18. Tantangan Pertama

1607 Kata
Apapun aku lakukan demi bisa mendapatkanmu, walau harus berkorban banyak untuk bisa bersama kamu..  Aaron Kenzo *** Aaron bangun pagi dengan semangat, dengan cepat ia mandi dan juga pakaian dengan rapi selayaknya anak kantoran. Ya, walaupun sekarang ini Aaron sudah bekerja di kantor sang ayah. Kemarin-kemarin hanya datang sesekali karena ia sibuk juga ke kampus untuk persiapan kelulusannya namun tetap tak ada yang mengenalinya di kantor sebagai putra pertama pemilik perusahaan.  Dengan langkah semangat, Aaron turun ke lantai bawah untuk sarapan bersama keluarga tercintanya, di meja makan sudah ada ayah, bunda, adik bungsunya, nenek, dan juga kakeknya. Minus si kembar, itu sudah jadi pemandangan sehari-hari bagi Aaron kalau adik kembarnya itu akan terlambat turun untuk sarapan karena mereka akan lama berdandan setiap pergi ke sekolah.  Walau berkali-kali Kinan menegur kedua putrinya namun tak dengar oleh si kembar sebab ada yang selalu membelanya, siapa lagi kalau bukan Vania sang nenek. Siapa sih yang akan berani melawan nyonya besar di rumah ini. Kadang Aaron heran sendiri Abri yang anak bungsu di rumah ini namun yang di manja adalah si kembar.  Untung saja Abri tak pernah mempermasalahkan itu semua, malah ia kelihatan sangat mandiri dan dewasa. Kinan dan Jerry tak pernah memanjakan semua anaknya berlebihan.  "Selamat pagi semua," sapa Aaron sambil tersenyum.  "Selamat pagi juga," balas semua yang ada di meja makan.  Aaron duduk di kursinya dengan santai lalu mengambil makanan yang akan yang sudah di sediakan di atas meja, setelah selesai Aaron makan dengan perlahan. Jerry dan lainnya hanya geleng-geleng.  "Tumben Abang semangat banget pagi ini, ada apa?" tanya Kinan penasaran.  Aaron menghentikan makannya lalu mendongak kearah Kinan dan tersenyum. "Bukannya memang harus semangat kalau pagi-pagi ya, Bun?" Aaron malah bertanya. "Iya, tapi aura Abang itu beda banget hari ini?" tanya Kinan lagi.  Aaron terkekeh. "Ah Bunda, emang aura Abang kenapa? Tambah ganteng ya?"  Abri yang sedari tadi diam kini angkat bicara. "Idih pede sekali Bang, ganteng dari mana coba? Lebih gantengan aku kemana-mana kali."  "Hei anak kecil! Jelaslah gantengan Abang kemana-mana, lahir aja Abang duluan daripada kamu. Mana bisa lebih ganteng kamu," sewot Aaron tak terima.  Semua yang ada di meja makan tertawa melihat Aaron yang mulai sewot ketika di goda oleh si bungsu, Abri langsung membalas.   "Justru yang muda itu lebih ganteng daripada yang lebih tua." Rupanya bukan Aaron saja yang tersinggung mendengar kata tua yang di sebut Abri barusan, sebab yang berkata selanjutnya bukan lagi Aaron melainkan Jerry.  "Anak kecil tahu apa, heh? Asal kamu tahu ya Dek, pria dewasa itu makin matang makin tampan. Auranya akan keluar dengan sendirinya dan pastinya bisa dapat yang lebih muda, di gemari gadis-gadis jaman sekarang pula," jelas Jerry pada Abri yang di angguki cepat oleh Aaron juga Kenaan.  Namun mereka tak sadar kalau Kinan dan Vania wajahnya sudah memerah akibat perkataan Jerry itu. Dengan tatapan setajam silet Kinan membuka suaranya cepat.  "Oh jadi kamu mau cari istri yang lebih muda?" Jerry langsung tersadar kalau ucapannya telah menyinggung istrinya apalagi Kinan sudah menggunakan kata kamu padanya yang artinya istrinya marah besar, dengan segera ia mengelak. "Bu-kan begitu sayang, maksud Mas tadi itu cu-ma anu.. Itu.." Bahkan Jerry kesulitan untuk menjelaskan pada Kinan. Dan Jerry tahu ia dalam masalah besar sekarang, kalau Kinan sampai marah. Jerry akan tidur di luar malam ini.  Kinan segera berdiri dan meninggalkan meja makan naik ke lantai atas tepatnya ke kamarnya dan Jerry segera menyusulnya cepat mengabaikan sarapan mereka, sedangkan Vania masih terus menatap tajam ke arah suaminya. Ternyata bukan hanya Jerry yang terancam tidur di luar, Kenaan juga akan merasakannya.  