pov:maya...
bagiku aku sudah cukup mempunyai dia dan kim di kehidupanku.sampai aku merasa lelah dan menyarah aku tak akan berhenti berjuang untuk membuat nya bertahan.tak peduli apa pun yang terjadi,selama semangat hidup nya masih berkobar di dadanya.akan aku pertahankan dia.lihatlah bi,istri mu yang katamu manja kini bisa berdiri tegak.walau badai menerpa nya.bila nanti sampai akhir nya kamu pergi,aku akan berkata aku puas hidup dengan mu.dan aku bahagia....
pagi itu sebenarnya aku tengah memandanginya dari jauh.melihat nya terbaring lemas di tempat tidur rasanya membuatku tak berdaya.namun harus selalu ku sembunyikan perasaanku dan terlihat baik baik saja agar ryan bersemangat menjalani kehidupan nya.ku seka air mataku yang masih bersembunyi di kelopak mata.tak akan ku biarkan dia terjatuh begitu saja.aku mencoba tersenyum dan memasang wajah berseri sebelum memasuki kamar,karna ada sesuatu yang harus aku ambil sebelum ku pergi berkeliling mencari tukang bubur yang masih buka.sebenar nya aku sudah mencoba menghindari kontak mata dengannya.namun dia tiba tiba menyuruhku untuk duduk di pinggir tempat tidur nya.ku tatap wajah nya dalam dalam,wajah pria yang dulu ku cintai mati matian terasa asing di pandanganku.dia tampak layu,tulang pipi nya terlihat nampak,tubuh nya terasa ringan ketika memeluk ku.hatiku semakin sakit,ketika dia memintaku untuk mengingatnya dengan sosok dia yang dahulu.aku segera mempercepat obrolanku,karna seperti nya aku sudah tak bisa membendung air mataku.
"hati hati bu.kalo ga nemu tukang bubur nya.pulang lagi aja.buat bubur di rumah..."ucap nya.aku mencoba tersenyum sambil mengangukan kepala aku segera berlalu di hadapan nya.benar saja,air mataku terus keluar tak terbendung.padahal aku sudah menahan nya sekuat tenaga.ku dapati kim tengah terduduk di depan tv,dia tak tampak kaget,karna sudah sering dia melihat ku menangis sendiri.
"kim jaga abi mu ya.ibu mau cari bubur..."ucapku,kim tampak mengangguk.dia tampak sudah cukup dewasa menghadapi kenyataan untuk usia nya yang masih anak anak.
"ibu pergi saja,hati hati di jalan ya bu.biar abi,kim yang jaga..."ucap kim menenangkanku.
"makasih sayang,ibu pergi dulu.ga akan lama.sebentar juga kembali..."ucapku sambil bergegas.kim hanya tersenyum sambil kembali menonton televisi.
entah apa yang aku pikirkn sepanjang jalan.rasa gelisah menyelimutiku,senyum ryan sbelum aku berangkat terbayang bayang di kepalaku.mungkin ini perasaanku yang merasa bersalah karna tak berlama lama mengobrol dengan nya.setelah aku menemukan tukang bubur aku segera bergegas pulang.sengaja ku beli 2 bungkus karna kim juga pasti belum sempat makan.hampir setengah jam aku di perjalanan.dari kejauhan tampak orang berkumpul di halaman rumahku,sebagian tampak di dalam.mungkin itu tamu tamu ryan yang berkunjung menengok nya,pikirku.namun entah mengapa langkah kakiku terasa ringan,seolah olah aku sedang tidak berpijak pada permukaan bumi.orang orang tampak memandangku penuh iba,namun tak ada satu pun yang berbicara.perlahan ku langkahkan kakiku setapak demi setapak menuju ambang pintu.tampak para tetangga juga ibuku tengah duduk mengaji di depan sosok kaku yang sudah tertutup kain,ku pandang kim yang juga berada duduk tak jauh di samping nya,ia tampak menangis sambil memandangi sosok kaku tersebut.baru saja kaki ku ingin berlari memeluk kim,namun tiba tiba rasa nya kaki ku