Tak ada yang salah ketika jatuh cinta, namun yang salah adalah pelaku cinta itu sendiri..
Unknown
***
Seminggu berlalu Aaron kembali disibukkan dengan persiapan wisuda yang tinggal sebulan lagi ia dan sahabat-sahabatnya. Ya, meraka berempat memang janjian lulus bersama agar bisa di wisuda juga bersamaan.
Dan sekarang di sinilah Aaron bersama kedua sahabatnya yaitu Komo dan Ibnu minus Gigi karena gadis itu sekarang berada di Singapura menemani ayahnya yang checkup disana.
Mereka hari ini berkumpul di rumah Aaron tepatnya rooftop garden yang dimilikinya dilantai teratas rumahnya.
Biasanya memang ini tempat basecamp mereka ketika berkumpul di rumah Aaron. Angin sejuk menerbangkan rambut hitam pekat miliknya. Raga Aaron memang ada di sini namun tidak dengan jiwanya. Sedaritadi Aaron hanya melamunkan seseorang yang jauh di sana. Yaitu Rishi.
Sedah seminggu ini mereka memang tak pernah lagi bertemu, namun entah mengapa rasa rindu yang selalu menghantuinya. Rasa ingin bertemu dengan menggebu-gebu namun ia menahan sebisa mungkin sebelum memastikan semuanya terlebih dahulu.
Komo dan Ibnu saling tatap dengan pandangan bertanya namun mengangkat bahu tak acuh. Mereka berkumpul hari ini untuk membahas masalah wisuda mereka bulan depan namun yang di dapat Komo dan Ibnu malah lamunan Aaron yang sedaritadi.
Dengan jengah Komo akhirnya buka suara. "Hoi Aar!! Bengong aja lo dari tadi, ada apa sih?" tanyanya. Aaron disadarkan pada suara Komo.
"Hah, nggak papa kok."
"Alah sok bilang nggak papa lo, padahal dari tadi lo bengong aja kayak orang bego." Perkataan Ibnu sontak membuat Komo ngakak.
"Iya benar banget, kenapa sih lo?"
"Nggak kok, ohiya gimana persiapan wisuda kalian? udah apa belum?" Aaron mengalihkan pembicaraannya.
"Gue mah udah siap banget, kan dibantu sama si doi dong," kata Ibnu cengegesan. Mendengar itu membuat Aaron dan Komo memandang Ibnu dengan pandangan bertanya.
"Si doi siapa maksud lo?" tanya Aaron penasaran.
"Gue lagi PDKT sama Nina Kirana." masih dengan cengengesan bahkan kini wajahnya sudah memerah.
"Hah?" pekik kompak Aaron dan Komo kaget. Bagaimana tidak siapa yang tak kenal Nina Kinara, model sekaligus mantan finalis Miss Indonesia walau Nina tak menang namun semenjak jadi finalis namanya naik daun apalagi ia sekarang menjadi brand ambassador salah satu produk kosmetik terbesar di Indonesia.
"Serius lo?" tanya Komo tak percaya.
"Iya dong, gue emang dekat sama Nina."
"Kok lo nggak cerita-cerita sih, Nuk?" kali ini Aaron yang bertanya.
"Ini gue udah cerita kan." kata Ibnu dengan wajah polos.
Kedua sahabatnya melengos, lalu Komo kembali bertanya. "Sejak kapan?"
"Seminggu ini, gue kan pesan setelan jas di butiknya Nina, awalnya sih biasa aja tapi begitu kami intens bertemu dan kadang ngobrol juga, gue jadi nyaman jadinya gue deketin deh. Mumpung si doi single." jelas Ibnu.
"Siapa yang recommended butiknya si Nina sama lo?" Komo masih penasaran saja.
"Yah biasa nyokap gue sih, lo tahu kan nyokap paling up-to-date."
Semuanya tertawa, bukannya mau durhaka sama orangtua hanya saja ibu Ibnu memang terkenal kalau beliau anggota sosialita. Makanya Aaron dan Komo tak heran lagi mendengarnya.
"Nggak heran lagi kalau semua dari nyokap lo. Akhirnya playboy kita dapat pacar juga" ujar Komo yang mendapat anggukan semangat dari Aaron kemudian tertawa bersama, bukan hal baru lagi kalau Ibnu memang tak pernah bisa lama-lama tanpa wanita dalam hidupnya.
"Ohiya, si kembar belum pulang sekolah, Aar?" tanya Komo mengalihkan pembicaraan tiba-tiba. Membuat Aaron mengernyitkan dahinya sambil menatap Komo sengit.
"Ngapain lo tanya-tanya soal si kembar?" tanya Aaron curiga.
"Lo nggak tahu Aar, kalau teman kita ini lagi coba deketin salah satu adik kembar lo." Ibnu membongkar rahasia Komo yang memang sedang ingin mendekati salah satu adik kembar Aaron. Namun ia belum berani secara terang-terangan menunjukkan ketertarikan pada adik kembar Aaron. Sebab usia si kembar masih 14 tahun.
"Apa-apaan lo? Nggak.. Nggak, gue nggak setuju," teriak Aaron tak terima.
Komo salah tingkah namun dengan cepat menguasai diri. "Ah pelit lo, sama teman ini juga." Komo protes dengan wajah yang cemberut.
"Justru karena lo teman gue, gue nggak setuju. Lagian lo gila ya? Adik gue masih SMP dan masih 14 tahun. Lo mau jadi p*****l!!" Ibnu tertawa terbahak-bahak sambil memegang perutnya apalagi melihat wajah-wajah sahabatnya yang sama-sama memerah. Yang satu merah karena marah, dan yang satunya merah karena malu.
"Bro udahlah, gue tadi hanya bercanda doang kok. Nggak mungkin juga kan si Komo jadi pedofil." Tak tahan melihat wajah Komo, akhirnya Ibnu berinisiatif membantunya. Aaron langsung menatap Ibnu tajam.
"Apanya yang bercanda," delik Aaron tajam kepada Ibnu lalu matanya beralih kepada Komo yang sedari tadi terdiam. "Dan lo," tunjuknya. "Pantas aja selama ini kalau lihat si kembar, mata lo selalu berbinar dan juga suka sekali menggoda si kembar. Awas aja lo sampai berani dekatin adik gue ya. Lo berhadapan langsung sama gue!! Lagian mereka itu kecil." Aaron memperingatkan Komo.
"Jadi kalau udah besar udah boleh dong ya?" pancing Komo, sudah kepalang tanggung juga kan? Aaron sudah tahu kalau ia diam-diam menyimpan perhatian lebih pada salah satu adik kembarnya Aaron.
"Nggakkk!! Selamanya lo, gue larang. Apalagi lo playboy gini. Jangan harap mau main-main sama adik gue ya," ancam Aaron sebal.
"Gue nggak pernah niat mainin adik lo kok," bantah Komo.
Ibnu yang sedari tadi ingin menghentikan pembicaraan tentang rahasia Komo yang ia tahu, malah membuat pembicaraan makin panjang makanya kalau tak diberhentikan dengan cepat. Ibnu yakin sebentar lagi kedua sahabatnya udah adu otot. Sebab tak ada yang mau mengalah satu sama lain.
Sebenarnya ini salahnya juga, andaikan ia tidak membuka aib Komo pada Aaron tentang rasa terpendamnya Komo pada salah satu adik kembarnya. Mungkin ini semuanya tak terjadi.
"Kita ngumpul di sini bukan buat berdebat." Ibnu mendesah lelah
"Diam!!" teriak Aaron dan Komo secara bersamaan membuat mau tak mau Ibnu diam daripada kena semprot lagi. Dengan mengangkat bahu acuh Ibnu menyomot cemilan yang disiapkan tadi oleh bi Imah sambil menonton kedua sahabatnya yang masih saja berdebat masalah perasaan Komo.
***
Sudah seminggu ini Rishi berusaha mengumpulkan uang untuk membayar hutangnya pada Aaron. Walau pemuda itu bilang kapan pun ia punya uang bisa membayarnya namun rasanya tak enak pinjam uang begitu lama padanya.
Apalagi Rishi tahu seolah Aaron menyimpan rasa padanya, sebab dari tatapannya secara diam-diam lalu dengan godaan dari keluarga untuk pemuda itu yang jadi salah tingkah sendiri. Rishi sangat tahu semuanya, tetapi Rishi kembali menutup mata dan pura-pura tak peduli sebab dari awal ia tahu kalau ia seolah terlarang.
Belum lagi rasa bersalahnya yang telah berani berbohong pada ayah dan ibunya. Rishi selalu mengucapkan kata maaf berkali-kali dalam hatinya agar Allah memaafkannya. Dan setelah cukup uang untuk bayar hutangnya. Rishi akhirnya mengirim sebuah pesan singkat melalui ponsel jadulnya.
Rishi
Bisa kita bertemu?
Hampir lima menit menunggu akhirnya datanglah balasan dari Aaron.
Aaron
Bisa kok, ada apa?
Rishi
Saya mau bayar hutang, sepulang kerja kita bertemu di kedai kopi dekat taman raya.
Aaron
Baiklah. Sampai ketemu
Setengah jam lagi ia akan pulang, makanya dengan cepat ia beres-beres di toko, kebetulan hari ini Rara tidak masuk jadinya Rishi hanya berdua di toko sama Diana. Namun karena Diana pulang cepat akibat anak keduanya tiba-tiba demam tinggi makanya sekarang tinggallah Rishi sendirian.
Namun bukan berarti Rishi bisa pulang seenaknya, ia tetap akan menutup toko ini sesuai waktunya. Makanya sekalian menunggu waktu ia bisa membersihkan toko dengan santai.
Pukul lima tepat akhirnya Rishi bisa menutup toko lalu dengan cepat ke tempat janjiannya dengan Aaron, sesampainya di kedai kopi Rishi segera mengambil tempat duduk yang strategis biar mudah melihat Aaron kalau sudah datang.
Lima belas menit menunggu, akhirnya orang yang ditunggu datang juga. Dengan senyuman yang menawan Aaron menghampiri Rishi dengan langkah mantap.
"Hai." sapa Aaron lalu duduk didepan Rishi dengan santai. Rishi hanya tersenyum tipis tanpa membalas sapaan Aaron. Rishi segera mengeluarkan uang yang sudah ia siapkan untuk Aaron kemudian menyimpannya di atas meja tepat di depan Aaron.
"Ini bayaran untuk pertama. Maaf, saya hanya bisa segini dulu tapi saya janji secepatnya akan segera saya lunasi semuanya." Aaron hanya mengambil uang itu tanpa membantah.
"It's okey, aku ambil ya? Masalah sisanya gampang kok. Kalau memang belum ada uangnya jangan memaksakan diri kamu." Aaron tersenyum lalu Rishi hanya menganggukkan kepalanya.
"Karena udah nggak ada keperluan lagi saya pergi dulu." Rishi siap akan berdiri namun Aaron menahan pergelangan tangan Rishi.
"Buru-buru amat, aku aja baru sampai. Belum pesan minuman lagi." Rishi kembali duduk dengan raut wajah bingung.
"Seingat saya," Rishi menatap Aaron dengan datar. "Saya hanya mengajak bertemu untuk membayar hutang saya bukan untuk di ajak nongkrong-nongkrong sambil minum kopi," jengah Rishi.
"Tapi kan mumpung kita di sini, nggak ada salahnya kalau kita duduk setengah jam dulu sambil minum segelas kopi." Aaron tetap keras kepala.
"Saya nggak ada waktu, permisi." Rishi berdiri cepat namun lagi-lagi Aaron menahannya.
"Kalau lima belas menit?" Aaron memohon dengan wajah memelas. Rishi menghela napas memilih mengalah dengan anggukan kepala, bukan karena apa, hanya saja ia masih punya sopan santun. Bagaimana pun pemuda di depannya ini sudah rela menolongnya.
Aaron tersenyum menang lalu memanggil pelayan kemudian memesan kopi hitam seperti biasa ia pesan kalau berkumpul dengan sahabat-sahabatnya. Setelah pelayan berlalu perhatian Aaron kembali pada Rishi.
"Kamu udah pesan?" sungguh pertanyaan Aaron sangat konyol, bagaimana tidak sudah jelas ada bekas gelas minuman di depan Rishi yang tinggal separuh. Rishi menatap Aaron dengan kerutan kening. Aaron seketika salah tingkah sadar akan kekonyolannya. "Maksud aku, kamu nggak mau nambah minuman kamu?" sambungnya cepat. Aaron tahu Rishi akan menolak terbukti dari gelengan kepala gadis manis di depannya.
Mereka terdiam dengan aktivitas mereka masing-masing, jujur Aaron tak tahu apa yang akan dibicarakan pada Rishi sedang Rishi juga merasa canggung berdua saja bersama Aaron. Apalagi debaran aneh itu kembali lagi ketika ia berada di rumah Aaron. Sewaktu Aaron menatapnya dengan lekat atau waktu diam-diam Aaron meliriknya. Rishi sadar sekali waktu itu namun ia pura-pura cuek walau dalam hati jantungnya berdebar tak karuan.
Rishi tambah gugup sebab mereka hanya diam tak ada suara pun terdengar, akhirnya dengan malas ia menatap Aaron datar. "Saya rasa sebaiknya saya pulang aja, rasanya kurang kerjaan saya disini namun hanya duduk diam." Aaron tersadar langsung tersenyum maklum.
"Apakah kita pernah bertemu?" tanya Aaron tiba-tiba sontak membuat Rishi mengerutkan dahinya.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya soal itu?" Rishi malah balik bertanya.
"Nggak sih, aku hanya merasa kita pernah bertemu sebelumnya." Aaron seolah mengangkat bahunya acuh. Walau sebenarnya pertanyaan ini sudah lama ia ingin tanyakan pada Rishi. Rasa penasaran kian menggebu hanya ingin memastikan sesuatu.
"Saya kira kita nggak pernah bertemu sama sekali," ucap Rishi mantap karena ia yakin tidak pernah mengenal Aaron sebelumnya.
"Oh," Aaron menganggukan kepalanya. Sebenarnya pemuda itu masih tak yakin namun Aaron tak mau membuat Rishi tersinggung akhirnya memilih mengalah. "Hmm, apa boleh aku bertanya lagi?"
"Bukannya tadi saja kamu bertanya duluan tanpa izin?" Rishi menatap Aaron dengan alis terangkat sebelah. Aaron rasanya gemas pada tindakan Rishi pada saat gadis itu mengangkat sebelah alisnya.
"Iya ya.. Hehe," Aaron mengusap belakang lehernya sambil cengegesan tak jelas, hal itu membuat Rishi memutar bola matanya. "Terus kalau kita tak pernah bertemu, mengapa kamu seolah menghindariku? Apa yang salah padaku? Dan juga mengapa kamu nggak mengizinkan aku mengantar kamu sampai di depan rumahmu?" tanya Aaron bertubi-tubi, kali ini dengan wajah sangat serius melanjutkan rasa penasarannya akan sosok gadis manis ini.
Rishi diam tak harus berkata, tak mungkin juga ia harus jujur pada pemuda ini. Bahwa ia terlarang untuk dekat dengan Aaron.
"Nggak ada apa-apa kok." Rishi kembali mengelak, namun Aaron tahu ada yang disembunyikan gadis ini, maka dari itu ia kembali mendesaknya.
"Bohong!!" tegas Aaron. "Apa orangtua kamu melarang kamu dekat dengan seorang laki-laki?" Rishi langsung menatap Aaron lalu menghembuskan napas.
"Itu bukan urusan kamu." Rishi langsung berdiri. "Maaf saya nggak bisa menemani kamu lebih lama, permisi." Tanpa menunggu jawaban Aaron, Rishi langsung berlalu dan keluar dari kedai itu. Aaron tak berniat menahannya sebab keyakinan akan pertanyaannya tadi semakin kuat.
Bahwa gadis itu sengaja menjauh padanya, karena larangan orangtuanya. Namun pertanyaan baru muncul dibenaknya.
Kenapa orangtua gadis itu melarang? bukannya Rishi sudah berusia cukup untuk berteman dengan siapa saja, apa orangtua Rishi masih kolot dengan larangan anak gadisnya yang tak boleh berteman dengan laki-laki?
Bersambung...