Aaron dan Abri tertawa melihat wajah nelangsa sang kakek, wajah tegas dan cool sang kakek menghilang entah kemana begitu istrinya marah besar.  "Sayang." "Apa?!" tanya Vania ketus sambil terus menatap tajam suaminya.  "Kenapa Papa di tatap begitu juga? padahal kan bukan Papa yang ngomong gitu." "Memang bukan Papa yang ngomong tapi Papa tadi menyetujui dengan anggukan, kan? Pokoknya malam ini Papa tidur di luar." "Jangan gitu dong Sayang," Kenaan berdiri dari kursinya dan berlutut di samping kursi istrinya dan memohon. "Papa bukan setuju sama istri muda tapi yang Papa setujui itu kalau pria itu makin tua makin matang juga makin tampan kayak Papa gini," jelas Kenaan percaya diri. Namun pembelaan itu justru membuat istrinya tambah marah.  "Ih, sama aja. Pokoknya Papa malam ini tidur di luar!!" putusnya lalu meninggalkan meja makan dengan wajah memerah menahan tangis. Kenaan kelabakan langsung menyusul istri tercintanya ke kamar mereka.  Sial!! Semua ini gara-gara perkataan Jerry tadi. Rutuk Kenaan dalam hati.  Aaron dan Abri kembali tertawa melihat drama di pagi hari ini, bagaimana Aaron tak mengatakan sebuah drama. Hampir dua puluh satu tahun hidupnya di suguhi oleh adengan seperti ini. Di meja makan tinggal Aaron dan Abri yang tersisa bukannya prihatin malah mereka melanjutkan sarapan pagi mereka masing-masing.  Paling juga bentar baikan lagi. Pikir keduanya.  Tak lama datanglah Alle dan Elle yang siap akan sarapan, namun si kembar mengernyit melihat meja makan sudah sepi dan hanya di huni oleh kakak dan adiknya. Setelah duduk di kursi masing-masing si kembar bertanya pada kakaknya.  "Bang, yang lain mana? Kok sarapannya nggak abis sih malah udah di tinggalin aja," tanya Elle.  Aaron menatap si kembar lalu mengangkat bahunya acuh. Si kembar langsung mengerti dengan kode yang di berikan oleh kakaknya membuat si kembar mengangguk lalu mengambil sarapan mereka masing-masing.  *** Siang ini Aaron kembali datang ke toko bunga tempat Rishi bekerja untuk memulai tantangan yang akan gadis itu berikan, sedari tadi ia tak henti-hentinya melihat jam yang ada di pergelangan tangannya karena sudah tak sabar untuk bertemu dengan Rishi. Bahkan Husein kembali bertanya ada apa dengan dirinya hari ini?  Namun Aaron hanya tersenyum tipis sambil geleng-geleng kepala lalu kembali bekerja walau terkadang Aaron akan kembali melihat jam, dan ketika jam makan siang tiba Aaron langsung melesat ke toko bunga dan menunggu Rishi ke luar dari toko karena ia sudah menghubungi gadis itu selama dalam perjalanan ke sini. Dan Rishi berkata kalau akan segera ke luar kalau pekerjaannya merangkai bunga selesai.  Setelah sekitar sepuluh menit menunggu akhirnya Rishi ke luar dari toko, Aaron tersenyum begitu melihat Rishi berjalan kearahnya dengan langkah pelan. Begitu sampai di hadapan Aaron, Rishi langsung mengajak untuk makan siang.  "Ayo cepat," ajaknya tanpa menatap Aaron dan berjalan ke mobil pemuda itu lalu masuk tanpa izin pada sang empunya. Namun bukannya marah Aaron malah tersenyum geli melihat begitu menggemaskannya Rishi. Aaron dengan segera menyusul gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Begitu pintu ia tutup dan langsung menyalakan mesin mobil lalu menjalankannya dengan pelan. Namun sebelum itu tak lupa mereka memakai seatbelt terlebih dahulu.  "Mau makan dimana?" tanya Aaron sambil terus fokus pada jalanan di depannya.  Rishi berbalik lalu menjawab datar. "Jalan aja dulu, nanti saya arahkan tempatnya." Aaron menoleh sejenak lalu kembali fokus ke depan. "Okey."  Akhirnya sekitar dua puluh menit di jalan, meraka sampai ke tempat makan di pinggir jalan. Aaron mengernyitkan dahinya begitu melihat tempat pilihan Rishi untuk makan siang, ia kira gadis itu akan minta makan di tempat seperti cafe-cafe atau restoran seperti gadis-gadis biasanya namun ternyata Rishi malah memilih tempat pinggir jalan yang Aaron saja tak tahu tempat ini bersih atau tidak.  Aaron memang tak pernah makan di pinggir jalan, ini adalah hal baru baginya. Bukan karena ia sombong tetapi Aaron hanya takut soal kebersihan kalau di pinggir jalan seperti ini.  "Kenapa?" Rishi bertanya ketika Aaron tak juga turun dari mobil dan hanya menatap risih pada tempat pilihannya.  Aaron menoleh pada Rishi. "Hah? Nggak kok," jawabnya berusaha untuk tetap tenang.  Rishi mengangguk lalu segera keluar dari mobil Aaron, ia merasakan Aaron mengikutinya terbukti ada suara langkah kaki berjalan di belakangnya. Rishi tersenyum dalam hati.  Kayaknya gampang buat Aaron untuk menyerah, belum masuk ke dalam saja wajahnya sudah pucat pasi. Batin Rishi.  Setelah duduk di kursi paling pojok, Rishi menyapa Eman pemilik tempat makan pinggir jalan ini.  "Halo Pak Eman." "Halo Neng Rishi, seperti biasa, kan?" tanya Eman.  Rishi menganggukkan kepala dan membalas. "Iya Pak Eman, saya pesan yang biasa ya? Dua porsi." "Siap Neng." Eman segera menyiapkan pesanan Rishi dan Aaron. Pemuda menatap Rishi yang sedang menuangkan air minum ke gelas yang ada di depannya, namun segera di hentikan oleh Aaron.  "Apa ini bersih?" tanyanya cemas.  Rishi menoleh dan tersenyum tipis. "Iyalah, warung ini walau di pinggir jalan tapi sangat di jaga kebersihannya loh." Melanjutkan apa yang ia lakukan tadi lalu dengan cepat meminumnya.  Aaron kembali bertanya. "Kamu sering makan disini, ya?" "Iya, saya suka makan disini dari jaman SMA dulu. Makanya saya kenal baik sama pemiliknya."  Aaron hanya mengangguk lalu kembali menatap sekeliling dengan teliti, sampai pesanan mereka tiba dan di simpan atas meja di hadapan mereka berdua. Bau harum tercium langsung begitu dua porsi makan siang untuk mereka.  Karena sudah lapar, Aaron bahkan tak sadar apa saja campuran makan siang mereka. Memang menu makan mereka adalah nasi lalapan berisi ayam bakar dan sambel goreng pete pedas makanan favorit Rishi tentunya.  Dengan cepat Aaron mengambil nasi dan ayam bakar beserta sambalnya untuk ia santap yang di ikuti oleh Rishi sambil terus melirik kearah Aaron yang makan dengan lahapnya sambil mulai menghitung dalam hati menunggu reaksi yang akan segera Aaron keluarkan.  Satu.. Dua.. Tiga..  Dan tepat saat itu juga raut wajah Aaron pun berubah seketika ketika merasakan sambalnya, Rishi yang meliriknya langsung fokus kembali pada makanannya lagi pura-pura tak tahu reaksi Aaron tadi. Aaron menoleh ke samping lalu bertanya. "Ini kok sambalnya rasanya aneh, ya?" Rishi ikut menoleh hingga mereka bertatapan sejenak sebelum Rishi mengalihkan pandangannya pada makanan Aaron.  "Aneh gimana?" Rishi mencoba menahan tawanya agar tak keluar melihat reaksi Aaron.  "Ya aneh aja, baru kali ini aku makan sambal yang kayak gini," jelasnya.  Rishi pura-pura tersinggung. "Kalau sambalnya aneh ya jangan di makan aja deh tapi kesepakatan kita batal. Jujur saya benar-benar tersinggung kamu seakan nggak menghargai pilihan tempat saya." Aaron langsung kelabakan begitu mendengar putusan sepihak oleh Rishi. "Aku cuma bilang aneh kok, bukan berarti aku nggak sukakan," elak Aaron segera melanjutkan makanan di hadapannya walau terkadang setiap sambal yang akan ia makan Aaron akan mengernyit sebentar lalu kembali memakannya lagi.  Hal itu membuat Rishi tertawa dalam hati melihat betapa tersiksanya pemuda itu makan.  Aku yakin mulai besok kamu nggak akan muncul lagi di hadapanku. Batin Rishi.  Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN