Part 01
Nathasa berlari ke arah UKS, setelah gurunya memberitahunya untuk menemani Tiara di sana. Sebagai sahabat yang sudah lama mengenalnya, tentu saja Nathasa sangat mengkhawatirkan Tiara, teman baiknya itu yang secara tak langsung mengubah kehidupannya yang dulu tertutup menjadi sedikit lebih terbuka.
Dulu, Nathasa bukan gadis seceria sekarang, bisa dibilang ia gadis cupu yang tak memiliki teman, namun Tiara datang menawarkan pertemanan, itulah awal Nathasa di sukai banyak orang. Karena Tiara seorang artis multitalenta, yang banyak disukai orang dari anak-anak hingga orang dewasa, berteman dengannya tentu saja Nathasa akan mudah mendapatkan perhatian yang sama. Meski sebenarnya, Nathasa lebih nyaman berdua dengan Tiara, namun ia tetap bahagia setidaknya keberadaannya tidak dikucilkan seperti sebelum mengenalnya.
"Ara," panggil Nathasa setelah sampai lalu memeluk tubuh sahabatnya, matanya bahkan menangis melihat kondisinya.
"Apa sih, Sha? Kok kamu malah nangis?" Tiara bertanya tak habis pikir, lalu membangunkan tubuhnya dengan tatapan tanya ke arah sahabatnya.
"Aku khawatir sama kamu, Ra. Kamu enggak apa-apa kan?"
"Aku enggak apa-apa kok. Sudah, jangan nangis gitu, jelek tau?" Tiara menghapus air mata sahabatnya, bibirnya tersenyum ke arahnya.
"Gimana enggak nangis? Kamu pingsan kan gara-gara aku, andai aja aku enggak lupa kalau aku harus ngerjain PR kamu juga, pasti kamu enggak bakal dihukum, Ra. Maafkan aku ...."
"Aku yang harusnya minta maaf sudah merepotkan kamu selama ini, kenapa jadi kamu yang minta maaf cuma karena kamu lupa satu kali? Padahal sudah banyak yang sudah kamu lakukan buat aku. Karena kamu, aku enggak harus nulis setelah selesai syuting, terima kasih." Tiara menjawab tulus yang diangguki pelan oleh Nathasa yang sedikit lebih tenang.
"Iya, tapi bagaimana keadaan kamu sekarang? Apa kita harus ke rumah sakit?"
"Enggak usah, aku sudah enggak apa-apa kok. Tapi aku kesal banget sama Pak Raja, dia itu guru kelakuannya enggak ada manusiawinya." Tiara menggerutu sebal yang disenyumi oleh Nathasa.
"Kan aku sudah bilang, Pak Raja itu berbeda. Kalau guru yang lain pasti bisa ngerti kamu, tapi Pak Raja ya pasti mustahil."
"Iya, sekarang aku tahu. Tapi kenapa dia harus jadi wali kelas kita sih? Aku pasti enggak bisa bebas syuting seenaknya sekarang, apalagi kita juga harus mulai mempersiapkan ujian kan?" keluh Tiara lesuh, merasa frustrasi dengan guru barunya itu.
"Loh bukannya kamu sudah mau istirahat syuting dulu ya untuk persiapan ujian kita nanti?" tanya Nathasa terdengar bingung.
"Iya, tapi kan aku juga bakal diundang di acara talk show untuk promosi film," jawab Tiara dengan nada yang sama.
"Ambil aja yang malam, enggak usah ambil yang pagi."
"Iya sih, nanti aku omongin ke Tante Rani." Tiara tersenyum ke arah Nathasa yang juga melakukan hal sama.
"Semangat!"
"Siap." Keduanya tertawa, menikmati kebersamaan mereka yang sudah cukup terpisah lama.
***
Raja menghela nafas panjangnya setelah sampai di rumahnya, sedangkan di tangannya sudah ada beberapa buku PR milik muridnya yang belum ia nilai di sekolah. Kalau bukan karena murid yang bernama Tiara itu, mungkin ia sudah menyelesaikan pekerjaannya tanpa harus membawanya ke rumah.
Di meja kerja papanya, Raja meletakkan semua buku milik muridnya di sana lalu menilai dengan seksama. Buku-buku itu tidak hanya dari kelas Tiara saja, namun juga ada dari beberapa kelas lainnya, itulah yang membuat Raja mau tak mau harus membawanya pulang, pekerjaannya tidak akan selesai bila dikerjakan di sekolah.
"Raja," panggil Ellena, wanita cantik paru baya itu mamanya Raja, seorang wanita yang sangat Raja sayangi dan cintai selama hidupnya.
"Iya, Ma." Raja menjawab tak bersemangat, sedangkan matanya masih fokus dengan pekerjaannya.
"Tumben kamu bawa pekerjaan di rumah? Biasanya kamu selalu rapi dan tepat waktu tentang apapun tak terkecuali masalah seperti ini." Ellena menunjuk ke arah buku-buku yang ia yakini milik murid putranya yang terpaksa dibawa pulang.
"Enggak apa-apa kok, Ma. Tadi enggak sempat selesai aja, makanya aku bawa pulang." Raja menatap mamanya sekilas lalu kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Oh ya, Papa mana? Belum pulang ya?"
"Belum. Kenapa?" Ellena duduk di kursi yang berada di depan meja putranya.
"Enggak apa-apa, aku cuma mau bilang kalau aku pinjam meja kerja Papa dulu."
"Ya tinggal kamu pakai aja kenapa harus bilang sih? Aneh kamu." Ellena menggeleng pelan, merasa lucu saja dengan sikap putranya.
"Iya sih, tapi kan aku harus tetap meminta izin, Ma."
"Iya, nanti Mama kasih tahu ke Papa kamu."
"Terima kasih." Raja menyunggingkan senyumnya, hanya dengan mamanya itu, Raja mampu membentuk senyum tulus.
"Iya, Sayang. Emh ... sebenarnya Mama mau berbicara serius ke kamu."
"Tentang apa, Ma?" Raja menatap ke arah mamanya dengan mata bertanya, sedangkan tugasnya ia abaikan mengingat mamanya akan berbicara serius dengannya.
"Bulan depan, kamu berumur tiga puluh lima tahun. Apa kamu enggak mau menikah?" tanya Ellena yang sempat didiami oleh Raja.
"Iya, aku mau, Ma. Tapi aku belum mendapatkan wanita yang tepat untuk aku nikahi." Raja berusaha menjawab dengan kalimat yang mungkin tidak membuat mamanya kecewa, meski sebenarnya ia sedang menunggu seseorang yang sudah lama ia rindukan.
"Apa kamu masih menunggu Sonya?" tanya Ellena kali ini yang hanya bisa Raja diami.
"Sebenarnya mau sampai kapan kamu menunggu dia? Belum tentu kan dia di sana masih sendiri? Bisa saja dia sudah memiliki lelaki lain yang bisa menggantikan kamu." Ellena bertanya hati-hati, dari ekspresi putranya saja, ia bisa membaca bila putranya itu masih mengharapkan mantan kekasihnya dulu.
"Itu yang aku pikirkan setiap malam, Ma. Mau sampai kapan aku menunggu dia? Toh, belum tentu kita bisa bersama seperti dulu lagi kan? Aku sendiri juga frustrasi, Ma. Andai ada cara lain supaya aku bisa melupakan dia, mungkin aku akan berusaha melakukannya." Raja menundukkan wajahnya, merasa lelah dengan hati dan pikirannya yang tak henti-hentinya berharap pada cinta yang gelap, di mana tidak ada kepastian yang bisa ia jadikan pegangan.
"Kamu masih ingat Om Danu?" tanya Ellena yang kali ini ditatap bingung oleh putranya.
"Temannya Papa kan? Tapi, aku sedikit lupa dengan wajahnya, Ma. Mungkin karena aku sudah lama enggak pernah bertemu dengan beliau. Memangnya ada apa, Ma?"
"Om Danu dan istrinya sudah meninggal beberapa tahun yang lalu, tapi Papa kamu baru tahu hal itu, padahal Papa kamu sudah bahagia bisa tinggal di kota ini lagi. Saat Mama dan Papa ke rumahnya, ternyata adiknya masih mengingat kita dan memberi Papa surat wasiat yang ditulis Om Danu." Ellena berujar serius sedangkan Raja hanya bisa terdiam tanpa mau menjawab, meskipun ia sempat terkejut mendengar kabar kematian dari teman baik papanya tersebut.
"Surat wasiat itu berhubungan dengan kamu," lanjut Ellena yang kian membuat putranya itu keheranan.
"Kenapa ada hubungannya denganku, Ma? Memangnya apa surat wasiatnya?"
"Di dalam surat itu, kamu pernah melamar putrinya yang berusia lima tahun kan? Saat itu, usia kamu baru dua puluh tiga tahun." Ellena memicingkan matanya ke arah putranya yang terdiam membisu dengan segala ekspresi keterkejutannya.
"Iya ... tapi itu sudah sangat lama, Ma. Saat itu aku cuma jatuh cinta sesaat ke Ara, dia cantik, putih, menggemaskan, dan dia juga pintar."
"Tapi kamu memintanya ke Om Danu untuk menjadi istri kamu kan?" tanya Ellena yang yang tidak bisa Raja jawab karena memang itu benar, namun bukan berarti ia bisa mengiyakannya.
"Raja, tolong jawab pertanyaan Mama! Saat itu kamu melamar Ara ke Om Danu kan?"
"Iya, Ma. Tapi kan itu dulu ...." Raja tampak bingung harus menjelaskan semuanya dari mana, ia sendiri tidak ingin bila ucapannya itu dijadikan kenyataan. Sedangkan ia sendiri sangat sadar sekarang bagaimana umurnya dengan Ara sudah terpaut cukup jauh, rasanya sangat memalukan bila pernikahan itu benar-benar terjadi.
"Tapi tetap saja, Raja. Kamu harus menunaikan janji kamu."
"Maksud Mama apa? Aku harus menikahi anak kecil, begitu? Kalau dihitung dari saat aku melamar Ara, usianya sekarang mungkin baru tujuh belas tahun. Mustahil aku menikahinya di umurku yang sekarang, Ma." Raja mengeluh frustrasi, merasa bodoh saja dengan ucapannya dulu.
"Tapi sayangnya, Om Danu ingin kamu yang menikahi putrinya. Hal itu sudah tertera di surat wasiatnya, dan Papa kamu akan mengurus semuanya."
"Apa, Ma? Papa akan mengurus semuanya? Itu berarti perjodohan ini benar-benar akan dilakukan, bahkan tanpa persetujuan dariku?" tanya Raja terdengar syok, merasa tak percaya saja dengan nasib hidupnya yang tak beruntung menurutnya.
"Tentu saja iya, bahkan dalam waktu dekat ini kita akan mengadakan pertemuan untuk membahas pernikahan kalian."
"Tapi, Ma. Bagaimana kalau kami enggak suka satu sama lain, apalagi dia masih anak kecil, pasti tingkah lakunya kekanak-kanakan kan? Mana mungkin bisa cocok dengan kepribadianku, Ma?" Raja kembali mengeluh, merasa benar-benar frustrasi sekarang.
"Ya kalian harus mencobanya, ini kan demi kebaikan kalian juga. Apalagi almarhum Om Danu yang memintanya, Papa enggak mungkin bisa mengabaikannya begitu saja, cepat ataupun lambat pernikahan kalian pasti akan dilakukan."
Raja hanya bisa terdiam tanpa bisa berkata-kata, ia sangat menyesal sudah pernah mengatakan kalimat yang tidak seharusnya ia katakan saat umurnya baru dua puluh tiga tahun, tepatnya tiga belas tahun yang lalu, di mana ia diajak orang tuanya untuk mengunjungi teman dekat mereka.
Saat itu ....
Raja dan keluarganya ke rumah Danu, sahabat papanya yang sudah berteman lama. Mereka sangat dekat sejak mereka masih SMA, namun Danu dan istrinya baru diberi momongan lima tahun yang lalu, padahal usia pernikahan mereka sudah hampir dua puluh tahun saat itu. Sekarang, mereka sudah memiliki putri yang cantik, yang saat ini sedang bermain di taman depan rumah.
Sebenarnya Raja dan keluarganya ke rumah mereka untuk berpamitan, karena sebentar lagi Raja dan keluarganya akan pindah rumah ke luar kota. Bukan tanpa alasan keluarganya melakukan itu, karena tuntutan pekerjaan papanya lah yang membuat mereka harus mau berpindah kota.
Raja sendiri tidak ingin pergi, terlebih lagi ia hampir menyelesaikan kuliahnya pada saat itu. Karena hal itu lah orang tuanya berpikir untuk menitipkan Raja pada tantenya beberapa tahun sampai kuliahnya selesai.
Raja yang merasa bosan dengan pembicaraan mereka, memutuskan untuk pergi keluar untuk mencari udara segar. Namun saat berada di halaman rumah, ia justru mendengar seorang anak kecil menangis. Tentu saja Raja merasa penasaran dan pada akhirnya berjalan ke asal suara dan mendapati seorang gadis kecil di taman.
"Kamu ... anaknya Om Danu kan?" tanya Raja setelah membungkukkan tubuhnya ke arah gadis kecil yang tengah menunduk tersebut.
"Iya, Kak." Gadis itu menjawab seadanya, namun tangisannya masih terdengar dari bibirnya.
"Nama kamu siapa?"
"Ara, Kak."
"Oh Ara? Kamu kenapa nangis di sini? Penjaga kamu mana?" Raja menatap sekitarnya namun tak mendapati seseorang pun di sana.
"Bibi lagi ke dalam."
"Oh. Tapi kenapa kamu nangis?"
"Kangen p***y ...." Gadis kecil itu menunjuk ke arah gundukan tanah, namun wajahnya masih enggan mendongak, membuat Raja yang memerhatikannya hanya melihat ke arah yang dia tunjuk.
"Siapa itu p***y?"
"Kucingku, Kak." Mendengar jawaban polosnya, Raja tersenyum dan menghela nafas, merasa lucu saja dengan tingka lakunya.
"Oh kucing kamu sudah meninggal ya? Harusnya kamu senang kan? Itu berarti dia akan tinggal ke tempat yang lebih indah, dia atas awan sana." Raja menunjuk ke arah langit, yang ditatap sendu oleh gadis kecil itu, menyadarkan Raja sebetapa cantiknya wajah ayunya saat keluar dari persembunyiannya.
"Masa sih, Kak?" tanyanya lugu.
"Tentu saja," jawab Raja sembari tersenyum, merasa kagum dengan wajah ayu gadis kecil itu. Padahal bila dikira-kira, umurnya mungkin masih lima tahun atau lebih, namun mampu membuat Raja tersenyum takjub.
"Berarti p***y bahagia di sana ya, Kak?" tanyanya lagi yang diangguki oleh Raja, namun matanya masih memandang kagum ke arahnya.
"Tapi dia enggak pernah kirim surat kalau dia bahagia, Kak. Aku takut di sana dia malah menderita sampai lupa kirimi aku surat." Gadis itu berceloteh mengungkapkan perasaannya, yang tentu saja ditertawai oleh Raja yang merasa gemas dengan ucapannya.
"Di sana enggak ada tukang pos, makanya enggak bisa kirim surat. Tapi Kakak yakin, p***y pasti bahagia di atas sana."
"Syukurlah, kalau begitu. Tapi, Kakak siapa?" Gadis itu menatap penasaran ke arah Raja, matanya yang bulat begitu menenangkan hati Raja yang tengah gunda gulana, belum lagi wajah putih dan ayunya Ara begitu bersinar indah, seolah mampu menyembuhkan hati yang terluka.
"Panggil saja Kak Raja."
"Oh Kak Raja? Tapi Ratunya mana, Kak?"
"Ha, Ratu?"
"Iya, Ratu. Seorang Raja pasti punya ratu kan? Seperti di tokoh-tokoh princess." Ara menjabarkan pertanyaannya yang lagi-lagi berhasil membuat Raja tertawa.
"Sayangnya, Raja yang ini enggak punya ratu." Raja menggeleng pelan sembari tersenyum ke arah gadis kecil yang terlihat terkejut itu.
"Kasihan, Kak Raja pasti kesepian. Bagaimana kalau aku yang jadi Ratu buat Kak Raja?" tawarnya yang kali ini ditatap tak percaya oleh Raja, meski pada akhirnya bibirnya kembali tertawa.
"Bagaimana ya?" tanya Raja seolah sedang berpikir, namun mata Ara justru tampak berharap.
"Boleh deh." Raja melanjutkan ucapannya yang seketika disenyum oleh Ara, bahkan kakinya meloncat-loncat sangking bahagianya.
"Yaei ...."
"Ara, ada apa sih? Kok kamu loncat-loncat?" teriak mamanya yang baru keluar dari rumah, di sana juga ada suami dan orang tua Raja.
"Ma, aku mau jadi ratunya Kak Raja. Keren kan aku, Ma?" celotehnya yang disenyumi malu oleh Raja.
"Jadi ratunya Kak Raja?" tanya sang mama penasaran.
"Iya, Ma."
"Kalau kamu mau jadi ratunya Kak Raja, berarti kalian harus menikah."
"Menikah? Tapi kan aku masih kecil, berarti aku enggak bisa jadi ratunya Kak Raja ...." Ara terlihat sangat sedih, membuat Raja merasa sangat bersalah.
"Nanti kalau kamu sudah besar, Kak Raja akan menikahi kamu, supaya kamu jadi ratu yang paling bahagia di dunia ini. Bagaimana, kamu mau?" tawar Raja yang seketika disenyumi oleh Ara.
"Mau, Kak. Aku mau jadi ratunya Kak Raja. Boleh kan, Ma, Pa?" tanya ke arah orang tua mereka, di mana keduanya tersenyum mendengar pertanyaan putrinya, begitupun dengan orang tua Raja yang tampak bangga dengan putranya.
"Boleh dong, Sayang. Iya kan, Pa?"
"Iya, boleh. Asal Kak Raja harus meminta kamu dulu ke Papa!" Danu, papanya Ara itu tersenyum ke arah Raja seolah ingin menggodanya.
"Siapa takut? Saya akan meminta Ara langsung ke Om." Raja menyodorkan tangannya ke arah Ara yang langsung diterima baik oleh gadis kecil itu.
"Mari ratuku!" ujar Raja sembari tersenyum lalu berjalan perlahan ke arah Danu dengan tangan terus mengandeng jari-jari mungil milik Ara.
"Perkenalkan, nama saya Raja. Saya ingin meminta Ara untuk menjadi ratu saya setelah nanti dia beranjak dewasa." Raja tersenyum ke arah Danu, sebagai anak dari sahabatnya, hubungan mereka memang sangat dekat, meskipun mereka hanya sekali bertemu di rumah orang tua Raja.
"Saya terima permintaan kamu, semoga kamu bisa menjaganya dengan baik." Danu menjawab serius namun bibirnya tersenyum, seolah ucapannya bukanlah sebuah drama yang sedang ingin putrinya perankan. Jawabannya itu adalah cinta tulusnya, yang benar-benar diberikan untuk Raja agar bisa menjaga putri kecilnya.