Part 11
Beberapa hari berikutnya, Raja seolah sudah terbiasa dengan pemandangan seperti saat ini, di mana adiknya tengah membantu Tiara yang sedang memasak di dapur rumah. Sesekali mereka tertawa dengan guyonan yang Daffa lontarkan, sesekali juga Tiara menunjukkan kebolehannya dalam berakting sembari memasak, yang tentu saja membuat Daffa kagum, mengingat lelaki itu juga mengidolakan Ara dalam diri Tiara.
Raja yang melihat mereka berulah lagi pagi ini hanya bisa menghela nafas panjangnya, lalu berjalan ke arah meja makan seperti biasa. Kedatangannya itu sama sekali tidak menggangu aktivitas mereka yang masih asyik satu sama lain, Tiara dan Daffa masih berkutat dengan acara memasak dan candaan mereka. Sampai saat Tiara dan Daffa berjalan ke arah meja makan sembari membawa makanan yang sudah siap dihidangkan, di saat itu lah Tiara tersenyum hangat ke arah suaminya tersebut.
"Selamat pagi, Pak."
"Hm." Seperti biasa, jawaban Raja selalu sama yaitu dehaman dengan wajah tenang, sedangkan Tiara lagi-lagi juga hanya tersenyum lalu duduk di sampingnya diikuti Daffa di depannya.
"Kak, tadi malam Mama telepon," ujar Daffa kali ini, menyadarkan Raja yang tengah fokus dengan acara memakannya.
"Ada apa?"
"Mama bilang, pekerjaan Papa masih banyak di sana, jadi enggak bisa pulang lusa."
"Oh ...." Raja mengangguk paham, meski sebenarnya ia ingin sekali mamanya itu ada di rumah dan adiknya itu pergi dari rumah seperti dulu, dengan begitu Raja akan merasa hidupnya kembali damai dan tentram. Namun sepertinya itu hanya sebatas khayalan, karena orang tuanya justru menunda lagi kepulangannya.
"Duh, lupa." Daffa menepuk jidatnya lalu menatap ke arah Tiara yang tengah menatapnya penuh tanya.
"Ada apa, Kak?"
"Ra, aku berangkat dulu ya? Pagi ini aku ada meeting." Daffa mendirikan tubuhnya dengan terburu-buru, padahal lelaki itu baru saja sarapan, tentu saja hal itu membuat Tiara khawatir karena ia pernah ada di posisinya.
"Dihabiskan dulu, Kak, makannya! Nanti di jalan lemas loh, malah enggak fokus meeting." Tiara turut mendirikan tubuhnya, namun Daffa hanya menggeleng sembari tersenyum cepat.
"Aku enggak apa-apa, kan ada bekal dari kamu, nanti aku makan di jalan ya?" jawab Daffa yang Tiara angguki, sampai saat matanya memerhatikan ada yang salah dari penampilan adik iparnya.
"Tunggu, Kak!" Tiara berjalan ke arah Daffa, gerakan tubuhnya itu juga diperhatikan oleh Raja yang entah bagaimana merasa penasaran dengan apa yang akan Tiara lakukan.
"Ada apa?"
"Ini dasi Kak Daffa kurang rapi, katanya mau meeting kan? Harus dibenerin dulu, aku bantu ya." Tiara mengikat kembali dasi yang melingkar di leher Daffa, tatapan matanya begitu serius saat menatap kain panjang itu. Berbeda dengan Daffa yang justru terdiam dengan d**a berdebar, bibirnya sesekali merapat, menahan serangan aneh pada hatinya saat memerhatikan Tiara dari arah dekat.
"Nah, ini baru rapi." Tiara tersenyum ke arah Daffa yang baru tersadar setelah mendengar suaranya, di saat itu lah Daffa merasa ada yang salah dengan otaknya sampai tak menyadari dasinya sudah rapi sangking fokusnya ia menatap ke arah Tiara.
"Eh ... terima kasih ya?" jawab Daffa yang diangguki oleh Tiara sembari mengacungkan kedua jempolnya, dengan cepat Daffa berjalan ke arah luar rumah, berusaha menetralisir perasaan aneh yang baru dirasakannya.
Di sisi lainnya, Raja yang melihat Tiara merapikan dasi adiknya itu hanya terdiam, sorot matanya tampak menajam meskipun ekspresi wajahnya bisa dikatakan tenang.
"Kenapa kamu harus bantu Daffa merapikan dasinya? Itu kan bukan urusan kamu?" tanya Raja kali ini, sedangkan Tiara hanya terdiam bimbang dan berpikir apa kesalahan yang sudah ia lakukan kali ini, karena menurutnya ia hanya ingin membantu dan tidak ingin ikut campur sama sekali.
"Saya cuma mau membantu Kak Daffa, Pak. Karena saya selalu diajari untuk mengutamakan penampilan bila di depan klien, dengan begitu mereka akan tertarik untuk memulai kerja sama." Tiara menjawab jujur, namun Raja justru terlihat tidak memercayainya.
"Kamu kan bisa mengatakannya bila dasi Daffa itu kurang rapi, dia bisa memperbaikinya sendiri."
"Saya tahu, Pak, tapi akan butuh waktu lama kan? Sedangkan Kak Daffa tadi buru-buru mau berangkat." Tiara mendudukkan tubuhnya yang kali ini mendapatkan tatapan tak percaya dari suaminya tersebut.
"Apa kamu selalu seperti ini?"
"Seperti apa, Pak?"
"Suka membantah pasangan kamu?" tanya Raja yang kali ini Tiara diami, merasa aneh saja dengan kata pasangan yang keluar dari bibir Raja, mengingat betapa kerasnya lelaki itu ingin menolak pernikahan mereka.
"Bapak mengakui saya sebagai pasangan? Tapi Bapak kan selalu ...."
"Maksud saya pasangan antara guru dan murid, jangan berpikir macam-macam ya? Karena bagi saya, kamu anak kecil yang masih harus belajar di sekolah." Raja memotong ucapan Tiara dengan nada tegasnya yang hanya Tiara angguki kaku, berusaha untuk mengerti dengan kalimat janggal yang baru terlontar dari bibir suaminya itu. Tiara sendiri tidak akan menyadari, bagaimana Raja kelimpukkan sendiri dengan alasan konyol yang baru ia ucapkan tadi.
***
Setelah memarkirkan mobilnya, Raja menghela nafas panjangnya, merasa lega ia sudah sampai ke tempat tujuannya tanpa mengalami kecelakaan sekecil apapun. Padahal kepalanya sedang pusing sekarang, tubuhnya juga terasa kurang nyaman, dengan aura dingin yang membuat Raja menggigil.
Raja tahu kenapa tubuhnya bisa seperti sekarang, apa lagi kalau bukan karena ia sering tidur di lantai dan membiarkan Tiara tidur di ranjangnya. Sebenernya Raja merasa seperti itu sudah lama, namun ia berusaha menahannya untuk tetap bersikap baik-baik saja, namun sepertinya hari ini adalah puncaknya, Raja merasa tidak bisa menahannya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang? Aku sudah sampai di sekolah, tapi apa aku bisa mengajar anak-anak?" Raja menghela nafas panjangnya sembari menyenderkan punggungnya di kursi mobil. Tangannya sesekali memijit keningnya yang terasa pusing dengan tiba-tiba. Perutnya juga mual sekarang, membuat Raja bingung harus bagaimana.
"Sepertinya aku harus ke ruang UKS dulu, aku harus istirahat di sana," gumamnya yakin sembari membuka pintu mobil untuk segera keluar dari sana dan berusaha terlihat kuat menuju ke tempat tujuannya.
***
"Hari ini Pak Raja sedang izin tidak masuk, jadi materinya saya yang ngajar kali ini." Seorang guru wanita tiba-tiba masuk ke kelas Tiara, berniat mengajar mereka untuk menggantikan Raja sementara.
"Iya, Bu." Jawaban semua murid kecuali Tiara yang justru terdiam di tempatnya, itu karena ia yakin tadi pagi Raja berangkat bersamanya meskipun seperti biasa ia diturunkan di jalan, namun yang Tiara tahu laju mobil suaminya melaju ke arah sekolah.
"Di mana Pak Raja?" gumam Tiara mulai risau, entah bagaimana hatinya juga merasa takut bila terjadi sesuatu dengan suaminya itu.
"Apa, Ra?" tanya Nathasa yang menyadarkan Tiara dari pikiran bingungnya.
"Apa? Apanya, Sha?"
"Tadi kamu tanya di mana Pak Raja?"
"Enggak kok." Tiara menggeleng kuat yang diangguki mengerti oleh Nathasa.
"Mungkin aku yang salah dengar," gumamnya tak yakin yang hanya Tiara angguki, meski di dalam hati ia masih memikirkan di mana suaminya itu berada sekarang.
***
Di jam istirahat, Tiara dan Nathasa berjalan ke arah kantin, mereka berniat makan siang. Sebenernya Tiara sudah menolak ajakan Nathasa, entah bagaimana moodnya sedang tak berselera makan sekarang. Namun sahabatnya itu memaksa dan ingin ditemani makan, dengan rasa terpaksa Tiara menuruti permintaannya.
Awalnya Tiara berjalan seperti biasa, sampai saat matanya melihat ke arah Daffa yang tengah berlari entah ke mana. Sebagai bos kantor, tentu saja penampilannya yang menggunakan setelah jas sangat mencolok di antara para murid berseragam.
"Kak Daffa," gumamnya yakin, dalam hati ia bertanya-tanya kenapa adik iparnya itu berada di sekolahnya, dan ekspresi wajahnya juga tampak khawatir dari biasanya yang selalu bersikap menyenangkan.
"Siapa, Ra?" Nathasa menoleh ke arah Tiara yang langsung berlari tanpa mau menjawab pertanyaannya.
"Tiara, kamu mau ke mana?" Nathasa memanggil Tiara keras namun lagi-lagi tidak digubris oleh temannya tersebut.
"Kak Daffa," panggil Tiara ke arah lelaki berjas hitam tersebut, sedangkan di belakangnya Nathasa turut berlari menyusulnya, meskipun ia sendiri masih bingung kenapa Tiara tiba-tiba berlari meninggalkannya.
"Tiara." Daffa menghentikan langkahnya setelah menyadari Tiara berlari ke arahnya.
"Kak Daffa kenapa ada di sini? Ada apa?" tanya Tiara setelah sampa di depan Daffa, sedangkan di belakangnya tiba-tiba Nathasa datang dan menepuk pundaknya.
"Astaga, Ra. Kamu kenapa lari sih? Ada apa?" Nathasa menatap ke arah Tiara, nafasnya terdengar ngos-ngosan sekarang, berbeda dengan Tiara yang terlihat baik-baik saja namun tampak mengkhawatirkan sesuatu hal.
"Kamu bisa tunggu di sini sebentar, Sha? Aku harus ngomong sesuatu dengan Kak Daffa." Tiara bertanya hati-hati yang kali ini ditatap tak mengerti oleh Nathasa, dan beberapa saat kemudian menatap ke arah Daffa yang tengah terdiam menatap mereka.
"Oke." Nathasa hanya bisa mengangguk, ia sendiri bingung dan penasaran siapa lelaki dewasa yang sedang bersama dengan Tiara, karena setahunya Tiara tidak pernah dekat dengan lelaki manapun.
"Ayo, Kak. Ikut aku sebentar!" Tiara menarik tangan Daffa lalu berjalan ke arah tempat yang mungkin tidak ada orang di sana, untuk menanyakan rasa penasarannya. Sedangkan Nathasa hanya bisa menatap mereka, tanpa bisa mendapatkan jawaban atas rasa ingin tahunya.
"Kak Daffa? Apa dia pacarnya Tiara? Tapi kenapa Tiara enggak pernah memberitahuku? Lalu kenapa lelaki itu ada di sekolah ini? Tiara juga terlihat khawatir," gumam Nathasa keheranan, sampai saat matanya mendelik seolah memiliki jawabannya.
"Aku tahu, Kak Daffa itu pacarnya Tiara, terus dia datang ke sekolah, tapi karena Tiara enggak mau ada yang tahu, makanya Tiara kaya khawatir gitu kan? Jadi Tiara mengajak lelaki itu ke tempat sepi untuk diomeli? Gitu kali ya?" Nathasa mengangguk yakin, merasa apa yang di pikirannya itu adalah kebenaran dan entah bagaimana tiba-tiba bibirnya tersenyum, merasa ikut bahagia dengan hubungan sahabatnya baiknya itu.
***
Di sisi lainnya, Tiara menghentikan langkahnya dengan sesekali memerhatikan ada orang atau tidak di sekitar mereka. Sedangkan Daffa yang tampak khawatir itu hanya berusaha tenang dengan sesekali menghela nafas panjang.
"Maaf, Kak. Kita harus bicara di sini, akan sulit menjelaskannya kalau ada yang tahu kita bicara di sekolah, apalagi sampai ada yang tahu hubungan kita itu seperti apa."
"Aku mengerti." Daffa mengangguk paham.
"Kak Daffa sendiri kenapa ada di sini?" tanya Tiara penasaran, ia yakin adik iparnya itu tidak akan datang bila memang tidak ada keperluan.
"Aku harus menemui Kak Raja."
"Pak Raja hari ini enggak ngajar, Kak, padahal kami berangkat bersama tadi pagi. Aku sendiri enggak tahu dia ada di mana sekarang?"
"Dia ada di UKS sekolah. Kamu pasti tahu kan tempatnya di mana?"
"Pak Raja ada di UKS sekolah? Memangnya ada apa dengan Pak Raja, Kak?" Tiara dibuat khawatir dengan apa yang sedang terjadi dengan suaminya, bisa dilihat dari ekspresi wajahnya yang mulai resah sekarang.
"Katanya Kak Raja tadi pingsan setelah turun dari mobil ya, sekarang dia ada di ruang kesehatan kan? Aku dihubungi seorang guru di sekolah ini, makanya aku langsung ke sini."
"Aku enggak tahu kalau Pak Raja pingsan, Kak. Sekarang bagaimana keadaannya?" tanya Tiara terdengar masih khawatir, namun justru terdengar janggal untuk Daffa dengar.
"Kamu enggak tahu Kak Raja pingsan? Bagaimana mungkin? Kan kalian berangkat sama-sama, otomatis kalian juga turunnya sama-sama kan?" Daffa bertanya dengan nada tak habis pikir, yang kali ini Tiara diami.
"Aku enggak tahu karena aku harus turun sebelum sampai di sekolah ...." Tiara menundukkan wajahnya, sebenarnya ia tidak ingin mengatakannya, namun sepertinya Daffa juga harus tahu yang terjadi setiap harinya.
"Apa? Turun sebelum sampai di sekolah? Tapi kenapa?"
"Kak Daffa tahu kan, aku ini artis, aku juga seorang murid dan Pak Raja adalah guruku di sekolah ini. Kalau semua murid tahu aku dan Pak Raja berangkat bersama, pasti akan ada saatnya mereka curiga, jadi kami sepakat untuk aku turun sebelum sampai di sekolah." Tiara berusaha menjelaskan semuanya, yang tentu saja tidak bisa Daffa terima.
"Apa?" tanya Daffa tak percaya.
Bagaimana mungkin Daffa bisa menerima setelah mengetahui Tiara diperlakukan buruk oleh kakaknya, padahal orang tuanya terutama mamanya yang selalu berpesan kepadanya untuk terus menjaga Tiara, namun dengan mudahnya kakaknya itu menghancurkan usahanya.
"Ini juga demi reputasi ku sebagai artis kok, Kak." Tiara masih berusaha menjelaskannya sebaik yang ia bisa, ia benar-benar tidak ingin ada masalah kedepannya.
"Tapi tetap saja, Ra. Ya enggak seharusnya Kak Raja menurunkan kamu di jalan."
"Sudah, Kak. Aku enggak apa-apa kok. Bagaimana kalau sekarang Kak Daffa aku antar ke UKS, setelah itu aku izin ke guru untuk pulang. Aku tunggu Kak Daffa di gapura dekat sekolah, bagaimana?"
"Kenapa kamu harus menunggu di sana? Itu kan jauh dari sekolah?" tanya Daffa terdengar kian heran dari sebelumnya.
"Tunggu. Apa setiap kalian pulang sekolah, kamu menunggu Kak Raja di sana?" tebak Daffa yang hanya bisa Tiara diami, ekspresinya seolah ingin mengiyakan pertanyaan yang baru saja Daffa lontarkan.
"Astaga, Ra. Jadi selama ini kamu diperlakukan sebegitu buruknya oleh Kak Raja? Kenapa kamu enggak pernah bilang sih? Aku bisa melaporkannya ke Mama dan Papa, supaya Kak Raja bisa ditegur, dia enggak bisa seenaknya sama kamu." Daffa benar-benar sudah dibuat geram sekarang, sangking kecewanya ia dengan Tiara yang tidak mau menceritakan kesusahannya.