Katanya mata itu adalah cerminan hati, dari mata yang tulus memliki hati yang ikhlas..
Unknown
***
Bruk..
Seorang gadis terpental dan akhirnya terjatuh akibat tabrakan dengan seorang pemuda yang sedang berjalan terburu-buru ke luar dari perpustakaan sedang gadis itu yang ada dalam salah rak buku dekat pintu perpustakaan.
Gadis itu mengaduh. "Aduh.." sambil menunduk.
Pemuda itu yang ternyata Aaron itu berbalik lalu melihat korban yang ditabraknya, dengan menghela napas Aaron menghampiri gadis itu lalu mengulurkan tangannya berniat membantunya berdiri.
"Maaf gue nggak sengaja! Ayo sini gue bantu berdiri."
Gadis yang tadinya menunduk, dengan cepat mengangkat wajahnya dan menatap Aaron dengan polos. Begitu pandangan mereka bertemu Aaron tertegun begitu melihat dari dekat mata bulat yang indah milik gadis itu, setelah sempat terpaku beberapa saat.
Gadis itu langsung berdiri sendiri lalu berkata. "Iya nggak papa kok, Kak." Belum sempat Aaron membalas, gadis itu sudah menghilang di balik rak-rak buku perpustakaan. Aaron yang tersadar hanya bisa menghembuskan napasnya.
Pasti wajahnya sangat bodoh tadi, saking terpesonanya pada wajah mungil milik gadis itu, ia sampai tak sadar gadis itu pergi. Apalagi dengan mata bulat yang indah itu. Batinnya bertanya-tanya , siapa gerangan gadis itu. Kenapa ia tak pernah melihatnya di sekolah ini. Apa gadis itu murid baru?
Aaron bahkan melupakan kenapa ia tadi terburu-buru berlari ke luar dari perpustakaan, akhirnya dengan langkah pelan ia kembali pada niat awalnya yaitu meninggalkan perpustakan. Namun langkahnya terhenti ketika sebuah sapu tangan terinjak olehnya berwarna biru navy dengan motif garis-garis putih yang manis.
Dengan penasaran Aaron mengambilnya lalu menatapnya dengan lekat, setelah ia perhatikan ada sebuah huruf di ujung sapu tangan itu dengan inisial 'R-R'. Dan menduga kalau sapu tangan ini milik gadis yang ia tabrak tadi. Akhirnya Tuhan seperti punya takdir untuk bertemu dengan gadis itu kembali. Ya, walaupun ia yakin akan kembali bertemu dengan gadis itu tanpa nama milik sapu tangan ini.
Sebab mereka ada di sekolah yang sama, tak menutup kemungkinan mereka akan kembali bertemu, dengan senyuman yang lebar Aaron berjalan ke luar dari perpustakaan ini sambil mengenggam sapu tangan itu.
"Hoii bro," teriak Ibnu menyadarkan Aaron dari lamunan beberapa tahun silam sewaktu ia masih kelas 3 SMA, gadis yang tak sengaja ia temui di perpustakaan sekolahnya dulu. Dan sampai sekarang pun ia belum pernah bertemu dengan gadis bermata bulat itu.
Ya, itu adalah pertemuan pertama dan terakhirnya dengan gadis yang bahkan ia tak tahu namanya. Bahkan Aaron sampai mencari-cari gadis itu, mulai di perpustakaan, kantin, taman sekolah, kelas ke kelas mulai dari kelas satu, dua, sampai kelas tiga. Namun hasilnya nihil.
Akhirnya sampai ia tamat SMA pun, gadis itu tak ia temukan. Dan sampai sekarang pun sapu tangan milik gadis itu masih ada padanya.
Melihat Aaron masih asyik dengan pikirannya membuat Ibnu memukul pelan lengannya. "Hoiii," teriaknya lagi.
Aaron tersentak kaget lalu menatap Ibnu dengan malas, "Apaan sih lo?" sahutnya jengkel.
Ibnu memutar bola matanya jengah, "Harusnya itu gue yang tanya, lo apaan sih? Nyuruh gue temanin lo makan di sini malah gue dicuekin."
Aaron mendengus sebal, "Lo kayak cewek yang merajuk gara-gara dicuekin sama pacarnya."
"Enak aja gue dibilang cewek yang merajuk, lo tuh yang kayak cewek yang lagi galau ditinggal nikah mantan."
Aaron mencibir kearah Ibnu, memang kali ini ia ada di salah satu cafe yang ada didekat Apartement Ibnu. Aaron memang sengaja mengajak Ibnu untuk nongkrong berdua saja sebab ada yang ingin ia ceritakan pada sahabatnya itu. Walaupun kadang Ibnu suka sekali tak serius jika diajak bicara namun Aaron sangat nyaman mengutarakan semuanya pada sahabatnya itu.
Berbeda dengan Komo yang punya pandangan luas pada setiap masalah dan dengan mudah memberikan solusinya sangat dewasa dan bijaksana tapi Aaron tetap tak bisa bicara kalau sama Komo semua yang menganggu pikirannya selama ini.
Ibnu menatap Aaron dengan serius. "Ada masalah apa lo? Lo nggak mungkin ngajak gue nongkrong berdua hanya untuk menonton lo melamun, kan? Karena kalau benar, mending gue kembali ke Apartement gue dan tidur sepuasnya."
"Gue kayaknya jatuh cinta deh Nuk," akunya.
Ibnu yang sedang meminum teh hangatnya menyemburkan ke luar ketika Aaron mengatakan sesuatu yang sangat besar.
"Serius lo?" pekiknya tak percaya.
Anggukan kepala Aaron menandakan kalau ia serius ketika mengatakannya.
"Sejak kapan?" tanya Ibnu setelah berhasil menguasai wajahnya yang tadi sempat kaget bukan main.
"Sejak gue bertemu dengan gadis itu."
"Siapa namanya?" tanya Ibnu kembali, dengan wajah penasaran.
Aaron tersenyum geli kala mengingat wajah manis Rishi. "Namanya Rishi," gumamnya sambil terus tersenyum.
Ibnu tahu Aaron yang di depannya ini sedang jatuh cinta sungguhan, terbukti ketika Aaron menyebut nama gadis yang disukainya mata Aaron berbinar bahagia.
Ibnu tersenyum tipis, "Dimana kalian bertemu?"
Aaron menatap Ibnu lalu bercerita, "Awalnya kami bertemu dengan insiden kecil, waktu itu gue sedang menunggu pesanan tiket konser Celine Dion punya Alle dan Elle lalu ketika gue keluar menuju mobil gue, tiba-tiba kepala gue seperti di lembar baru kecil dan ternyata pelakunya adalah gadis itu. Mulanya gue marah dong tapi setelah gue menatap matanya, rasanya dunia gue terhenti. Apalagi melihat wajahnya dari dekat gue merasa familiar dengan matanya yang indah," Aaron berhenti sejenak sebelum melanjutkan.
"Tapi waktu dia minta maaf, gue nggak bisa marah apalagi melihat wajahnya yang polos. Ya dengan nekat gue menawarkan bantuan karena gue lihat dia kayak lelah. Dia nolak dong awalnya namun setelah gue bujuk akhirnya dia mengalah dan setelah mengantarkan dia pulang besoknya gue malah ketemu dia di rumah gue. Kebetulan yang indah bukan karena ternyata Bunda itu langganan toko bunga tempatnya bekerja." Aaron masih tersenyum mengingat pertemuan pertama mereka.
"Love at first sight eh?" ejek Ibnu.
Aaron menatapnya dengan serius. "Awalnya gue nggak yakin tapi kayaknya memang gue udah jatuh cinta seperti yang gue bilang tadi."
Ibnu tersenyum tipis melihat betapa bahagianya Aaron ketika menceritakan masalah seorang gadis ditemuinya, Ibnu turut bahagia bagaimana tidak. Ini kedua kalinya Aaron cerita tentang seorang gadis yaitu gadis masa lalunya dan juga gadis ini. Hidup Aaron tak pernah kelilingi orang banyak gadis. Hanya keluarganya dan juga Gigi yang ada dihidupnya.
"Gue kira lo selama ini nggak normal." Ibnu terbahak-bahak.
"Sialan." Aaron melempar tissue yang ada ditangannya pada Ibnu.
"Jadi lo sekarang lagi PDKT dong?"
Aaron menghela napas, "Gimana mau PDKT, dia aja kalau kita ketemu selalu menghindar dan ingin cepat-cepat pulang," Aaron kembali menatap Ibnu. "Kayaknya ada yang dia sembunyikan deh Nuk, sebab waktu gue antar pulang kedua kalinya dia malah minta di turunkan agak jauh dari rumahnya, menurut lo orangtuanya melarang dia nggak ya?"
Ibnu menaikkan alisnya tampak berpikir. "Bisa jadi sih, atau bisa juga dia udah punya pacar dan takut kalau pacarnya marah kalau dia dekat-dekat sama cowok lain." Ibnu menyimpulkan.
Aaron mengangguk membenarkan. "Bisa jadi sih, tapi kenapa gue kayak nggak rela ya kalau dia memang udah ada yang punya."
"Yaudah.. Kekepin aja Aar," saran Ibnu santai.
"Enak aja! Lagian kan belum tentu juga dia udah punya pacar. Maka dari itu gue harus cari tahu."
"Yayaya.. Terserah lo dah, tapi kalau lo patah hati jangan cari gue ya."
"Bangke lo! Lo bukannya kasih semangat kek, apa kek, ini malah dijatuhin aja," dengus Aaron.
"Gue hanya kasih tahu kemungkinan terburuk yang akan lo dapat nanti Aar."
Anggukan Aaron menutup aksi curhatnya kali ini. Ia sedang berpikir, benar juga apa yang dikatakan Ibnu tadi. Siap tak siap, ia harus menerima apa yang akan ia dapat nanti.
Tanpa menunggu waktu lebih lama lagi, Aaron bergerak secepatnya..
Bersambung...