20. Semua karena Pete

1529 Kata
Pilih mana? Bau badan, bau kaki, atau bau mulut?..  Unknown *** Kinan menatap Aaron serius, "Kamu makan Pete ya, Bang?"  "Pete? Apaaan tuh?"  Kinan diam sejenak lalu menatap Aaron lebih intens lagi. "Temannya jengkol, Itu.. Bau mulut kamu bau pete." "Hah!!" pekik Aaron kaget.  Jelas, Aaron sangat kaget mendengar kata bundanya tadi. Ia memang tak begitu tahu nama pete itu sendiri namun kalau jengkol Aaron sangat mengenalnya dengan baik sebab makanan jenis jengkol itu adalah makanan favorit dari kakeknya, Kenaan.  Pernah suatu ketika Aaron masih duduk di bangku sekolah dasar, saat makan siang berlangsung. Pada saat itu Kinan dan Jerry pergi ke rumah sakit untuk checkup kandungannya, sedangkan neneknya. Vania tak ada di rumah karena ada arisan pengajian di komplek perumahan mereka.  Hanya Aaron dan Kenaan yang di rumah makan siang berdua, namun ternyata bi Imah malah memasak masakan kesukaan dari tuan besarnya yaitu semur jengkol. Aaron yang pada saat itu masih kecil dan belum terlalu mengerti soal makanan hanya mengangguk ketika Kenaan menawarinya makan semur jengkol tersebut.  Awalnya memang Aaron sedikit mengernyit karena rasa aneh pada makanan itu, namun begitu melihat kakeknya terlihat biasa saja saat memakannya. Ia juga makan dengan santai walau terkadang lidahnya rasanya aneh setiap makanan itu masuk ke dalam mulutnya.  Sesudah makan, Aaron langsung berniat tidur siang di kamarnya sendiri. Namun ketika ia akan buang air kecil tercium bau aneh dari helaan napasnya, begitu terus-menerus sampai akhirnya Aaron memuntahkan semua makan siangnya di kamar mandinya.  Dan itu berlanjut ketika malam datang, saat Kinan akan mengajaknya makan malam bersama. Kinan malah melihat Aaron yang lemas berada dalam kamar mandi, rasa panik segera menghampiri Kinan sampai-sampai ia harus teriak-teriak kayak orang gila memanggil Jerry segera. Mendengar teriakan panik dari istrinya ia langsung menuju ke kamar putra sulungnya yang untungnya Jerry masih berada dalam kamarnya saat mendengar teriakan Kinan.  Aaron di larikan ke rumah sakit, karena Aaron sempat jatuh pingsan ketika mereka dalam perjalanan menuju rumah sakit. Sesampainya mereka, Aaron lansung di bawa ke ruang UGD lalu di periksa oleh dokter spesialis anak yang kebetulan bertugas di sana. Dan ternyata Aaron hanya lemas karena cairan pada tubuhnya sudah habis apalagi dengan perut kosong sebab tak ada asupan makanan yang masuk.  "Aaron makan apa tadi, sampai bisa muntah-muntah?" tanya Kinan sambil terus mengelus lembut puncak kepala Aaron dengan sayang.  Aaron seperti berpikir. "Nggak makan macam-macam kok Bun, apalagi di sekolah. Cuma tadi memang makan siang sama Kakek, Aaron makan makanan rasanya aneh banget. Padahal yang masak Bi Imah loh Bun, tapi melihat Kakek makannya lahap yang Aaron cuek aja dan terus makan. Tapi pada saat Aaron naik ke kamar untuk tidur siang, napas Aaron tercium rasanya sangat bau dan akhirnya Aaron muntah-muntah deh sampai badan lemas," jelas Aaron panjang lebar.  Kinan dan Jerry yang mendengarkan penjelasan Aaron yang begitu polos mengerutkan dahi kemudian saling tatap lalu Jerry mengangkat bahu tak tahu begitupun dengan Kinan.  "Yaudah kalau gitu, Aaron istirahat aja ya," kata Jerry. Aaron mengangguk lalu menutup matanya perlahan, Kinan berdiri lalu pindah duduk ke sebuah sofa yang berada dalam kamar inap Aaron di ikuti oleh Jerry duduk tepat di sampingnya.  Kinan menoleh pada Jerry lalu bertanya. "Aku tadi takut banget Mas, aku trauma banget kalau Aaron masuk rumah sakit lagi." Jerry memilih diam kemudian menarik Kinan dalam pelukannya, Jerry sangat mengerti apa yang istrinya rasakan saat ini. Apalagi ini kedua kalinya Aaron masuk rumah sakit.  "Tenang aja nanti Mas tanya Papa aja sebentar ya?" Kinan hanya mengangguk dalam dekapan hangat suaminya. Akhirnya mereka menginap di rumah sakit selama dua hari.  Aaron kembali mengingat yang terjadi padanya waktu belasan tahun yang lalu, saat itu akhirnya Kinan dan Jerry tahu kalau Aaron makan jengkol kesukaan Kenaan siang itu. Dan Aaron yang pernah lagi menyentuh makanan itu selama ini sampai akhirnya Kinan mengatakan bahwa bau mulutnya adalah karena pemuda itu habis saja makan makanan sejenis jengkol alias pete.  Walau lebih bau jengkol kemana-mana sih, namun tak dapat di pungkiri kalau pete juga baunya bisa membuatnya muntah-muntah tetapi tak sampai membuatnya masuk rumah sakit kayak dulu.  Aaron masih dengan wajah melongonya menatap bundanya dan adik bungsunya dengan tampang shock, sampainya akhirnya ia kembali menatap Kinan dengan pandangan tak percaya.  "Benaran, Bun?" tanya Aaron memastikan. Kinan menatap Aaron iba lalu menganggukkan kepalanya pelan. Seakan membenarkan pernyataannya tadi. Aaron langsung berlari ke dalam kamar mandi kemudian memuntahkan semua makanan sisa selamanya yang ia makan. Kinan ikut berlari mengikuti Aaron lalu memijat lembut tenguk putranya.  "Udah baikan, Bang?" tanya Kinan penuh perhatian. Aaron hanya menganggukkan kepalanya, Kinan kemudian memapah Aaron kembali ke ranjang. Mengambil piring untuk sarapan buat Aaron.  "Ayo Bang, makan dulu. Biar Bunda yang suapin ya?" Kinan menyendokkan bubur ke sendok lalu menyuapkan ke bibir Aaron. Aaron menerima suapan bundanya dengan tenang dan menelannya begitu seterusnya sampai bubur di piring tersebut habis tak tersisa. Kinan menatap Aaron dengan lekat. "Benar kamu nggak sadar makan pete, Bang?" Aaron menggeleng lemah. "Nggak Bunda, baunya nggak tercium. Cuma rasanya aneh banget." "Memang apa yang Abang makan?" tanya Kinan penasaran.  "Ayam bakar lalapan sama sambalnya sih." Kinan tampak berpikir. "Apa sambalnya ya yang pakai pete." Aaron kembali menggeleng tak tahu, kemudian berpikir tentang pernyataan yang di sebutkan bundanya barusan.  "Yaudah, Abang istirahat saja dulu. Masalah kerjaan Ayah kamu udah bilang ke Gibran kalau hari ini kamu nggak masuk dulu." Aaron menatap bundanya lalu mengangguk pelan.  "Selamat istirahat ya Bang, semoga cepat sembuh." kata Abri kemudian turun dari ranjang kakaknya di bantu oleh Kinan.  Setelah Kinan dan Abri keluar dari kamar, Aaron membaringkan tubuhnya dengan nyaman dan menatap langit-langit kamarnya sambil terus berpikir. Kalau benar yang di katakan bundanya kalau ia makan sambal campuran pete, Aaron akan segera ke warung itu kembali untuk mencari tahu semuanya.  *** Setelah istirahat kemarin seharian, hari ini Aaron kembali ke kantor. Bukan semangat karena akan masuk kerja namun ia akan bertemu dengan Rishi lagi kemudian makan siang bersama, rasanya Aaron sudah tak sabar untuk bertemu kembali dengan gadis itu. Rindu yang menggebu-gebu membuatnya sangat antusias ketika bangun pagi ini.  Dengan berjalan santai Aaron menuju ke lift karyawan biasa yang tepatnya berada sebelah barat kantor ini. Sepanjang berjalan di lobby Aaron terlihat tersenyum atau menyapa karyawan-karyawan lain yang di kenalnya. Aaron hanya di kenal sebagai karyawan baru di sini bukan sebagai anak yang punya kantor.  