05. Kenapa, Tuhan?

1345 Kata
Beberapa saat lalu Nadine merasa jantungnya hampir lepas. Melihat ibunya kesakitan di depan matanya membuatnya panik setengah mati. Ia sempat membayangkan hal yang tidak-tidak tentang ibunya. Bagaimana kalau terjadi hal buruk pada ibunya? Bagaimana kalau ibunya tidak bisa bertahan? Bagaimana kalau… Sudahlah, ia tidak mau melanjutkannya. Yang terpenting sekarang ibunya baik-baik saja. Itu sudah cukup baginya, Nadine tidak mau memikirkan hal lain. “Mama yakin udah baikan?” Saat ini ibunya sudah berada di ruang inap. Setelah beberapa jam berada di IGD dan diberikan tindakan, ibunya kini sudah kembali segar seakan-akan kejadian mengerikan beberapa saat tadi tidak pernah terjadi. “Mama baik-baik aja. Tadi itu maag Mama kambuh,” balas ibunya santai—bahkan kelewat santai, seolah lupa sepucat apa wajahnya tadi. “Nad, habis ini Mama mau langsung pulang, ya? Tolong kamu bilangin ke dokternya.” Sedari tadi ibunya terus mendesak ingin pulang. Namun Nadine tidak bisa langsung mengiyakannya, dia masih harus menunggu keputusan dokter. “Kita tunggu kabar dari dokter dulu ya, Ma.” “Mama udah nggak papa. Kamu lihat sendiri kan? Lihat? Mama baik-baik aja.” Nadine tersenyum melihatnya. Benar, ibunya sudah baik-baik saja. Dan Nadine tidak bisa menggambarkan betapa lega dirinya. “Ma, janji satu hal ke Nadine ya?” “Janji apa?” “Janji Mama akan selalu baik-baik aja. Janji Mama nggak akan sakit-sakit lagi. Janji Mama…” Sesaat Nadine tidak bisa melanjutkan kalimatnya. Nafasnya terasa tercekat. Nadine mengambil napas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Setelah itu dia kembali melanjutkan kalimatnya, “Janji Mama nggak akan kemana-mana. Mama harus selalu ada disini, nemenin Nadine sampai kapan pun.” “Janji ya, Ma?” Iriana terdiam di tempatnya. Matanya menatap lekat putrinya yang saat ini memandangnya penuh harap. Perlahan bibirnya melengkung membentuk senyum, “Iya, Mama janji. Mama akan selalu ada buat kamu. Mama nggak akan kemana-mana.” Nadine lega mendengarnya. Nadine berharap ibunya akan benar-benar menepati ucapannya. Karena kalau tidak, dia tidak akan memaafkan ibunya. *** Seharusnya sekarang Nadine tetap berada di ruangan ibunya, menunggu dokter datang sehingga dia bisa bertanya kapan ibunya diperbolehkan pulang—berhubung ibunya terus saja menanyakan hal itu. Namun karena dokter tidak kunjung datang dan ibunya sudah keburu terlelap, jadi Nadine memutuskan untuk berjalan-jalan sebentar di sekitaran rumah sakit. Saat ini dia berada di Rumah Sakit Medika Wijaya, rumah sakit milik keluarganya. Tadi saat datang ke IGD, semua perawat mengenali ibunya dan langsung memberikan perawatan super tanggap. Namun mereka hanya mengenali ibunya, sedangkan dirinya tidak. Para pekerja di rumah sakit ini tidak ada yang mengenali dirinya—entah Nadine harus senang atau sedih. Sepertinya ayahnya serius soal menyembunyikan statusnya dari publik. Ayahnya sepertinya malu memiliki anak seperti dirinya. Kalau dipikir-pikir, Nadine memang tidak pernah diajak setiap kali ada pertemuan dengan rekan kerja ayahnya. Mungkin ayahnya takut kalau mereka menanyakan hal-hal semacam “Sekarang sedang kuliah dimana?”, “Ambil jurusan apa?”, “Sekarang kerjanya dimana?”—Ya, jika diajak pun Nadine yakin dia tidak akan berani menjawab pertanyaan-pertanyaan itu. Sudahlah, mau dianggap atau tidak Nadine tidak peduli. Hidupnya sudah cukup rumit dengan skripsi yang tak kunjung selesai, dia tidak mau menambah kerumitan dengan pertemuan-pertemuan semacam itu. Lagipula ada baiknya orang tidak mengenalnya sebagai putri Aryo Wijaya. Setidaknya Nadine tidak perlu terbebani dengan ekspektasi mereka. Tidak terasa sudah terlalu jauh Nadine berjalan mengitari rumah sakit. Dia lalu menemukan taman yang terlihat asri dan sepertinya menyenangkan jika menghabiskan waktu disana. Nadine duduk di salah satu kursi panjang yang kosong. Ia lalu tersadar kalau belum memberi kabar pada ayahnya maupun kedua kakaknya soal kondisi ibunya. Tadi ia terlalu panik sehingga tidak sempat menghubungi siapapun. Nadine mengeluarkan ponselnya berniat menghubungi keluarganya, namun dia menyimpan ponselnya kembali. Nanti, dia akan menghubungi mereka nanti. Saat ini Nadine ingin menikmati waktunya sendiri dulu. Terlalu banyak hal yang terjadi hari ini, dia butuh bersantai sejenak. “Kamu?” Suara berat dan serak mampir di indra pendengaran Nadine. Ia yang tadinya sudah memejamkan matanya langsung terbelalak. Pria itu? Ekspresi wajah Nadine langsung berubah keruh. Apa yang dilakukan pria itu disini? Yang benar saja, Tuhan? Dunia begitu luas, tapi kenapa dia harus bertemu dengan pria menyebalkan itu lagi? “Takdir bener-bener lucu, ya?” kata pria itu yang dibalas Nadine dengan dengusan kasar. Tidak. Bukan lucu, tapi kejam! Nadine benar-benar tidak ingin lagi bertemu—lebih tepatnya berurusan dengan pria di depannya ini. Ia harap pertemuannya di hotel malam itu menjadi pertemuan pertama dan terakhir, tapi sayangnya takdir seolah tengah mempermainkannya. “Mana jas saya?” todong pria itu tanpa aba-aba. Nadine yang ditodong pun hanya bisa terbengong seperti orang bodoh. Jas? Jas apa?! “Jangan bilang kamu lupa?” Wajahnya kini sudah berubah dingin, membuat Nadine langsung menggeser tubuhnya menjauh. “Jas yang kamu tumpahin jus kemarin malam! Masih nggak ingat?” Nada suaranya kini sudah naik satu oktaf. Nadine yang punya memori tidak seberapa itu mencoba mengingat-ingat. Ah, jas itu!! Dia ingat sekarang, tapi ada dimana ya jas itu? Nadine ingat membawanya malam itu, saat di mobil Oliver dia masih memegang jas itu di tangannya. Tapi setelahnya, Nadine sudah tidak pernah melihat keberadaan jas itu lagi. Apa jangan-jangan jas itu tertinggal di mobil Oliver? Kemungkinan itu membuat Nadine bergidik. Bagaimana ini? Bagaimana cara dia menjelaskan pada pria di depannya, bahwa jasnya saat ini kemungkinan tertinggal di mobil milik temannya? Kira-kira bagaimana respons pria galak ini? “Hey!!” Tiba-tiba pria itu menjentikkan jarinya tepat di depan wajah Nadine hingga membuat gadis itu tanpa sadar beringsut mundur. Nadine pikir pria ini berniat memukulnya. “Kamu dengar omonganku nggak?” Saking kesalnya pria ini sampai menggunakan bahasa non formal. “I-iya…” jawab Nadine seperti orang bodoh. “Jadi?” Bukannya menjawab Nadine malah kembali bengong. “Kamu bawa jasku kemana?!” sentak pria itu geregetan. Nadine tidak menyalahkan pria ini. Jika jadi dia, Nadine juga akan sama marahnya. “A-ada di rumah.” Nadine terpaksa bohong. Dia hanya berusaha menyelamatkan diri, dia tidak mau ditelan hidup-hidup oleh pria di depannya yang sudah seperti singa mengaum! “Sudah kamu cuci?” “Su-sudah.” Bohong lagi. Benar kata orang, berbohong hanya akan menciptakan kebohongan lainnya. Tapi mau bagaimana lagi? Keadaan memaksa Nadine melakukannya. “Mana HP kamu?” Pria itu berdiri di depannya dengan satu tangan menengadah. “Buat apa?” Tanpa sadar Nadine sudah menyembunyikan ponselnya di belakang tubuhnya. “Saya butuh nomer HP kamu.” Jawaban bodoh. Tentu saja Nadine tahu itu. Maksud Nadine mau apa pria ini meminta nomornya? Ada perlu apa? Seolah bisa membaca pikiran Nadine, pria itu pun kembali melanjutkan kalimatnya, “Biar saya gampang ngehubungin kamu. Saya masih mau jas itu balik.” “Nggak usah minta nomer segala. Kasih saya alamat kamu aja, nanti saya kirim sesuai alamat yang kamu kasih,” tolak Nadine. Dia tidak mau memberi nomornya ke sembarang orang. “Apa jaminannya kamu bakal beneran kirim jas itu ke alamat yang saya kasih?” Nadine melongo di tempatnya. Apa ini? Pria ini masih saja curiga padanya? “Kamu pikir saya masih bisa percaya sama kamu? Terakhir kali kita ketemu, kamu malah bawa kabur jas saya. Ingat?” Nadine yang tadinya ingin protes langsung mengatupkan bibirnya kembali. Memang benar sih, tapi Nadine tetap tidak akan bersedia nomornya diketahui oleh pria asing ini. Nomor ponsel itu privasi kan? Namun belum sempat Nadine berkelit, ponsel di belakang tubuhnya sudah keburu dirampas pria itu. “Apa-apaan, sih!” teriak Nadine tidak terima. Namun pria itu seakan tuli. Ia menekan-nekan ponsel milik Nadine tanpa permisi membuat Nadine semakin berang. Kini Nadine menyesal karena tidak pernah mengunci ponselnya dengan kode sandi. Setelah beberapa saat, ponsel milik pria itu berdering. Tangan satunya meraih ponsel miliknya sendiri dan menekan-nekan layarnya entah untuk apa—mungkin tadi pria itu menelepon nomornya sendiri melalui ponsel Nadine, dengan begitu dia bisa yakin jika nomor Nadine benar-benar aktif. Cerdik sekali! Setelah selesai dengan urusannya, pria itu mengembalikan ponsel Nadine yang diterima gadis itu dengan wajah memberengut. “Jangan coba-coba kabur, saya bisa lacak nomor kamu,” ucapnya yang tentu saja bohong. Dia dokter, bukan hacker! Namun ancamannya sepertinya cukup berhasil karena ia mendapati wajah gadis di depannya yang terlihat sedikit khawatir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN