Perjuangan akan segera dimulai, sesulit apapaun kalau memang cinta semua bisa terlewati dengan mudah..
Author
***
Akhirnya dengan bujukan dari Diana dan Rara, Rishi sudah sampai di restoran yang cukup mewah. Aaron sengaja membawanya kemari sebab ini restoran tempat biasa keluarganya makan bersama.
Rishi duduk di depan Aaron sambil terus menatap sekeliling dengan decakan kagum, bagaimana tidak? Ia baru masuk ke restoran yang lumayan mewah ini padahal tadi ia berencana makan siang bersama Rara di warung dekat toko mereka namun harus gagal karena kehadiran seseorang yang tak ia harapkan.
Seorang pelayan menghampiri meja meraka, "Mau pesan apa?" tanya si pelayan ramah.
Aaron tersenyum lalu membuka buku menu di depannya dengan santai lalu beralih pada Rishi yang tampak diam saja sambil terus menatap ke seluruh restoran ini.
"Kamu mau pesan apa?" tanya Aaron pada Rishi.
Rishi yang ditanya langsung menatap Aaron dengan datar. "Saya ikut kamu saja," jawab sekenanya.
"Ikut ke pelaminan mau?" goda Aaron sambil tersenyum lebar. Membuat Rishi melotot kaget sedang di pelayan tadi tertawa geli melihat pasangan imut di depannya.
"Maksud saya pesanannya, sebab saya nggak tahu makanan apa di sini," jelas Rishi.
Hal itu membuat Aaron tersenyum dalam hati, bukannya apa? Sudah ada kemajuan dengan reaksi Rishi saat bersamanya. Yang kadang kalau mereka bersama hanya wajah tak suka dan datarnya selalu pemuda itu lihat.
"Baiklah, kita makan." Aaron mulai mencari menu spesial yang ada di meja. Sedang Rishi gak berhenti menggerutu dalam hatinya, bisa-bisanya ia terasa santai saat bersama Aaron padahal tadi ia terang-terangan menolak ajakan makan siang ini. Apalagi kemarin dengan gamblangnya pemuda di hadapannya ini mengaku secara gamblang kalau ia sayang padanya.
Hal itu membuat Rishi kembali dipenuhi beban berat, rasanya sangat lelah. Pengakuan tak terduga Aaron kemarin itu membuatnya tak bisa tidur dengan baik dan nyenyak. Pikirannya hanya kesatu titik yang jauh disana, seseorang yang ia tunggu kepulangannya.
Selalu seperti ini, ketika ada seseorang yang mencoba mendekatinya pasti rasa mengkhianati selalu menghantuinya. Itulah mengapa ia langsung pergi tanpa pamit pada Aaron. Karena dari sekian banyak yang pernah mencoba mendekatinya, entah mengapa kali ini ada desiran ringan pada jantungnya.
Rishi takut kalau lamanya ia menunggu selama ini, membuatnya goyah pada pendirian yang selama ini ia tanamkan pada dirinya.
Lambaian tangan di depan wajahnya membuat lamunan Rishi terhenti dan akhirnya fokus pada Aaron yang sedang menatapnya cemas.
"Kamu kenapa? Sakit?" tanya Aaron dengan wajah cemas.
Rishi menarik napas pelan, "Nggak kok." Rishi menatap kearah dimana tempat pelayan tadi itu berdiri sekarang tak kelihatan wujudnya. Aaron yang melihat kebingungan Rishi langsung berkata.
"Pelayan tadi sudah pergi, kamu sih keasyikan melamun sampai nggak sadar gitu," terang Aaron. "Ohiya, tadi aku udah pesankan juga untuk kamu," lanjutnya.
Rishi menjadi salah tingkah ketahuan melamun namun dengan cepat mengendalikan wajahnya. Rishi hanya mengangguk dalam diam. Aaron terlihat bingung untuk memulai pembicaraan dengan Rishi, takutnya gadis itu akan kembali menolak kalau salah bicara lagi.
Diamnya Aaron ternyata membuat Rishi jengah, akhirnya Rishi yang membuka suaranya.
"Apa mau kamu sebenarnya?" tanya Rishi tenang.
"Hah?" Aaron melongo. Tak menyangka kalau Rishi akan memulai pembicaraan ini.
"Saya nggak mau basa-basi sama kamu, makanya saya tanya langsung apa mau kamu sebernarnya?" tanya Rishi sekali lagi.
Aaron terlihat menarik napas, "Aku hanya ingin lebih dekat sama kamu aja kok."
Rishi masih menunggu kelanjutan Aaron namun sepertinya pemuda itu diam saja setelah mengatakan maksudnya.
"Kenapa saya?"
"Nggak ada alasan kuat, kenapa harus kamu, kan? Aku hanya mengikuti apa yang hatiku rasakan."
Untuk pertama kalinya Rishi terkekeh di depan Aaron. Membuat pemuda terpesona melihat tawa yang Rishi keluarkan ini. Suaranya yang merdu dan juga pipinya yang merona. Satu kata untuk Rishi adalah mengemaskan.
Tetapi tawa Rishi itu bukan tawa senang atau bahagia lebih dari tawa yang canggung. "Begitu yakin eh?"
Aaron mengangguk yakin, "Yap."
"Tapi maaf! Saya yang nggak yakin," sahut Rishi sambil mengangkat sebelah alisnya.
"Baiklah," Aaron menarik napasnya pelan. "Bagaimana kalau kita taruhan?" lanjutnya.
Rishi sempat terkesiap namun dengan cepat menguasai diri, lalu menatap Aaron dengan serius, "Taruhan? Maksud kamu apa ya?"
Aaron tersenyum lebar melihat tanggapan Rishi yang seperti penasaran.
"Kamu bilang tadi kamu yang nggak yakin kan? Nah bagaimana kalau kamu kasih aku waktu buat kamu yakin dengan perasaan aku pada kamu," tantang Aaron.
"Dengan cara?" tanya Rishi ragu.
"Kebersamaan kita selama sebulan, kasih waktu aku selama sebulan saja untuk menyakinkan kamu. Kita dekat seperti teman, aku antar-jemput kamu, makan siang atau makan malam, dan weekend bareng. Gimana?"
Rishi masih menatap Aaron dengan datar. "Apa untungnya buat saya? Lagian saya nggak punya banyak waktu untuk hal-hal yang nggak penting," tolak Rishi.
"Terus kamu maunya gimana?" tanya Aaron tenang.
Rishi sebenarnya tak mau lagi berurusan dengan Aaron kecuali masalah pembayaran hutangnya, namun sepertinya pemuda di hadapannya ini tak akan menyerah begitu walau Rishi menolak terus-menerus. Cara keras tak mempan, maka itu Rishi memakai cara halus yang biasa ia lakukan ketika ada lelaki yang mencoba mendekatinya.
"Cukup makan siang setiap hari selama sebulan seperti yang kamu bilang tadi, tapi harus saya yang menentukan tempatnya, gimana?" usul Rishi dengan senyum tipis.
Aaron menatap Rishi berbinar, tanpa berpikir panjang ia langsung mengiyakan tanpa curiga sama sekali.
"Baiklah," jawabnya mantap sambil tersenyum lebar. Saking senangnya ia bahkan tak melihat kalau gadis di depannya ini sedang tersenyum sinis.
Aku yakin baru sehari saja, kamu langsung kabur. Seperti semua lelaki yang pernah aku kasih tantangan. Batin Rishi.
***
Aaron kembali ke kantor ayahnya dengan hati yang bahagia, bagaimana tidak? Rishi setuju dengan kesepakatan yang mereka buat bersama. Andaikan ia tahu dari awal mendekati gadis itu dengan cara ini, mungkin ia sudah dekat dengan Rishi dari kemarin-kemarin.
Sesampainya di ruangan tempatnya bekerja, Aaron langsung duduk santai sambil terus bersiul-siul bahagia tangannya mengambil beberapa map yang akan ia kerjakan lagi sempat tertunda akibat jam makan siang, Aaron memang di tempatkan di bagian marketing di perusahaan ayahnya. Aaron hanya sebagai staf biasa, karyawan biasa atau biasa kalau ada proyek kecil Jerry akan memberikannya pada putranya itu yang handle semuanya dan tentu saja akan di bantu oleh asistennya Jerry bernama Dika.
Jerry memang memiliki dua asisten sekarang, kalau dulu ia punya Indra yang akan membantu semua pekerjaannya, sekarang yang membantunya ada Loli dan Dika. Meraka berdua itu adalah ponakan dan sepupu Indra. Ya, asisten Jerry adalah keluarga dekat Indra semua. Makanya Jerry sangat percaya pada kualitas keduanya.
Aaron yang masih asyik bersiul sambil terus mengetik laporan di komputernya, membuat Husein yang merupakan karyawan senior yang mendampinginya mengernyitkan dahinya bingung melihat kelakuan tak biasa dari Aaron.
Karena tak tahan akhirnya Husein bertanya. "Kemarin aja lo bete abis, terus sekarang lo malah bahagia banget. Ada berita gembira?"
Aaron mendongak lalu menatap Husein yang ada di depannya dengan senyuman hangat. "Yoi dong, gimana nggak bahagia Mas. Gue baru aja dapat hari yang sangat besar."
Kerutan dahi Husein bertambah mendengar jawaban tak biasa oleh Aaron.
"Maksud lo?" tanya penasaran.
Aaron tersenyum penuh arti. "Ada deh, Mas."
Husein hanya geleng-geleng kepala, melihat kelakuan aneh dari Aaron ia yakin bahwa memang ada hal besar yang sudah ia alami, mungkin saja pemuda itu sedang jatuh cinta. Menurutnya itulah ciri-ciri yang Husein lihat dari sikap Aaron. Husein tersenyum dalam hati, pria berusia dua puluh lima tahun ini sudah menganggap Aaron seperti adiknya sendiri namun perbedaan usia mereka yang terpaut empat tahun membuatnya mudah berteman dengan Aaron.
Bahkan di bagian makerting yang terdiri dari tujuh orang ini termasuk Aaron, hanya pria itu dan juga menager marketing yang tahu kalau Aaron anak dari pemilik perusahaan ini, Jerry Kenzo. Sisanya mengira kalau Aaron anak baru di kantor tersebut. Karyawan perempuan cuma dua orang, Kiki dan Aulia. Sisanya laki-laki semua. Husein, Aaron, Fian, Adam, dan Gibran menager mereka.
Tak lama kemudian semua meja yang ada di bagian makerting ini terisi penuh, tandanya semua karyawan sudah kembali dari makan siangnya masing-masing. Menempati kursi mereka, keributan yang biasanya terdengar akibat suara-suara karyawan. Jangan kira kalau isinya kebanyakan laki-laki ruangan ini akan tenang.
Nyatanya walaupun kebanyakan laki-lakinya, mereka tetap saja akan bergosip apalagi hal yang mereka gosipkan tak lain tak bukan manager mereka yang hari ini ke luar makan siang bersama kekasihnya yang model terkenal itu. Ya, manager marketing di kantor ini masih terbilang muda baru berusia tiga puluh lima tahun.
Santapan lezat yang akan sangat panas kalau mereka bicarakan setiap saat, bagaimana tidak? Gibran merupakan duda beranak satu yang baru saja bercerai sama mantan istrinya lima bulan yang lalu. Dan sekarang ia jalan dengan model terkenal yang bernama Tania Febriana selama dua bulan. Mereka kira Gibran akan susah move-on dari mantan istrinya itu, bukan rahasia lagi kalau Gibran sangat mencintai mantan istrinya.
Ternyata hanya butuh tiga bulan, Gibran dapat move-on.
"Gue yakin Pak Gibran hanya menjadikan Tania pelarian saja," celetuk Kiki.
Aulia yang ada di depannya langsung ikut nimbrung. "Yup, gue juga yakin banget Ki."
Adam tak tinggal diam. "Yaudah sih, yang penting Pak Gibran bahagia." Dengan membela Gibran.
"Bahagia apanya? Lo nggak lihat muka Pak Gibran tadi kayak orang terpaksa." Kiki bersikeras. Aulia menganggukkan kepala tanda mendukung ucapan Kiki.
"Alah, mana lo tahu kalau Pak Gibran kelihatan terpaksa coba?" tanya Fian.
Kali ini Aulia yang jawab. "Kelihatan banget dari mukanya, lagian ya gue yakin kok kalau Pak Gibran belum bisa move-on dari Ibu Gia."
Mereka berempat terus saja berdebat satu sama yang lain, memberi pendapat menurut mereka dan tak ada mau kalah. Hanya Husein dan Aaron sedari tadi diam menyimak walau fokus mereka pada komputer masing-masing. Suara demi suara dalam ruangan semakin ribut sampai suara berat terdengar dari arah pintu masuk ruangan bagian marketing.
"Begini kerja kalian kalau saya tidak ada di tempat, bergosip tentang kehidupan pribadi saya," suara tegas dan tajam memasuki gendang telinga semua yang ada di ruangan ini. Membuat keempat yang tadi bergosip terdiam seketika, kemudian melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Aaron menatap Husein yang ada di depannya sambil tersenyum geli yang di balas sama dengan pria itu, melihat teman-temannya langsung terdiam akibat kedatangan manager mereka.
Bersambung...