bc

The Sound of Heartbreak

book_age18+
1
IKUTI
1K
BACA
love-triangle
fated
heir/heiress
drama
tragedy
sweet
city
like
intro-logo
Uraian

Elmo yang tengah menata kembali hidupnya, bertemu dengan Tiffany, seorang wanita tomboy yang membawa kehangatan dalam hari-harinya. Namun, di balik senyumnya, Elmo masih dihantui oleh bayang-bayang masa lalu—Caesar, mantan kekasih yang pernah menjadi bagian besar dalam hidupnya.Di saat Elmo mulai membuka hati untuk Tiffany, Caesar kembali, mengobrak-abrik perasaannya yang belum sepenuhnya pulih. Di antara kenangan lama dan kesempatan baru, Elmo harus memilih: meraih harapan baru bersama Tiffany atau kembali tenggelam dalam romansa yang belum terselesaikan dengan Caesar.Akankah Tiffany cukup kuat untuk tetap bertahan di sisi Elmo? Ataukah Elmo justru harus menghadapi kenyataan bahwa hatinya masih terikat pada masa lalu?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab 1
BAB 1 "Harapan Baru!" "Aku Elmo!" Di suatu malam yang sunyi, sinar bulan menyelinap masuk, menerobos celah di balik tirai yang setengah tertutup. Udara dingin pun ikut masuk, mendesak ruang kecil yang penuh dengan keheningan. Kamar itu tampak berantakan. Barang-barang berserakan di sana-sini tanpa pola yang jelas. Di sudut ruangan, sebuah gitar tergeletak begitu saja, diam membisu, seperti kehilangan fungsinya. Tak jauh dari situ, beberapa lembar kertas teronggok tak beraturan—coretan lagu yang belum selesai. Salah satu kertas itu bertuliskan: "A Letter to Caesar - Lyrics" Aku duduk di lantai, bersandar pada tempat tidur dengan tatapan kosong. Pikiranku mengembara, melayang tanpa tujuan. Hening. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar samar, seolah-olah mengingatkanku bahwa waktu terus berjalan, sementara aku tetap terjebak dalam masa lalu. Aku menatap langit-langit kamar yang kusam, bercak-bercak noda menghiasi sudutnya, seperti melambangkan hidupku yang penuh luka. Aku menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Rasa sesak di d**a ini tak juga berkurang. Aku mencoba memejamkan mata, berharap semua kenangan itu menghilang begitu saja. Tapi semakin aku mencoba melupakan, semakin jelas bayangan masa lalu itu muncul di benakku—wajah, suara, semua begitu nyata, seolah-olah mereka masih ada di sini... Perlahan, aku bangkit dan berjalan menuju jendela. Begitu jendela terbuka, udara malam yang dingin langsung menerpaku, membuat tubuhku sedikit menggigil. Aku menatap ke atas, mencoba mencari bintang. Tapi malam itu, awan tebal menutupi langit, seakan tidak ingin aku melihat cahaya bintang. Gelap. Langit begitu kelam. Namun, tidak lebih kelam dari hidupku. Hidup memang tidak pernah mudah. Semua orang pasti punya masalah, begitu pun aku. Masa lalu terkadang begitu sulit untuk dilupakan. Kenangan yang sudah terukir di dalam hati dan pikiran tidak bisa begitu saja dihapus. "Life must go on!" Sebuah kalimat yang terdengar klise. Mudah diucapkan, tapi sulit dijalankan. Itulah yang kurasakan. Aku melirik ke salah satu sudut kamar. Di sana, sebuah figura tergantung di dinding, berisi foto seorang cowok dan seorang cewek. Aku menatapnya lekat-lekat. Itu aku—bersama seseorang dari masa lalu. Dan seperti yang sudah kuduga, kenangan buruk itu datang menghantui lagi. Kenangan yang menyakitkan... Aku menghela napas panjang. Aku lelah. Aku ingin melupakan semuanya. Aku ingin berhenti merasa sakit. Tanpa berpikir panjang, aku mengambil sebuah botol Absolut Vodka dari meja kecil di dekat tempat tidur. Dengan tangan gemetar, kutuangkan cairan bening itu ke dalam sloki. Aku menyalakan sebatang ganja yang kusimpan di dalam laci. Aku ingin fly! Aku ingin terbebas dari semua rasa sakit ini! Walaupun aku sadar, ketika efek memabukkan ini hilang, semua kenangan buruk akan kembali menghantuiku. Tapi aku tidak peduli. Meskipun hanya sejenak, aku ingin melupakan semuanya! Aku ingin melupakan saat aku kehilangan adik-adikku. Aku ingin melupakan saat mamah meninggal. Aku ingin melupakan saat Caesar membuangku. --- Siang harinya, aku terbangun dengan kepala yang terasa berat. Sisa mabuk semalam masih terasa, membuat kepalaku pening. Aku duduk di pinggir tempat tidur, mengusap wajahku dengan kasar. Aku sadar... mabuk bukanlah solusi. Tapi setidaknya, itu satu-satunya cara yang bisa sedikit menghilangkan rasa sakit yang kurasakan, meskipun hanya sementara. Tiba-tiba, aku teringat akan pesan almarhum mamah. Suatu hari, sebelum beliau meninggal, beliau pernah melarangku untuk mabuk. Dan kemarin malam? Aku mabuk! Aku menundukkan kepala, merasa bersalah. "Oh, mamah... maafkan aku." Aku menyesal. Aku benar-benar menyesal. Aku sadar, depresi telah membuatku kehilangan kendali. Tapi aku tak bisa terus seperti ini. Aku harus berubah! Saat itu juga, aku berjanji pada diriku sendiri: Aku tidak akan mabuk lagi! Aku harus bangkit! Dengan tekad yang baru, aku bangkit dari tempat tidur dan berjalan menuju MP3 player yang tergeletak di atas meja. Aku butuh sesuatu untuk membangun semangatku. Aku memilih lagu: Asking Alexandria - The Final Episode Begitu lagu itu mengalun, aku merasakan energi mengalir ke seluruh tubuhku. Aku berjalan ke kamar mandi dengan langkah sempoyongan, lalu menyalakan shower. Saat air dingin menyentuh tubuhku, aku mulai berteriak, menyanyikan lagu yang sedang diputar dengan lantang: "Oh my God, oh my God, if only he knew... if only he knew!" Aku terus bernyanyi, meluapkan semua emosi yang tersisa. Aku merasa lebih baik. Aku merasa bersemangat. Aku siap menjalani hari ini! Orang-orang bilang, musik bisa mengubah suasana hati seseorang. Dan ya, itu benar! --- Hari itu, Minggu, 31 Januari 2010. Aku melirik jam dinding—sudah jam 15:00! Sial! Aku ada acara jam 16:00 nanti! Tanpa membuang waktu, aku segera bersiap. Aku bergegas menuju The Venue Concert Hall—tempat di mana salah satu band favoritku akan tampil. Mereka adalah Saosin! Aku tidak mau melewatkan kesempatan ini! Begitu tiba di lokasi, aku setengah berlari menuju pintu masuk. Aku tak ingin terlambat. Dan... BRAAAAK! Aku menabrak seseorang! "Ah! Kalau jalan, lihat-lihat dong!" bentak seorang cewek dengan nada kesal. Aku mengangkat tangan, meminta maaf. "Aduh, maaf, mbak! Aku buru-buru tadi. Maaf banget!" Dia menatapku sebentar, lalu bertanya, "Mau nonton Saosin juga?" Aku mengangguk cepat. "Iya, mbak." Dia tersenyum. "Ya udah, bareng aja. Gue juga mau nonton. Temen-temen gue udah di dalam. Gue juga telat, hehe." Aku memperhatikannya sejenak. Cewek ini lumayan cantik. Rambutnya pendek, matanya bulat dengan hidung yang mancung, dan bibir tipis yang terlihat sedikit kering. Dia mengenakan sweater band Aiden, celana black skinny jeans, dan sepatu Vans. Tomboy. Tapi tetap menarik. "Halo? Kok malah bengong?" Dia melambaikan tangannya di depan wajahku. "Ayo masuk, entar telat!" "Oh! Iya, iya!" Aku tergagap, sedikit terkejut ketika dia tiba-tiba menarik tanganku dan mengajakku masuk ke dalam gedung. Begitu kami masuk, tempat itu sudah penuh sesak oleh pecinta musik emo seperti aku. Suasana semakin panas saat band mulai memainkan lagu-lagu andalan mereka. Kerumunan mulai berteriak, melompat, dan berpogo. Aku ikut terbawa suasana. Aku melihat cewek tadi juga ikut berpogo, menikmati musik seperti orang yang sudah sering datang ke konser seperti ini. Sesekali, tubuh kami beradu. Aku bisa merasakan tubuhnya menyentuhku—sesuatu yang sudah lama tidak kurasakan. Di sela-sela konser, dia menoleh ke arahku dan tersenyum. "Gue Tiffany!" katanya lantang. Aku tersenyum balik. "Gue Elmo!" Kami saling bertukar pandang sejenak, lalu kembali tenggelam dalam kegilaan konser. Musik semakin menggila. Lampu-lampu panggung berkedip cepat, mengikuti irama yang dimainkan. Semua orang berteriak, bernyanyi, dan melompat. Dan di tengah kerumunan itu, aku merasa sesuatu yang berbeda. Mungkin... ini benar-benar harapan baru bagiku.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
195.7K
bc

Kali kedua

read
222.8K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.3K
bc

TERNODA

read
203.9K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
21.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.4K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.6K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook