"Viona, bangun." Di tengah keputusasaan dan kekecewaan yang terus menjerat serta menenggelamkan hati nurani, Viona akhirnya mendengar suara yang memanggil namanya dengan lembut. Dia memiliki keinginan untuk meraih serta menjangkau pihak lain, tetapi jurang kegelapan dan rasa sakit terus saja menyeretnya untuk semakin jauh dari suara tersebut. Viona hendak berteriak meminta tolong dan ingin menjangkau ke suatu arah tertentu. Namun, tubuhnya seolah terpaku di tempat, tidak mau mengikuti keinginan sederhananya. "Viona, ayo bangun. Aku menunggumu di sini." Suara lembut itu kembali terdengar, seolah angin sepoi mencoba membelai dedaunan layu yang secara putus asa ingin terus bertahan di rantingnya meski dirinya telah lelah. Dia membujuk untuk melepas kekeraskepalaannya dan mengikuti kata h

