19. Tersiksa Karena Muntah

1398 Kata
Tak apa kalau aku harus berkorban sebesar ini hanya untuk gadis istimewa seperti dia..  Aaron Kenzo *** Hoekk.. Hoekk.. Aaron tak berhenti untuk muntah-muntah sedari tadi setelah pulang makan siang bersama dengan Rishi di warung tempat ia makan siang, bahkan ia tak tahan bau mulutnya sendiri setelah makan sambal yang menurutnya rasanya sangat aneh itu. Namun demi menjaga agar Rishi tak tersinggung dan malah membatalkan kesepakatan mereka akhirnya dengan suka rela Aaron memakan makan siangnya sampai habis. Matanya sudah merah dan tenggorokannya juga sudah sangat sakit, tetapi rasa bau yang tercium hingga hidungnya ini belum juga menghilang bahkan saat buang air kecil pun, ada bau yang tak sedap tercium di hidungnya. Tak biasanya ia sampai muntah-muntah begini hanya karena makanan. Ya, memang bukan karena makanannya tetapi karena bau yang sangat menyengat yang keluar dari mulutnya ketika ia bicara. Tadi saja teman kantor di ruangannya saja sempat tutup hidungnya dan mengakatan padanya makan apa siang ini? Dan karena tak tahu apa yang di makan kecuali sambal rasanya aneh itu. Hoeek.. Aaron kembali berlari ke dalam kamar mandi dan memuntahkan air yang baru saja ia telan semenit yang lalu, jujur ia sangat tersiksa sekali, kali ini bahkan Aaron belum makan lagi setelah makan siang tadi. Padahal sebentar lagi makan malam tetapi ia belum juga berhenti untuk muntah. Tok.. Tok.. Tok.. Pintu kamar Aaron di ketuk lama, sampai akhirnya di buka oleh pelaku yang sedari tadi mengetuk yang tak lain adalah bundanya, Kinan. Aaron bahkan tak mempedulikan siapa yang masuk ke dalam kamarnya karena ia yakin pasti hanya orang rumahnya. Dan begitu Kinan sampai ke dalam kamar mandi dan menyentuh pundak Aaron pelan, dengan segera Aaron berbalik melihat bundanya sedang menatapnya cemas. Dengan berusaha Aaron tersenyum agar bundanya tak khawatir namun sayang usahanya sia-sia saja sebab ketika Aaron akan bicara ia kembali mual dan memuntahkan isi perutnya lagi. Kinan dengan cepat mengusap pelan leher belakang sambil bertanya. "Abang kenapa?" Bukannya menjawab Aaron malah terus saja berusaha memuntahkan apa saja yang bisa di keluarkannya. Setelah agak mendingan Aaron di tuntun keluar dari kamar mandi dan di baringkan oleh Kinan di ranjangnya dengan pelan. Butir keringat keluar dari pelipis Aaron dan langsung di usap oleh Kinan. "Abang kenapa sih? Sakit?" tanya Kinan terus-menerus mengusap pelipis hingga kening putranya. Aaron menggelengkan kepalanya tanpa bisa menjawab sebab selain tenggorakannya yang masih sakit, lidahnya juga sangat pahit. Sambil terus menutup matanya menikmati usapan demi usapan yang di berikan dari bundanya. Kinan menghela napas kemudian bertanya kembali. "Kalau gitu Abang makan, ya?  Bunda ambilin dulu, biar Abang makan di kamar aja." Tanpa menunggu jawaban Aaron, Kinan segera turun mengambil makan makan buat putranya. Sesampainya di meja makan Kinan melihat semua anggota keluarganya yang akan siap akan makan malam bersama. Jerry yang menatap istrinya turun sendirian langsung bertanya. "Abang mana sayang?" Kinan duduk di samping Jerry lantas menoleh sekilas pada suaminya. "Di kamarnya, waktu aku akan panggil. Aku dengar Abang muntah-muntah di kamar mandinya, tapi Abang nggak panas sih. Mungkin masuk angin aja makanya aku mau bawakan makan malamnya di atas," jelas Kinan sambil terus mengambil beberapa lauk untuk Aaron makan. "Yaudah. Biar Abang makan di kamar aja," ujar Vania. "Iya Bun. Tadi juga aku dengar Abang terus muntah-muntah dari pulang kantor," ucap Abri. "Abang kenapa, ya? Tumben banget Abang muntah-muntah gitu, salah makan kali, Bun." Alle tak mau kalah berkomentar. "Nggak tahu sayang," Kinan berdiri. "Yaudah, kalian makan aja, ya. Bunda bawain ini dulu buat Abang." Ketika akan meninggalkan meja makan suara Jerry menahannya. "Loh, kamu nggak ikut makan juga?" "Sebentar aku makan kok, Mas makan duluan aja." Jerry mengangguk pasrah, karena ia tahu Kinan tak akan makan kalau anaknya ada yang sakit seperti begini. Kinan naik kembali ke kamar Aaron, begitu sampai Kinan melihat putranya sedang tertidur pulas. Kinan menaruh nampan di atas nakas samping ranjang kemudian menepuk pelan lengan Aaron membangunkannya, Kinan tak akan membiarkan Aaron tidur dengan perut kosong seperti ini. "Bang.. Abang, ayo bangun sayang. Makan dulu." Aaron bergerak pelan lalu mengerjapkan matanya, begitu melihat bayangan bundanya. Aaron lansung membuka mata sempurna dan dengan gerakan lambat bangun dan duduk menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Kinan tersenyum lembut kemudian mengambil piring yang berisi nasi dan lauknya, memulai menyuapi Aaron makan. "Ayo Sayang. Buka mulutnya," perintah Kinan sambil menyodorkan