tertancap paku besar hingga terasa berat untuk ku langkahkan.aku terkulai bersimpuh,ku rasakan samar semuanya.air mata yang selalu memaksa untuk di jatuhkan tiba tiba mengering,tak ada satu tetes pun di pelupuk mataku.mulutku terkunci.tak ada sepatah katapun mampu ku teriakan.pandanganku kabur dan yang terakhir ku ingat beberapa orang tampak menahan tubuhku agar tidak jatuh sampai aku rasakan semua gelap,tampak tenang...lama aku merasakan duniaku terasa gelap,sampai akhir nya mataku sedikit demi sedikit ku buka.suara suara yang tadi terasa samar di pendengaranku mulai terdengar jelas.tampak kim juga ibu berusaha membangunku dengan beberapa saudara yang memijiti kaki dan tanganku.aroma kayu putih tampak tajam menyaksrak rongga hidungku.aku menatap wajah anak ku,raut wajah suamiku tampak jelas di wajah nya,seketika ku berbalik,ku pandang dalam sosok yang sedang bersembunyi di balik kain penutup,aku menghitung dari satu sampai tiga di dalam hati berharap sosok itu tiba tiba bangun,ku ulangi lagi menghitung namun dia tetap terdiam,berkali kali aku ulang dengan kecemasan dia tetap diam,sampai aku tersadar dia telah meninggalkanku.air mata yang tadi kering seketika tumpah.aku menangis sejadi jdi nya sambil ku peluk erat anakku.lama aku menangis.beberapa orang tampak mencoba menenangkanku,tapi tak ada yang bisa.semua jatuh begitu saja tanpa kesadaran.
"ikhlas nak ikhlas..." ucap ibu ku,sambil terisak,namun perkataan ibu tak bisa menenangkan hatiku.aku menangis semakin menjadi tanpa terkontrol.sampai akhirnya ada tangan yang menepuk pundak ku.
"lihat anak mu,may.dia tampak kuat.menangis boleh.tapi jangan seperti ini.kasian kim,kasian juga ryan.antarkan suami mu itu ke peristirahatan terakhir nya dengan hati yang lapang dan ikhlas.agar ia tenang..."aku memandang wajah bapaku.lalu ku pandang kim.sekali lagi aku memeluk nya erat.
"maafin ibu kim,maafff..."ucapku.
"ibu ga boleh nangis,abi udah bahagia,udah tenang di sana.sebelum pergi abi berpesan agar kim bisa jagain ibu.kim sudah janji sama abi bakal ngambil alih tugas abi untuk jagain ibu.sampai ibu tua nanti.jadi ibu ga usah nangis.ada kim di samping ibu..."ucap kim,benar2 menenangkanku.aku mengangguk sambil ku peluk erat anak ku lagi.anak yang usia nya baru akan menginjak 12 tahun beberapa bulan kedepan.namun mampu bersikap dewasa.
sore itu pukul 3 sore hari,kami antarkan ryan ke rumah tempat peristirahatan terakhir nya.rumah yang akan memeluk hangat ryan dalam dekapan nya.dia yang menumbuhkan asa di hatiku ternyata lebih memilih segera mengakhirinya dengan mematikan semua asa itu,namun akan ada asa asa yang lain yang akan tumbuh kuat dan menguatkanku.meski pun kita akan terpisah ruang dan dimensi,namun namamu akan ku untai indah di setiap doa doaku.sambil ku sapu tanah merah di pusara terakhirmu dengan tangan ku,ku ungkapkan semua perasaanku.
"bi,ternyata senyuman,pelukan,dan tatapanmu tadi pagi adalah yang terakhir yang kamu berikan.tak ada sejengkal kisahku ku sesali ketika hidup denganmu.suka,duka,manis,pahit,tawa atw tangisan sekalipun itu yang terindah dan terbaik di kehidapanku.tenang ya bi disana,aku ikhlas.kamu hanya berangkat duluan saja,aku pun akan kesana,namun akan ku pastikan kim besar terlebih dahulu,sukses,menikah,lalu punya anak.seperti pintamu.setelah tugasku selesai,tunggu aku.semoga kita berjumpa lagi di kehidupan yang akan datang..."
END...