Hari ini aku memasuki sebuah dunia dimana banyak orang menyebutnya 'dunia terpelajar'.
Ya, hanya sedikit orang di negeri ini yang bisa mengenyam pendidikan hingga di bangku perkuliahan.
Aku sendiri menjadi satu dari sepersekian orang yang beruntung, masuk perkuliahan dengan modal tabungan dan usaha kecilku yang kini sudah mulai tumbuh.
"Oke kawan-kawan, perkenalkan Aku Dewa, Ketua panitia Ospek di Kampus Ini," ungkap mahasiswa senior yang ku anggap lebih banyak membualnya.
Sebab mendesain arena Orientasi Pengenalan Kampus (Ospek) ini dengan skema p********n.
Para mahasiswa-mahasiswa dipaksa mengenakan seragam yang tidak pantas, bahkan terkesan melecehkan martabat mereka sebagai anak-anak muda harapan bangsa.
"Besok bawa tas plastik, topinya pake bola plastik yang dibelah dua, pakaian atas kemeja putih, bawah pake celana atau rok hitam. Bagi yang melanggar akan kita hukum, semua paham?" Teriak Dewa menggunakan Megafone.
" Paham, Kak" jawab para peserta Ospek kompak.
Aku sendiri sudah mulai mual dengan celoteh dan tingkah laku para mahasiswa senior kampus ini.
" Roy lu mau kemana? Kan acaranya belum selesai? Nanti elu ngga dapet sertifikat loh," tanya Beny, teman Ospek yang baru saja kukenal.
" Bodo amat, mules Gue denger ocehan manusia-manusia itu," jawabku sambil ngeloyor meninggalkan arena Ospek.
Hari pertama masuk kampus, aku sudah dipertontonkan pemandangan lingkungan yang tak sesuai ekspektasiku.
Kampus yang masyarakat lihat sebagai lingkungan 'mewah' dan harapan akan perubahan ternyata di awal disulap sebagai arena p********n mental.
Aku menuju parkiran dan melajukan motorku keluar kampus.
Aku memilih menuju warung kopi tepi pantai yang berdekatan dengan wilayah pelabuhan kapal perikanan.
Warkop atau warung kopi itu juga biasanya menjadi tempat bagi para buruh nelayan berkumpul usai berlabuh.
"Bu'e kopi item satu ya" pesanku pada bu Entin, pemilik warung kopi itu.
"Njjih Masse, Gulanya kaya biasa yo?"
"Njjih bu.." jawabku.
Sambil menikmati kopi di warung proletar tersebut, kuhisap rokok dan kuputar sebuah lagu Marjinal yang senantiasa tersipan di HP ku.
Lihatlah neg'ri kita (ho-oh)
Yang subur dan kaya raya
Sawah-ladang terhampar luas
Samudra biru, yeah
Tapi rataplah neg'ri kita (ho-oh)
Yang tinggal hanyalah cerita
Derita dan derita
Terus cerita (cerita terus)
Pengangguran merebak luas
Kemiskinan merajalela
Pedagang kaki lima tergusur
Teraniaya
Bocah-bocah kecil merintih
Melangsungkan mimpi di jalanan
Buruh kerap dihadapi
Penderitaan
Inilah neg'ri kita (ho-oh)
Alamnya kelam, tiada berbintang
Dari derita dan derita
Menderita (derita terus)
Sampai kapankah derita ini? (Au-ah)
Yang kaya darah dan air mata
Yang senantiasa mewarnai
Bumi Pertiwi
Pengangguran merebak luas
Kemiskinan merajalela
Pedagang kaki lima tergusur
Teraniaya
Bocah-bocah kecil merintih
Melangsungkan mimpi di jalanan
Buruh kerap dihadapi
Penderitaan
Oi, oi, oi, dinodai (dinodai)
Digagahi (digagahi)
Dikuasai
Digagahi, dihabisi para penguasa rakus
Inilah neg'ri kita
Alamnya kelam, tiada berbintang
Dari derita dan derita
Menderita (derita terus)
Sampai kapankah derita ini? (Au-ah)
Yang kaya darah dan air mata
Yang senantiasa mewarnai
Bumi Pertiwi, yeah
Pengangguran merebak luas
Kemiskinan merajalela
Pedagang kaki lima tergusur
Teraniaya
Bocah-bocah kecil merintih
Melangsungkan mimpi di jalanan
Buruh kerap dihadapi
Penderitaan
Pengangguran merebak luas
Kemiskinan merajalela
Pedagang kaki lima tergusur
Teraniaya
Bocah-bocah kecil merintih
Melangsungkan mimpi di jalanan
Buruh kerap dihadapi
Penderitaan
Oi, oi, oi, dinodai (dinodai)
Digagahi (digagahi)
Dikuasai
Digagahi, dihabisi para penguasa rakus
Inilah neg'ri kita
***