaga. “Ibu!” teriaknya histeris. Adhikara segera menyusul. Tepat ketika dia memasuki sebuah kamar, pemandangan yang mengiris hati sekaligus memicu amarah langsung meledak di dadanya. Di sana, di dinding dekat pojok kamar, terduduk seorang wanita dalam kondisi babak belur. Dia berusaha melindungi tubuhnya dengan sisa tenaga yang ada, sementara sang suami bersiap melayangkan tamparan entah untuk ke berapa kalinya. “Berhenti!” Adhikara langsung berseru dengan suara menggelegar. Bersamaan dengan itu, dia melangkah cepat dan lebih dulu menarik Eshita yang hendak melindungi ibunya. “Tetap di sini. Ayahmu, biar saya yang tangani.” ***

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.5K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook