Dengan mengatakan "aku sayang padamu" Semuanya terasa benar, dan aku sangat yakin akan hal itu..
Aaron Kenzo
***
Rishi tiba di rumahnya setelah habis maghrib, ia sengaja pulang terlambat demi menghindari ibu dan ayahnya. Bahkan Rishi sholat maghrib dimasjid dekat toko tempatnya bekerja sebelum akhirnya memilih pulang karena walau ia sempat kecewa pada orangtuanya Rishi tak mau membuat ayah dan ibunya khawatir.
Begitu masuk ke dalam ruang tengah yang sudah ada ayahnya duduk seperti biasa menunggu sang ibu memasak makan malam yang pastinya dibantu oleh adiknya, Rifa. Darman yang melihat Rishi berjalan menuju kamarnya otomatis menengur putri sulung kesayangannya.
"Mbak, lembur lagi?" tanya Darman.
Rishi yang beberapa langkah lagi mencapai kamarnya menghentikan langkahnya lalu berbalik pada ayahnya.
"Iya Yah! Nggak keburu kalau sholat di rumah makanya aku sholat di masjid dekat toko," jelasnya.
"Yaudah, ganti baju ya Mbak. Habis itu ke luar makan malam bersama."
Rishi hanya mengangguk, "Kalau gitu aku masuk kamar dulu Yah." Rishi berbalik kembali masuk ke dalam kamarnya dan segera mengganti pakaiannya dengan baju rumahan, sebenarnya ia malas makan malam namun ia tak boleh egois dan membuat ayah dan terutama ibunya bersedih.
Akhirnya setelah berganti pakaian, Rishi langsung ikut bergabung makan malam bersama keluarganya. Rishi memilih diam selama makan malam berlangsung. Tak ada yang bersuara bahkan Rifa yang biasanya berisik juga ikut diam sambil terus melirik kakak, ayah, dan ibunya secara bergantian.
Selesai makan Rishi yang akan segera berdiri membawa piring kotornya didapur untuk dicuci ditahan oleh suara berat ayahnya.
"Mbak, habis makan Ayah mau bicara sama Mbak. Ayah tunggu di teras depan ya." Rishi yang tahu kalau ia tak bisa lagi menghindar akhirnya memilih mengalah dengan menganggukkan kepalanya pasrah.
Setelah mencuci piringnya Rishi melangkah kearah teras rumahnya tempat ayahnya sudah menunggunya untuk bicara. Begitu tiba di depan rumah Rishi melihat ayahnya duduk sambil menatap kegelapan yang lurus kedepan. Namun begitu menyadari kalau Rishi sedang berdiri depan pintu sambil menatap ayahnya.
Darman tersenyum lembut. "Ayo Mbak, duduk di sini." Darman menggeser duduknya kesamping dan menepuk pelan bangku yang kosong di sampingnya.
Rishi mendekat lalu duduk tepat di samping ayahnya dalam diamnya. Rishi menunggu ayahnya membuka suara terlebih dahulu.
"Apa yang Mbak mau ketahui?"
Rishi menatap ayahnya dari samping yang ternyata juga sedang menatap Rishi dengan senyuman di bibir Darman.
"Semuanya," jawabnya.
Darman menghela napas. "Ayah dan Ibu memang masih sering komunikasi sama Mbak Ulfa dan Mas Radit. Awalnya kami mau cerita sama kamu, tapi Mbak Ulfa minta agar kamu jangan tahu dulu, takutnya kamu akan kepikiran sama semuanya di sana. Lalu akhirnya kami semua sepakat untuk tidak memberitahukanmu dulu sebelum semuanya pasti. Namun kabar yang di bawa Mbak Ayu juga itu benar amanah dari Mbak Ulfa karena Mbak Ulfa tidak mau kalau menyampaikan malalui kami."
"Katanya kamu dikasih tahu dulu sama Mbak Ayu baru setelah kamu tahu, Ayah dan Ibu baru menjelaskan semuanya. Sampai sini ada yang mau Mbak tanyakan?"
"Berapa lama Ayah masih berkomunikasi dengan Mami Ulfa?"
Darman menatap putrinya dengan sayang. "Seminggu setelah mereka semua pergi ke Amerika, Mas Radit langsung menghubungi Ayah melalui Mbak Ayu. Dan berkata agar kita semuanya bersabar untuk semuanya dan juga Mas Radit berpesan agar menjaga kamu untuk sementara sebelum mereka kembali lagi ke sini."
Mata Rishi berkaca-kaca kembali seperti menahan tangis. "Tapi seharusnya kalian jujur sama aku, bertahun-tahun aku menunggu dengan rasa cemas dan khawatir yang sangat besar."
Darman menarik putri kesayangan dalam delapannya. "Maaf karena telah membuat Mbak merasakan cemas dan khawatir yang begitu besar, kami hanya ingin kamu tidak kepikiran akan semuanya tapi kami malah salah karena justru selama ini Mbak kepikiran disana terus. Maafkan Ayah dan Ibu, Mbak.."
Tangis Rishi pecah akibat pernyataan ayahnya apalagi ayahnya seperti merasa bersalah dan memohon maaf padanya, membuat Rishi yang tadinya kecewa akan sikap ketidakjujuran ayah dan ibunya selama ini menghilang sudah digantikan dengan rasa menyesal karena telah mendiamkan orangtuanya sepanjang hari ini.
Rishi membalas pelukan hangat ayahnya tak kalah erat, sambil terus menangis meluapkan rasa menyesalnya pada orang yang paling berjasa dalam hidupnya selama ia hidup, Rishi tak akan kuat kalau saja tak ada Ayah dan ibunya di sampingnya.
Darman yang mengerti emosional putrinya hanya menepuk pelan punggung Rishi sampai putrinya merasa tenang kembali. Wati yang mengintip dari dalam rumahnya hanya bisa menangis dalam diam sebab putrinya harus mengalami hidup berat seperti ini, Wati kira hidup putrinya akan bahagia setelah ia harus merelakan melepaskan Rishi untuk kebahagian putrinya. Malah takdir berkehendak lain, memang benar manusia hanya bisa berencana namun tetap Tuhan yang menentukan semuanya.
Setelah merasa agak tenang Rishi melepas pelukannya ayahnya, "Seharusnya aku yang minta maaf pada Ayah dan Ibu karena telah mendiamkan kalian."
Darman tersenyum lembut. "Tidak papa Mbak, seharusnya memang dari awal kita bicarakan supaya tidak ada kesalahpahaman diantara Mbak, Ayah dan Ibu. Sekarang Mbak minta maaf sama Ibu ya, sedaritadi mukanya sangat masam Mbak diamkan seharian ini."
Rishi mengangguk lalu dengan cepat berdiri melangkah masuk kedalam rumah untuk meminta maaf dengan sang Ibu. Namun ketila baru akan masuk, Rishi melihat ibunya sedang berdiri tak jauh darinya sambil menangis dengan kedua tangan menutup wajah tuanya.
Rishi seperti ditikam benda tak kasat mata saat melihat orang yang sudah mempertaruhkan hidup dan mati untuknya sedang menangisinya akibat ketololannya mendiamkan ibunya sampai membuat wanita yang melahirkannya menjadi sedih. Rishi segera berlari lalu menubruk tubuh ringkih ibunya dengan sayang.
Wati terkejut bukan main ketika ada yang memeluknya erat, lalu ketika beliau membuka kedua tangannya, Wati melihat beliau sudah ada dalam dekapan putrinya. Dengan cepat membalas pelukan Rishi tak kalah erat. Sepasang ibu dan anak itu berpelukan sambil menangis, menumpahkan segala rasa sedih, kecewa, dan haru secara bersamaan.
Darman yang melihat adegan itu dari depan pintu hanya tersenyum lembut.
***
Aaron sedang menatap toko bunga di depannya sejak setengah jam yang lalu, sekarang jam sudah menunjukkan pukul lima tepat, berarti sebentar lagi gadis yang sedaritadi yang ditunggunya akan pulang. Ia sengaja datang ke tempat kerja gadis itu karena ada yang ingin Aaron katakan padanya.
Sebuah rasa yang selalu mengganggunya sejak ia bertemu dengan gadis mata bulat itu, gadis yang begitu mirip dengan gadis semasa ia SMA yang sekarang masih terus ada dalam hatinya. Awalnya ia merasa tak adil kalau menyukai Rishi karena gadis itu begitu mirip dengan gadis masa lalunya.
Namun semakin kesini, rasa kepada gadis masa lalunya dan gadis pengantar bunga itu berbeda. Rasa ingin bertemu dengan Rishi sangat besar dibandingkan rasa ingin tahunya pada gadis masa lalunya, walaupun ia memang sangat ingin tahu siapa nama gadis yang sampai sekarang sapu tangan gadis itu ada padanya namun tak sebesar rasa rindunya pada Rishi.
Begitu melihat Rishi ke luar dari toko bunga dengan senyum lebar Aaron melangkah mendekati Rishi yang tampak serius mengaduk-ngaduk isi tasnya seperti mencari sesuatu. Rishi yang menyadari ada bayangan di depannya langsung mendongak dan begitu melihat siapa sosok pemuda itu membuat Rishi terkesiap yang ternyata Aaron.
Aaron tersenyum lebar. "Hai," sapanya ramah.
Rishi masih menatap datar setelah bisa menguasai dirinya tadi, "Ada apa?"
"Kita pulang bareng yuk?" ajak Aaron.
"Pulang?" tanya Rishi tak percaya, "Maaf ya! Sepertinya kita nggak punya kedekatan khusus untuk saling mengajak pulang satu sama lain," sambung Rishi.
Bukannya tersinggung Aaron malah tertawa seolah Rishi lagi melawak di depannya, "Kalau kamu mau, kita bisa menjalin hubungan kedekatan seperti yang kamu bilang tadi." Aaron mengerling jahil.
Rishi malah mendengus sebal. "Maaf, saya harus segera pulang. Permisi." Gadis itu melangkah cepat melewati Aaron namun tidak dibiarkan oleh pemuda itu begitu saja.
"Tunggu sebentar," tahan Aaron. Rishi berbalik sembari menunggu apa yang ingin Aaron katakan lagi. "Kenapa kamu seperti anti dengan lawan jenis? Apa kamu pencinta sesama."
Rishi melototkan matanya tak percaya mendengar pernyataan keluar dari mulut pemuda yang ada di hadapannya ini. Aaron yang terlihat santai namun tetap was-was menunggu reaksi Rishi. Ia tahu melukai ego gadis ini bukan pilihan bijak untuk mendapatkan perhatian Rishi.
Namun Aaron seperti kehabisan akal melawan Rishi yang terus saja menolak kehadirannya, Aaron baru kali ini mendekati seorang gadis tetapi sangat sulit bahkan untuk diajak pulang bersama. Apa karena ia kurang pengalaman dalam hal perempuan. Kayaknya gue harus belajar banyak sama Ibnu deh. Batinnya.
Sedang Rishi yang wajahnya sudah memerah akibat tersinggung akan Aaron ungkapkan tadi menatap pemuda itu dengan mata yang sangat tajam namun tetap ada kelembutan di sana. Menutup mata menghilangkan rasa kesal dihatinya, setelah menguasai diri Rishi membuka matanya.
"Baiklah, ini yang terakhir.. Setelahnya saya harap kita bertemu kalau memang masalah pembayaran hutang saja selebihnya nggak boleh," tegasnya.
Aaron tersenyum menang, "Tapi kalau kita bertemu karena takdir, apakah aku harus melawannya juga?" tanya Aaron sambil menyeringai.
"Kalau itu takdir maka jangan saling menegur saja, saya rasa itu paling baik."
Aaron mengepalkan tangannya tanda marah, gadis dihadapanya ini sungguh keras kepala namun itu tak menyurutkan semangat Aaron untuk terus mendekatinya. Karena Aaron yakin suatu saat mereka akan menjadi sepasang kekasih atau bahkan suami-istri.
Mungkin ini terdengar sangat percaya diri, namun entah mengapa Aaron sangat yakin akan hal itu.
"Kita lihat saja nanti," ucapnya lalu sambil berlalu menuju mobilnya namun Rishi tetap berdiri ditempatnya sambil terus menatap Aaron.
Pemuda itu berbalik, "Ayo! Katanya mau pulang."
Rishi masih menatap Aaron. "Saya harap setelah hutang saya lunas, kita nggak akan bertemu lagi," tekannya.
Aaron terdiam sambil menatap tajam Rishi tepat dimatanya, "Tapi aku nggak yakin dengan harapan kamu, sebab ada Tuhan yang maha tahu. Kamu boleh berharap tapi kalau Tuhan menginginkan kita kembali bertemu, sekeras apapun kamu mengelak kita akan tetap bertemu.. Selalu."
"Kenapa kamu keras kepala sih?" jujur Rishi sudah sangat lelah namun pemuda ini masih saja ngotot.
"Karena aku sayang sama kamu," ujar Aaron mantap. Membuat tubuh Rishi menegang seperti patung. Dan hal itu membuat Aaron makin penasaran pada hidup gadis di depannya ini.
Bersambung...