Prolog
Malam ini udara terasa lebih dingin dibanding biasanya. Seharian tadi kota Jakarta dilanda hujan. Banjir dimana-mana membuat jalanan macet. Banyak orang melalui hari yang panjang dan melelahkan, begitu juga Genta.
Setelah berjam-jam menembus kemacetan, mobil Genta akhirnya sampai dengan aman di garasi depan rumahnya. Genta lalu memasuki rumah sambil membawa jas putih miliknya serta beberapa kantong bingkisan. Sesekali tangannya menyeka tetesan air hujan yang membasahi kemeja biru langitnya yang sempat kehujanan.
“Kamu bikin kaget aja,” ucap Genta begitu mendapati istrinya tengah duduk dengan wajah datar di ruang makan.
Perlahan Genta mendekat ke arah wanita itu. Matanya teralihkan pada banyaknya makanan yang disiapkan Raline di atas meja makan. Ia tersenyum, namun senyumnya lenyap begitu mendapati sisa kue di meja makan dengan lilin yang sudah terbakar setengahnya.
Hari ini putrinya—Anya, berulang tahun yang ke-5 tahun. Genta menyesal karena tidak bisa ikut merayakan lebih awal karena dia harus membantu dokter utama dalam operasi pemasangan VAD mendadak. (*VAD : Implan buatan pengganti jantung sementara).
“Kamu masak banyak?” tanya Genta berusaha mencairkan suasana.
“Ini hari ulang tahun Anya, jelas aku masak banyak.” Raline memberikan balasan dingin.
“Tadi di perjalanan pulang, aku beli makanan favorit kamu.” Genta dengan semangat membuka bingkisan makanan yang sudah dibelinya dengan susah payah. Tadi di tengah kemacetan dan lebatnya hujan, Genta menyempatkan mampir ke restoran favorit istrinya.
“Aku juga beli blackforest kesukaan Anya, untung aja kuenya masih ada.” Lagi-lagi Genta menjelaskannya dengan riang gembira, seolah tak terusik dengan sikap dingin istrinya.
“Jalanan macet banget, aku sampai harus…”
“Kamu tahu kan hari ini ulang tahun Anya?” tanya Raline menginterupsi ocehan Genta yang mulai terdengar menyebalkan di telinganya.
Genta melepas barang bawaan di tangannya, dan dengan fokus penuh ia memusatkan perhatiannya pada Raline. Kali ini wajah Genta terlihat serius, tidak ada lagi ekspresi ramah seperti sebelumnya.
“Aku udah bilang di telepon kalo aku ada operasi mendadak.”
“Selalu begitu,” gumam Raline yang masih bisa didengar Genta dengan jelas.
“Bisa nggak sih sesekali kamu memprioritaskan aku dan Anya?”
“Kamu tahu aku ini dokter. Dari awal kita pacaran sampai akhirnya menikah, aku udah bilang kalau prioritas utamaku adalah pasien. Pasienku menggantungkan hidupnya ke aku, kamu tahu itu kan?” jelas Genta dalam satu tarikan nafas.
Genta lalu melanjutkan, “Aku juga udah berusaha semampuku buat selalu ada untuk kamu dan Anya. Tapi kalau usahaku selama ini masih kurang di mata kamu, aku minta maaf.”
Genta terlihat begitu putus asa, namun tampaknya Raline sama sekali tidak terkesan dengan permintaan maafnya. Dia malah semakin meledak-ledak.
“Asal kamu tahu, dari awal kita pacaran aku udah cukup bersabar. Awal kita menikah, aku juga udah banyak ngalah. Dan sekarang, setelah kita punya anak, kamu masih minta aku untuk ngalah? Demi pasien kamu? Persetan sama pasien kamu!! Aku mau hidup normal seperti wanita kebanyakan!”
Wajah Genta mulai mengeras. “Jaga ucapan kamu. Aku nggak mau Anya denger pertengkaran kita.”
Raline tertawa mengejek. “Kenapa? Kamu takut Anya tahu kalau papanya nggak pernah menomorsatukan dia?”
“Raline…” desis Genta yang mulai kesal dengan segala tingkah wanita itu.
Sebenarnya ini bukan pertama kalinya mereka cekcok. Beberapa bulan terakhir mereka memang sudah sering adu mulut, perkaranya tidak jauh-jauh dari Raline yang protes karena Genta selalu sibuk dan tidak ada waktu untuknya.
“Biar Anya tahu!! Biar dia tahu kalau papanya ini nggak lebih dari orang yang gila kerja!”
“Raline!!” sentak Genta yang mulai lepas kendali. Ia gagal menjaga volume suaranya.
“Jadi apa mau kamu?” tanya Genta setelah berhasil menenangkan emosinya. Sikap Raline yang keras tidak bisa dibalas keras.
“Aku mau kita cerai.” Seperti petir di siang bolong, Genta tidak menyangka akan mendengar kata keramat itu dari mulut istrinya.
“Kamu sadar apa yang barusan kamu bilang?”
“Ya, aku sadar. Saat ini aku sangat sadar dengan ucapanku. Jadi ayo kita cerai, kita sudahi hubungan kita.”
Genta menelan ludahnya dengan susah payah. Dia ingin mengatakan sesuatu namun tenggorokannya terasa tercekat. “Kamu bilang kamu bahagia dengan pernikahan kita,” ucap Genta dengan susah payah.
“Enam tahun itu bukan waktu yang sebentar, Raline. Kamu bilang kamu akan dukung aku, kamu akan selalu ada buat aku. Tapi sekarang apa?” Raut kekecewaan tampak jelas di wajah Genta.
Sudah 6 tahun ia dan Raline membina rumah tangga. Selama itu pula Raline selalu ada untuknya, menemani masa-masa tersulit di hidupnya, juga menyemangatinya. Tapi kenapa sekarang wanita itu seolah lupa dengan janji-janjinya?
“Kamu bisa, Genta! Aku akan selalu ada disini buat kamu.”
“Aku yakin kamu akan jadi dokter yang hebat di masa depan!”
“Anak kita pasti bangga punya papa seperti kamu.”
“Aku akan temani kamu sampai kapanpun.”
Janji-janji manis itu ternyata hanya omong kosong. Apa yang selalu Raline katakan padanya selama ini, ternyata hanyalah omong kosong.
“Aku menyerah, Genta. Aku nggak bisa bertahan dengan sikap gila kerja kamu,” kata Raline, membuat hati Genta berdenyut nyeri.
“Dengan sikap gila kerja kamu yang kayak gini, aku yakin nggak akan ada wanita yang tahan hidup sama kamu.”
“Kamu hanya akan membuat mereka sengsara, seperti halnya aku dan Anya.”
“Kamu hanya akan membuat mereka menderita!” sentak Raline, membuat Genta tertegun di tempatnya.
Kalimat demi kalimat Raline begitu menohok Genta. Gadis itu sudah berhasil menghancurkannya hingga tak bersisa.
Namun tanpa mereka sadari, ada gadis kecil yang tengah mengintip dari balik pintu kamar dengan tubuh yang gemetar. Gadis itu adalah Anya, anak yang hari ini genap berusia lima tahun. Ia mendengar setiap kalimat yang terlontar dari mulut kedua orangtuanya. Matanya mulai terasa panas. Ia bisa merasakan air matanya mulai berkumpul di pelupuk mata dan siap membasahi pipi kemerahannya kapan saja.
Anya yang malang. Hari yang seharusnya menjadi hari yang paling membahagiakan untuknya, kini justru menjadi hari yang paling menyedihkan di hidupnya. Hari ulang tahunnya menjadi hari dimana dia harus mendengar kabar perceraian kedua orang tuanya.