Negeri, Negeri, Ngeri..
Awan hitam menggumpal di atas negeri yang Kaya Raya. Hutan tropis terbentang luas ditengah hutang negara yang terus berkobar kobar.
Rakyat yang lemah namun ramah, Pejabatnya yang cerdik nan maha korupsi, namun bisa dengan cara santun. Kesemuanya itu menjadi harmoni di tengah ironi negeri ini.
Aku membuka mata dengan sayu, sambil terus mencari untuk menemukan jawaban atas pertanyaan, kenapa aku dilahirkan di negeri ini.
Mungkin hingga aku mendewasa atau mungkin sampai bertanah nanti, pencarianku akan menemukan jawabannya, atau bahkan sama sekali tak pernah ada jawaban untukku.
Entahlah,
Namun apapun itu, perjalanan ini akan selalu aku nikmati..
***
Perkenalkan namaku Roy. Aku adalah satu dari kaum muda yang terasingkan.
Menepi dari pekatnya aroma hedonisme yang kini merambah bagai candu.
Aku pun diberikan Tuhan kesempatan untuk membaca banyak hal tentang negeri yang hari ini ku singgahi.
Seperti dalam dongeng, negeriku ini dipenuhi dengan kisah-kisah luhur nan berbudi.
Namun itu semua seperti halnya kisah 'sambil lalu' semata.
Seperti laiknya kisah-kisah dalam buku pelajaran. Dan hanya sebatas kisah para guru pada anak-anaknya yang lugu.
Kisah luhur itu pun tidak pernah bisa merubah apa-apa. Sebab tatanan sosial negeri ini sudah terlanjur porak poranda.
Hal ini pun tak cukup menatanya dengan kisah-kisah lugu yang kini banyak dimanipulasi.
Aku pun sempat mengenal kisah Ratu Shima yang Bijaksana. Menghukum tanpa pandang bulu. Aku yakin para pemimpin negeri ini juga pandai dan hapal kisah ini.
Namun faktanya hari ini aku menjadi saksi, dipertontonkannya pemerintahan Rahwana yang rakus. Bahkan lebih buruk dari metafora seorang Rahwana itu sendiri.
Kepemimpinan negeriku ini sungguh liar, lebih ngeri dibandingkan tokoh antagoris dalam kisah dongeng negeri manapun.
Jika Rahwana hanya mencuri Dewi Sinta, kepemimpinan negeriku ini telah mencuri hak-hak rakyatnya.
Rakyat dari segala profesi, dari yang terendah sampe yang tertinggi semuanya diwajibkan menyetorkan upeti.
Upeti tersebut masuk dalam kas negera yang kemudian dibancak beramai-ramai atasnama pembangunan.
Tak cukup pesta dalam negeri, mereka pun mulai meramu hutang luar negeri untuk menutupi gaya hidupnya atasnama kepemimpinan.
Korupsi merajalela, dilakukan dengan santun di tengah rakyat dan permisif dan acuh.
Keluarga konglomerat negeri semakin kaya, anak-anak buruh dan petani semakin menderita.
Pendidikan murah hanya ilusi, faktanya kini pendidikan justru semakin mahal dan tak terjangkau.
Anak-anak miskin, dengan upah rendah yang diterima orang tua mereka jelas tak sanggup melanjutkan pendidikan yang lebih tinggi.
Sementara prasyarat menjadi praja atau pejabat harus memiliki pendidikan tinggi.
Pembajakan kesempatan menuju kemakmuran itu pun telah jelas nyata adanya.
Rakyat miskin dipaksa terus miskin, konglomerat diposisikan selalu menjerat.
Karena sistem busuk yang diabadikan di negeri ini, Orang miskin akan terus melahirkan kemiskinan baru.
Sementara orang kaya akan terus menumpuk harta, dan melahirkan anak-anak kaya bak sultan di masa depan.
Pejabat pesta pora, partai politik menjadi alat begal demokrasi.
Partai besar akan memperkuat d******i, menyapu dan mencaplok suara-suara partai receh.
Kaum miskin pun turut dieksploitasi, dipaksa harus ikut bertepuk tangan atas nyanyian-nyanyian palsu atasnama ideologi.
Masyarakat kelas menengah hobi membuat organisasi masyarakat atasnama pembebasan, namun dalam prakteknya justru menjadi ladang pemerasan.
Mereka lahir di bawah kendali para komprador yang memanfaatkan rakyat yang tengah diterpa kemiskinan.
Para Komprador itu mendidik masyarakat untuk menjadi preman dan pemeras. Menjadikannya alat berebut ladang parkir, penguasaan limbah-limbah pabrik, hingga menjadi pelaksana bisnis-bisnis haram.
Masyarakat berpenghasilan rendah dihibur dengan harapan melalui perjudian yang seolah dilegalkan.
Hukum melarang, namun aparat hukumnya justru menikmati cuan dari pengamanan bisnis-bisnis haram tersebut.
Jangan tanya bagaimana para pemuka agama.
Banyak dari mereka ikut menumpuk harta.
Mengumandangkan doktrin-doktrin ayat suci untuk mendorong umat jor-joran bersedekah namun ternyata itu merupakan bagian dari trik pemerasan berkedok agama.
Sebagian kecil lagi mengkerdilkan ajaran agama sebagai kedok praktek perdukunan yang mengumandangkan mantra-mantra ayat suci dan Tuhan. Tujuannya pun sama, yakni menjerat dana umat.
Kompleks bukan?
Rakyat dirusak dari tingkat bawah, tidak hanya melalui kemiskinan struktural, namun juga melalui pembodohan dan deskriminasi pendidikan.
Aku dan sebagian kecil anak-anak muda yang terasingkan.
Menjadi bagian remah-remah yang siap membakar atau bisa saja malah terbakar.
Inilah perjalananku menemukan kebenaran melalui jalan perjuangan demi menemukan Tuhan sejati selain daripada dongeng-dongeng kematian.
Bukahkan kematian dan kehidupan ini hanya terpisah satu helai rambut?.
Seperti para filsuf bilang,
Kehidupan ini adalah alam kematian, dan kematian itu sendiri adalah kehidupan yang kekal.
Maka mungkin layak jika kupatrikan dalam sanubariku sebuah prinsip dan keyakinan bahwa setiap langkah kita selalu menuju kematian, maka cara terbaik menjemput kematian itu adalah dengan tetap berada di garis perjuangan.
Inilah perjalananku, mengumpulkan energi-energi kebenaran yang tengah terasingkan, menuju perlawanan sosial dan merubah tatanan.
***