Itu karena semenjak masuk SMP, Aaron sudah jarang datang ke kantor milik ayahnya ini, sebab ia sempat sekolah unggulan negeri yang jam pelajarannya sampai sore dari hari senin sampai jumat. Semua waktunya terkuras pada sekolah membuatnya sudah tak rutin mengunjungi kantor ini. Makanya tak ada yang tahu identitas aslinya.  Ketika sampai di depan lift Aaron melihat Kiki ikut mengantri menunggu lift akan terbuka, dengan santai ia berdiri di samping gadis itu lalu menyapanya ramah.  "Pagi Kiko."  Kiki menoleh ke sumber suara lalu tak lama mendengus kesal. "Nama gue bukan Kiko, Aaron!!" ketus Kiki tanpa membalas sapaan Aaron, pasalnya gadis itu tak mau di panggil dengan sebutan Kiko karena menurutnya ia bukan es Kiko yang di jual di warung-warung seharga seribu rupiah.  Aaron terkekeh. "Maaf, maksud gue. Kiki." Kiki membuang muka, namun tak lama kembali menatap Aaron. "Lo udah sembuh?" tanyanya.  "Iya Ki, Alhamdulillah." jawab Aaron sambil tersenyum.  "Bagus deh, kerjaan lo semuanya di bagi ke anak-anak yang lain. Jadinya kita semua keteteran deh." Aaron merasa bersalah. "Maaf Ki, ya namanya sakit kan kita nggak pernah bisa tahu." "Iya sih, makanya lo harus traktir kita semua makan siang."  Aaron terlihat ragu, bagaimana bisa ia makan siang hari ini bersama teman satu team kalau ia punya rencana makan siang bersama dengan Rishi.  "Aduh, jangan makan siang deh. Makan malam aja, gimana?" tawar Aaron.  Kiki terlihat berpikir sejenak. "Tanya anak-anak dulu kayaknya deh, kalau semuanya bisa. Ya, makan malam aja," putus Kiki akhirnya. Membuat Aaron di landa rasa cemas, ia hanya berharap semua teman teamnya bisa kalau makan malam saja. Sebab ia harus mengorbankan waktu makan siangnya berdua dengan calon pacarnya.  Begitu masuk ke lift yang membawa ke lantai 8 tempat devisi makerting berada, Aaron berjalan dengan Kiki dengan beriringan. Begitu masuk ruangan ternyata sudah ada Husein, Fian, dan juga Aulia. Sepertinya tinggal Gibran dan Adam yang belum datang, Aaron langsung menuju mejanya tak menyapa teman yang lainnya.  "Pagi semuanya," sapa Aaron juga Kiki.  "Pagi." Kompak yang lain, tak lupa juga Kiki yang sudah mengikuti Aaron untuk duduk di tempatnya tepat di samping Aulia.  "Sudah sehat, Aar?" tanya Husein.  Aaron mendongak menatap Husein. "Udah Mas, maaf. Pasti kemarin di sini repot banget, kan?" tanya Aaron tak enak.  "Benar banget, lo sih nggak masuk. Baru jadi karyawan junior aja lo udah berani absen," gerutu Fian yang di angguki oleh Kiki dan Aulia, sedang Husein hanya geleng-geleng kepala saja. Aaron merasa tak enak.  "Maaf, lain nggak akan gue ulangi lagi kok."  Namun Kiki berkata. "Tapi kalian tenang aja, karena sebagai gantinya Aaron mau traktir kita makan guys."  Wajah Aulia dan Fian langsung sumringah mendengar kata traktir, bagi karyawan biasa seperti mereka makan gratis itu adalah anugrah terindah. Maka dari itu kekesalan pada Aaron sirna sudah tak tersisa sama sekali.  "Wah, kalau gitu kita mau makan siang di mana nih?" tanya Fian manis pada Aaron.  Kiki dan Aulia terkikik melihat wajah sok manis milik Fian, pasalnya kemarin waktu Aaron tak masuk yang paling kesal adalah si Fian. Dari pagi sampai sore pulang kerja tak hentinya ia menggerutu karena Aaron.  Husein memilih diam saja lalu fokus menatap komputer yang ada di depannya.  "Hmm.. Gimana kalau makan malam aja?" tawar Aaron.  Fian tampak berpikir sejenak sebelum menjawab. "Gue sih iyes ya, yang lain?" Fian menatap Aulia, Kiki, dan Husein bergantian meminta pendapat. Aaron jadi harus harap-harap cemas menunggu jawaban mereka.  Dan ketika ketiga temannya mengangguk setuju, Aaron menghembuskan napas lega. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN