Ospek dan Pembodohan Anak-anak Muda..

511 Kata
Hari ini aku memasuki sebuah dunia dimana banyak orang menyebutnya 'dunia terpelajar'. Ya, hanya sedikit orang di negeri ini yang bisa mengenyam pendidikan hingga di bangku perkuliahan. Aku sendiri menjadi satu dari sepersekian orang yang beruntung, masuk perkuliahan dengan modal tabungan dan usaha kecilku yang kini sudah mulai tumbuh. "Oke kawan-kawan, perkenalkan Aku Dewa, Ketua panitia Ospek di Kampus Ini," ungkap mahasiswa senior yang ku anggap lebih banyak membualnya. Sebab mendesain arena Orientasi Pengenalan Kampus (Ospek) ini dengan skema p********n. Para mahasiswa-mahasiswa dipaksa mengenakan seragam yang tidak pantas, bahkan terkesan melecehkan martabat mereka sebagai anak-anak muda harapan bangsa. "Besok bawa tas plastik, topinya pake bola plastik yang dibelah dua, pakaian atas kemeja putih, bawah pake celana atau rok hitam. Bagi yang melanggar akan kita hukum, semua paham?" Teriak Dewa menggunakan Megafone. " Paham, Kak" jawab para peserta Ospek kompak. Aku sendiri sudah mulai mual dengan celoteh dan tingkah laku para mahasiswa senior kampus ini. " Roy lu mau kemana? Kan acaranya belum selesai? Nanti elu ngga dapet sertifikat loh," tanya Beny, teman Ospek yang baru saja kukenal. " Bodo amat, mules Gue denger ocehan manusia-manusia itu," jawabku sambil ngeloyor meninggalkan arena Ospek. Hari pertama masuk kampus, aku sudah dipertontonkan pemandangan lingkungan yang tak sesuai ekspektasiku. Kampus yang masyarakat lihat sebagai lingkungan 'mewah' dan harapan akan perubahan ternyata di awal disulap sebagai arena p********n mental. Aku menuju parkiran dan melajukan motorku keluar kampus. Aku memilih menuju warung kopi tepi pantai yang berdekatan dengan wilayah pelabuhan kapal perikanan. Warkop atau warung kopi itu juga biasanya menjadi tempat bagi para buruh nelayan berkumpul usai berlabuh. "Bu'e kopi item satu ya" pesanku pada bu Entin, pemilik warung kopi itu. "Njjih Masse, Gulanya kaya biasa yo?" "Njjih bu.." jawabku. Sambil menikmati kopi di warung proletar tersebut, kuhisap rokok dan kuputar sebuah lagu Marjinal yang senantiasa tersipan di HP ku. Lihatlah neg'ri kita (ho-oh) Yang subur dan kaya raya Sawah-ladang terhampar luas Samudra biru, yeah Tapi rataplah neg'ri kita (ho-oh) Yang tinggal hanyalah cerita Derita dan derita Terus cerita (cerita terus) Pengangguran merebak luas Kemiskinan merajalela Pedagang kaki lima tergusur Teraniaya Bocah-bocah kecil merintih Melangsungkan mimpi di jalanan Buruh kerap dihadapi Penderitaan Inilah neg'ri kita (ho-oh) Alamnya kelam, tiada berbintang Dari derita dan derita Menderita (derita terus) Sampai kapankah derita ini? (Au-ah) Yang kaya darah dan air mata Yang senantiasa mewarnai Bumi Pertiwi Pengangguran merebak luas Kemiskinan merajalela Pedagang kaki lima tergusur Teraniaya Bocah-bocah kecil merintih Melangsungkan mimpi di jalanan Buruh kerap dihadapi Penderitaan Oi, oi, oi, dinodai (dinodai) Digagahi (digagahi) Dikuasai Digagahi, dihabisi para penguasa rakus Inilah neg'ri kita Alamnya kelam, tiada berbintang Dari derita dan derita Menderita (derita terus) Sampai kapankah derita ini? (Au-ah) Yang kaya darah dan air mata Yang senantiasa mewarnai Bumi Pertiwi, yeah Pengangguran merebak luas Kemiskinan merajalela Pedagang kaki lima tergusur Teraniaya Bocah-bocah kecil merintih Melangsungkan mimpi di jalanan Buruh kerap dihadapi Penderitaan Pengangguran merebak luas Kemiskinan merajalela Pedagang kaki lima tergusur Teraniaya Bocah-bocah kecil merintih Melangsungkan mimpi di jalanan Buruh kerap dihadapi Penderitaan Oi, oi, oi, dinodai (dinodai) Digagahi (digagahi) Dikuasai Digagahi, dihabisi para penguasa rakus Inilah neg'ri kita ***
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN