Part 14
Sore harinya, Raja tampak lebih sehat dari sebelumnya, lelaki itu bahkan menonton televisi di ruang keluarga bersama dengan adiknya, Daffa. Sedangkan Tiara sedang memasak makanan di dapur untuk makan malam mereka, hanya untuk Raja dan Daffa, karena malam ini ia akan menghadiri sebuah acara talk show bersama dengan lawan mainnya di sebuah film yang baru dibintanginya. Itu berarti, Tiara tidak akan makan malam bersama kedua saudara tersebut.
Di tengah acara mereka menonton televisi, fokus mereka harus terganggu saat ada bel berbunyi menandakan ada tamu yang datang. Tanpa banyak berdebat, Daffa langsung berdiri, karena ia sadar bukan saatnya ia menyuruh kakaknya membuka pintu mengingat kondisi tubuhnya yang belum sepenuhnya pulih.
Setelah membuka pintu, Daffa menatap tanya ke arah tamu berjenis perempuan tersebut. Sedangkan di sampingnya ada lelaki berpenampilan wanita, ekspresi wajahnya tampak nakal seolah ingin menggodanya, bisa dikatakan seorang banci atau waria.
"Cari siapa ya?" tanya Daffa sopan, sedangkan wanita itu justru tersenyum saat menatapnya.
"Kamu pasti Daffa ya, adiknya Raja kan?"
"Iya, kok Anda tahu?"
"Saya Rani, Tantenya Tiara. Kita memang belum bertemu sebelumnya, karena katanya kamu lagi ada di luar kota saat itu." Mendengar itu, Daffa langsung tersenyum dan mengangguk paham.
"Oh Tantenya Tiara? Pasti lagi cari Tiara ya? Tiara ada kok di dalam, lagi masak di dapur. Silahkan masuk, Tante." Daffa mempersilahkan mereka masuk yang diangguki mengerti oleh Rani.
"What? My sweety masak? Iiiih enggak cucok." Lelaki berpenampilan perempuan itu mengeluh tak terima, yang sempat ditatap aneh oleh Daffa yang baru mendengar suara gemulainya.
"Dia Fano, tata rias Tiara."
"Fani, Madam. Bukan Fano."
"Iya-iya." Rani menjawab malas yang dicengiri lelaki yang mengaku bernama Fani tersebut.
"Silahkan masuk aja, Tante. Saya panggilkan Tiara dulu ya?" Daffa berlari ke arah dapur, ia sengaja mempercepat diri untuk memanggil Tiara, karena ia sendiri tidak akan sudih bila harus berkenalan lebih dulu dengan yang mengaku bernama Fani tersebut.
"Tiara," panggilnya setelah sampai di dapur.
"Ada apa, Kak?"
"Ada Tante kamu itu di ruang tamu."
"Oh, mereka sudah sampai. Tolong dong Kak bantu aku bawa semua makanan ini ke meja makan, aku mau samperin Tanteku dulu."
"Oke aja lah, dari pada harus menemui laki-laki tapi malah ngaku namanya Fani." Daffa bergidik ngeri lalu memulai tugasnya, tanpa menyadari bagaimana Tiara tersenyum melihat tingkahnya.
"Terima kasih, Kak." Setelah mengucapkan hal itu, Tiara berjalan ke arah luar dapur untuk menemui Tantenya, namun sepertinya mereka sudah disambut oleh Raja di ruang keluarga.
"Oh jadi kamu kurang enak badan? Semoga cepat sembuh ya?" Suara Rani terdengar samar-samar saat Tiara berjalan ke arahnya, sedangkan Tiara hanya tersenyum melihatnya.
"Terima kasih, Tante." Kini suara Raja yang menjawab, yang mulai jelas Tiara dengar dengan jarak yang kian dekat.
"Tante, Fani ...." Tiara meregangkan kedua tangannya, merasa bahagia melihat mereka setelah cukup lama tidak berjumpa.
"Sweetyyyyyyy." Fani merengek gemas lalu memeluk Tiara dengan erat, sedangkan Rani hanya tersenyum melihatnya, lalu bergantian Tiara memeluknya.
"Sweety, kok kamu makin kurus sih? Memangnya di tempat saudara kamu ini, kamu enggak diurus apa?" tanya Fani terdengar prihatin sembari memerhatikan penampilan Tiara yang memang cukup berbeda. Untungnya yang Fani tahu, Tiara sedang tinggal dengan saudaranya, bukan dengan suaminya. Bisa-bisa Fani akan menyebarkan gosip ke semua orang dan publik, sesuatu yang sangat Tiara maupun tantenya takutkan.
"Diurus kok, dengan baik malah." Tiara tersenyum lembut yang sempat membuat Raja terpesona melihatnya, meski itu tak lama, ia berusaha menjadi lelaki yang tidak peduli seperti biasanya.
"Terus kenapa kamu masak? Masakin buat mereka ya?" Fani Menatap ke arah Raja dan Daffa yang baru datang dari arah dapur.
"Iya. Biasanya aku dibantu tapi kerena Pak Raja sakit, jadi Kak Daffa yang jaga." Tiara kembali menyunggingkan senyumnya seolah tak memiliki beban, berbeda dengan Raja dan Daffa yang terlihat bingung harus apa di sana, meski yang terjadi mereka berusaha terlihat fokus pada acara televisi.
"Tiara, sebentar lagi kamu mandi ya? Supaya Fani bisa langsung make-up wajah kamu." Rani menyela pembicaraan mereka yang langsung diangguki oleh Tiara.
"Iya, Tante. Kita ke kamar aja ya?"
"Iya."
"Oh iya, Pak, aku sudah siapkan makan malam, nanti Kak Daffa bantu ambilkan ya? Aku ada urusan di luar, jadi tidak bisa makan di rumah." Tiara berujar ke arah Raja yang sedikit memerhatikannya.
"Hm,"' jawabnya singkat.
Setelah Tiara, Rani, dan Fani itu pergi dari sana, Raja dan Daffa kompak melihat Tiara yang sudah naik ke lantai atas. Di tempatnya kini, kedua kakak adik tersebut itu bertanya-tanya apa yang akan Tiara lakukan di sana.
"Tiara mau ngapain, Kak?" tanya Daffa penasaran, yang ditanggapi Raja dengan menaikkan kedua pundaknya.
"Mana Kakak tahu?"
"Kan Kak Raja suaminya Tiara, masa dia enggak bilang mau apa?"
"Meskipun Kakak ini suaminya, memangnya Kakak harus peduli dia mau melakukan apa?" tanya Raja tak habis pikir, membuat Daffa kesal mendengarnya, kakaknya itu terlalu menyepelekan Tiara, padahal gadis itu yang selalu melayaninya bahkan merawatnya saat sakit.
***
Di dalam kamarnya, Tiara mulai dimake tipis seperti pada rencana awalnya, di sana Tiara juga dipakaikan baju untuk acara yang akan ia datangi nanti malam.
Setelah satu jam, akhirnya Tiara sudah siap sekarang, wajahnya sudah cantik dan menarik seperti saat ia berada di layar kaca televisi. Bisa dibilang, Tiara saat menjadi Ara adalah sosok yang hampir tidak dikenali. Bahkan saat pertama kali Tiara sekolah di tempatnya sekarang, banyak yang tidak menduga bila Tiara adalah Ara. Namun informasi mengenai sekolah Ara didengar para murid dan guru, yang mengharuskan Tiara mengaku karena banyak yang mengatakan bila Tiara mirip Ara.
Saat pertama kali Tiara mengatakannya, semua murid dan guru tentu saja tidak menduga hal itu, namun mereka justru kagum, karena ternyata di balik sosok Ara yang mereka kenal ada sosok Tiara yang cantik natural.
"Aduh sweety, aku sampai kangen loh lihat kamu yang kaya gini. Kenapa sih harus break dari dunia pertelevisian dulu, sampai harus tinggal sama saudara kamu di sini?" Fani menatap kecewa ke arah Tiara yang sudah cantik dan rapi penampilannya.
"Kan aku sudah bilang kalau aku harus fokus ujian, memangnya Kak Fani mau aku enggak lulus sekolah apa?"
"Iya enggak mau sih."
"Dan lagi ya, Kak. Aku enggak benar-benar break kok, aku cuma enggak bisa syuting film lagi, tapi kalau ada acara di luar itu, aku usahakan ambil sih." Tiara tersenyum tulus yang diangguki mengerti oleh penata riasnya tersebut.
"Oke deh, kalau begitu kita berangkat sekarang aja ya?" ujar Fani ke arah Rani yang sedang duduk sembari mengetik sesuatu di layar ponselnya.
"Iya, kita berangkat sekarang," jawabnya sembari mendirikan tubuhnya lalu mengajak Tiara dan Fani keluar kamar.
Sesampainya di ruang keluarga, Daffa yang tadinya rebutan remot dengan kakaknya itu seketika terdiam, menatap ke arah anak tangga paling atas dengan mata kekaguman. Karena di sana ada Tiara yang berpenampilan seperti Ara idolanya, suatu pemandangan yang tidak pernah Daffa temukan sebelumnya.
"Wah, gila. Cantik banget," gumamnya sampai tidak sadar bila remot yang digenggamnya sudah terlepas dari tangannya dan berganti alih ke tangan kakaknya.
"Siapa?" tanya Raja tak habis pikir sampai saat matanya tertuju ke arah objek yang sedang adiknya tatap, di mana ada seorang gadis berpenampilan anggun dan trendi yang tidak pernah Raja temui.
"Pak Raja," panggil Tiara setelah sampai di hadapan suaminya tersebut, namun lelaki itu justru terdiam dengan sesekali mengerjapkan mata beberapa kali.
"Tiara?" jawabnya terdengar seperti pertanyaan.
"Iya, Pak. Saya mau izin keluar dengan Tante saya. Karena nanti pulangnya sedikit malam, mungkin saya akan tidur di rumah saya sendiri." Tiara berujar ke arah Raja yang entah bagaimana begitu tertegun saat menatapnya.
"I ... iya." Raja mengangguk kaku sembari berusaha terlihat baik-baik saja.
"Wah, Tiara kamu sudah kaya mirip Ara." Daffa mendirikan tubuhnya lalu menghampiri Tiara yang tersenyum melihat sikapnya.
"Kan aku memang Ara, Kak."
"Iya sih. Tapi boleh enggak aku foto sama kamu? Supaya fans kamu yang lain pada iri sama aku." Daffa berujar penuh harap yang tentu saja Tiara angguki, membuat Daffa bersorak kegirangan, berbeda dengan Raja yang tampak tak suka melihat sikap adiknya yang berlebihan.
"Yes, foto sama artis."
"Enggak usah kampungan bisa kan?" sindir Raja sinis sembari kembali menatap ke arah televisi, tanpa mau peduli bagaimana Daffa menatap kesal ke arahnya, meski pada akhirnya Daffa memulai keinginannya untuk berfoto dengan Tiara. Cara mengambil foto Daffa juga tampak dekat dengan Tiara, yang diam-diam ditatap tidak suka oleh Raja.
"Terima kasih ya, Ra?"
"Iya, Kak." Tiara mengangguk sembari tersenyum sopan, lalu menatap ke arah Raja yang terlihat tidak peduli sekarang.
"Pak, aku berangkat dulu ya?" pamit Tiara.
"Hm," jawab Raja tanpa mau menatapnya, yang tentu saja cara menjawabnya tidak disukai oleh Rani maupun Fani.
"Sweety, saudara kamu itu judes banget sih jadi orang? Padahal kan kamu artis, banyak orang yang mau ketemu sama kamu, tapi sikap dia sudah kaya majikan, sombong." Fani menggerutu kesal yang samar-samar bisa Raja dengar.
"Pak Raja sebenarnya baik kok, tapi karena lagi sakit aja, makanya agak sensitif." Tiara menjawab dengan nada tenangnya, yang masih Raja maupun Daffa dengar. Sampai saat mereka berjalan menjauh dan pembicaraan mereka tidak bisa lagi didengar, di saat itu lah Daffa menatap tajam ke arah kakaknya.
"Kak Raja dengar kan? Tiara masih belain nama Kak Raja, padahal sudah jelas-jelas sikap Kak Raja tadi kurang bisa ngerhargai dia." Daffa berujar serius.
"Terus kenapa?" tanya Raja seolah tak memiliki dosa, yang tentu saja mendapatkan tatapan tak percaya dari mata adiknya.
"Masih tanya kenapa? Kak Raja bisa kan bicara lebih lembut ke Tiara?"
"Kamu bisa diam enggak? Kakak ini masih sakit, jangan dibuat rumit cuma karena masalah sepele."
"Terserah lah." Daffa menjawab malas lalu memasang fotonya dengan Tiara ke sebuah halaman grup di mana banyak penggemar Tiara di sana.
Cukup lama, banyak komentar yang memenuhi kolom komentar di fotonya. Melihat komentar-komentar pujian yang banyak penggemar Tiara sematkan, membuat Daffa tersenyum dengan sesekali tertawa, merasa bangga saja saat dirinya justru ditangisi karena banyak yang iri ingin berada di samping Tiara dan berfoto dengannya.
[Wah, ini kan kostum yang Kak Ara pakai di acara talk show, sekarang aku lagi lihat dia nih di TV.]
Daffa menghentikan scrollan ponselnya setelah membaca komenan salah satu penggemar Tiara, di saat itu lah Daffa mencari remot dan mendapati kakaknya yang sedang memegangnya. Tanpa berpikir panjang lagi, Daffa langsung mengambilnya lalu mengganti Chanel yang ingin ia lihat, di mana Tiara ada di sana.
"Kamu apa-apaan sih, Daff? Kakak ini mau lihat acara olah raga, kamu malah ganti chanelnya. Mana remotnya!" pinta Raja yang Daffa tanggapi dengan menggeleng kepala.
"Jangan dulu, Kak! Aku mau lihat Tiara, tapi di Chanel mana ya?" gumamnya sembari terus mengganti stasiun televisinya.
"Tiara?" tanya Raja tak mengerti, sedangkan Daffa hanya mengangguk sembari terus fokus mencari Chanel yang diinginkannya.
"Nah, ini akhirnya ketemu." Daffa bersorak senang saat melihat ada Tiara di layar televisi, sedangkan Raja hanya bisa melihatnya seolah tak berminat, meski sebenarnya ia penasaran dengan apa yang sebenarnya sedang Tiara lakukan di sana.
"Lihat, Kak, itu Tiara, istri Kak Raja. Bangga enggak jadi suaminya?" Daffa menunjuk ke arah televisi, namun Raja justru menyilangkan kedua tangan di depan dadanya.
"Biasa aja."
"Idiiiih," jawab Daffa malas lalu kembali menatap ke arah televisi tanpa mau memedulikan lagi kakaknya yang terlalu angkuh menurutnya.
'Ngomong-ngomong Ara sempat ditawari main jadi pemeran di video klip Nando ya?'
Salah satu pembawa acara menanyakan pertanyaan ke arah Tiara, setelah sempat berbincang banyak hal. Di tempat itu Tiara juga tampak tersenyum mendengar pertanyaan itu, ekspresi wajahnya juga terlihat percaya diri, tidak seperti saat menjadi Tiara di rumah ataupun di sekolah.
'Iya, sempat ditawari, enggak mau pikir panjang lagi, aku langsung terima tawaran itu sih, Kak. Mungkin beberapa hari lagi syutingnya akan dimulai.' Tiara menjawab dengan asyik seolah gadis gaul yang penuh dengan kepercayaan diri.
'Wah, bakal CLBK enggak nih? Kalau enggak salah, Nando itu mantan kamu kan?'
Saat pembawa acara menanyakan hal itu, Tiara justru tampak tersenyum malu-malu, yang entah bagaimana Raja maupun Daffa tampak tidak menyukai hal itu.
'Aku enggak mau berspekulasi apa-apa sih, Kak. Kan tujuannya untuk kerjaan aja, jadi aku cuma bisa jalanin dan berusaha melakukan yang terbaik.'
Tiara menjawab dengan tenangnya, bahkan caranya menjawab juga terlihat sangat baik, sangat jauh berbeda saat gadis itu menjadi Tiara di rumah, terutama saat berinteraksi dengan Raja maupun Daffa.
"Wah, Tiara memang gadis berbakat." Daffa menggeleng tak percaya, matanya tampak penuh kekaguman saat melihat dan mendengar cara Tiara berbicara. Sedangkan Raja yang mendengarnya hanya menoleh, menatap heran ke arahnya.
"Berbakat apanya cuma gitu doang?" ujar Raja sinis, merasa konyol saja saat mendengar kekaguman adiknya yang disematkan untuk Tiara, terlalu berlebihan menurutnya.
"Kak Raja enggak lihat cara Tiara berbicara dan bersikap di depan televisi? Semuanya itu berbanding terbalik dengan kebiasaannya di rumah, bahkan saat di sekolah juga kan? Cara dia itu sudah menggambarkan bagaimana berbakatnya dia, apalagi pas dia main film, sumpah Tiara itu keren parah." Daffa berujar penuh dengan kekaguman, namun Raja justru terlihat biasa saja seolah hal itu tak mampu membuatnya bangga.
"Enggak usah berlebihan lah, Tiara itu cuma anak kecil, sebagus apapun akting dia, dia tetap enggak bisa membuat Kakak bangga sudah menjadi suami dia. Kakak malah malu kalau sampai ada yang tahu pernikahan ini, mau di taruh di mana muka Kakak?" keluh Raja malas.
"Oh ya?"
"Iya." Raja menjawab penuh percaya diri.
"Berarti Kak Raja enggak takut kehilangan Tiara nanti apalagi sampai bercerai dengan dia?"
"Ya, enggak lah."
"Oke. Aku pegang ya kata-katanya," jawab Daffa sembari tersenyum ke arah Raja yang tampak menyesali ucapannya.