sendok berisi nasi dan potongan ayam goreng. Aaron menuruti membuka mulutnya mulai mengunyah makanannya. Aaron makan dalam diam begitu pun dengan Kinan yang menyuapinya. Hingga tak terasa makanan di piring yang ada di tangan Kinan habis tak tersisa. Setelah minum air putihnya, akhirnya Kinan bertanya kembali pertanyaan yang belum sempat Aaron jawab, "Abang sebenarnya kenapa? Masuk angin atau salah makan?" Barulah kali ini Aaron menjawabnya. "Masuk angin kali Bun, soalnya kalau salah makan itu nggak mungkin karena Abang makan yang kayak biasa sih. Kecuali.." Aaron seperti berpikir sejenak sebelum kembali mengingat sesuatu hal yang penting. "Ah iya Bunda, tadi siang Abang makan di pinggir jalan sih. Apa mungkin tempatnya kurang bersih, ya?" Kinan menatap heran pada Aaron. "Loh, nggak biasanya Abang mau makan di pinggir jalan?" Aaron seperti teringat lagi pada kejadian tadi siang saat ia mengantar Rishi ke toko tempatnya bekerja dan ketika Rishi akan turun dari mobilnya Aaron malah mendapat senyuman manis dari gadis itu lalu bergumam terima kasih padanya. Itu adalah hal yang besar bagi Aaron. Bagaimana tidak? Pencapaian Aaron untuk dekat dengan Rishi terbilang sukses bahkan untuk percobaan pertamanya ia mendapat respon positif dari Rishi. Ia mendapat senyuman manis yang tak pernah ia lihat selama mereka berkenalan. bahkan sampai melupakan rasa tak nyaman pada mulutnya, Aaron tak sabar membuat Rishi segera menjadi miliknya. Dengan wajah yang memerah Aaron tersenyum malu. "Anu.. Bunda, itu.. Abang mau makan karena tempat itu pilihan Rishi, karena takut tersinggung Abang akhirnya mau makan deh di sana." Kinan langsung tersenyum lembut kemudian mengusap lengan Aaron pelan. "Oh pantas Abang mau, Abang suka banget ya sama Rishi?" Aaron mengangguk malu membuat Kinan terkekeh senang, ah Kinan tak menyangka Aaron sudah sebesar ini apalagi mengingat dulu beratnya Kinan melahirkan dan membesarkan Aaron sendirian. *** Keesokan paginya Aaron bangun dengan lemah, tenaganya semalam ia habiskan dengan muntah-muntah terus-menerus. Karena setiap ia menghela napas atau buang air kecil di kamar mandi, bau tak sedap itu akan tercium kembali. Entah apa yang ia makan kemarin selain sambal yang rasanya aneh Aaron yakin ia tak makan apapun lagi, kecuali ada campuran bahan lain pada sambal tersebut yang tak ia ketahui. Pasti ada, makanya setelah ia sehat kembali Aaron akan memastikannya sendiri ke sana. Maka dari itu hari ini ia tak akan masuk kantor untuk istirahat dan artinya hari ini juga Aaron tak akan makan siang bersama Rishi, kesempatannya akan terbuang sehari kalau begitu, mau bagaimana lagi sebab hari ini tubuh Aaron benar-benar lemas. Tak lama suara ketukan pelan dari luar kamarnya terdengar lalu pintu terbuka kemudian muncullah sosok bundanya membawa nampan berisi sarapan dan ternyata Kinan tak sendiri sebab ada Abri dengan seragam sekolah SD-nya yang mengikutinya dari belakang. Padahal jam masih menunjukkan angka enam tepat tetapi Abri sudah rapi saja, siapa lagi kalau bukan didikan dari Kinan. Kinan memang sangat disiplin buat semua anak-anaknya. Kinan tersenyum lembut lalu menyimpan nampan dinakas sebelah ranjang. Lalu duduk di tepi ranjang, sedang Abri naik ke atas ranjang Aaron dan duduk di hadapannya kakaknya. "Sudah sehat Bang? Atau masih lemas badannya?" tanya Kinan beruntun. Aaron mengelengkan kepalanya. "Badan Abang masih lemas, Bun." Ketika Aaron membuka mulut untuk bicara tadi, hembusan napas Aaron tak sedap tercium. Membuat Kinan dan Abri kompak menutup hidungnya bersamaan. "Abang makan apa sih? Mulutnya bau amat, pasti belum gosok gigi, kan?" Pertanyaan itu malah keluar dari bibir mungil Abri, Kinan yang di sampingnya membenarkan pertanyaan Abri dengan anggukan kepala. Aaron menghela napas pelan. "Bukan karena nggak gosok gigi nih sampai bau gini, karena dari kemarin Abang muntah-muntah gara-gara bau mulut Abang yang bau banget. Bukan hanya mulut tapi waktu buang air kecil pun baunya akan tercium," jelas Aaron frustasi. Kinan mengernyitkan dahinya, lalu dengan gerakan sangat cepat Kinan mendekatkan hidungnya pada mulut Aaron untuk memastikan sesuatu. "Huek." Kinan segera menjauhkan dirinya dan malah mual. Membuat Aaron dan Abri menatap Kinan heran. "Kenapa, Bun?" tanya Abri penasaran. "Abang mulutnya bau banget." Aaron langsung mendengus sebal. "Salah Bunda dong, kenapa Bunda dekatkan hidung Bunda ke mulut Abang? Sudah tahu mulut Abang bau." "Bunda hanya ingin memastikan sesuatu." "Terus?" tanya Aaron. Kinan menatap Aaron serius. "Abang makan Pete, ya?" "Pete? Apaan tuh?" Kinan diam sejenak lalu menatap Aaron lebih intens lagi. "Temannya jengkol, Itu.. Bau mulut Abang bau pete." "Hah!!"  Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN