Viona terbangun pada siang hari di mana matahari telah berada tepat di atas kepala, meregangkan tubuh yang terasa pegal-pegal, ia pun menguap sembari menggaruk rambut pendeknya. Setelah diam untuk sesaat, dia mulai melihat sekeliling dan mengernyit bingung.
"Di mana ini? Bukankah aku berada di hutan? Ah, benar! Kemaren aku menemukan kecantikan yang terluka dan membawanya ke klinik ini, lalu di mana kecantikan itu? Kenapa cuma aku yang ada di sini?" Viona bertanya-tanya dan merenung.
Pintu kamar terbuka dan masuklah tabib tua yang tadi malam merawat Ye Sa, ada dua mangkuk yang masih mengepulkan asap di tangannya.
"Nona, teman anda telah pergi tadi malam dan meninggalkan pesan pada saya, bahwa beliau akan membalas budi kepada anda secara pribadi beberapa hari kedepan. Sekarang waktunya makan, silahkan."
Tabib tua menyerahkan dua mangkuk berisi bubur harum dan sup ayam, lalu tersenyum ramah dan pergi meninggalkan ruangan.
Viona segera menyantap makanan itu sembari berpikir dalam-dalam. Apa sebenarnya identitas kecantikan yang diselamatkannya kemaren sehingga tabib tua itu bersikap begitu hormat. Dia menghela napas berat, merasa sangat sedih karena tidak mengetahui nama serta alamat dari pihak lain.
Setelah makan dan membersihkan diri, Viona turun ke lantai bawah balai pengobatan dan mendekati lemari dinding yang memiliki banyak jenis herbal di pajang. Mengamati dengan teliti, ia kemudian menyadari bahwa pengetahuannya dalam mengidentifikasi herbal sangat bagus. Jika dahulu dia hanya akan mengetahui dua atau tiga jenis tumbuhan obat, kini ia telah berhasil mengenali hingga puluhan jenis yang ada dan bahkan bisa membedakan dari yang serupa.
"Apa ini termasuk hadiah dari sistem?" tanyanya dengan agak skeptis.
"Xiao Lu, tolong ambilkan herbal ini dan bungkus dengan rapi." Tabib tua memberikan sebuah catatan ke gadis kecil yang saat ini tengah memilah herbal di gudang.
Xiao Lu mengangguk patuh dan mulai mengemas semua herbal yang tertera di catatan. Kemudian memberikannya ke pelanggan yang menunggu di aula dan menerima uang pembayaran.
Viona melirik semua itu dengan agak penasaran, apalagi ketika dia mendapati beberapa herbal yang memiliki komposisi racun di antara semua herbal itu. Namun dia tidak akan usil dengan hal yang tidak memiliki hubungan dengannya dan pada akhirnya mengabaikan.
Dia menyapa tabib tua untuk berpamitan dan segera pergi dengan langkah tergesa ke kediaman Qi, merasa agak tidak berdaya karena telah menghilang selama hampir dua hari.
Di sepanjang jalan ia membeli kue osmanthus yang enak untuk oleh-oleh Maggie dan Qi Rong, ingin menggunakannya sebagai permintaan maaf. Tetapi ketika sampai di tujuannya, dia segera disambut oleh Qi Rong yang tengah duduk linglung di halaman depan.
Viona melirik sekilas padanya dan memasuki halaman lain untuk mencari Maggie, hanya saja sepertinya pemuda yang sedari tadi duduk dengan tenang, menyadari kedatangannya dan segera mencekal lengannya, mencegah ia memasuki kediaman.
Dengan ekspresi tanda tanya Viona menatap pemuda itu.
"Apa yang, anda lakukan di rumah saya? Sebaiknya anda segera pergi karena rumah kecil ini tidak mampu untuk mengakomodasi seorang budha besar seperti anda!" cibir Qi Rong dengan ekspresi dingin dan mendorong tubuh gadis itu ke belakang hingga tersungkur.
Bungkusan kue terjatuh dan tersebar ke tanah, Viona menatap sedih pada hal itu lalu mendongak dan mendapati sesuatu yang sangat menyakiti hatinya.
Qi Rong berbalik ke halaman dan beberapa saat kemudian keluar lagi sembari membawa buntalan kain, dengan kasar ia melemparkannya ke Viona yang baru saja berdiri dan membersihkan pakaian dari debu.
Gadis itu tercengang untuk beberapa saat, memeluk bungkusan kain lalu menatap Qi Rong yang kini mendengus dingin dan kembali lagi ke dalam halaman, tidak lupa untuk menutup pintu utama.
Dalam waktu kurang dari lima menit dia kembali dan sepertinya diusir begitu saja? Apa masalahnya? Dia bahkan tidak menanyakan kabarnya setelah tidak pulang selama dua hari dan diusir begitu saja?
Menatap sedih pada pintu yang tertutup rapat, Viona akhirnya memutuskan untuk patuh dan pergi dari kediaman Qi, meskipun ia tidak tahu harus ke mana. Hanya bisa menerima nasib yang kurang beruntung.
Sosok langsingnya terlihat semakin jauh dan menghilang di belokan jalan. Qi Rong membuka pintu dan menatap kue osmanthus yang telah hancur dan kotor di tanah, memungutnya satu persatu dengan tangan gemetar lalu kembali ke kamarnya.
***
Di jalanan yang cukup ramai akan lalu lalang orang dengan berbagai aktifitas, tampaklah sesosok gadis yang memiliki fitur khas dan menonjol dari kebanyakan orang di sekitarnya.
Gadis itu memiliki rambut pendek sebahu warna kecoklatan, kulitnya berwarna agak kecoklatan, hidungnya mungil dan matanya berbentuk bulat. Dengan fitur seperti itu, dia tentu sangat berbeda dari warga asli Kekaisaran Phoenix, dan kemungkinan besar merupakan orang dari kerajaan lain.
Gadis itu berjalan dengan perlahan sembari tenggelam dalam pikirannya, tetapi meski begitu, dia tetap berada di jalurnya tanpa mengalami insiden tabrakan ataupun terperosok ke saluran air.
Ada beberapa orang ramah yang menyapa dan bertanya padanya, tetapi tidak direspon sama sekali. Bahkan ada sekumpulan pemuda yang mendatangi serta memberinya berbagai barang kecil seperti bunga, kue, aksesori kecil dan sebagainya dengan tujuan ingin merayunya tetapi tetap diabaikan. Membuat para pemuda itu kesal dan akhirnya menyingkir.
"Kakak, mau pergi ke mana?" Sebuah suara lembut terdengar dan berhasil menarik kembali perhatian dari gadis itu. Mengangguk ringan dan menatap ke sumber suara yang ternyata adalah seorang anak kecil kurus, gadis itu mengernyit bingung dan mulai mencoba mengingat sesuatu. Sayangnya ia tidak bisa mengingat siapa itu.
Anak kecil tersenyum dan memegang lengan Viona, lalu berkata dengan tulus, "Kakak, apa kamu ingat padaku? Saat itu kamu menyelamatkanku dari tabrakan kereta kuda."
Viona akhirnya ingat, mengangguk dan menatap penuh prihatin pada anak tersebut.
"Oh ya, nama kakak siapa? Namaku Luo Qiqi."
Viona menunjukkan liontin kalungnya yang memiliki karakter 'Viona' dan tersenyum lembut pada Qiqi.
Qiqi susah payah membaca karakter itu dan akhirnya mengerti, lalu dengan bersemangat dia memuji, "Oh, nama kakak adalah, Viona. Nama yang cantik seperti orangnya, hehehe."
Viona terharu akan pujian tersebut, dengan lembut ia mengusap kepala Qiqi.
Anak itu kembali bertanya kemana Viona akan pergi dan hanya ditanggapi dengan gelengan. Akhirnya Qiqi berinisiatif mengundang agar dia tinggal di rumah kecilnya saja.
Melihat waktu hampir malam dan mempertimbangkan kondisi keuangan yang menyedihkan, Viona pun setuju.
Keduanya secara berdampingan menyusuri jalan dengan harmonis, Qiqi terus berbicara seperti seorang pemandu wisata untuk memecah keheningan dan menciptakan atmosfer hangat di antara keduanya.
Di sebuah kios yang menjual roti kukus, Viona berhenti sebentar dan memutuskan untuk membeli beberapa roti, sebagai persiapan makan malam nantinya. Lagipula, tidak mungkin dia akan meminta makanan pada Qiqi.
Qiqi melihat semua roti kukus itu dengan tatapan keinginan dan tanpa sadar menyentuh perut yang telah kosong selama sehari ini. Tetapi dia merasa malu untuk meminta pada Viona, dermawan yang telah menyelamatkan hidupnya.
Menyembunyikan keinginan agar tidak ketahuan oleh dermawannya, anak kecil itu memalingkan wajah dan mulai berpikir keras. Dia harus mencari pekerjaan agar bisa menghasilkan uang dan membalas budi terhadap Viona nanti.
Viona selesai membayar roti dan melihat gerakan halus dari anak kecil itu, setelah berpikir beberapa detik, ia pun kembali memesan beberapa roti berisi daging tanpa sepengetahuan Qiqi.
Viona menggandeng tangan Qiqi dan keduanya kembali berjalan berdampingan hingga mencapai sebuah rumah kecil, tepat setelah matahari sepenuhnya tenggelam.
***