16. Pantang Menyerah

1358 Kata
Sejauh apapun kamu pergi, aku akan tetap mengejarmu sampai kapanpun..  Aaron Kenzo *** "Karena aku sayang sama kamu," ujar Aaron mantap. Membuat tubuh Rishi menegang kayak patung. Dan hal itu membuat Aaron makin penasaran pada hidup gadis didepannya ini.  Rishi menatap Aaron kembali tapi tatapan kali ini sangat berbeda dari biasanya yang tajam dan datar. Kini tatapan itu menjadi sangat dingin. Aaron yang melihat ada perubahan dalam mata Rishi hanya terdiam. Walau dalam hatinya bertanya-tanya.  "Jangan saya." Rishi berjalan mendekati Aaron yang masih berdiri terdiam. "Dan maaf kayaknya saya nggak bisa pulang bareng kamu. Juga jangan pernah datang kesini untuk bertemu saya lagi jika bukan karena pembayaran hutang," lanjutnya dingin lalu berjalan melewati Aaron yang masih diam mencerna semua perkataan Rishi yang sangat dingin itu.  Bahkan saat Aaron berbalik kearah Rishi, gadis itu sudah menghilang dari pandangannya. Aaron pun pulang dengan harapan kosong. Tok.. Tok.. Tok..  Ketukan pintu membuat Aaron tersadar dari lamunannya, akhir-akhir ini memang ia sering sekali melamun bukan namun sejak mengenal gadis bernama Rishi. Tak dapat jawaban dari pemilik kamar, pintunya terbuka dari luar dan ternyata adik kembarnya bernama Elle.  "Bang Aar, boleh masuk nggak?" Kepala Elle menyembul dari pintu kamar Aaron.  Aaron mengangguk. "Ayo sini masuk," suruhnya.  Elle berjalan masuk kedalam kamar kakaknya lalu dengan pelan duduk di tepi ranjang Aaron. Elle terlihat ragu ingin mengatakan sesuatu terbukti dari gerakan bibir Elle yang terbuka seperti ingin bicara namun kembali menutupnya. Aaron yang sadar adiknya tak akan buka suara juga akhirnya bertanya.  "Ada apa Elle?" Elle tersenyum canggung. "Em.. Ini Bang, aku mau minta nomor ponselnya Bang Komo."  Aaron mengerutkan keningnya. "Buat apa?" tanyanya kembali dengan nada datar pasalnya tumben-tumbenan adiknya ini minta nomor sahabatnya. Bukannya apa adik-adiknya memang dekat sama sahabat-sahabatnya namun hanya ngobrol basa-basi saja dan kadang hanya tersenyum kalau mereka bertemu di rumah ini ketika sahabatnya nongkrong di rumahnya.  Elle makin gelisah apalagi ditambah tatapan tajam dari kakaknya. "Em.. Itu Bang, aku mau minta tolong sama Bang Komo." Tatapan Aaron makin tajam. "Ngapain kamu minta tolong sama Komo?" tanyanya sewot.  Elle menunduk takut. "Emm itu Bang, bukan aku yang minta tapi Alle."  "Alle?" teriak Aaron sambil melotot. "Kenapa Alle yang minta?" Elle menghembuskan napasnya. "Katanya Alle mau minta tolong sama Bang Komo." "Minta tolong apa? Kenapa harus si Komodo itu?"  Elle menahan tawanya saat Aaron dengan gamblangnya mengatakan nama Komo dengan Komodo. "Ih Abang, mana aku tahu." "Bohong!! Kenapa harus kamu yang minta? Mana Alle?"  Elle menujuk kearah pintu kamar Aaron yang tak tertutup rapat, rupanya Alle sedang mengintip dari luar untuk mencuri dengar pembicaraan antara Aaron dan Elle.  "Sudah puas mengintip Alle? Sekarang masuk kesini," perintah Aaron tegas.  Alle yang sudah ketahuan mendorong pelan pintu kamar Aaron lalu masuk kedalam sambil cengengesan. Alle duduk disamping Elle di tepi ranjang. Aaron menatap kedua adik kembarnya dengan tajam.  "Kenapa kamu minta nomor Komo?" Alle salah tingkah. "Anu.. Bang.. Itu.."  "Itu apa?" "Kami ada perlu sama Bang Komo," jawab Alle santai.  "Perlu apa?" tanya Aaron kembali.  "Ya, Ada deh Bang." Alle tersenyum manis pada Aaron.  "Yaudah kalau gitu Abang nggak akan kasih tahu."  "Ih Abang kok gitu sih," protes Alle. Aaron malah menatap Alle tajam.  Alle mengendus sebal. "Yaudah kalau nggak mau ngasih, kami bisa minta sama Bang Ibnu atau Mbak Gigi aja." Aaron melotot tajam. "Ayo Kak Elle, kita keluar aja." Alle menarik tangan Elle dengan lembut mengajaknya ke luar dari kamar Aaron yang diikuti tatapan tajam dari pemuda itu.  Setelah pintu kamarnya tertutup sempurna, Aaron dengan cepat mengambil ponselnya lalu menghubungi Komo. Dering ketiga akhirnya teleponnya diangkat oleh Komo.  "Hallo," sapa Komo di seberang sana.  "Lo apakan kedua adik kembar gue, hah?!" teriak Aaron penuh emosi.  "Lo kenapa pakai teriak sih?" jengkel Komo yang ternyata sedang berada di kantor ayahnya.  "Abisnya gue marah sama lo." "Emang gue kenapa? Perasaan gue nggak ada salah sama lo." Aaron menarik napas. "Lo apakan adik gue?" "Siapa?" "Alle dan Elle." "Emang kenapa sama kesayangan gue?" tanya Komo panik.  "Kesayangan lo bilang?!" Aaron tambah emosi jiwa mendengar Komo menyebut kata 'kesayangan' kepada kedua adik kembarnya. "Jangan pernah panggil Alle dan Elle kesayangan lo." "Yaelah, emang kenapa sama Elle dan Alle?" Komo memilih mengalah saja walaupun rasa khawatir tak bisa ia tutupi.  "Alle dan Elle tanya nomor ponsel lo ke gue," jelas Aaron.  "Lo kasih kan nomor gue?" tanya Komo dengan semangat. Bagaimana tidak girang si Komo, pasalnya Alle dan Elle tak pernah bicara intens dengannya selama ia bersahabat dengan Aaron. Paling hanya senyum saat berpapasan atau bicara basa-basi saja.  "Nggak!! Nggak akan pernah, dan lo juga jangan pernah ambil kesempatan kalau adik gue nelepon lo ya," perintah Aaron ketus.  "Kok gitu sih? Kalau adik lo nelepon masa gue harus cuekin gitu aja," keluh Komo frustasi.  "Iya, jangan coba-coba lo dekati adik gue ya!" "Lo kenapa sih? Sensi banget sama gue?" "Karena gue nggak mau adik gue yang masih kecil kena virus dari lo." "Emang gue ini penyakitan apa? Yaudah, gue rela tunggu adik lo deh sampai tamat SMA." Komo di seberang sana masih melakukan negosiasi.  "Sekali nggak tetap nggak ya," putus Aaron. "Lo kan buaya darat, cari mangsa lain jangan adik gue!! Ngerti?" Klik..  Bahkan sebelum mendengar jawaban Komo, Aaron sudah menutup sambungan teleponnya. Ia membaringkan tubuhnya di ranjangnya, sambil memijat pangkal hidungnya Aaron menutup matanya. Belum masalahnya sama Rishi selesai datang lagi masalah adiknya yang ingin mendekati sahabatnya yang terkenal buaya darat itu, walau lebih biaya si Ibnu sih.  *** Keesokan harinya Aaron kembali ke toko bunga tempat Rishi bekerja, namun kali ini bukan untuk menjemput Rishi pulang melainkan mengajaknya makan siang. Ya, Aaron datang pada saat jam makan siang tiba. Kebetulan di kantor ayahnya ia juga diberi waktu makan siang sejam seperti karyawan bisanya.  Aaron masuk dengan percaya diri ke dalam toko, begitu ia masuk pemuda itu disambut oleh Diana yang sedang ada dimeja kasir tepat disamping pintu masuk.  "Selamat datang," sapanya ramah, Aaron hanya tersenyum lalu matanya bergerak sekeliling seperti mencari seseorang. Diana yang menyadari tingkah aneh Aaron langsung bertanya.  "Anda mencari bunga apa?" Aaron berbalik lalu meringis salah tingkah. "Sebenarnya saya ke sini cari pegawai anda yang namanya Rishi?" Diana tersenyum begitu tahu ternyata pemuda ini adalah anak dari pelanggan tetapnya, ibu Kinan. "Kamu anaknya Ibu Kinan, kan?" walau Diana tahu tetapi ia hanya ingin mamastikan lagi.  Aaron mengangguk lalu kembali bertanya. "Boleh tahu Rishi dimana?"  Diana langsung salah tingkah akibat lupa menjawab pertanyaan Aaron tadi. "Ada kok di dalam, mau saya panggilkan?" tawar Diana. Aaron tak langsung mengangguk ia seperti ragu untuk bertanya namun Diana sangat menyadarinya.  "Kenapa?"  Aaron menatap Diana. "Emm, apa di sini punya jam makan siang?" Diana mengerutkan dahinya tanda bingung. "Iya, ada kok. Kalau pegawai makan di luar biasanya saya kasih waktu sejam doang sih." Walaupun sebenarnya Diana masih bingung namun ia tetap menjawabnya.  Aaron tersenyum lebar. "Kalau begitu boleh saya ajak Rishi makan siang?" Diana langsung tersenyum mengerti begitu mengetahui maksud awal Aaron datang ke tokonya.  "Oh boleh dong, tunggu sebentar ya saya panggilkan Rishi dulu." Dengan semangat Diana masuk kedalam ruangan sebelah kiri mungkin di mana Rishi berada, Aaron hanya terkekeh senang melihatnya berarti perjuangannya tak akan berat sebab ada yang mendukungnya untuk mendapatkan Rishi.  Tak lama Rishi dan Diana ke luar dari ruangan tersebut, wajah Rishi kentara sekali terkejut apalagi melihat Aaron ada di tokonya sambil tersenyum santai seperti tidak ada yang terjadi kemarin. Namun dengan cepat ia kendalikan wajahnya kambali datar.  "Nah ini Rishi. Kalian boleh kok makan siang di luar," ujar Diana senang tanpa sadar bola mata Rishi sudah mau keluar saking kagetnya.  "Maksud Mbak?" Rishi memandang Diana dengan tatapan bertanya.  "Ini loh Rish, Aaron ngajak kamu makan siang bareng." Rishi yang tadinya menatap Diana beralih ke Aaron yang terlihat tersenyum lebar.  "Tapi saya mau makan sama Rara, Mbak." "Loh kamu nggak kasihan sama Aaron yang sudah repot-repot mau ngajak kamu makan siang?" Belum sempat Rishi kembali menolak, Rara ke luar dari ruangan yang sama tempat Rishi dan Diana tadi dan menyela pembicaraan Diana dan Rishi.  "Udah Rish, aku mah gampang kalau makan siang. Kamu ikut sama Mas Aaron aja," suruh Rara santai.  "Tuh lihat kan? Rara aja nggak keberatan, udah sana pergi aja." Diana ikut menimpali.  Rishi menghembuskan napasnya lelah, sedang Aaron tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Rara dan Diana yang disambut anggukan kecil Rara dan Diana sambil balas tersenyum tipis. Mau tak mau Rishi mengangguk mengalah.  Ketiga orang itu akhirnya tersenyum lega, terutama Aaron yang memang sangat mengharapkan jawaban dari gadis itu.  "Yaudah. Kalau gitu kalian jalan sekarang deh," ucap Diana semangat.  Aaron langsung melihat kearah Rishi yang masih terdiam ditempatnya.  "Ayo jalan sekarang," ajak Aaron sambil mengulurkan tangannya.  Rishi melengos berlalu melewati Aaron, sedang Aaron mengikuti langkah gadis itu dengan santai.  "Jangan lupa bungkusin makanan ya," teriak Rara yang diangguki cepat oleh Diana. Aaron sempat berbalik dan mengacungkan jempolnya.  Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN